pov dalari
Keesokan harinya, aku berpamitan pulang kembali ke pondok, seperti biasa ibu membakali makanan buat oleh oleh temen temanku dipondok.
Ketika meningalkan rumah walau sudah sebulan lebih aku berpisah sama orang tua, tapi tetep saja merasa sedih, hidup jauh dari mereka.
aku tetap berjalan pergi meningalkan rumah kutepis semua perasan sedih, aku harus kuat, karena tidak ada perjuangan yang sia sia.
Sesampai nya dipondok, aku mengajak teman teman untuk menyantap oleh oleh dari rumah, rasanya sangat bahagia bisa kembali berjuang bersama mereka.
*****
Seusai isya aku di ajak bang fahmi ngopi warung tetangga, dirasa warung sangat rame kita membawa kopi ke bangku rumah warga yang letaknya tidak jauh dari warung.
"Gimana orang tuamu sehat dal?" Bang fahmi membuka obrolan
"Alhamdulillah sehat bang, apa bang fahmi sudah lama tidak pulang" aku balik bertanya.
"Kalau pulang ke rumah orang tua paling liburan smester sekolah saja, tapi kalau ke rumah nenek seminggu sekali, kamu juga tau kan" jawabnya
Bang fahmi memang sering pulang kerumah neneknya yang tidak jauh dari pondok, bahkan kalau aku pulang aku melawati rumah neneknya.
"Berarti kemarin pulang dong bang?" Tanyaku lagi
"Iya kemarin pulang ternyata di rumah nenek ada orang tua ku" bang fahmi mengehentikan omongonya seolah tak kuasa untuk melanjutkan ceritanya.
"Kok gak dilanjutin bang, harusnya kan senang bisa berkumpul bareng keluarga tapi abang kelihatan nya sedih" tanyaku heran.
"Iya harusnya seperti kalau meraka pulang membawa kabar baik" lirih bang fahmi.
"Terus kabar buruk apa sehingga membuat bang fahmi kelihatan sangat sedih" tanyaku sambil meminum kopi sedikit sedikit.
"Mereka itu sibuk, ayah ku punya perusahaan di bidang suplay barang, sedangkan ibu bekerja di pemerintahaan, saking sibuknya mereka sampai sampai aku di titipkan sama nenek, mereka tidak percaya baby sister, aku bisa terima dengan apa yang mereka lakukan kepadaku, karena nenek sangat menyangiku, tapi tidak dengan sekarang, mereka berencana mau berlisah katanya sudah tidak ada kecocokan satu sama lain, walau aku tidak hidup bareng mereka tapi aku tidak rela kalau mereka harus berpisah" ujar bang fahmi terlihat matanya berkaca kaca,
"Aku bingung harus memberi pendapat apa, karena memang para orang tua susah di tebak arah jalan pikirannya, mungkin hanya bisa mendoakan supaya mereka tetap sehat dan keluarganya tetap utuh, sebesar apa pun masalahnya semonga jalan keluarnya bukan perpisahan" kataku
"Amin semoga keluarga kita tetap utuh sampai maut memisahkan" jawab bang fahmi
Lagi asik asik ngobrol tiba tiba kang andan lari menuju arah warung, saking cepatnya kita tak sempat menyapanya.
"Kenapa dia lari kaya di kejar setan gitu" tanya bang fahmi sambil mengeleng geleng kepala
"Gak tau, kalau kebelet dia harus nya lari ke wc bukan kewarung" kataku keheranan ternyata ada juga mahluk yang seperti itu.
"Iya ada ada aja ya, emang kurang kerjaan tuh orang, ngapain lari lari malam hari" timpal bang fahmi
Lagi membahas kang adnan tiba tiba datang bang bita membawa gol0k lalu menghapiriku.
"Barusan lihat ada yang lari lewat sini gk,? kurang ajar banget tuh orang" ujar laki laki berubuh kekar yang berdiri di hadapan kita napasnya terlahit sangat memburu, matanya merah, gigi mengacing sesekali mengibas ngibas goloknya.
Melihat laki laki yang dihadapan kita sedang emosi, bang fahmi mun sebagai orang dewasa mengabil alih pembicaran.
"Engga ada bang, dari tadi kita ngopi disini, gak melihat orang yang lewat" ujar bang fahmi berbohong, Aku tau bang fahmi berbohong untuk hal yang lebih baik.
"Si4al4n emang tuh orang, gak sopan banget, awas aja kalau ketemu gua g0rok lehernya" kata bang bita terlihat gelisah menahan amarah.
Aku dan bang fahmi pun saling menatap bingung, karena tidak mengerti maksudnya.
"Kalau boleh tau emang ada apa ya bang, kelihatanya marah banget" tanya bang fahmi penasaran.
"Lu gak perlu tau, kira kira lu tau gak b4n9sat itu perginya kemana" tanyanya sambil membulat kan mata ke bang fahmi.
"Engga tau bang, kan dari rumah abang kesini ada pertigaan mungkin lari ke arah lain, jadi gak lari kesini, soalnya dari habis isya saya disini gak ada yang lari lari" jawab bang fahmi bohong lagi.
"Gua mau cek dulu ke orang warung, siapa tau aja meraka lihat, dan kalau ketahuan lu berdua berbohong, nasib lu akan sama seperti b4ngsat itu" ancamnya sambil mengacukan golok kerah kami.
Melihat golok yang tajam aku pun merigis ngeri.
Tanpa mengunggu jawaban laki laki itu langsung bergi meningalkan kami yang masih ketakutan, ia berjalan menuju ke arah warung.
Seditingalnya bang bita, aku sama bang fahmi saling tatap merasa bigung apa yang harus diperbuat, bagai mana jika kang adnan ketahuan sembunyi diwarung, bisa habis kita.
"Bagai mana nih bang kalau udah begini?" Tanyaku yang ketakutan
"Yah gimana lagi, mungkin ini adzab buat orang yang suka berbohong, balasanya kontan" ujar bang fahmi sambil menghela napas
"Apa kita kabur aja sebelum dia kembali lagi kesini" ideku sambil menatap bang fahmi
"Jangan, nanti kalau kabur bisa bisa kita yang jadi tersangka, orang lain yang berbuat kita yang kena getahnya" jawab bang fahmi.
"Terus apakah kita harus pasrah, menerima bahaya seperti ini, bisa bisa jadi daging cingcag kalau enggak buru buru pergi" balas ku gemetar
"Udah kamu diam dulu, biarkan aku perpikir sebentar, kamu gak usah panik seperti itu, membuat konstrasiku hilang saja" ketus bang fahmi sambil membulatkan matanya menatap tajam ke arahku
Melihat bang fahmi memelototiku, Aku pun seketika diam membiarkan bang fahmi untuk berpikir tenang mencari jalan keluar.
"Udah kita diam dulu saja disini, kalau kabur kita sangat beresiko, kita bisa jadi buronan bang bita, dan kita tidak akan bisa tenang tinggal disini, bang bita pasti akan terus mencari kita, yang punya dosa kan kang adnan, pasti kang adnan dululah yang dihabisi sebelum menghabisi kita, lagian di warung masih ramai jadi mana mungikin bang bita leluasa mengbisi kang adnan pasti akan ada yang melerai mereka, jadi sebelum menghabisi kita bang bita pasti udah diamankan warga, jadi kita tidak usah panik kalem aja" ujar bag fahmi sambil meneguk kopi yang udah dingin.
Aku pun mengangguk setuju, atas saran bang fahmi, lalu merapihkan duduk kembali seperti semula meski hati ini tidak tenang, namun aku tetap berusaha tenang, lagian aku tidak bersalah, aku tidak ngomong apa apa.
Beberapa saat kemudian bang bita pun lewat masih terlihat raut wajahnya sangat kusam, dia berlalu begitu saja melawati kita tanpa mengeluarkan kata apapun.
Setelah bang bita berlalu aku mersa lega tapi yang Aku heran kemana perginya bang adnan jelas jelas tadi dia berlari ke arah warung.
"Kok gak ketemu, tadi kan kita lihat kang adnan lari kewarung" tanya bang fahmi sepemikiran dengan ku.
Aku cuma menggelengkan kepala, bingung harus jawab apa.
"Ayo kita cek saja kewarung biar kita tidak penasaran" ajak bang fahmi sambil bangkit dari tempat duduknya
" iya aku penasaran juga apa yang kang adnan perbuat sampai sampai bang bita sangat marah seperti tadi" jawab ku sambil mengikuti bang fahmi