Pov fatimah.
Sebulan setelah kejadian ditoko, aku masih selalu terbayang wajahnya, bahkan setiap malam sebelum tidur aku selalu berdo'a semoga aku bisa bertemu lagi dengannya walau hanya lewat mimpi.
Pagi itu disekolah sebelum jam pelajaran dimulai aku dan teman temanku sudah ngumpul dikelas.
"Eh tau gak, sekolah kita sekarang punya petugas keberesihan loh" ucap ratna membuka pembicaraan.
"Sejak kapan, pantes tadi pas nyampe sini semuanya udah kinclong" ujar fitri menimpali.
"Kayanya baru beberapa hari ini deh, soalnya kemarin kemirin kita semua juga tau, kalau teras sama halaman itu sangat kotor" sahut isni menempali.
"Sejak kapan kalian tertarik sama tukang bersih bersih" tanyaku sambil menatap mereka.
"Yah sejak kita tau tukang bersih bersihnya sangat ganteng heheheh" jawab isni diakhiri dengan gelak tawa.
"Husssh gak boleh begitu pasti dia udah punya istri makanya mau kerja juga, kalian jangan ganggu rumah tangga orang" celotehku memberi sarab.
Mendengar seperti itu mereka hanya senyum getir menatapku.
"Makanya kalau gak tau apa apa jangan ikut ngomong dengerin aja" kata isni meledek.
"Kata si irda dia itu temen sekelasnya waktu sekolah dasar, Dia sangat pintar terbukti bisa jadi juara harapan ditingkat kabupaten Tapi sayang dia tidak bisa melanjutkan sekolah malah menjadi clening servis disekolah kita" jelas ratna panjang.
"Terus kata siirda namanya siapa" tanya isni penasaran.
"Namanya dalari" jawab ratna singkat.
"Oh dalari" ucap meraka kompak.
"Tau gak kemarin aku berangkat pagi pagi, hanya untuk bisa melihat dia lagi nyapu" pamer ratna
"Wah mantep dong gimana gateng gak" tanya isni.
"Ganteng banget tau, apa lagi bajunya basah oleh keringat terlihat jelas otot ototnya semakin menambah ketampananya" ujar fitri sambil menelan selapah
"Hushhhh kita ini masih smp, jangan ngaco kalian masa udah bahas hal hal gituan" cegahku.
"Ya gak apa apa kali lagian dua tahun lagi kita pasti sudah disuruh menikah, makanya nyari dari sekarang biar nanti gak dipilihin sama orang tua kita" sanggah ratna membela diri.
Memang sudah jadi tradisi di kampung kami setelah lulus sekolah dasar mereka akan dinikahkan.
Beruntung sekarang ada sekolah MTs yang baru dibangun beberapa tahun, bisa sedikit menunda pernikahan dini, walau keluaran smp masih belum layak untuk menikah, setidaknya bisa menunda pernikahan beberapa tahun lebih lama dari pada menikah selepas sekolah dasar.
"Kamu penasaran ya, sekarang aja kamu bisa ngomong seperti itu, karena kamu belum pernah melihatnya, nanti kalau sudah melihat kamu juga klepk klepek" ujar ratna menebakku.
Keasikan ngobrol tak terasa bel pelajaran pertama berbunyi, mereka kembali ketempat duduknya masing masing, lalu memgeluarkan alat tulis bersiap menerima pelajaran.
*******
Keesokan paginya.
"Ini masih pagi pak" perotesku sambil turun dari motor supranya.
"Yah gak apa apa, dari pada kamu jalan, mendingan ikut sama bapak jam segini udah nyampe tanpa mengeluarkan keringat" ujar bapak.
"Tapi gak jam segini juga ngantarnya" protesku lagi.
"Kalau agak siang nanti bapak telat kekotanya, sudah jangan banyak protes mendingan kamu masuk sana" ujar bapak sambil mengulurkan tangannya.
Aku hanya mendengus kesal sambil menirama tangan bapak lalu mencium punggungnya, bapakpun tersenyum lalu mengucek ngucek hijabku, sebelum pergi dia menarik uang dari saku kemejanya selembar pecahan lima ribu rupih.
"Ini jangan protes lagi, sisanya jangan lupa ditabung" ujar bapak seraya pergi meningalkanku.
Setelah bapak pergi aku memasukan uang pemberian bapak lalu dengan malas menuju ke arah sekolah yang jaraknya cuma seratus meter dari gerbang sekolah.
Sebenarnya sekolah ini punya dua akses jalan utama untuk masuk, yaitu dari sebelah selatan dan timur, walaupun sebenranya bisa dari mana saja karena tidak ada tembok pembatas atau pagar.
Letak sekolah yang jauh dari pemukin warga membuat suasana semakin horor, apa lagi pagi itu kabut sedang turun menambah kesunyiannya.
Aku berjalan dengan hati hati walau sedikit jantung berder tapi kutepis semua rasa itu, dari pada nunggu digerbang nanti bisa mati kedingin.
Setelah membuka sepatu Aku masuk kekelas yang letaknya bersebelahan dengan ruang guru, setelah masuk lalu kutup kembali pintunya,kuletakan tasku dimeja, lalu duduk menungu temen temen yang lainya pada datang.
"Bapak kebangetan banget sih, baik sih baik pake mau nganterin, tapi jangan pagi buta gini dong aku jadi takut" gerutuku kesal.
Meski udah pukul 06:30 diluar masih sangat gelap oleh kabut putih, yang menyelimuti area sekolah mungkin yang letaknya dikaki gunug jadi sering terjadi fenomona seperti ini
aku duduk hanya seorang diri mau menyalakan lampu kelas rasanya males banget.
"Pada kemana sih jam segini belum pada nongol, apa jangan jangan libur yah" gumamku sambil mengabil premen disaku tas.
Srrrrrttttt
Terdengar suara kaki kursi digeser dari ruang guru yang bersebelahan denganku, lalu terdengar pula suara sapu lidi.
Aku celingukan menatap kesekeliling ruang kelas memastikan dengan benar arah datangnya suara.
"Apa itu, jangan jangan hantu penunggu disini kata orang disini dulu bekas kuburan" pikiranku menerka nerka dengan yang sebenarnya terjadi.
Membayangkan hal terburuk membuat bulu kudukku merinding, perlah aku memdekati pintu kelas, lututku terasa lemas sekali jalanpun rasanya melayang tak menapaki bumi.
Semakin memdekati pintu semakin keras pula suara itu terdengar.
Srekk
Srekkk
Srekkkk
Aku memberanikan diri membuka handel pintu, rencananya mau lari menuju gapura sekolah menunggu anak sekolah lain datang.
Ketika pintu terbuka perlahan aku melihat area sekitar memastikan bahwa tidak ada hal yang aneh disekelingku,
Dirasa sangat aman aku pun keluar dari kelas lalu berdiri melihat pintu kantor yang letaknya bersebelahan dengan pintu ruang kelasku yang masih tertutup rapat.
Rasa takuktku seketika siran kalah dengan rasa ingin tau apa sebenarnya yang terjadi didalam ruang kantor guru, lalu aku melangkah dengan hati hati mendekati pintu kantor itu.
Semakin dekat semakin kencang pula degup jantungku, napasku terasa berat menahan rasa takut.
Cklekkk..
Tiba tiba pintu ruang guru terbuka lalu keluar mahluk putih mendekati.
Aagggggggrrrrrrhhh
Seketika aku teriak kaget rasanya jantungku mau copot.
PLAKKKK
Teriakanku diakhiri dengan tamparan yang sangat keras mendarat dipipi mahluk itu.
"Aduuuuh" suaranya terpekik menahan rasa sakit yang luar bisa.
Jangankan yang pipinya ditampar, aku saja yang menampar tangan ku terasa kebas perih menjalar diseluruh telapak tanganku.
Melihat yang ditampar itu manusia bukan jin atau setan aku pun jadi panik dengan apa yang harus aku lakukan,
Dia hanya berdiri mematung memegang tong sampah yang hedak dibuangnya, Terlihat dari ujung bibir sebelah bekas tamparan mengalir darah segar, setelah sadar dengan keadan dia melanjutkan perjalan menuju ke tempat penampungan sampah tanpa memperdulikan aku yang masih mengibas ngibaskan telapak tangan mengurangi rasa sakit.
Ketika kembali dari penampungan sampah aku mengentikan dia didepan pintu kantor.
"Maafakan aku, aku kira tadi kamu itu hantu makanya aku kaget langsung menamparmu lagian orang kok pake baju putih semua" protesku terhadapnya.
Dia hanya senyum getir menahan rasa sakit dari bekas tamparanku, terlihat air matanya jatuh mungkin rasa sakitnya sangat parah, tanpa memberi jawaban apapun dia pergi berlalu memasuki ruangan guru lalu melanjutkan tugas.
sekali kali terlihat berhenti mengatur napas untuk menghilangkan rasa sakitnya yang mulai menjalar di tubuhnya.