ada yang aneh

1029 Words
Pov fatimah Namaku fatimah nailah anak dari penjual kitab didesa ciwaru, keseharianku hanya sekolah malamnya ikut mengaji di tajug seperti kebiasan anak anak remaja yang lainya. Siang itu sepulang sekolah lagi malas malasan disofa sambil menonton telivisi diruang tengah. "Assalamualaikum" ujar seseorang diluar. "Assalamualaikum" kata orang yang di luar sambil menaikan volume suaranya. "Bapak kemana sih didepan ada tamu juga gak nyamperin, lagian siapa sih ganggu kesenangan orang aja" gerutuku sambil mengintip dibalik pintu memastikan siapa yang diluar. toko kitab bapak berada dibagian sampiing rumah, kalau dari ruang tengah hanya terhalang oleh pintu koboy, jadi telihat jelas siapa yang datang. Akupun dengan malas menghampirnya, tak disangka pria yang ada dimengucapkan salam, sesosoknya sangat manis dia senyum mentapku, Matanya yang bersih, hidungnya bagus, badannya yang mulai terbentuk, meski masih berumur sangat belia, membuat siapa saja akan betah lama lama memandangnya. Meski masih SMP tapi saat melihat lawan jenis yang keren seperti itu membuatku darahku bergejolak, entah kenapa akupun tidak tau. Aku menanyakan maksud dan tujuanya pris manis ini, setelah tau tujuanya aku pun bergegas menyaipkan pesananya. setelah selasai aku mencobanya mengajak ngobrol dengan alasan menawarkan dia, kalau bisa memesan dulu kitab kitab yang belum ada sekarag, biar nanti kalau bapak kekota bisa sekalian, tapi sayang malah datang penggangu yang membuat moodku berantakan. Dia adalah kak fahmi kakak kelasku di sekolah semua orang pasti kenal dia karena prestasi dan kegantengannya, tapi menurutk dia biasa biasa saja, beda dengan pria yang berada disampingnya, yang bisa membuat ku nadiku berdesir sangat kencang. Walau kak fahmi terus nyerocos mengajak aku ngobrol aku tetap cuek padanya bahkan aku menunjukan kode bawha aku suka sama temenya, tapi mereka sangat tidak paham tentang kode kodean mungkin harus ikut pramuka biar tau apa artinya. Bahkan temennya ngajak pergi membeli bakso, meningalkan aku, tanpa bertanya dahalu apakah aku menyukainya. Aku hanya terdiam lesu memandanginya pergi meningalkan tokoku, mood bosternya hilang seketika. "Fatim ngapain kamu melamun disitu" tanya ibu yang menghampiriku. "Engga barusan ada pangeran membeli kitab" jawabku ngasal karena masih kesel. "Widih pangeran apaan, masa pangeran membeli kitab, jangan jangan kamu suka yah sama cowok barusan" ledek ibu sambil menatapku "Ih apaan sih ibu gak jales banget" cetusku sambil berjalan kembali keruang tenggah melanjutkan nonton ftv yang tadi tertunda sambil tiduran disofa. Nonton tv sambil tiduran membuat mataku lelah, perlahan mulai mengatup. "Assalamualikum" sahut orang diluar. "Ibu ada tamu tuh" teriakku memangil ibu. Tak kunjung mendapat jawaban dari ibu aku dengan malas menghapiri orang yang terus terusan mengucap salam. Setibanya diruang toko ternyata yang mengucapkan salam itu adalah pria yang tadi membeli kitab. Akupun senyum menyambutanya. "Aku mau pesen kitab kitab yang tadi belum ada, biar nanti kalau bapak kekota bisa sekalin membelinya" ujar pria tampan itu. "Yakin cuma yang tadi doang gak mau menabah lagi pesenannya" tanyaku sambil menatap lekat kearahnya. "Emang jaulan apa lagi selain kitab disini" tanyanya "Banyak ada sorban, pensil, buku buku agama" jelasku dengang semangat empat lima. "Kalau cinta ada gak disini" tanyanya sambil mengulum senyum. "Cinta buat apa" tanyaku heran "Cinta buat aku, kamu punya gak" ujar pria tampan itu. Ditanya begitu aku hanya mengangguk sambil senyum, tak bisa menyembunyikan perasaan yang sangat senang. "Fatim fatim" teriak ibu dari dalam aku pun gelagapan dibuatnya, takut ketahuan aku sedang berduan dengan laki laki. "Fatim bangun fatim, udah asyar sholat dulu" panggil ibu sambil mengoyang goyangkan pipiku. Akupun tercekat kaget ternyata kejadian indah itu hanya mimpi. "Kirain ibu kamu senyum karna melihat tv, tapi kalau melihat tv matamu tertutup, ibu takut makanya ibu bangunin, Tidur kok senyum senyum gitu" jelas ibu sambil duduk kembali "Ihhhh... ibu ganggu aja" ujarku manja. "Udah sana mandi, masa perawan jorok mandi sih, lagian udah sore nih" sahut ibu sambil mengabil remote lalu memindahkan chanel tv tanpa memperdulikan ku lagi. Aku bangkit lalu pergi kekamar mengambil handuk dan baju ganti, karena dari tadi aku masih pake seragam sekolah, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk memberesihkan tubuh. Setelah beres mandi aku kembali kekamar untuk melakukan shalat asyar, lalu menghampiri ibu yang lagi menonton tv. "Bapak kemana bu kok dari sepulang sekolah gak kelihatan" tanyaku sambil duduk disamping ibu. "Tadi bilangnya mau membetulkan irigasi sama warga, mungkin sebentar lagi pulang" jawab ibu menjelaskan. "Oh begitu oya Ibu boleh tanya gak" ujarku sambil memeluk ibu. "Mau nanya apa, pasti mau minta uang ya kalau meluk meluk begini" tanya ibu sambil mengucek rambutku. "Gak lah uangku masih banyak, mau tanya aja boleh gak" sambil tetap memeluknya. "Iya mau tanya apa" jawab ibu tanpa menoleh. "Ibu dulu pacaran gak sama bapak" tanyaku manja. Trrokk Jitakan ibu mendarat dikepala, tidak keras tapi cukup membuat mulutku mendesis. "Ibu kok ngijitak aku, sakit tau" ujarku mataku mulai berkaca kaca menahan sakit. Melihat aku kesakitan ibupun mengambil kepalaku lalu menaruh dipahanya. Ibu mengelus elus bekas jitakannya, sesekali meniup niupnya untuk menetralisir rasa sakit. "Kenapa ibu ngejitak aku" tanyaku heran sambil bangkit dari pangkuanya. "Ibu minta maaf tadi tidak sengaja, ibu replek ngejitak kamu, karena kaget mendengar pertanyaan kamu tidak sopan" ujar ibu. "Ih kirain kenapa masih sakit tau, emang kenapa gak sopan" tanyaku heran "Iya lah gak sopan kamu itu masa sama orang tua nanyanya begitu, kamu itu sekolah aja baru masuk ngomongnya udah pacar pacaran" nasihat ibu sambil merangkul kepalaku lalu mengusap ngusapnya. "Maaf kalau engga sopan aku tiduk tahu, terus aku harus bertanya sama siapa dong ibu" tanyaku penasaran. "Hal hal yang seperti itu tidak boleh ditanyakan apalagi terhadap orang yang lebih tua" jelas ibu sambil tetap menusap kepalaku. "Kenapa tidak boleh?" Tanyaku heran. "Karena itu adalah privasi atau rahasia, lagian kenapa hari ini kamu aneh banget sih, dari ngelamaun ditoko, tidur sambil senyum, barusan bertanya hal aneh" tanya ibu sambil mengakat kepalaku lalu memperhatikan wajahku memastikan tidak ada yang berubah bak seorang dokter yang lagi mengecek pasiennya. Ditatap seperti aku merasa malu, aku melepaskan tangan ibu lalu bangkit berdiri. "Aku mau beli cemilan dulu diwarung ibu mau nitip apa" ucapku mengalih kan pembicaran. "Jangan menghidar kamu, ibu belum selesai ngomong" ucap ibu matanya membulat mentap ku. "Engga aku mau beli kacang ijo dulu" ujarku meningalkan ibu yang masih kesal. "Yang banyak, sama kerupuk yang pedas itu" teriak ibu dari dalam meningatkanku, ibu gak aku kuat kalau di goda dengan snack kacang ijo itu adalah makanan favoritnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD