17. Dalam Masalah Besar

1314 Words
Setelah menanyakan letak kamar rawat inap yang ditempati oleh Aline di pusat informasi rumah sakit, Ofelia langsung bergegas sambil menghubungi kontak telepon abang dan kakak iparnya. Suara abangnya terdengar lebih tenang dibanding suara ibunya tadi saat menanyakan keberadaannya. Ofelia segera menyampaikan bahwa dia sudah tiba di rumah sakit dan sedang berjalan menuju kamar rawat inap. Ketika tiba di koridor menuju kamar rawat inap Aline berada, Ofelia melihat abangnya sedang berada di teras depan kamar sembari menelepon. Setelah menyalami pria itu, Ofelia langsung masuk kamar dan mendapati semua anggota keluarganya sudah berada di dalamnya. Dia menjadi orang terakhir yang sampai di rumah sakit. Ofelia terus bergerak mendekati ranjang pasien dan melihat Aline yang tengah mengeluhkan rasa sakit di sekitar siku dan lututnya kepada Hera. Suara pintu ditutup membuat Aline berhenti mengeluh dan melihat ke arah pintu. Ofelia bisa melihat perban yang membalut di beberapa bagian tubuh keponakan tercintanya itu. Setelah menyalami semua anggota keluarganya barulah Ofelia mendekati Aline. “Aline, gimana keadaanmu?” tanya Ofelia setelah berdiri di samping brankar. “Udah lebih baik, Aunty.” “Maaf ya, harusnya tadi Aunty jemput kamu. Coba kalau dijemput, kamu nggak bakal kayak gini,” sesal Ofelia. Aline tak membalas penyesalan Ofelia. Gadis kecil itu hanya tersenyum lalu meminta Ofelia datang ke pelukannya. Keduanya lalu saling berpelukan dan sekali lagi Ofelia meminta maaf atas kelalaiannya. “Lo tadi kemana, Dek? Kalau memang nggak bisa jemput Aline, bilang aja ke gue atau Hera. Aline masih terlalu kecil buat naik kendaraan umum. Dia baru sepuluh tahun,” tegur Abang Ofelia yang baru kembali dari luar. “Gue ke tempat temen yang lagi ultah, Bang. Gue udah datang tepat waktu bahkan lima menit sebelum Aline kelar les. Trus tiba-tiba dia nyamperin gue kalau couch-nya minta tambahan waktu latihan setidaknya satu jam. Sedangkan gue ada janji ke tempat temen gue. Jadi gue pikir daripada nunggu lama ya, gue beresin urusan gue dulu. Tapi pas gue baru sampai di tempat temen gue, Aline chat kalau jam tambahannya udah kelar dan dia mau buru-buru pulang. Biar dia nggak kelamaan nungguin, jadi ya gue inisiatif buat mesen mobil online aja,” jelas Ofelia hampir menangis. “Dad, Aunty nggak salah. Sebenarnya aku yang minta dipesenin soalnya kalau mesti nunggu Aunty datang jemput, kelamaan. Aku udah ngantuk banget,” sambung Aline, mencoba memberi penjelasan tambahan untuk membela Ofelia dengan menyampaikan kebenarannya. “Ya, udahlah. Yang penting Aline nggak sampai luka parah banget. Kata dokter cuma disuruh nginep semalam di rumah sakit dan lanjut rawat jalan untuk proses pemulihannya,” ujar Hera menengahi ketegangan yang sempat tercipta selama abang Ofelia menginterogasinya. Satu setengah jam telah berlalu dan tanpa sadar Ofelia telah melupakan soal Daryl. Dia baru menyadari hal itu setelah kedua abangnya membicarakan soal mobilnya. Buru-buru Ofelia membuka tasnya dan menunjukkan kepanikan saat mengeluarkan ponsel. “Kenapa, Dek?” tanya Sarah yang kebetulan menyadari kebingungan Ofelia. “Pinjam charger dong, Kak. Handphone gue habis baterai.” “Kebiasaan banget lo bawa handphone minim baterai tapi nggak bawa charger atau powerbank,” gerutu Sarah lalu mengedikkan dagunya ke arah sudut dinding. Ofelia hanya balas dengan cengiran. Soal usia dia memang beda jauh dengan keponakannya, tapi soal tingkat kecerobohan sebelas dua belas. Setelah berhasil mengisi daya pada ponselnya Ofelia buru-buru menyalakan ponselnya. Dan benar saja detik itu juga ponselnya menjadi berisik dengan suara notifikasi, entah itu pesan singkat maupun panggilan telepon tak terjawab. Dari banyaknya pesan singkat yang masuk kebanyakan memang dari Daryl yang menanyakan keberadaannya. Ofelia akhirnya langsung membuka pesan paling akhir yang dikirim oleh Daryl. Isinya menyampaikan informasi bahwa saat ini Daryl sedang berada area parkir menunggu dirinya. Tanpa pikir panjang Ofelia langsung bangkit berdiri dan berlari keluar dari kamar rawat inap Aline. Beruntung Daryl sudah menyampaikan lokasi tempat dia memarkir mobil di pesan singkatnya. Sehingga memudahkan Ofelia menemukan keberadaan mobilnya. Begitu menemukan mobilnya Ofelia segera mendekat dan mengetuk kaca jendelanya setelah berada di samping mobil. Saat kaca jendela terbuka secara perlahan Ofelia melihat Daryl tengah menatap tajam padanya. Dia bukan merasa takut akibat berbuat salah, tapi gugup dipandangi dengan cara seperti itu oleh Daryl. “Muncul juga lo akhirnya,” omel Daryl dengan wajah kesal. Meskipun begitu, dia masih tampak ganteng menurut Ofelia. Semua rasa jengkel yang dirasakan oleh Ofelia ketika berdebat dengan Daryl beberapa waktu lalu lenyap begitu saja. Gadis itu menurut begitu saja ketika Daryl memberinya kode supaya masuk mobil. Ofelia berjalan cepat memutar lewat bagian depan mobil menuju pintu penumpang depan. “Kenapa tadi nggak nungguin gue? Gue telepon juga handphone lo nggak aktif. Gue udah coba tanya bagian informasi tapi katanya jam besuk udah lewat jadi pengunjung dari luar nggak diperbolehkan masuk ke area pasien rawat inap tanpa kartu pengunjung.” Daryl mulai mengomeli sikap menyebalkan Ofelia padanya. Ofelia terdiam tak merespon ucapan Daryl sama sekali. Perbuatannya itu membuat Daryl tampak semakin kesal sekaligus gemas padanya. “Lo nggak ada niatan mau minta maaf gitu sama gue?” “Iya, maaf,” ujar Ofelia, sambil melihat takut-takut ke arah Daryl. “Maaf doang?” “And thank you,” lanjut Ofelia dengan suara lirih. “Thank you buat apa?” “Udah mau nganterin gue.” “Itu aja?” Ofelia yang kesal merasa disudutkan seperti ini oleh Daryl akhirnya memutar tubuh menghadap pada laki-laki itu. Tanpa aba-aba dia menarik pangkal lengan Daryl lalu mencium pipi kirinya tanpa permisi. Setelah itu Ofelia mendorong tubuh Daryl yang tadinya pasrah memiringkan tubuh ke arahnya. “Anggap aja itu tanda maaf dan terima kasih dari gue,” ujar Ofelia memberi penjelasan. Respon yang diberikan Daryl hanya memegangi pipi kirinya tanpa berani menunjukkan wajahnya yang mulai terasa hangat pada Ofelia. “Kenapa? Belum cukup? Kalau kurang lo minta aja lagi sono sama perempuan-perempuan yang sekarang lagi lo kencani,” cibir Ofelia. “Lo nggak boleh seenaknya kayak gini sama gue, Fe,” ujar Daryl lirih. “Maksudnya seenaknya gimana?” tanya Ofelia tak mengerti. Kali ini Daryl yang memutar tubuh menghadap pada Ofelia. Kini posisi wajah mereka sejajar dan tatapan Daryl yang terlihat ragu membuat detak jantung Ofelia berdebar kencang. Daryl mengulurkan tangan untuk mencengkram pangkal lengan Ofelia. Tidak terlalu erat apalagi menyakitkan tapi mampu menimbulkan efek kejut yang luar biasa terhadap tubuh Ofelia. Pandangan mata Ofelia tak putus menatap sorot mata Daryl yang juga menatap lurus padanya. Kepala Daryl bergerak secara perlahan mendekati wajah Ofelia. Sementara Ofelia hanya bisa memejamkan mata sambil merapalkan mantra untuk menenangkan detak jantungnya. “Tenanglah jantung gue. Please jangan berulah sekali ini aja!” jerit suara hati Ofelia yang membuatnya tersadar bahwa debar jantungnya masih tetap sama seperti ketika untuk pertama kalinya melakukan skinship dengan Daryl. Meski debarnya berangsur berkurang seiring bertambahnya waktu, akan tetapi ia tahu debar yang sama tak pernah ia rasakan ketika melakukan skinship dengan laki-laki manapun. Kini dia pun menyadari sesuatu bahwa itu adalah pertanda kecil dia telah jatuh cinta pada laki-laki ini. Bahkan dari sejak menjalin hubungan pertemanan dengannya. Ofelia tak melihat apa pun setelah memejamkan mata. Yang bisa ia rasakan hanyalah bibirnya mendapat sentuhan ringan dan penuh keraguan dari bibir Daryl, sebelum kemudian terdengar suara dering ponsel yang membuatnya sadar lalu menarik tubuh secepat kilat. Daryl tampak tidak menyukai perubahan drastis pada emosi Ofelia. Dia yakin Ofelia tadi telah memberinya akses untuk didekati. Lalu kemudian tiba-tiba gadis itu menunjukkan gelagat penolakan yang cukup menyentil harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Akhirnya Daryl hanya bisa memundurkan tubuhnya lalu meraih ponsel yang terus berdering. Tak peduli siapa yang mencoba melakukan panggilan telepon padanya, Daryl menolak panggilan telepon tersebut. “Gue cabut dulu, ya. Salam sama Aline semoga cepat pulih,” ujar Daryl kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Ofelia lalu mencium kening sahabatnya itu. Hal yang tak pernah dilakukannya selama menjalin hubungan pertemanan dengan Ofelia. Kemudian tanpa menunggu persetujuan dari Ofelia, dia keluar mobil begitu saja. Ketika Daryl berjalan cepat meninggalkan area parkir, Ofelia menyadari sesuatu dari tatapan laki-laki itu yang tampak sedikit sendu. Ofelia belum pernah melihat jenis tatapan seperti itu di mata Daryl. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD