Pov adnan
Nama ku adnan ghojali, aku adalah salah satu santri di pondok pesantren nurul hasanah, sudah empat tahun aku belajar disini,
Aku satu kamar sama didin, ari dan alfian, aku dan didin sudah lama tinggal disini, kalau ari dan alfian ini tahun kedua meraka.
Sore itu sepulang ngaji asyar, kebetulan di pondok lagi sepi, santri santri yang lain sudah pada berangkat ke lapangan sawah, tinggal aku sama didin yang belum berangkat.
"Bang bita kayanya baru pulang deh, tadi sebelum asyar aku lihat dia mandi di wc umum" ujar didin membuka pembicaraan
"Terus urusan nya apa sama kita?" Tanya ku heran
"Biasanya kalau suaminya pulang merantau, mereka akan melakukan begituan malam harinya" jelas didin
Aku pun tersenyum tau kemana arah pembicarannya.
"Hehehe..... hiburan gratis dong" sahutku
"Iya gimana kalau nanti malam kita nonton, kalau kamu mau nanti kita berangkat bareng" ajak didin
"Dosa tau, ngintip orang begituan" sanggah ku mengingatkannya
"Tidak apa apa kali, sesekali kita butuh hiburan, jenuh juga kan tiap hari belajar" alasan didin membela diri
"Iya bener juga kamu din, udah lama juga kita gak ngintip hehehe....." celotehku sambil seyum
"Jadi gimana nanti malam mau gak?" Tanya didin meyakinkan
"Lihat nanti aja, kalau kondisi nya memungkinkan, nanti kita berangkat, ya udah sekarang kita main bola dulu takut mereka nunggu kita" jawab ku, seraya bangkit untuk menyusul santri santri lain.
kebiasaan buruk kita ini bermulai sejak mengenal salah satu warga yang tingal tak jauh dari pondok, dia mempunyai penyakit aneh yaitu mengintip orang yang sedang melakukan hubugan suami istri, sebenarnya banyak orang udah mengetahui kelakuannya, tapi tidak cukup bukti untuk menangkapnya, karena dia sangat pandai dan licik serta banyak taktik supaya terhindar dari amukan warga.
Salah satu akal liciknya, kalau di kampung kan banyak orang yang memelihara anjing, anjing akan mengong gong jika rumah majikannya di datangi oleh orang asing, tapi bagi dia itu perkara mudah, cukup mencari ikan berenyit di selokan terus memepesnya, lalu di campur dengan nasi, maka masalah itu bisa diatasinya, karena menurut pendapat dia anjing akan patuh pada siapa saja asal di beri makan.
Awalnya aku tidak percaya dengan ceritanya, tapi semenjak dia mengajak ku untuk membuktikanya, aku pun mulai percaya, namun sangat disangkan, aku jadi kecanduan, mengingat waktu itu sangat sulit untuk melihat hal yang seperti itu, berbeda dengan jaman sekarang hal tak senonoh seperti itu sangat mudah dijumpai melalui ponsel pintar, ponsel pada waktu itu belum menyediakan fitur vidio biru, warna layarnya saja masih hitam putih, itu pun hanya orang orang tertentu yang bisa memiliki telopen genggam itu.
Aku tau mengintip itu dosa, tapi rasa penasaran itu terus mengahantuiku, makanya sampai sekarang aku masih melakukanya.
******
Malamnya ba'da isya aku dan didin mengedap endap menuju salah satu rumah yang tak jauh dari pondok, rumah rumah di kampung sangat berjauhan, lampu luar hanya di pasang di depan rumah, hal itu sangat menguntukan untuk melakun pekerjaan jelek kita,
Sesampainya disamping rumah, kita mengamati dulu lokasi sekitar, takut ada orang yang mengetahui perbuatan kita.
Setelah dirasa semua aman, aku dan didin mendekati dinding rumah yang terbuat ayaman bambu, lalu kita mencari lubang yang pas supaya bisa melihat jelas aktivitas apa saja yang mereka lakukan.
Didalam terlihat jelas ada keluarga yang sedang menonton tv berukuran 14 inci, terdiri dari bang bita, istri dan anaknya yang baru umur empat tahun.
"Gimana bang kerjaanya lancar?" Tanya istrinya sambil menatap suaminya
"Iya lancar lancar saja neng, sama seperti biasanya" jawab bang bita sambil menatap balik istrinya
"Oh syukur kalau begitu, kapan mau berangkat lagi" tanya istrinya
"Besok lusa, abang berangkat lagi, emang kenapa, kan kamu juga udah tau, abang liburnya sebentar" jawab bang bita sambil menghisap rok0nya
"Engga apa apa sih bang, semenjak kita menikah kita belum pernah berkumpul lama, kadang aku iri dengan istri istri yang lain, setiap hari mereka di temenin suaminya" ujar istrinya lirih
"Sabar ya neng, ini juga buat kebaikan kita, lagian abang pergi jauh bukan buat main, tapi nyari uang buat kamu, dan keluarga kita" jawab bang bita menjelaskan
"Semoga abang punya rejeki banyak, biar abng gak harus pergi jauh, buat menafkahi aku dan anak kita" doa istriya
"Amiiin, abang juga berharap begitu, abang juga tidak bisa hidup jauh tanpa kamu, apalagi kamu sangat cantik, abang takut kamu gak kuat menahan godaan godaan yang datang menghampirimu" keluh bang bita hawatir.
"Enga lah bang, wanita jahat mana yang tega, menghianati suaminya yang lagi bekerja keras, buat menghidupi keluarganya, lagian abang juga tau aku setiap malam tidur di temani adik abng, jadi mana sempat aku buat di godain orang" bela istri bang bita.
"Semoga kamu tetap seperti itu, nanti kalau abang udah ada modal abang mau buka usaha kecil kecilan di rumah, biar kita selalu bersama, oya kamu sangat cantik malam ini neng" puji bang bita sambil mencubit hidung istrinya.
"Abang mulai gombal ikh, inget anak kita belum tidur bang" ucap istiri bang bita samberi meyandarkan tubuhnya ketubuh bang bita,
"Udah dari tadi dia abng liahat dia gak bergerak mungkin udah lelap kali" jawab bang bita suarnya terdengar lirih.
Istrinya pun meoleh ke anaknya yang sedari tadi tidur di samping mereka
Lama menunggu akhirnya waktu itupun tiba.
Setelah memastikan keadan anaknya tertidur pulas, mereka berdua memulai warmig up dengan saling m3lum4t bibir, leher, d**a dan lainya, meraka sangat berg4ir4h sekali mengingat bang bita hanya bisa pulang sebulan sekali dari perantauanya, kita yang melihat sagat menikmati permainan mereka, samapi sampai dinding bilik itu, terdorong kedalam tak kuat menahan beban tubuh kita.
Semakin lama mereka semakin pan4s mereka memaikan permainanya, satu persatu baju mereka pun mulai terlepas, sehingga tidak menyisakan sehelai benang pun meutupi tubuh mereka.
Saat bang bita mau melakukan serangan tiba tiba mereka menghetikan aktivitasnya, terlihat mereka mengobrol sebantar, tak lama istriya pun bangkit lalu mengendong anaknya menuju kamar.
Melihat itu kita sebagai penonton sangat kecewa, lalu kita berbarengan melepaskan pandangan kita sampai sampai tak sadar bahwa dinding itu terdorong oleh tubuh, ketika melepaskan pandangan tiba tiba.
Brrrruuuk
Dinding ayanman bambu itu tiba tiba mengeluarkan suara sangat keras.
"B4n9sat siapa tuh yang mengitip" teriak bang bita dari dalam
Kita yang sudah ketahun mengintip sangat panik, tanpa berpikir panjang kita berdua lari dengan cepat, kabur meningalkan rumah bang bita, sehingga sendal kami membulkan suara yang sangat nyaring meningalkan jejak suara.
Kita berlari tanpa memperdulikan hal itu, di pertigan jalan kita berpisah, didin lari ke arah pondok sedangkan aku berlari ke arah warung.
Di jalan aku melihat dua orang yang sedang ngopi, tak jelas siapa mereka karena aku lari sangat kencang, tapi mereka akan melihat jelas kepadaku, takut mereka memberi tahu keberadaan ku, awalnya yang mau lari menuju kewarung akhirnya aku mencari tempat persembunyian yang lain, beruntungnya orang orang yang diwarung tidak memperhatikanku.