19. Kabar Mengejutkan

1414 Words
Ofelia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Daryl. Gadis itu nyelonong pergi melewati tubuh tinggi Daryl. Tentu saja bukan hal sulit bagi Daryl untuk membuat Ofelia berhenti melangkah. “Mau ke mana lo?” tanya Daryl setelah meraih pangkal lengan Ofelia. “Ke toilet,” jawab Ofelia gusar. “Gue perlu bicara sama lo,” ujar Daryl lirih. “Kenapa tiba-tiba jadi perlu bicara sama gue setelah ketemu gue di sini? Biasanya juga meski lo nggak perlu apa-apa bisa tiba-tiba nongol aja di depan gue,” ujar Ofelia berusaha menyembunyikan kegusarannya di balik topeng ketusnya. “Gue hectic banget beberapa hari ini. Ada beberapa masalah yang mesti gue selesaikan di divisi gue,” jelas Daryl dengan suara tenang. “Pulang kantor kita makan malam bareng dulu ya. Tempatnya lo aja yang nentuin.” “Lo pikir cuma lo doang yang hectic? Gue juga lagi banyak kerjaan,” balas Ofelia tak mau kalah. Tak pantang menyerah Daryl bertanya pada rekan-rekan satu divisi Ofelia yang kini menjadi penonton setia drama yang sedang tampil secara langsung di hadapan mereka. “Divisi kalian lagi banyak kerjaan nggak?” tanya Daryl santai. Tiga teman Ofelia yang tadi datang bersama saling pandang seolah mencari kata sepakat untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. “Biasa aja. Malah seminggu ini lebih santai karena semua laporan udah beres kemarin,” jelas salah satu rekan Ofelia. “See? Lo mau alasan apa sekarang?” Kini Daryl mengalihkan pertanyaan pada Ofelia. “Lihat entar, deh!” ujar Ofelia tak acuh lalu mengempaskan tangan Daryl dari pangkal lengannya. Kemudian dia bergegas pergi menjauh dari tatapan intens Daryl. Begitulah hingga beberapa hari kemudian Ofelia berbalik menghindari Daryl. Gadis itu tidak mau membalas chat apalagi menerima panggilan telepon dari Daryl. Tak pantang menyerah Daryl mencoba menelepon lewat telepon line divisi Ofelia. Namun Ofelia mengancam semua staf yang ada di divisi produksi untuk tidak menggubris panggilan telepon dari Daryl serta mengatakan kalau divisi mereka sedang sangat sibuk. Entah apa yang ingin Daryl bicarakan dengan Ofelia sepertinya begitu penting. Sayangnya Ofelia sama sekali tidak tertarik dan ingin tahu akan hal itu. Dia merasa sakit hati karena merasa Daryl tak mengacuhkan dirinya setelah insiden di mobil beberapa waktu lalu. Bukannya memberi penjelasan Daryl juga dipergoki jalan dengan gadis muda lainnya seolah tak punya dosa sedikitpun. Ofelia merasa jengkel diperlakukan seperti itu oleh Daryl. Hingga akhirnya Daryl sudah kehabisan akal, dia pun menelepon manajer divisi Ofelia dan menyampaikan urgenitasnya untuk berbicara dengan Ofelia. “Fe, ini gue. Kita harus bicara secepatnya,” ujar Daryl di telepon. “Bicara apa?” tanya Ofelia dingin. “Soal Shayne. Lo kapan ada waktu?” “Gue nggak ada urusan sama sepupu lo.” “Tapi ini ada hubungannya sama lo.” “Gue? What’s problem?” “Makanya itu gue perlu ketemu dan bicara sama lo.” Ofelia memutus panggilan telepon secara sepihak. Ternyata ini bukan tentang dirinya dan Daryl. Dia kira Daryl memaksa ingin bertemu dan bicara untuk membahas tentang mereka berdua. Ofelia tertawa getir sembari menatap ponsel milik manajernya di atas meja. Tak ketinggalan dia mengumpat dalam hatinya. ~ Hari ini Ofelia memutuskan untuk memenuhi undangan Shayne. Dia merasa perlu bertemu dengan Shayne lebih dulu sebelum mendengar penjelasan dari Daryl. Satu jam sebelum Shayne menjemputnya di rumah dia telah bersiap. Dia tidak suka membuat orang lain menunggu, karena begitu sebaliknya dia tidak suka menunggu. “Kamu mau ke mana, Dek?” tanya Bapak Ofelia melihat anak perempuannya turun dari tangga dalam keadaan rapi di akhir pekan seperti ini. “Mau pergi sama temen. Nonton live musik. Nggak sampai malam kok, Pak.” “Siapa temen kamu? Rosita? Carol?” tanya sang bapak lebih mendetail. “Bukan dua-duanya. Temen SMA aku. Namanya Shayne.” “Oh, cowok? Pacar kamu?” “Bukan, Pak. Aku udah bilang temen tadi, kan?” “Jangan lupa handphone harus tetap online. Kabari juga abang kamu kalau mau pergi trus kirim lokasi kamu. Jadi kalau ada apa-apa bisa buru-buru disamperin.” “Iya, Pak.” “Cowok yang mau pergi sama kamu siapa, Dek?” Tiba-tiba Ibu Ofelia menyambar dengan pertanyaan lain. “Bukannya tadi aku udah jawab ya, Bu?” “Ya, tahu namanya Shayne dia temen SMA kamu. Maksudnya itu siapa dia? Kok tumben kamu jalan sama cowok gitu.” “Ya, udah besok-besok aku jalan sama temen cewek aja biar nggak diinterogasi kayak gini.” “Dih, cuma nanya doang udah ngerasa kayak diinterogasi.” “Kan udah dijawab, Bu. Kalau aku bilang temen ya, temen. Aku ini udah jawab terang-terangan loh.” Beruntung Bik Lani segera datang menghentikan perdebatan antara Ofelia dan Ibunya. Wanita itu menyampaikan bahwa ada mobil berhenti di pagar depan rumah. Ofelia menahan Bik Lani membukakan pintu pagar karena dia yang akan membukanya sekaligus pamit pergi. “Kok nggak disuruh masuk dulu, Dek?” protes ibu Ofelia dengan keputusan Ofelia. “Udah telat, Bu. Aku berangkat dulu ya,” pamit Ofelia lalu menyalami kedua orang tuanya. Sesampainya di pagar rumahnya, Ofelia melihat Shayne sudah keluar dari mobil dan hendak berjalan menuju ke arahnya. Ofelia mempercepat langkahnya untuk menyambut kedatangan Shayne. “Aku nggak perlu pamit dulu ke ortu kamu?” tanya Shayne setelah Ofelia mengajaknya berangkat. “Nggak perlu. Aku udah pamit kok.” “Nggak apa-apa, nih?” “Ya, nggak apa-apa juga,” jawab Ofelia santai. Dia merasa tidak perlu memperkenalkan Shayne pada orang tuanya karena menganggap itu tidak penting. Ofelia tidak mau kedua orang tuanya berpikiran lebih jauh tentang jalinan pertemanan di antara dirinya dengan Shayne kalau dia nekat memperkenalkan laki-laki itu. Karena sudah bisa dipastikan informasi soal Shayne yang diperkenalkan kepada kedua orang tua Ofelia akan segera menyebar dan berbuntut menjadi bulan-bulanan anggota keluarga intinya yang lain. Hal ini sudah terjadi pada Daryl. Dimana selama hampir tiga tahun hanya nama itu yang menjadi topik pembahasan seolah Ofelia tidak memiliki teman dan kisah asmara dengan laki-laki lain. Padahal dia sudah berulang kali menjelaskan kalau dirinya dan Daryl hanya berteman. Namun masih saja disangka hubungannya dengan Daryl lebih dari itu. Selama perjalanan menuju Kemang Ofelia tidak banyak bicara. Dia hanya menjawab seperlunya saja pertanyaan dari Shayne. Sekitar pukul sembilan malam mereka tiba di salah satu night club terkemuka di daerah Jakarta Selatan. Shayne menawarkan tangannya untuk digandeng Ofelia. Tanpa pikir panjang dia meraih tangan itu karena tidak ingin seperti anak ayam yang kehilangan induknya. “Jalannya jangan jauh di belakang aku, Me,” ucap Shayne sambil tersenyum lembut pada Ofelia. Ofelia kemudian menyamai langkah Shayne yang membuat keduanya berdempetan satu sama lain. Setelah berjalan selama beberapa langkah untuk menemukan lokasi tempat duduk mereka, Shayne memegang pinggang Ofelia untuk menembus keramaian night club malam ini. Tubuh Ofelia sempat menegang selama beberapa detik. Beruntung dia bisa segera mengatasi kegugupannya dan segera bergerak mengikuti langkah Shayne yang terkesan seperti menyeretnya. Ketika sudah sampai di tempat yang dituju, sebuah booth kecil di sudut ruangan, kemudian Shayne mempersilakan Ofelia duduk dengan nyaman di bagian dalam sementara dirinya duduk di samping Ofelia. Setelah duduk dengan tenang Shayne memanggil waiter dan memesankan minuman untuk mereka berdua. Ofelia merasa sedikit risih dengan posisi duduk mereka saat ini. Ditambah ketika tangan Shayne terulur di atas sandaran sofa yang mengarah ke belakang kepala Ofelia. Seolah-olah Shayne seperti memaksa untuk duduk lebih dekat dengan Ofelia. Untuk mengontrol kegugupannya Ofelia berpikir keras mencari topik obrolan. “Kalau Megan diajak seru kali ya. Aku bisa sekalian ajak Rosita dan Carol,” ujar Ofelia sembari terkekeh membayangkan mereka berempat reuni dadakan di sini. Shayne tidak lantas memberi respon. Dia menjawab setelah menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar. “Aku nggak bisa melanjutkan hubunganku dengan Megan,” ucapnya lirih. “Maksudnya?” “Aku memutuskan untuk mengakhiri pertunangan kami.” Tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman dalam diri Ofelia. Dia tidak tahu mesti menanggapi bagaimana kabar mengejutkan ini. Dia tidak tahu harus senang atau sedih mendengarnya. “Why, Shayne? Ada masalah apa sampai harus berujung putus?” tanya Ofelia akhrinya setelah terjadi pergolakan di dalam batinnya. “Ada sesuatu yang bikin aku ragu sama dia.” “Memangnya nggak bisa dibicarakan baik-baik? Kalian sudah mau menikah loh.” Shayne menggeleng pelan. “Pada dasarnya yang mau menikah itu Megan. Aku belum siap sepenuhnya. Dan semakin nggak siap setelah mengetahui sebuah kebenaran yang membuat aku terpaksa mengambil keputusan itu.” “Kebenaran apa yang membuat kamu sampai ngambil keputusan itu?” tanya Ofelia ragu. “Kebenaran yang membuat aku harus berpikir keras untuk meyakinkan perasaanku sama Megan.” “Tapi kamu beneran cinta sama dia?” “Aku juga bingung,” jawab Shayne dengan wajah sendu. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD