menyesal

1072 Words
Pov fahmi Rasanya sangat malas kalau tidak ingat masa depanku sama lisna, harus datang kesekolah sepagi ini. "Aku bantu apa" tanyaku menatap dalari yang lagi menyapu lantai. "Gak usah, abang tunggu saja dibangku mungkin fatimah sebentar lagi datang" pinta dalari tanpa menghiraukanku. "Tapi aku gak enak masa aku cuma duduk saja, sedangkan kamu bekerja" celotehku yang tidak enak hati. Rasanya sangat jahat jika teman kesusahan aku hanya ongkag ongkang melipat kaki. "Kalau gak enak kasih kucing saja bang, lagian ini sudah tugasku, bang fahmi santai saja" ujarnya menghentikan kerjaan lalu menatapku. "Ya apa ke jangan jadikan aku sebagai majikan mu" ujar yang masih merasa tidak enak hati. "Justru kalau bang fahmi mengajakku mengobrol terus, kerjaanku tak selasai selasai" ujarnya sambil senyum. Aku mengikuti perintahnya duduk diteras depan ruang guru. Tak lama terlihat muncul sesok wanita mungil berpakain putih biru mendekati ruangan kelas. Semakin dekat semakin bederap jantungku seperti kuda pacu yang lagi karapan. "Dal sudah datang" bisikku mengingatkan dalari yang masih menyapu. "Iya aku juga lihat" terlihat raut mukanya panik. "Terus gimana" balasku menatapnya. "Ya sudah tunggu aja, kenapa jadi takut begini ya" ujar dalari yang merasakan hal yang sama. yang ditunggu berhenti mematung ketika melihat aku sedang menunggunya, terlihat raut mukanya sangat panik. "Bagaimana dia tidak mau kesini" tanyaku sama dalari. "Bentar aku samperin dulu, siapa tau dia mau kesini" dalari menyimpan alat kerjanya. Lalu bangkit menuju arah fatimah yang sedang mematung. Terlihat dia berbincang sebentar lalu kembali menuju arahku diikuti fatimah. Sesampai didepanku dia hanya senyum getir lalu menundukan kepala. "Fat maaf ya atas ketidak sopanku yang lancang mengirim surat, tujuan baik kok aku hanya ingin berkenalan dengan kamu lebih dekat" aku mengawali pembicaraan. "Terus kenapa minta maaf" jawabnya ketus. "Ya harus minta maaf siapa tau saja kamu tidak nyaman atas ketidak sopananku" ujarku lembut. "Terus kalau aku maafin bagaimana" tanyanya sambil tetap menedukan muka. "Itu yang diharapkan, awalnya kita baik maka harus baik lagi, jangan gara gara masalah aku suka sama kamu hubungan kita jadi musuhan" jelasku. Dia hanya menarik napas panjang, lalu dihembuskan dengan kasar. "Kalau tidak aku maafin bagaimana" tanyanya lagi mendesak. "Ya kalau tidak dimaafin ya tidak apa apa yang wajibkan meminta maafnya, urusan dimaafkan atau tidak itu urusan maha pemaaf" ujarku dengan lirih, tak menyangka akan sesulit ini. "lantas apa yang membuat kak fahmi mengirim surat seperti kemarin" tanyanya menatap dengan bola mata terbuka. "Seperti yang aku bilang diawal tadi aku hanya mengagumimu dan hanya ingin mengenalmu itu saja" aku menjelaskan sedetail mungkin. "Perasaan kemarin isinya gak gitu deh, kakak nembak aku supaya jadi pacarnya kakakkan" tegas fatimah mengingatkan surat yang kutulis. "Ehhh emmmm eee" mulutku tertahan bingung harus berbohong apa lagi. "Tau gak kak, atas keb0dohanmu itu bisa menjadi malapetaka bagi persahabatanku dengan kak lisna dan bisa jadi merembet keorang tua, secara kamu sudah dia akui sama pak ahmad sebagai calon mantunya, semua orang sudah tau itu" fatimah meluapkan emosinya yang sudah tak tertahan lagi. "Sekali lagi saya minta maaf" ujarku bernada menyesali semuanya. "Wooow mantap banget kak, jangan mentang mentang maaf bisa dipinta jadi kakak seenaknya saja berbuat kesalahan" tukasnya memotong, dia mulai menyerang balik. Aku kira fatimah wanita yang lemah lembut, tapi ternyata perkataan menusuk sampai menusuk kesanubari, padahal cuma mengatakan rasa suka urusanya sampai berbelit begini, rasanya aku ingin menghardiknya kalau dia tak tau kelemahanku, sayangnya aku sudah kalah sebelum bertanding, aku mengirimi dia surat bukan karena suka sama dia tapi lebih kepenasaran saja. "Terus aku harus bagai mana, supaya aku bisa dimaafkan" tanyaku memelas. Dia hanya mengerutkan dahi mugkin memikirkan apa yang dia inginkan. "Harusnya kamu bersyukur kak, kamu itu sudah punya kak lisna wanita cantik nan sholehah, jadi jangan permainkan perasaannya" ucapnya mengulangi seolah belum puas memojokanku. Darahku mulai bedesir mungkin terkuras oleh emosi yang mulai naik. "Iya aku tau aku memang salah, namanya juga manusia pasti banyak kesalahan, mungkin berbeda sama kamu yang berhati malaikat yang tidak pernah membuat kesalahan" ujarku yang mulai kesal dengan nada mengejek. "Lah kenapa malaikat dibawa bawa kak, jangan sok kegantengan deh kakak jadi bisa seenaknya kamu permainkan perasaan wanita" ceramahnya lagi dan lagi menyudutkanku. Mungkin benar kata pepatah ketika kita berdebat sama wanita, laki laki tidak akan menang karena wanita perasaannya sensitif satu yang dibahas maka akan merembet kemana mana. Aku menarik napas panjang lalu kehembuskan ketanah. "Kok sekarang jadi menghina fat" aku tekan suaraku menahan napas yang mulai memburu. "Enggak menghina cuma mengingatkan biar kakak sadar, kakak tuh biasa saja jadi jangan berlaga pake sok sokan pengen selingkuh segala" fatimah mulai mahir menghinaku, yang awalnya menyudutkan. "Sekali lagi saya meminta maaf kalau kamu tidak suka dengan saya tidak apa apa asalkan kamu jangan menghina saya" untuk kesekian kalinya aku meminta maaf. "Siapa yang menghina saya hanya berkata jujur tentangmu kak, ya sudah saya harus membantu dalari bekerja jadi tolong jangan ganggu saya lagi atau yang aku tulis semalam akan jadi kenyataan" ancamnya dengan tatapan serius. "Ya sudah sana kerja mungkin dengan dihukum begitu kepalamu bisa mencair gak keras seperti batu" amarahku mulai meresap keluar. "Mending punya kelapa batu dari pada kakak punya kepala tapi kopong tidak ada isinya, makanya perbuatanya tidak dipikir terlebih dahulu" dengan mata penuh api menatapku. "Terus saja salahkan, aku memang pendosa beda dengan kamu yang berhati mulia" aku meninggikan suaraku kesal dengan ulahnya yang sok suci. "Ya contohlah kalau tau" ketusnya dengan nada mengejek. Dia gak sadar padahal aku menyindirnya, memang kalau punya hati sama kepala batu susah kali sindiran masuk. "Taulah susah ngomong sama wanita batu sepertimu, sekarang terserah kamu lama lama ngobrol sama kamu bisa bisa jantungan" seraya bangkit hendak meningalkan ruang guru menuju kelas tiga. "Katanya mau minta maaf, gak jadi nih atau nanti aku adukan sama kak lisna bahwa pria idamanya tukang selingkuh" aku segera menghentikan langkah lalu menghampiri. "B0do amat" teriakku dengan kencang didepan mukanya sampai air liurku terciprat dimukanya. Mendengar teriakan, dalari yang ada diruang guru keluar memghampiri kita lalu memperhatikan. "Katanya ketua osis, katanya santri, katanya anak pinter tapi seperti ini ya kelakuannya sama wanita" ujar fatimah yang terus memancing amarahku, sekarang melibatkan pendidikanku. "Jangan bawa bawa yang seperti itu, ini murni kesalahan saya, kesalahan yang ingin mengenal wanita batu sepertimu" amarahku semakin naik ingin rasanya tangan ini merob3k mulut jahatnya. "Halah tukang selingkuh saja sok bijak" tanggapnya yang menyungingkan bibir "Si4lan" bentakku sambil mengangkat tangan hendak menamparnya. Namun tangan itu tehenti ketika dalari memeganginua dari belakang sabar. "Sabar bang istrigfar" dalari mengigatkan. "Dasar b4nci beraninya maen pukul sama prempuan, nih pukul, pukul kalau berani" tantangnya sambil mendekatkan mukanya kearahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD