Hari ulang tahun Aline yang kesepuluh berjalan dengan sangat meriah dan kreatif. Acara utama diadakan di kebuh khusus milik restoran yang memang dibuat untuk konsumen yang ingin membuat acara di luar ruangan. Tema ulang tahunnya kali ini adalah kreatifitas tanpa batas. Tidak ada dresscode sehingga semua tamu undangan bebas menggunakan pakaian apa pun selagi sopan dan untuk tamu dewasa tentunya yang ramah dipandang anak-anak seusia Aline. Ofelia membuat acara ulang tahun Aline di mana anak-anak bisa belajar keterampilan baru secara interaktif. Ada boat-boat yang menyediakan beberapa kreasi sesuai bakat dan minat tamu. Diantaranya melukis, makrame, merajut, kerajinan tangan, dan memasak.
Di masing-masing boat disediakan bahan dan instruktur yang membantu anak-anak maupun tamu dewasa mengeksplorasi kreativitas mereka. Hal ini tentu saja sangat berkesan. Tidak hanya bagi yang berulang tahun, melainkan juga untuk para tamu. Saat mereka pulang dari acara ulang tahun Aline, mereka bisa membawa hasil karyanya masing-masing selain souvenir yang telah disediakan oleh pihak event organizer.
Meski cuaca sedang mendung tapi sama sekali tidak menyurutkan keceriaan dan keinginan anak-anak untuk menyusuri masing-masing boat. Ofelia memerhatikan keseruan acara dari sudut restoran. Dia sengaja menghindari keramaian di kebun karena bukan hanya tamu dari teman-teman Aline dan orang tua masing-masing, tetapi juga ada kerabat dekat dari pihak keluarga Ofelia dan juga Hera.
Ofelia sedang malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan horor dari kerabatnya itu. Dia lalu memutuskan untuk menjadi penonton saja sembari menikmati kudapan sore yang sudah dipesannya seorang diri.
Setelah acara ulang tahun selesai Ofelia memutuskan pulang ke rumah. Dia menolak ketika Hera mengajaknya ke rumah kakaknya itu. Dia hanya ingin menghabiskan waktu seorang diri di kamar. Apalagi kedua orang tuanya juga memutuskan untuk ikut pulang ke rumah Hera saja. Dan Ofelia sama sekali tidak merasa keberatan akan hal itu.
Di kamarnya Ofelia memainkan ponselnya selama beberapa menit. Kepalanya begitu berisik mendesak untuk melihat ke menu daftar kontak lalu mencari kontak ponsel Shayne. Lama dia memandangi layar ponselnya yang kini sudah menampilkan nomor ponsel laki-laki itu.
Rasa gundah dan gelisah mulai menghantui pikiran Ofelia malam itu. Dia mondar mandir di kamarnya selama hampir setengah jam hanya untuk mengambil keputusan menelepon Shayne. Dia terus berdebat dengan dirinya sendiri apa akan menghubungi Shayne detik itu juga atau tetap menunggu laki-laki itu menghubunginya lebih dulu. Dia merasa hatinya benar-benar merana sekarang karena masih stuck dengan Shayne. Sedangkan Shayne sendiri belum tentu memikirkannya. Pikiran seperti yang terjadi 13 tahun lalu ketika dia memutuskan untuk melarikan diri ke Jepang kembali memenuhi kepala Ofelia malam ini. Dia semakin yakin kalau dirinya memang bukan hal penting dalam hidup Shayne.
Tepat ketika Ofelia sudah lelah dengan pikiran-pikirannya sendiri, nama Daryl muncul di layar ponselnya. Laki-laki selalu muncul di saat yang tepat, pikir Ofelia. Saat ini dia sedang membutuhkan teman bicara sebelum benar-benar gila karena mencari jalan keluar atas konflik di batinnya. Dia ingin mengobrolkan hal apa pun dengan Daryl untuk menghilangkan kegalauan di hatinya. Dan kini laki-laki itu muncul tanpa perlu repot-repot meminta kehadirannya.
“Yes, Ofelia in here,” sapa Ofelia setelah menerima panggilan telepon dari Daryl.
“Lagi apa lo?” tanya Daryl dengan suara beratnya yang khas.
“Siap-siap mau bobok.”
“Acara Aline tadi gimana? Seru nggak?”
“Seru banget. Nanti gue bagi hasil-hasil fotonya kalau udah dikirim sama pihak fotografi.”
“Good idea,” jawab Daryl seadanya.
“Lo ngapain telepon gue? Bukannya sekarang acara engagement sepupu lo.”
Daryl tidak segera menjawab. Ada jeda keheningan selama beberapa detik sebelum akhirnya lak-laki itu berdeham. “Gue kangen elo, Fe,” jawabnya.
Ofelia refleks tertawa mendengar jawaban Daryl yang di luar dugaan itu. “Pasti habis putus sama pacar lo,” komentar Ofelia.
Tak lama kemudian Daryl mengubah panggilan teleponnya menjadi panggilan video. Wajah lesu Daryl muncul di layar ponselnya.
“Pacar apaan, sih?” tanya Daryl malas.
“Bukannya lo pacaran sama anak magang di divisi lo itu? Siapa sih, namanya… Merry apa Maria gitu.”
“Ah, elah…Lo kayak baru kenal gue sebulan dua bulan, Fe. Cuma teman main aja itu. Bukan pacar gue. Sekarang udah nggak pernah main bareng lagi.”
Ofelia berdecak mendengar pengakuan Daryl. “Teman main di ranjang maksud lo?” cibir Ofelia jengah.
Daryl terdiam lagi seolah mencari jawaban paling tepat atas pertanyaan Ofelia. “Bukan banget,” jawab Daryl malas.
Ofelia yang sudah mengenal Daryl selama hampir tiga tahun sudah hapal pada tingkah laki-laki itu. Kalau Daryl tidak mengakui hubungannya dengan seorang perempuan berarti ya memang tidak memiliki hubungan spesial apa pun dengan perempuan itu. Kalaupun memiliki hubungan spesial makan Daryl tak segan mengatakannya pada Ofelia. Padahal Ofelia tahu banyak sebenarnya soal karakter Daryl, tapi dia tetap saja berasumsi bahwa setiap perempuan yang sedang dekat dan jalan dengan Daryl adalah pacar laki-laki itu atau setidak-tidaknya partner seks teman baiknya itu.
“So, kalian nggak officially jadian?” tanya Ofelia lagi.
“Ya, begitulah.”
“Why? Kurang cantik? Kurang fashionable? Atau isi otaknya kurang satu ons?”
“Cantik, kok. Fashionable banget malah. Cuma ya kadang suka jaka sembung naek ojek. Alias nggak nyambung jek.”
Ofelia refleks tertawa. Seketika dia lupa pada kesedihan dan kegalauan pada Shayne. “Ada-ada aja lo. Emang kayak gitu nggak ketahuan pas first impression? Gue perhatiin lo udah sering banget jalan sama si Maria itu. Gue pikir bakal aman-aman aja kali ini.”
“Soalnya bukan gue yang ngajakin jalan, jadi gue kuran merhatiin. Tapi lama kelamaan muak juga gue kalau tiap ngobrol jatohnya nggak nyambung melulu.”
Ofelia tertawa terbahak-bahak mendengar curahan hati teman baiknya itu. Hanya dengan Daryl dia bisa tertawa lepas seperti ini tanpa perlu repot-repot jaga image. Sama halnya dengan Daryl, laki-laki itu jarang membicarakan hal random dengan perempuan selain Ofelia.
“Ada-ada aja cerita hidup lo. Sejarahnya lo bisa jalan sama dia gimana memangnya?” tanya Ofelia lagi.
“Dianya yang nongol mulu. Nggak di chat, di telepon, DM, inbox. Bosan juga gue lama-lama. Jadi ya udah, gue kasih makan aja rasa penasarannya.”
“Sialan emang lo. Trus kali ini nyeret nama gue nggak waktu lo ngindarin dia?”
“Nggak, sih. Soalnya akhir-akhir ini gue nggak pernah pakek nama lo tiap nolak diajak jalan sama dia.”
“Kemaren-kemarennya pakai berarti?”
“Ya…gitu, deh.”
“Lagian lo tuh. Coba sekali-sekali nyari cewek yang serius gitu. Udah mau tiga puluh tapi masih maen-maen aja kerjaan lo.”
“Siapa bilang gue main-main?” balas Daryl tak terima pada penilaian Ofelia.
“Tingkah laku lo yang nggak dewasa itu udah nunjukin secara langsung kalau lo itu cuma bisanya main-main,” balas Ofelia, sengaja mengusik ego seorang Daryl.
“Lo ngatain gue nggak dewasa, Fe?” Sepertinya Ofelia berhasil melempar umpan untuk memancing kemarahan Daryl.
“Ya, emang. Coba tunjukin dimana letak kedewasaan lo? Laki-laki dewasa nggak akan ngambur-ngamburin duit cuma buat nongkrong tiap minggu di HW. Laki-laki dewasa nggak akan beli jam tangan seharga mobil dan beli mobil seharga rumah. Tapi konyolnya malah nggak punya rumah. Paham nggak sih, lo maksud gue? Tapi gue yakin lo nggak akan paham sedikitpun,” cerocos Ofelia.
“Heh, Ofelia! Gue ke HW nggak tiap minggu. Lagian kalau sekarang-sekarang ini gue ke HW itu seperti menikmati hasil tabungan gue yang selama ini disetorkan ke HW. Alias gue datang sebagai tamu yang diundang, bukan tamu yang datang sendiri karena mampu membayar. Kalau soal jam tangan seharga mobil itu gue sama kayak invest. Kalau gue butuh duit gue tinggal jual salah satu dari jam tangan itu dengan harga yang nggak beda jauh, bahkan bisa jadi lebih mahal dari harga belinya. Bonusnya gue bisa ikut merasakan pakai jam tangan seharga mobil itu.
“Kalau soal mobil seharga rumah ya, karena gue mampu beli. Lagian juga fitur, keamanan dan kenyamanannya setara kok dengan harga yang udah gue bayar. Trus kalau soal gue belum punya rumah ya, bukan karena nggak mau apalagi nggak mampu beli. Lebih karena belum kepikiran aja buat beli rumah. Lagian mau ngapain tinggal di rumah sendirian? Belum biaya maintanance-nya yang nggak murah. Tinggal di apartemen udah paling bener buat cowok single kayak gue.”
Daryl berbicara panjang lebar menolak semua penilaian Ofelia atas dirinya. Ofelia memandangi wajah laki-laki itu dengan seksama. Kepalanya tiba-tiba berisik dengan suara-suara hatinya yang terus memuji ketampanan Daryl ketika laki-laki itu berbicara banyak seperti itu.
“Bukan cuma soal itu aja yang menunjukkan ketidakdewasaan lo.”
“So?”
“Kelakuan lo gonta-gonti perempuan seperti ganti seprei itu sangat menunjukkan kalau lo itu sama sekali nggak dewasa. Lo nggak siap dengan satu perempuan seumur hidup lo.”
“Ada masanya gue akan berhenti dan setia pada satu wanita yaitu istri gue. Kalau sekarang gue gonta ganti cewek bukan berarti gue nggak dewasa, ya, Fe. Kalau gue nggak dewasa cuma karena itu, berarti orang-orang yang sudah menikah tapi tetap selingkuh itu juga nggak dewasa dong?”
“Duh, ngeri amat pembahasannya masalah selingkuh,” respon Ofelia.
Daryl menyeringai. Dia seperti merasa telah memenangkan perdebatan ini. “Anyway lo udah nyiapin materi belum buat acara ulang tahun gue bulan depan?” tanya Daryl mengalihkan topik obrolan mereka.
“Tergantung lo pengennya tema apa? Super hero? Antariksa? Alat Transportasi? Atau alat konstruksi. Lo mau pilih yang mana?” canda Ofelia sambil menahan tawanya.
“Yang tema alat kontrasepsi ada nggak?” balas Daryl dengan ekspresi jengah.
“Lo tuh, ya. Pikiran lo kalau nggak cewek, ngajak cewek ke ranjang, ya alat kontrasepsi kayak sekarang ini.”
Daryl hanya melempar senyuman asimetris. “Lo yang mulai, lo juga yang sewot. Gemes amat. Gue nikahin juga lo, Fe!” ucapnya.
Ofelia terkesiap mendengar ucapan Daryl. Laki-laki itu memang terkadang suka spontan kata-katanya. Tapi selama mengenal Daryl, laki-laki itu terhitung sangat jarang menggunakan kata-kata nikah sebagai bahan bercandaannya.
“Tidak semudah itu, Ferguso!” balas Ofelia menutupi kegugupannya di balik kata-kata penuh humor.
“Trus yang mudah gimana, Rosalinda?” balas Daryl tak kalah bercanda.
Tawa Ofelia pecah detik itu juga. Kemudian keduanya tidak lagi membahas hal-hal yang sifatnya random. Mereka fokus membicarakan acara ulang tahun Daryl yang akan berlangsung di minggu ketiga bulan Januari. Rencananya Daryl hanya mengundang anggota keluarga intinya saja selain Ofelia. Hal ini supaya membuat Ofelia nyaman karena tidak akan berduaan saja dengan Daryl di apartemen laki-laki itu, tapi juga ditemani oleh orang-orang yang sudah dikenal cukup baik oleh Ofelia.
Hubungan Ofelia dengan anggota keluarga Daryl memang cukup dekat. Sejak mulai berteman Daryl memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya pada Ofelia. Bukan karena tidak sengaja bertemu di suatu tempat lalu berkenalan secara spontan, tapi benar-benar diperkenalkan secara resmi. Hanya saja Daryl memperkenalkan Ofelia sebagai teman baiknya di kantor. Sama halnya dengan anggota keluarga Ofelia terhadap Daryl, anggota keluarga Daryl juga menerima Ofelia dengan tangan terbuka.
~~~
^vee^