membuat surat

1111 Words
Pov dalari "Aku selalu semangat kok, asal kamu jangan marah marah lagi" ujar fatimah sambil senyum kearahku. "Ya udah sampai ketemu besok ya, aku harus kembali kepondok, assalamualaikum" aku berpamitan kepada fatimah. "Waalaikumsalam, terimakasih yah tadi sudah membantu" sahut fatimah sambil menundukan kepalanya. Aku membalas senyumnya kemudian beranjak pergi meniggalkan sekolah. Pukul 13:45 aku dan bang fahmi kembali kekamar seusai melaksanakan pengajian ba'da dzuhur. "Kamu makin kesini makin dekat saja sama fatimah, hati hati prempuan bisa berdampak buruk buat pelajaranmu, apalagi kamu mash anak bocah" nasihat bang fahmi mengingatkan. "Terimakasih bang nasihatnya, insya allah aku akan menjaga diri, dan lebih berhati hati" ucapku sambil membuka kitab yang barusan dipelajari dimasjid pondok. "Iya wanita itu meski banyak manfaatnya buat kita para pria tapi madharatnya juga besar, hal yang bermanfaat ketika dia sudah menjadi istri kita, dan bisa jadi penyemangat baik dalam beribadah ataupun bekerja" ujar bang fahmi. "Terus madharatnya seperti apa bang" tanyaku penasaran. "Hadis rasulallah saw bersabda Aku tidak meninggalkan cobaan sesudahku yang lebih mendatangkan mudharat bagi kaum laki-laki selain dari wanita. (Ditakharij Asy-Syaikhani dan At-Tirmidzi). Keberadaan mereka dianggap mendatangkan mudharat, karena birahi kaum laki-laki lebih cenderung kepada perempuan. Di samping itu sering kali terjadi pelanggaran yang haram, pembunuhan, dan permusuhan karena perempuan. Setidak-tidaknya perempuan mendorong untuk mencintai dunia dalam hadis lain nabi saw bersabda. Takutlah kepada wanita, karena cobaan pertama Bani Israil ialah berasal dari wanita,(HR Muslim). Bahkan banyak penguasa penguasa yang hancur karena seorang wanita salah satunya yang termashur adalah cerita julius caesar yang digoda oleh ratu cleopatra. Bukan bermaksud untuk meyama ratakan tapi kehati hatian dalam isalam sangat dianjurkan, bahkan dalam kitab ta'lim dijelaskan salah satu sarat pembelajaran, kita tidak boleh bertemu wanita kalau tidak ada keadaan mendesak" jelas bang fahmi yang tak bosan bosanya menasihatiku. Aku sudah menjaga jarak sama fatimah tapi dia selalu punya cara untuk selalu mendekatiku, bahkan selama seminggu ini aku harus bekerjasama bareng dia, karena pak chandra menghukumnya. "Tapi kalau kita ngobrol terus kita gak ada hasrat semisal aku kan masih kecil jadi belum ada rasa ketika melihat wanita" tanyaku sama bang fahmi. "Sama aja bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati, syetan tidak pandang bulu mau dia itu masih kecil atau dia sudah dewasa, meraka akan terus mengodanya" bang fahmi mengingatkan tentang kesadisan musuh bersama itu. "Terus apa yang harus kulakukan sekarang, apa lagi dia besok mulai menjalankan hukumanya" aku mengutarakan kebingunganku. "Hukuman apa" tanya bang fahmi heran. "dihukum karena tadi dia mengotori lantai yang baru beres aku pel, perbutanya diketahui pak chandra akhirnya dia dihukum mengepel teras selama semingu" jelasku sambil menatap bang fahmi meminta pendapatnya. "Susah juga ya kalau begitu, tingal kamunya saja yang harus pintar menjaga sikap, lagian dia ngapain sih bikin ulah terus sama kamu, apa kamu pernah berbuat salah sama dia" selidik bang fahmi sambil menatap kedua bola mataku. "Gak tau juga bang aku bingung juga ngadepin wanita yang satu itu" ujarku lirih. Dalam hati aku hanya ingin bekerja biar aku tidak terlalu membeni orang tua, yang penghasilannyaa pas pasan. Tanpa ada ganguan dari manapun, toh aku bekerja tidak merugikan mereka. "Nanti aku coba bantu ngomong sama sifatimah sebenarnya ada apa dia selalu menggangumu, mengingat dia sangat anggun ketika sama orang lain tapi sama kamu agresip banget" tawar bang fahmi yang mau membantuku. "Maaf gak usah lah bang aku malu, nanti aku dianggap tukang ngadu lagi, tapi kalau abng mau ngobrol nanti aku sampein besok" cegahku meminta bang fahmi untuk tidak melakukan hal yang mungkin akan sangat memalukan. "Heheh.... emang mau kamu nyampein" ujar bang fahmi senyum. "Boleh, atau kalau mau ikut saja denganku pagi pagi biar bisa ketemu dia" saranku terhadap bang fahmi. "Jangannnnnn aku malu kalau bertemu langsung, mending kamu salamin aja dulu baru nanti kalau dia ngasih respon fositiv baru kita atur jadwal pertemuan" ternyata bang fahmi juga ada rasa minder ketika menghadapi wanita. "Terus lisna mau di kemanain, kalau fatimah mau bertemu sama abang" tanyaku yang mengetahui bahwa bang fahmi deket dengan wanita yang bernama lisna. "Lisna mana yah" bang fahmi pura pura gak tau. "Lisna anaknya ustadz ahmad bukanya kata bang fahmi kemarin sudah dites jadi imam sholat sama beliau" kataku mengingatkan. "Hehehe iya juga tapi kalau kenal doang gak apa apa kali, menyambung silaturahmi kan baik" bela bang fahmi sambil cengengesan. "Ya menyambung tali silaturahmi itu sama saudara bukan lawan jenis bang, jangan jadikan agama buat pembenaran" ujarku sambil senyum. "Hehehe bisa aja kamu, oya nanti besok ditunggu kabar baiknya" pinta bang fahmi mengingatkan misinya. "Bikin surat saja biar aku gak repot ngomongnya gimana, kalau surat tingal kasih lalu pergi dan menunggu balasanya" kataku memberi saran. "Ide cemerlang tuh, encer juga otaknu" puji bang fahmi sambil senyum. "Iya bang bikin yang bagus kalau bisa sekereatif mungkin, apalagi abng selalu juara kelas dan masih ketua osis pasti akan sangat mudah mendapatkan hatinya" aku membesarkan hatinya supaya dia bersemangat memulai pembuatan dosa. "Ya sebenarnya sih lebih kepenasaran saja, soalnya banyak yang ngomongin tentang dia" celoteh bang fahmi. "Berarti kalau ditolak tidak apa apa dong, gak akan nangis bombay" tanyaku membenarkan pendapat bang fahmi. "Ya kalau nolak kan masih ada lisna yang siap menunguku sampai sepuluh tahun lagi, bahkan sehabis sekolah dia akan mondok dikota biar bisa sama sama belajar mempersiapkan diri" jelas bang dengan sombongnya. "Nah kalau nerima, sedakangkan pak sukma sama pak ahmad itu satu kampung bahkan satu masjid, apakah mereka akan menyetujui anaknya dinikahin oleh orang tidak punya pendirian seperti abang" nasihatku mengingatkanya sebelum melangkah lebih jauh. "Iya yah mana kalau dikampung mah orang orangnya pada ember, bahkan suka membangga banggakan calon menantu yang belum jelas asal usulnya, dan belum jelas tujuanya" ucap bang fahmi menimpali. "Nah itu tau bukanya mau memperoleh madu bisa bisa nanti memperoleh batu dari pak ahmad atau pak sukma" ancamku mengingatkanya. "Kenapa jadi ruet begini padahal ngajak kenalanya juga belum" gerutu bang fahmi sambil garuk garuk kepala. "Yah begitulah kan tadi kata abang mencegah lebih baik dari pada mengobati" aku mengingatkan apa yang tadi dia katakan. "Tapi aku penasaran" rengek bang fahmi. "Ya sudah bikin suratnya besok aku kasih sama orangnya, lagian udah siap kan dengan kensekwensinnya" ucapku mengikuti kemaunya. "Ya cuma menghabiskan penasaram saja, diterima ya syukur gak diterima juga tidak apa apa, lagian walau diterima aku tetep pilih lisna" ujar bang fahmi. Aku hanya senyum getir menatapnya, padahal baru saja dia menasihatiku agar tidak dekat dekat dengan wanita, tapi sekarang dia yang ngotot pengen mendekati wanita. Kebayakan orang yang tau ilmu terus dia bisa mengajarkan kepada orang lain tapi dia lupa mengajarkan dirinya sendri. Padahal ahlak drajatnya lebih tinggi dari pada ilmu. hadis mengatakan ilmu tampa amal bagai pohon yang tidak berbuah, dalam arti kurang kemanfaatanya. Terus belajar ilmu, terus belajar beramal biar bisa menghasilkan buah yang dapat kita panen baik didunia ataupun diakhirat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD