Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Shayne di restoran, Ofelia mencoba untuk tidak mengingat kembali pertemuan yang cukup mengganggu ketenangan batinnya. Namun semakin keras Ofelia melupakan maka bayangan wajah Shayne semakin intens datang dalam pikirannya.
Ofelia menggunakan berbagai cara untuk melepaskan bayangan wajah Shayne di kepalanya. Dia tidak mau terjebak lebih lama dalam perasaan sentimentil seperti ini. Dia sudah lelah menjadi makhluk melankolis selama 13 tahun terakhir hanya karena satu nama itu. Hal pertama yang sangat membantunya untuk melupakan pertemuan tak sengaja itu adalah dengan membuatnya menjadi makhluk paling sibuk sejagad Riilfud. Bahkan bisa dibilang karyawan magang sampai office boy kalah sibuk dengannya selama seminggu terakhir.
Frederick saja sampai takjub melihat semangat Ofelia yang begitu over power. Hampir di setiap meeting bahkan yang bukan divisinya, Ofelia selalu hadir dan terlihat sangat produktif. Bukan hanya sekadar pelengkap saja di ruang meeting. Bosnya yang selalu kesulitan menarik Ofelia dalam event meeting yang tidak ada sangkut pautnya dengan divisi produksi itu sampai mengira Ofelia sedang berusaha merayunya untuk minta promosi jabatan. Tapi begitu pria berkebangsaan Jerman itu menawarkan posisi yang lebih tinggi pada Ofelia, gadis itu malah tertawa dan berkata, “Bukan itu tujuanku.”
Namun usaha apa pun yang dilakukan oleh Ofelia hingga membuatnya nyaris terlihat seperti seorang workharder tetap tak bisa membuatnya jadi tak memikirkan Shayne setiap malamnya. Ada momen yang akan menyeret paksa untuk mengingat Shayne dan mengharapkan laki-laki itu lebih dulu menghubunginya, seperti janji yang diucapkan ketika mereka bertemu satu minggu lalu. Meski Ofelia sudah lama tergila-gila dan cinta mati pada Shayne, dia tetap memegang teguh prinsip bahwa laki-laki yang harus menghubungi lebih dulu. Mungkin hal itu juga yang membuatnya kehilangan kesempatan mendapatkan perhatian Shayne 13 tahun lalu. Dia kurang atraktif orangnya dalam hal mendekati pujaan hati.
Pukul delapan malam Ofelia masih berada di kubikelnya untuk mengerjakan project manager sebuah produk baru dari Riilfud. Ketika sedang mengistirahatkan tubuh pandangannya terkunci pada tas jinjingnya yang berada di atas meja dan dalam posisi terbuka. Dia ingat menggunakan tas itu ketika bertemu Shayne seminggu yang lalu. Kemudian ia memberanikan diri membuka tas tersebut dan mencari sesuatu yang memang tak disentuhnya lagi setelah hari itu.
Kartu nama Shayne kini sudah berada di tangan Ofelia. Dia menimbang untuk menghubungi Shayne lebih dulu. Namun hingga lima belas menit berlalu keputusan itu belum juga diambilnya. Ada kekhawatiran kalau Shayne melupakannya di hari pertemuan mereka waktu itu, makanya laki-laki itu belum juga menghubunginya hingga hari ini.
Ofelia tiba-tiba tertawa getir di tengah kesendiriannya itu. Dia sedang menertawakan kebodohannya sendiri yang membuat kisah cintanya menjadi sangat merana hanya karena satu nama. Mau sampai kapan dia seperti ini? Ofelia tak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Alhasil yang bisa dilakukannya hanyalah menyimpan nomor ponsel Shayne di ponsel.
Ofelia mulai bingung dan gelisah. Sebetulnya dia ingin menceritakan kegamangan hatinya ini pada seseorang yang lebih mengerti soal beginian. Tapi di antara nama-nama yang kini mampir di kepalanya, tidak ada satupun yang memenuhi kriteria Ofelia. Hal itu juga yang membuatnya maju mundur untuk menghubungi Shayne lebih dulu. Akhirnya Ofelia memasukkan kembali kartu nama Shayne ke dalam tasnya.
Laptop yang sempat ditinggalkannya lima belas menit lalu layarnya sudah menggelap. Ofelia membuat lalptopnya kembali menyala. Merasa tidak ada yang bisa dikerjakan lagi akhirnya Ofelia memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya hari ini. Ofelia melihat ke sekeliling dan mendapati dalam kondisi sudah gelap, hanya kubikelnya saja yang masih terang. Tiba-tiba saja pikirannya terusik kembali untuk mencoba menghubungi Shayne lebih dulu. Dengan menyingkirkan segala gengsi, pride atau prinsipnya, Ofelia mencari kontak ponsel Shayne yang sudah disimpannya di daftar kontak.
Jantungnya terasa hampir copot begitu mendengar nada panggilan tersambung dari balik pengeras suara ponselnya. Sayang sekali hingga nada sambungnya berakhir belum ada tanda-tanda Shayne menerima panggilan telepon darinya. Ofelia pantang menyerah. Ia mencoba peruntungan kedua. Setelah nada sambung terdengar jantungnya kembali berdegup kencang. Tepat ketika Ofelia sudah mulai menyerah, terdengar suara bass milik Shayne menyambut panggilan telepon darinya.
“Hallo?” sapa Shayne dari seberang telepon.
Ofelia tidak lantas menjawab sapaan tersebut. Dia membeku selama beberapa saat. Nyawanya seperti berpindah alam selama beberapa detik. Kemudian dia terkesiap dengan suara berikutnya yang diyakini bukan suara dari pengeras suara ponselnya.
“Telepon siapa lo?” Suara tersebut milik Daryl yang menyapa Ofelia dari arah belakang.
Detik berikutnya Ofelia mengakhiri panggilan teleponnya sebelum sempat membalas sapaan Shayne. Hatinya begitu kesal saat ini karena usahanya tadi untuk bisa menelepon Shayne menjadi sia-sia. Bayangkan saja setelah menimbang-nimbang dan menyiapkan nyali untuk menghubungi Shayne lebih dulu, tiba-tiba ada orang yang mengacaukan rencananya.
“Bukan urusan lo. Ngapain lo di sini?” tanya Ofelia balik. Ada nada ketus dalam bicaranya. Tentu saja hal itu memancing Daryl yang cukup mengenal kepribadian Ofelia.
“Kayaknya gue udah bikin lo pissed off? What’s going on?” tanya Daryl lagi.
“Gue bilang bukan urusan lo ya berarti nggak usah lo tanya-tanya lagi, Ryl,” gertak Ofelia lalu berdecak dan menyemburkan napas kasar.
“Ya, udah gue nggak nanya lagi. Cuma mau kasih tahu aja kalau gedung ini bener-bener kosong karena semua karyawannya udah cabut. Lo mau bertahan di sini sampai kapan? Kalau cuma setengah jam gue bisa temenin lo. Kalau lebih dari setengah jam gue seret lo pulang.”
“Gue udah selesai,” jawab Ofelia ketus.
“Good girl.”
“Ya, udah sono! Kenapa masih di sini?”
Daryl tak menyahut. Laki-laki itu menarik sebuah kursi kosong, lalu mendudukinya dengan posisi kedua kaki dinaikkan ke atas meja yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya beberapa jam lalu.
“Gue bawa mobil sendiri,” ucap Ofelia lagi.
“Hemmm…” jawab Daryl dalam gumaman sembari mengeluarkan ponselnya.
Tak peduli pada apa yang sedang dilakukan oleh teman baiknya itu, Ofelia segera membereskan mejanya dan bergegas pulang. Mungkin ketika di jalan pulang nanti dia bisa mengambil keputusan. Kalaupun akhirnya harus menghubungi Shayne lebih dulu, dia melakukannya di dalam kamar dalam keadaan nyaman dan tenang.
“Ulang tahun Aline jadi weekend ini, Fe?” tanya Daryl memecah keheningan.
“Yes,” jawab Ofelia seadanya.
“Sayang banget ya, gue nggak bisa hadir. Acaranya bertepatan sama acara pertunangan sepupu gue.”
“It’s okay. Sans aja lagi. Kado dari lo udah cukup mewakili.”
“Lo juga jadi nggak bisa nemenin gue di acara sepupu gue, Fe.”
“Ya, terus mau lo gimana?”
Daryl melirik tajam ke arah Ofelia yang tampak gelisah. “Ya, nggak gimana-gimana. Gue cuma ngomong doang. Nggak butuh komentar dari lo.”
“Tapi ganggu banget tau nggak, sih?”
“Dosa banget kayaknya gue malam ini ke lo, Fe.”
“Mending lo diam kata gue.”
“Buruan makanya biar lo nggak makin lama membersamai kecerewetan gue.”
Ofelia menahan senyum mendengar kosakata yang digunakan oleh Daryl dalam kalimatnya. Tak ayal Daryl pun ikut tersenyum melihat Ofelia dengan senyum tertahannya. Keduanya lalu berjalan bersisian menuju lift dan turun ke basement. Daryl mengantar Ofelia hingga ke mobilnya. Dia lalu memastikan Ofelia telah melaju lebih dulu sebelum ke mobilnya sendiri. Hal itu selalu mereka lakukan selama hampir tiga tahun pertemanan mereka. Meski membawa kendaraan pribadi masing-masing Daryl selalu memastikan Ofelia masuk mobil dengan selamat, serta memerhatikan dan mengutamakan keselamatan Ofelia melebihi dirinya sendiri.
~~~
^vee^