biang onar

1237 Words
Pov dalari Kesokan paginya seperti biasa aku bekerja disekolah. "Hay" ucap wanita yang berdiri diambang pintu. Aku menoleh kearah datangnya suara, ternyata yang menyapa adalah fatimah. Aku heran Mau ngapain lagi dia kesini pagi pagi. "Eh kenapa kamu diam saja" tanyanya lagi sambil tetap berdiri dihadapan pintu. "Kalau nyapa orang itu pake salam bukan hay hay, emangnya aku cowok apakah" jelasku sambil tetap mengepel lantai ruang guru. "Oh iya assalamualaikum" ujarnya sambil cecengengsan. "Waalaikumsalam kamu mau apa datang pagi pagi kesini, gak dicarin orang tua kamu tuh" tanyaku yang lagi mencelupkan kain pel keember. "Gak apa apa aku mau ngasih keripik pisang titipan dari ibu" ujarnya sambil mengaitkan plastik dihandel pintu. "Terimakasih" balasku singkat. Aku melanjutkan lagi pekerjaanku tanpa memperdulikan dia lagi, setelah ruang guru beres. Terlihat di ujung teras fatim lagi menyapu, aku hanya mengelengkan kepala lalu pergi ke toilet sekolah untuk menganti air yang sudah mulai menghitam oleh debu debu lantai. "Kamu tinggal ngepel, gimana aku baik banget kan" serunya memuji diri sendiri. Aku hanya seyum getir sambil mengelap setiap keramik dari debu yang menempel, dia yang memperhatikanku masih berdiri di tempat tadi terlihat dari keningnya keluar butiran lembut yang membasahi. "Bilang terimakasih kek, aku kan sudah bantuin kamu menyapu bukan malah senyum senyum kaya embe lagi pengen kawin" ujarnya melanjutkan celotehanya. "Oh iya terimakasih" aku berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi, pekerjaanku. "Nyebelin banget sih kamu" sambil duduk di bangku yang ada didepan ruang guru. Selesai ngepel aku mengabil lidi untuk memberesihkan halaman. "Kamu jangan memakai sepatu keteras gitu, guru aja tidak ada yang berani" bentak seseorang. Aku yang sebentar lagi menyeleaikan pekerjaanku seketika bangkit lalu menoleh kearah datangnya suara. Terlihat pak chandra lagi berdiri sambil bertolak pinggang memandangi fatimah yang lagi berdiri diatas teras sekolah dengan memakai sepatu yanv penuh denga tanah, Aku menunda pekerjaanku lalu menghampiri pak chandra "Ada apa pak" tanyaku panik sambil menatap fatimah yang lagi berdiri diteras yang baru aku pel. Terlihat teras sangat kotor akibat injakan sepatunya. Maklum jalan kami masih tanah merah sepatu akan mudah kotor, maka dari itu sekolah membuat pelaturan melarang pakai sepatu ketika ada diruang atau teras kelas. "Ini anak padahal disekolah diajarin etika tapi dia tidak menerapkanya" gerutu pak chandra. "Gak apa apa biar nanti aku pel lagi pak" kata seraya menjauh mendekati ember mau diisi dengan air. "Gak usah biar kan dia tangungung jawab. Fatimah sekarang beresihkan lagi itu teras" seru pak chandra. "Iya pak" jawab fatimah seraya mengabil ember dan menuju ke toilet. "Ya udah kamu lanjutin perjaanya lagi terus sarapan" perintah pak chandra terhadapku. Aku pamit mundur dari hadapan pak chandra, sambil berjalan aku berpikir kenapa pak chandra bisa datang sepagi ini biasanya beliau berangkat pukul 07:45. 30 menit lebih awal dari bel masuk pelajaran pertama. Setelah aku pergi pak chandra masuk keruang guru tak lama keluar lagi sambil membawa map. Aku kembali meneruskan meberesihkan halaman yang tadi tertunda. Selesai memberesihkan halaman aku kembali keruangan guru untuk maraoihkan alat alat kerjaku, ternyata fatimah masih mengepel teras yang masih kotor. Bagaimana gak kotor dia mengepel tampa membuang tanahnya dulu. Melihat dia kepayahan aku pun mendekatinya, tak tega rasanya bila aku tingalkan. "Harus pake pel tanggan dan dibuang dulu tanahnya soalnya kalau udah basah begini akan susah untuk disapu" saranku sambil jongkok kemudian mengelap sedikit sedikit tanah yang masih menempel dikramik. Dia hanya berdiri mematung menatap kearahku, yang lagi mengelao satu persatu keramik. "Sudah kamu duduk aja gak apa apa aku yang beresin" seruku memerintahnya. "Kamu gak marah gitu" tanyanya tiba tiba. "Marah kenapa ini emang sudah menjadi tugasku" jawabku tanpa menolehnya. "Kan semua ini aku yang ngotorin" jelas fatimah mengakui kesalahannya. "Iya gak apa apa lah kamu itu majikan ku, semua yang ada disekolah ini adalah majikanku kalau dalam kebersihan" ujarku sambil senyum meliriknya. "Kamu baik banget sih padahal aku selalu jahat sama kamu" ujarnya sambil duduk dibangku. "Aku enggak baik kok ini semua kan tanggung jawabku, oh iya terkmakasih yah keripiknya" kataku mengalihkan pembicaraan. "Sama sama tapi kenapa kamu kadang kadang cuek kadang kadang baik seperti sekarang" tanya fatimah sambil membuka botol air minum lalu menuguknya beberapa kali. "Aku bekerja disini, kalau mau ngobrol diluar pekerjaanku" saranku sambil memeras kain pel "Aduh pagi pagi udah asik saja nih mojok berduan" sapa seseorang yang baru datang. "Apaan sih isni sok tau kita gak mojok yah" sangga fatimah sambil menyambut wanita yang bernama isni. "Lah emang iya kan kalian berduan, ingat kamu tuh masih kecil nanti di grebek warga tau rasa loh" ancam isni sambil terkehkeh. Meraka duduk lalu ngobrol meningalkan aku yang masih meresihkan keramik bekas sepatu fatimah, sebenarnya masih heran sama bocah ini padahal tadi dia yang menyapu tapi dia juga yang mengotorinya lagi. "Fatimah kamu malah duduk duduk sedangkan orang lain yang membereskan kerjaanmu" bentak pak chandra yang muncul lagi dengan stelan safarinya. Yang dibentak dia cuma melotot dan mulutnya menganga kaget dengan kedatangan pak chandra. Mungkin keasakin mengobrol membuatnya lupa kalau dia sedang di hukum. "Kamu juga dalari ngapain bantu dia" serunya sambil menatap kearahku. Aku menghampirinya sambil tertunduk. "Maaf pak kalau gak saya kerjain nanti sampe dzuhur juga gak akan beres, dia mengepel tanpa memberesihkan tanahnya dulu, jadi bukanyan bersih yang ada kotornya malah menyebar kemana mana. Itu buktinya pak" belaku sambil menujukan buktinya. Pak chandra hanya mendengus kesal, lalu kembali menatap kearah dua gadis yang masih tertuduk didekat ruang guru. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi. "Kamu itu disekolahkan biar tau etika biar bisa menghormati orang lain, bukan membantu malah menyusahkan, besok panggil bapakmu kesekolah nanti saya buat surat undanganya" seru pak chandra. "Jaa ng aaaaan paaanggilll bapak" jawab fatimah terbata bata. "Kamu nakal banget sih padahal kamu itu cewek bapak bingung ngurus kamu bagaimana" ujar pak chandra. "Bapak boleh hukum apa saja asal jangan memanggil bapak saya kesini" rengekek fatimah sambil menunduk. "Ya sudah tapi ini yang terakhir yah kalau kamu membuat ulah lagi bapak tak kan segan segan memangil orang tuamu kesekolah, sekarang kamu tulis ( saya fatimah naila mengaku bersalah dan tidak akan mengulanginya lagi ) tulis sebayak seratus kali nanti kamu tanda tangani lalu tempel di majalah dinding sekolah, dan selama satu minggu kamu harus mengepel teras sekolah sampai bersih kalau masih kotor maka hukumanmu akan diperpanjang, bagai mana sanggup" jelas pak chandra sambi menatap tajam kearah gadis berkerudung putih itu. "Iya pak saya minta maaf atas semua kesalahan saya. saya berjanji saya tidak mengulanginya lagi dan saya siap melaksanakan hukuman apa saja yang bapak perintahkan asal jangan pangil orang tua saya" jawab fatimah sambil tetap menunduk. Aku yang sudah selesai mengepel lantai segera bangkit lalu merapihkan alat alat kerjaku untuk disimpan kegudang penyimpanan. "Dalari sini dulu" pangil pak chandra ketika melihat aku berjalan menuju gudang Aku menyimpan alat alatku lalu berlari menghampirinya. "Iya ada apa pak" tanyaku sambil menunuduk. "Kamu awasin biang onar ini kalau kerjaanya gak bener tolong diingatkan tapi jangan dibantu, kalau sampai kamu membentunya bapak potong gaji kamu" tegas pak chandra sambil berlalu memasuki ruangan guru tanpa menunggu persetujuanku. Aku cuma garuk garuk kepala yang tidak terasa gatal, bingung mau dipotong gaji berapabsedangakan aku saja belum tau gajinya berapa, dari awal kerja pak chandra belum membahas tentang gaji. Dari pada mikirin yang belum jelas mending aku makan saja, mengisi perut biar pikiranku krmbali fresh. Aku berjalan kembali menuju alat alat yang tadi aku letakkan lalu memasukanya kegudang. "Ini keripiknya kamu lupa yah" ujar fatimah sambil memberikan plastik bersi keripik pisang "Terimakasih yah kamu yang semangat jangan sedih begitu" ujarku sambil menerima pemberian wanita yang mengikutiku sampai kegudang
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD