ancaman

1046 Words
Pov adnan Setelah dirasa aman, aku keluar dari persembunyian, lalu menepuk nepuk baju yang kotor kena debu. Terlalu lama bersembunyi sampai sampai orang yang berada di warung udah pada bubar, Aku segera bergegas menuju pondok. Sesampainya di pondok tiba tiba ada yang menarik tangan ku menuju ke samping pondok yang agak gelap. Disitu ternyata sudah menunggu kang agus, jantung ku tiba tiba berdegup dengan sangat kencang, meski dia sesosok teman yang ramah tapi dia akan sangat tegas ketika ada seseorang dari temannya yang melakukan kesalahan. Aku dusuruh duduk di bangku yang berhadapan dengan kang agus. "Dari mana ja nan, kok jam segini baru pulang ke pondok" tanya kang agus sambil menatap tajam ke arah ku. Aku hanya diam, lidahku terasa kelu mau menjelaskanya. "Kita tuh santri, kita harus menjaga nama itu, meskipun kita tidak bisa ngaji, yang namanya orang tinggal dipondok pasti disebut santri, termasuk kamu juga ada didalamnya, jangan sampai karena kesalahan mu nama santri tercemar, apalagi kita mondok disini, kita tidak pernah diminta bayaran seperpun, kalau pun ada itu cuma buat bayar listrik itu juga tidak paksa, jaga nama baik abah, jaga nama baik pondok jangan sampai kita menyusahkan beliau, sekarang aku tanya lagi dari mana saja jam segini baru pulang" ujar kang agus walau lembut tapi penuh penekanan. "Ngumpet kang" suaraku nyaris tak terdengar. "Ngumpet dimana, terus kenepa kamu ngumpet" tanya kang agus. "Di dekat warung, aku ngumpet karena ketakutan kang" jawabku sambil tetap menundukan kepala. "Ketakutan kenapa?" Selidik kang agus "Ee.... emmmm.... eee" aku tak kuasa melanjutkan perkataan apalagi harus jujur. "Ketakutan sama bang bita ya" ujar fahmi yang sedari tadi memperhatikan ku. Deggg Jantung ku terasa berhenti, saat ada orang yang mengetahui perbuatan ku. "Kenapa bang bita mengejarmu, apalagi dia sampai membawa gol0k, dosa apa yang kamu lakukan sama bang bita" desak kang agus penuh penekanaan. Ditanya seperti itu aku tetap diam menatap ke tanah yang terlihat sama sama. "Apa harus akang atau abah yang mengintrogasimu, supaya kamu mau mengakui apa kesalahan mu" ancam kang agus yang bukan solusi sama sekali. Mendengar nama guruku di sebut aku pun ketakutan, apalagi harus berhadapan dengan mereka bisa bisa tak ada toleransi lagi buatku. "Jangan di adukan sama abah ya kang, aku mohon nanti gimana perasaan mereka, aku mohon" lirihku memohon "Kalau gak mau di adukan, kamu ceritakan apa yang membuat bang bita sangat marah seperti itu, kalau kesalahan sepele itu tidak mungkin semarah itu, pasti kesealahan mu sudah tidak bisa di tolelir" jelas kang kata katanya tetap pelan tapi penuh penekanan. "Aku melakukan hal b0doh ini, bersama didin, karena dialah yang mepengaruhi ku" jawab ku. "Kok sama didin, fahmi coba panggil didin, biar semunaya jelas" perintah kang agus sambil melerik ke arah fahmi Fahmi yang diperintah langsung bangun, ia segera masuk ke pondok, selama menunggu fahmi kembali kang agus tak mengeluarkan suara apapun, berbanding 180⁰ dengan biasanya yang ramah. Tak lama fahmi pun datang, dibelakangnya terlihat didin mengikuti. Melihat aku dan kang agus didin pun terlihat cemas, seolah dia tau apa yang terjadi, lantas didin duduk di samping ku. "Dosa apa yang kalian berdua lakukan?" Kang agus mengulang kembali pertanyaanya. Mendapat pertanyaan seperti itu didin pun melihat ke arah ku seolah memberi kode untuk aku menceritakan semuanya. "Tadi habis isya kita berangkat bedua, menuju kerumah bang bita, kita mengintip mereka yang sedang melakukan hubungan suami istri, saking asik melihat pergulatan mereka, kita tidak sadar dinding yang jadi tempat mengintip terdorong ke dalam, ketika mereka menghentikan permainan untuk memindahkan dulu anaknya ke kamar, kita berdua mengambil napas yang dari tadi rasanya sudah sesak, tanpa disadari diding itu kembali ke semula, hingga mengeluarkan suara yang sangat keras, bang bita pun kaget lalu berteriak memaki, kita yang mendengar makian bang bita sangat panik lalu kabur" ucapku mengakui semuanya. Mendengar ceritaku kang agus hanya geleng geleng kepala, tak habis pikir dengan apa yang aku lakukan "Pantes bang bita sampai bawa gol0k, untung aku sama dalari masih di beri keselamatan, sehingga selamat dari amukan bang bita" ucap fahmi sambil kesal menatapku. "Maafkan aku mi, atas semua kebodoban ku, kamu kena imbasnya" ujarku lirih, tak menyangka sampai seperti ini akibatnya "Iya aku maafkan nan, tapi kalau mau melakukan sesuatu kamu berpikir dulu, akibatnya seperti apa, yang repot kamu sendiri kan, untung bang bita tidak mengetahui kamu yang mengintipnya siapa, coba kalau tau bisa kamu bayangkan akibatnya" jawab fahmi menasihatiku. "Terima kasih ya mi, insya allah aku tidak mengulangnya lagi" ujarku sambil menuduk. "Aku juga minta maaf ya kang agus dan fahmi, atas keb0dohan ku kalian jadi repot" tambah didin "Ya kita maafin, tapi jangan di ulangi lagi hal bod0h seperti itu, kalian harus bertaubat jangan berhenti sampai ke kita doang untuk minta maaf" jawab kang agus sambil menarik napas. "Terima kasih banyak kang, oya kita janji tidak akan mengulanginya lagi" sesalku. Tak terasa mataku sembab, hanya dengan perbuatan yang nyeeneh, bisa berakibat patal sama yang lainya, untung bang bita tidak sampai mengetahui yang sebenarnya. "Kalau tobat seperti ini gimana kang, kan dosa saya ada hubunganya dengan orang lain, jadi kalau mau bertobat harus meminta maaf pada orang yang kita rugikan, tapi mengingat cerita tadi aku jadi takut untuk meminta maaf sama bang bita" keluh didin bingung. "Dijelaskan dalam kitab Sulamut Taufiq, Syaikh Muhammad Nawawi Al Banteni, terdapat dua jenis perbuatan dosa. Pertama, dosa yang berupa meninggalkan kewajiban seperti halnya, sholat lima waktu, puasa, akat, dan seterusnya, maka yang harus dilakukan adalah dengan langsung menggantinya atau mengqodhonya. Kedua, dosa yang berhubungan dengan hak-hak orang lain, maka yang harus dilakukan adalah harus meminta keridhoan orang yang disakiti atau di rugikan untuk memaafkan kesalah yang telah diperbuat secara langsung. Namun, jika tidak memungkinkan untuk meminta maaf secara langsung karena terpisah jarak atau bahkan sudah tidak dapat menghubunginya atau lost contac, yang harus dilakukan adalah menundukkan diri kepada Allah SWT untuk mendo’akan orang yang telah kita sakiti. Sama halnya menurut keterangan lain, ketika kita meminta maaf akan membahayakan keselamatan diri kita, maka cukup dengan mendoakan orang itu, sampai menunggu kesempatan untuk meminta maaf secara langsung. Meski udah meminta maaf, tapi kalau yang di dholimi meminta agar di peroses secara hukum, hukum akan terus belaku sesuai ketentuan hukum pidana atau aj jinayah Tujuannya agar kelak dihari kiamat, orang tersebut diluluhkan hatinya oleh Allah SWT sehingga mau merelakan dan memaafkan kita" penjelesan kang agus. Setelah semua selesai kami masuk ke kamar masing masing untuk tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD