7. Lamunan Panjang

1570 Words
Saat sekolah dulu, teman-temannya tidak ada yang tahu bahwa Ofelia pernah menyukai laki-laki dari kelas lain yang isinya anak-anak pandai dan populer di sekolah bernama Shayne. Bahkan saat Shayne secara terang-terangan mulai mendekatinya ketika mereka SMA. Ketika Ofelia melanjutkan pendidikan SMA di sekolah yang sama dengan Shayne, laki-laki yang disukainya itu selalu mencari cara untuk bisa berbincang dengannya, dan beberapa kali baik Ofelia maupun teman-temannya memergoki Shayne memandanginya dengan tatapan penuh arti. Namun bukannya senang karena rasa sukanya mendapat balasan dari Shayne lalu melanjutkan proses pendekatan ke langkah selanjutnya untuk bisa menjadi sepasang kekasih, Ofelia justru selalu berusaha untuk tidak menghiraukan sikap Shayne yang menjurus ke arah menyukainya. Ofelia selalu beranggapan bahwa tingkah laku Shayne itu hanyalah perasaannya saja. Bukan tanpa alasan Ofelia memiliki anggapan seperti itu karena sejauh yang ia tahu, dirinya bukanlah tipe gadis yang pernah dekat bahkan berpacaran dengan Shayne. Kemudian seiring berjalannya waktu tingkah Shayne berhasil ditangkap oleh sahabat-sahabat Ofelia, terutama Rosita dan Carol yang kebetulan satu SMA yang sama dengan Ofelia dan Shayne. Kecuali Megan yang juga sahabat Ofelia sejak SMP harus berpisah saat SMA karena mengikuti kedua orang tuanya yang pindah tugas keluar kota. Sehingga Megan tidak tahu apa-apa soal perhatian khusus Shayne terhadap Ofelia. Ketika Ofelia mengatakan bahwa Shayne tidak mungkin tertarik padanya, Rosita dan Carol berusaha keras untuk menyangkal keyakinan gadis itu. Mereka mengatakan bahwa Ofelia cukup good looking untuk ditaksir oleh seorang Shayne Anteros Devan yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Reaksi Ofelia kala itu hanya tertawa terbahak mendengar pernyataan kedua sahabatnya. Dia hanya mengucap terima kasih atas pujian itu dan menganggapnya angin lalu. Sikapnya yang cuek, kulit sawo matang, tubuh dengan tinggi rata-rata perempuan Indonesia, pipi cubby lengkap dengan kawat gigi warna warni membuatnya merasa jauh dari kata good looking versi sahabat-sahabatnya. Pernyataan kedua sahabatnya itulah yang membuat Ofelia justru semakin sadar diri dan menganggap bahwa Shayne tidak benar-benar mencoba mendekatinya karena ketertarikan secara fisik. Kepercayaan diri Ofelia untuk menunjukkan ketertarikannya pada Shayne semakin terkikis sejak saat itu. Dia justru merasa takut ketika Shayne pada akhirnya tahu bahwa dirinya menyukai laki-laki itu dan ternyata situasinya berbanding terbalik dengan bayangannya. Dia merasa khawatir Shayne hanyalah ingin bermain-main dengan perasaannya dan tidak sungguh-sungguh menyukainya. Lebih mengerikan daripada itu OFelia beranggapan bahwa Shayne hanyalah menjadikannya bahan taruhan dengan teman-teman geng populernya. Hal yang biasa terjadi di kalangan remaja sekitarnya kala itu. Ofelia bisa tahu karena tak sedikit teman-teman laki-laki sekelasnya yang melakukan hal serupa pada segelintir teman perempuan mereka. Dan Ofelia tidak mau menjadi korban berikutnya dari permainan seperti itu. Sehingga yang bisa Ofelia lakukan adalah mengambil langkah seribu yakni kabur ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya. Waktu terus bergulir hingga tanpa terasa bertahun-tahun terus berlalu, akan tetapi perasaan Ofelia pada Shayne tidak pernah memudar. Beberapa kali dia mencoba menjalin hubungan dekat dengan laki-laki, sayangnya tidak ada satupun yang bertahan lama. Semuanya berakhir tanpa alasan yang jelas. Dan Ofelia selalu menjadi orang yang paling menginginkan hubungan itu berakhir. Ofelia bertekad untuk segera bertemu Shayne ketika dia memutuskan kembali ke Indonesia. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Shayne secepat mungkin agar dia bisa segera membuka pintu hatinya untuk laki-laki lain jika memang Shayne tidak benar-benar menginginkan dirinya. Meski sebenarnya dia merasa yakin bahwa Shayne tidak menyimpan perasaan apa pun untuknya, karena sejak berada di Jepang, tidak sekalipun Shayne mencoba menghubunginya. Hal itu sudah menjadi bukti otentik bagi Ofelia tentang perasaan Shayne padanya. Kendati begitu dia masih merasa tetap perlu bertemu dengan Shayne. Setelah kembali dari Jepang sebenarnya Ofelia sudah berniat untuk bertemu dengan Shayne. Namun dia selalu menyingkirkan kesempatan bertemu laki-laki yang bisa dikatakan merupakan cinta pertamanya itu dengan berbagai alasan. Salah satu alasan klasik yang kerap Ofelia gunakan adalah sibuk dengan aktivitasnya mencari pekerjaan baru di Jakarta. Padahal jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Ofelia hanya tidak memiliki keberanian bertemu laki-laki itu. Bahkan untuk sekadar menanyakan tentangnya saja dia tidak berani. Informasinya soal Shayne menjadi semakin terbatas seiring berjalannya waktu. Sedangkan teman-teman sekolahnya maupun teman-teman sekolah Shayne juga tidak bisa memberikan informasi apa pun tentang laki-laki itu karena memang mereka semua berada di lingkaran pertemanan yang berbeda. Sehingga kemungkinan untuk terhubung dengan Shayne baik sengaja maupun tidak disengaja sangatlah kecil. Ditambah lagi teman-teman dekat Ofelia sejak SMP yang masih menjalin hubungan persahabatan dengannya tidak ada satupun yang tahu kalau Ofelia masih menyimpan rapi perasaannya pada Shayne hingga detik ini. Ofelia terlalu malu untuk berbagi informasi soal yang perasaannya yang begitu mendalam terhadap Shayne kepada ketiga sahabat baiknya. Teman-temannya pun tidak pernah sekalipun membahas soal Shayne dalam setiap sesi obrolan mereka ketika bertemu, baik secara virtual maupun bertemu langsung ketika Ofelia pulang untuk berlibur di Indonesia ketika masih kuliah. Bulan demi bulan terus berganti dari sejak Ofelia kembali ke Indonesia. Namun waktu dua tahun belum juga cukup baginya untuk benar-benar siap mencari tahu tentang Shayne apalagi menemui laki-laki itu. Apalagi semenjak tinggal lagi di Jakarta ada banyak hal yang dipikirkan oleh Ofelia. Sehingga ia jadi tidak punya waktu memikirkan soal rencananya untuk menemui Shayne. ~ Sepertinya Ofelia melamun cukup lama. Sampai-sampai ia tidak sadar jika Daryl sudah berdiri di sisinya. Barulah setelah laki-laki itu meremas pundaknya Ofelia tersadar dari lamunan panjangnya. “Are you okay, Fe?” tanya Daryl khawatir. Bertepatan dengan itu pintu lift terbuka dan keduanya masuk begitu saja tanpa obrolan apa pun. Setelah berada di dalam lift Ofelia hanya mengangguk diiringi senyum getir di wajahnya. Ofelia melamun selama beberapa saat. Ia dikejutkan dengan paper bag yang tiba-tiba bergelantungan di depan wajahnya. “Apa ini?” tanyanya bingung setelah tahu yang menyodorkan paper bag itu adalah Daryl. “Coklat dubai sama baklava. Oleh-oleh sepupu gue dari Dubai.” “Buat gue?” tanya Ofelia. “Iya, buat lo. Waktu itu lo bilang pengen baklava-nya Emirates Business Class Lounge yang lo makan waktu transit di Dubai. Jadi begitu tahu sepupu gue ada acara ke Dubai langsung gue minta buat bawain. Kalau coklat dubainya bonus,” jelas Daryl. Ofelia tertegun mendengar penjelasan Daryl. Seingat Ofelia, dia mengatakan soal keinginannya itu sudah hampir satu bulan yang lalu. Dia sendiri saja sudah lupa akan hal itu. Sedangkan Daryl tetap mengusahakan untuk bisa memenuhi keinginannya. Tiba-tiba saja Ofelia merasa gelisah tak bertuan. Sebuah rasa khawatir tidak bisa membalas segala bentuk kebaikan dan perhatian yang diberika oleh Daryl selama dua setengah tahun pertemanan mereka, membuat perasaan Ofelia tidak nyaman. Meski dia tahu Daryl adalah orang yang tulus, tapi dia tetap saja merasa perlu membalas semuanya. “Banyak banget ini,” komentar Ofelia setelah sudah berada di mobil Daryl sambil melihat isi di dalam paper bag. “Buat stok. Jangan diabisin sekaligus. Diabet entar lo.” “Ngeri amat ancamannya bawa-bawa penyakit.” “Biar Dedek takut. Soalnya gue tahu lo mendadak jadi rakus dan nggak tahu diri kalau udah ketemu camilan dan coklat.” “Sialan lo!” maki Ofelia diiringi tawa lepas Daryl. “Salam ya, buat sepupu lo. Terima kasih banyak oleh-olehnya.” “Udah gue wakilin tadi bilang terima kasihnya.” Ofelia hanya balas dengan tersenyum tipis. Setelahnya tidak ada obrolan lagi. Dia kembali teringat berita sedih yang disampaikan oleh Andika. Namun dia tidak punya tempat untuk meluapkan kesedihannya itu. Tidak mungkin dia menceritakan soal kesedihannya setelah mendapat kabar soal pertunangan ‘temannya’ pada orang-orang terdekatnya terutama Daryl. Jadi dia memilih untuk menyimpan sendiri kesedihan itu. Terlebih teman yang akan bertunangan itu adalah Shayne, laki-laki yang namanya selalu terukir indah di dalam hati Ofelia selama belasan tahun terakhir. Sekali Ofelia cerita soal kesedihannya itu, maka rahasia yang coba dia simpan selama ini soal obsesinya pada Shayne akan terungkap dan hal itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri. “Dia mau tunangan minggu ini.” Suara Daryl kembali memecah suasana yang sempat hening selama beberapa saat. “Hah? Siapa?” tanya Ofelia bingung. Lebih tepatnya dia tiba-tiba sadar dari lamunannya dan menunjukkan ekspresi linglung. “Lo kenapa, Fe? Ada masalah? Perasaan di mall tadi baik-baik aja. Tapi pas mau balik lo kayak orang bingung gitu,” komentar Daryl. “Nggak juga. Cuma capek aja.” “Capek itu istirahat, Fe. Bukan ngelamun.” “Ya, ini gue lagi istirahat. Mau tidur tapi nanggung. Dikit lagi juga nyampek rumah.” “Ya, udah tidur aja. Keliling satu jam juga nggak bakal bikin BBM mobil gue boncos.” “Nggak usah, Ryl. Gue mau tidur di rumah aja.” Daryl hanya balas dalam gumaman. Dia lalu mulai menurunkan kecepatan laju mobilnya. “Sebenarnya gue pengen ngajak lo buat nemenin ke acara pertunangan sepupu gue. Tapi takut lo nggak siap lahir batin ngadepin omongan random keluarga gue nanti. Karena nanti akan kumpul semua generasi di acara itu.” “Iya, jangan. Gue nanti bingung mesti jawab apa kalau ditanya siapanya Daryl sama keluarga lo.” “Ngapain bingung. Jawab aja pacarnya Daryl. Tenang aja, nggak bakal langsung disuruh nikah detik itu juga kok,” balas Daryl santai. Ofelia terdiam. Selanjutnya tidak ada pembahasan lebih jauh lagi soal itu. Bahkan selama perjalanan hingga Daryl menghentikan laju mobilnya di depan rumah Ofelia, tidak ada obrolan apa pun di antara keduanya. Hanya deru mesin mobil, pendingin udara dan suara kendaraan lain yang mengisi 20 menit sisa perjalanan mereka. Bukan Ofelia sedang tidak berminat menanggapi candaan Daryl malam ini. Namun tiba-tiba dia kehabisan energi untuk melakukan apa pun. Dia hanya ingin diam saja dan tidak ingin diganggu. Sebenarnya dia tidak boleh bersikap seperti ini saat bersama orang lain karena tentu tidak adil untuk Daryl. Sahabatnya itu tidak ada hubungannya dan tidak pantas dijadikan samsak atas kesedihan yang sedang melanda perasaannya. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD