8. Bertemu Kembali

1484 Words
Seminggu setelah pertemuan Ofelia dan Andika yang tidak terencana, Ofelia hanya bisa menyembunyikan kesedihannya dalam diam. Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan membantu Hera menyiapkan acara ulang tahun Aline. Komunikasi dengan Daryl juga tidak ada karena laki-laki itu tampak sibuk juga dengan urusan pekerjaan dan persiapan acara pertunangan saudara sepupunya. Persiapan acara ulang tahun Aline berjalan dengan lancar. Meskipun Ofelia menyiapkan acara keponakannya itu dengan hati merana memikirkan Shayne yang akan bertunangan dengan Megan, tapi syukurlah tidak ada anggota keluarganya yang menaruh curiga sedikitpun padanya. Sepertinya Ofelia patut menerima penghargaan atas prestasinya dalam menyembunyikan isi hati. Sore ini Ofelia dan Sonia sedang mendatangi sebuah restoran dibilangan Senayan yang bisa dibilang family friendly. Restoran ini pilihan Ofelia yang telah ditawarkan pada Hera sebagai tempat Aline merayakan ulang tahun. Tanpa banyak komentar Hera menyetujui saran tempat dari Ofelia itu tanpa melihat daftar harga paket ulang tahun di restoran tersebut. Hera hanya memilih paket paling ekslusif tanpa tahu berapa harga yang harus ia bayarkan nantinya. Kakak ipar Ofelia itu menyerahkan semua urusan pembayaran pada Ofelia. Sayangnya hari ini Hera sedang tidak sehat sehingga Ofelia meminta bantuan Sonia untuk mengurusi penyelesaian urusan restoran. Saat Ofelia menunggu Sonia yang sedang pamit ke toilet, dia memilih duduk di salah satu sudut restoran yang mengarah langsung ke pintu masuk. Detik itu juga tatapannya terkunci pada sosok yang sudah sejak lama menghantui pikiran dan hatinya. “Shayne?” gumamnya masih dengan tatapan lurus ke arah laki-laki itu. Seolah memiliki telepati dengan Ofelia atau karena merasa ada yang memerhatikan dari jarak tertentu, Shayne juga melihat ke arah gadis itu. Tepat ketika Ofelia sedang berdiri dari kursi yang tengah didudukinya Shayne melangkah penuh percaya diri ke arahnya. “Meme,” ucap Shayne masih sambil berjalan ke arah Ofelia tapi dengan ekspresi ragu seolah sedang memastikan penglihatannya sendiri. Seluruh tubuh Ofelia rasanya begitu lemas saat ini. Disenggol sedikit saja bisa dipastikan dia akan tumbang dan jatuh ke lantai. Namun Ofelia berusaha berdiri tegak dan tetap tenang menghadapi situasi dengan suasana hati yang luluh lantak. Melihat laki-laki yang masih sering mampir di mimpinya itu membuatnya lebih kuat dari yang dipikirkannya saat ini. Shayne tidak berubah banyak. Wajahnya masih tampan, ramah dan menyenangkan. Cara berjalannya masih tetap sama bak supermodel padahal laki-laki itu bukan seorang model atau orang yang pernah belajar modeling. Tubuh bongsornya terlihat lebih berbentuk dibanding ketika SMA. Jika dulu cenderung gempal sehingga mendapat sebutan si Bongsor dari teman-temannya, kali ini terlihat lebih atletis dan seksi. Shayne yang dirindukan setengah mati itu kini sudah berjarak tidak sampai tiga meter dari hadapannya, masih sama seperti Shayne yang terakhir dilihat Ofelia 13 tahun yang lalu. Tanpa aba-aba tiba-tiba Shayne bergerak semakin dekat dan memeluk tubuh Ofelia setelah berdiri tepat di hadapan gadis itu. Entah setan terkutuk dari mana yang merasuki tubuh Ofelia karena kini tanpa tahu malu gadis itu dengan penuh percaya diri lalu menjatuhkan tubuhnya ke pelukan laki-laki itu. Ofelia bisa merasakan getaran yang sama seperti ketika Daryl melakukan sentuhan fisik padanya di awal perkenalan mereka dua setengah tahun silam. Bedanya kali ini efeknya lebih hebat hingga membuat Ofelia melupakan rasa gengsi yang selama ini ia junjung tinggi saat menahan diri untuk membalas setiap skinsip yang dilakukan oleh Daryl. Dengan jarak tanpa sekat seperti ini membuat Ofelia bisa mencium aroma parfum Shayne yang lebih manis dan kalem dibanding aroma parfum Daryl yang berorama cytrus dan maskulin. “Kamu apa kabar, Me?” sapa Shayne setelah keduanya saling memisahkan diri dari pelukan tanpa rencana itu. “Baik,” jawab Ofelia sembari tersenyum getir. Rasanya dia ingin menangis detik itu juga. Bukan karena harus berhenti memeluk Shayne. Melainkan karena Shayne masih mengingatnya dengan sangat baik bahkan nama panggilan khusus yang diberikan laki-laki itu padanya. Sejarah pemberian nama panggilan khusus itu karena Shayne memang adalah keturunan Tionghoa dari pihak ayahnya. Dia terbiasa memanggil adik atau saudara yang umurnya lebih muda darinya dengan sebutan Meme. Sejak tahu Ofelia adalah anak bungsu dan dipanggil Dedek di rumahnya, maka Shayne memanggilnya dengan panggilan Meme sebagai kata ganti Dedek yang menurutnya lucu. Nama itu diberikan Shayne ketika mereka duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Dan Ofelia hanya mengizinkan Shayne saja yang menggunakan nama panggilan itu. Sama seperti nama Dedek yang hanya boleh digunakan oleh anggota keluarga intinya saja. “Kamu ke mana aja selama ini?” tanya Shayne lagi. “Nggak kemana-mana,” jawab Ofelia dengan belum sepenuhnya terkumpul. “Kata Dika kamu kuliah dan kerja di Jepang?” “Oh, iya. Tapi sekarang udah stay di Jakarta lagi. By the way, selamat ya atas pertunangan kamu dan Megan. Aku nggak nyangka kamu akan menikah sama teman SMP aku.” “Yeah, ceritanya cukup panjang dan nggak akan cukup waktu satu atau dua jam buat cerita.” “Kalau udah tunangan berarti dikit lagi nikah. Kapan rencananya?” Ingin sekali Ofelia melempar mulutnya dengan apa saja yang bisa diraihnya saat ini ketika dengan berani-beraninya melempar pertanyaan basa basi yang terlalu basi itu. “Masih dipikir-pikir dulu. Aku santai nggak mau terburu-buru.” Sebenarnya ada hal yang membuat Ofelia gelisah atas jawaban Shayne. Dia sangat ingin memastikan dirinya bahwa makna dari ucapan Shayne adalah ingin memberinya kesempatan untuk maju dalam hal mendekati laki-laki itu. Karena saat ini Ofelia sedang menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada di dalam pepatah ‘sebelum janur kuning melengkung di depan rumahmu, maka kamu masih menjadi milik umum, jadi siapapun berhak untuk mendapatkan dirimu’. Meski terdengar gila tapi begitulah yang kini sedang memenuhi pikiran konyol Ofelia. Sayangnya panggilan dari Sonia di pintu masuk membuatnya mengurungkan niat itu. “Dek, ayo!” panggil Sonia. Ofelia mengangguk sembari melambaikan tangannya memberi kode pada Sonia supaya keluar lebih dulu, lalu menghadap kembali pada Shayne. “Aku duluan ya. Kakak aku udah kelar,” sesal Ofelia. “Kakak? Seingat aku saudara kamu cowok semua, Me.” “Oh, itu kakak ipar aku. Istri abangku yang nomor dua.” Shayne mengangguk paham. “Anyway… aku boleh telepon kamu, Me?” tanya Shayne. “Boleh-boleh aja,” ucap Ofelia kemudian merogoh tasnya. “Kamu cari apa? Kalau cari kartu namamu nggak usah. Aku udah punya kartu namamu. Dika baru kasih tiga hari yang lalu. Sebenarnya aku mau telepon kamu. Tapi aku terlalu hectic sama kerjaan sampai-sampai lupa mau ngubungin kamu.” “It’s okay. You can call me anytime,” jawab Ofelia santai. Padahal saat ini ada gemuruh hebat di dalam jantungnya. “You sure?” Ofelia mengangguk yakin. “Okay, I’ll call you,” ucap Shayne, kemudian melangkah untuk kembali memeluk Ofelia. Bukannya berniat untuk menggoda tunangan orang lain ketika Ofelia membalas pelukan hangat Shayne dengan senang hati. Namun dia hanya ingin merayakan kebahagiannya ini. Ya, meski setelah ini dia harus kembali menangis hingga berdarah-darah karena harus segera merelakan Shayne untuk orang lain. Setidaknya dia pernah merasakan pelukan hangat orang yang begitu disukainya selama 15 tahun untuk yang pertama kali, bahkan mungkin bisa jadi yang terakhir. Ofelia bergerak untuk melepaskan diri dari pelukan Shayne. Dia tidak mau jika semakin lama berpelukan akan membuat tubuhnya jatuh lemas ke lantai. Setelah saling melepaskan diri dari pelukan satu sama lain, keduanya lalu bercipika cipika sebagai tanda pamit. Ofelia terus melangkah tanpa berani menoleh ke belakang. Kepalanya begitu berisik saat ini. Ada suara yang menuntutnya untuk menoleh dengan iming-iming Shayne masih menatap kepergiannya, ada juga yang menuntut untuk tidak menoleh sedikitpun dengan peringatan tegas bahwa laki-laki itu tidak akan mungkin membuang waktunya untuk sekadar menunggunya keluar dari restoran. Setelah berada di mobil kakak iparnya, Ofelia meyemburkan napas lega seolah baru saja menahan napas selama puluhan menit. Tingkahnya itu berhasil ditangkap oleh Sonia yang menatap lurus padanya. “Cowok tadi siapa, Dek?” Awalnya Ofelia kesulitan untuk menjelaskan tentang Shayne. Sebenarnya dia ingin menyerah menutup rahasia yang telah dipendamnya selama belasan tahun dan memilih menjelaskan apa adanya pada Sonia. Namun urung setelah mendengar pernyataan Sonia soal Shayne. “Gue kira tadi itu si Bule. Tapi pas doi noleh ternyata bukan. Untung nggak langsung gue samperin tadi,” komentar Sonia sambil tertawa. “Hah? Bule? Daryl?” “Iya. Dari belakang doang.” “Oh,” jawab Ofelia sekenanya. “Ngomong-ngomong lo ngajak Daryl ke acaranya si Aline?” tanya Sonia setelah Ofelia tancap gas meninggalkan pelataran parkir restoran. “Ngapain?” “Yakali aja, lo udah capek banget ngadepin pertanyaan orang-orang soal calon pasangan. Jadinya lo ngajak Daryl buat lo jadiin tameng.” “Astaga, gue nggak sedesperate itu ya, Kak.” Ofelia lalu menanggapi dengan tawa santai komentar kakak iparnya itu. Beruntung perhatian Sonia sedikit teralihkan pada Daryl. Hampir saja Ofelia berpikir bahwa kakak iparnya yang satu itu bisa membaca perasaannya terhadap Shayne, mengingat wanita itu adalah seorang psikolog. Selanjutnya Ofelia harus berhati-hati atau lebih baik lagi untuk tidak membahas soal Shayne dengan Sonia. Kalau Sonia sampai tahu tentang perasaannya pada Shayne, maka sudah bisa dipastikan hal itu tidak akan menjadi rahasia pribadi. Sonia memang bisa menjadi penyimpan rahasia paling handal. Namun jika menyangkut soal perasaan Ofelia terhadap laki-laki, maka seluruh keluarga inti Ofelia berhak tahu. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD