Pov dalari.
Setelah selesai makan, kami pindah ke ruang keluarga.
"Maaf ya dal, bapak minggu kemarin tidak menjengukmu di pondok, bapak lagi sibuk di sawah, soalnya sawah sawah yang lain sudah mulai pada tandur jadi bapak takut ketingalan jauh menanam padinya, soalnya kalau ketingalan sangat jauh beresiko buat padi yang kita tanam, nanti bisa gagal panen, mau di bajak pake traktor bapa tidak ada uang, soalnya masih sibuk di sawah jadi bapa tidak bisa jualan beras" ujar bapak sambil menghisap daun aren yang terisi tembak4u.
"Iya gak apa apa pak, nanti nanti aku saja yang pulang mengambil perbekalan buat di pondok, jadi bapak tidak usah repot repot datang ke pondok" ujar ku lirih, rasanya tak enak jika merepotkan bapak terus.
"Iya nanti kalau bapak tidak datang menjengukmu, kamu pulang saja sekalian menengok ibu, oya gimana betah gk di pondok" tanya bapak
"Alhamdulillah betah pak, banyak saudara, mereka menyangiku layaknya menyangi adik sendri" jawabku
"Oya bapak hampir lupa, kata uwa mu kemarin pas bapak kerja di sawahnya, uwa berpesan kalau kamu pulang di suruh maen kerumahnya, nanti habis asyar temuin uwamu" ujar bapak, sambil menatapku.
Mendegar itu aku hanya mengangguk tanda menyetujui perkataan bapak,
Setelah asyar aku ijin kepada orang tuaku untuk menemui uwa, yang letak rumahnya berada di kampung sebelah, sesampainya disana aku di sambut hangat oleh mereka, setelah menayai kabar dan keadan ku di pondok. Uwa pun melanjutkan pembicaraanya
"Uwa meminta mu datang kesini, uwa punya sedikit rejeki buat mu, kebetulan kemarin hasil panennya melebihi dari biasanya jadi uwa pengen harta uwa bisa bermanfaat walau sedikit" kata uwa sambil mengeluarkan uang Rp. 25.000 rupiah lalu menyerhkanya padaku.
Mata ku berbinar nanar, terlihat ada air yang tertahan di kelopak mata ku, bagiaman aku tidak bahagia uang segitu bukan uang yang sedikit, cukup buat bertahan hidup di pondok selama tiga minggu, lalu Aku pun menerima pemberian uwa, tak lupa mengucap syukur dan mengucapkan terimakasih kepada uwa.
"Oya nanti kalau kamu pulang jangan lupa bawa berasnya juga ya" ujar uwa sambil menujuk ke kantong plastik hitam yang ada di dekat pintu.
Uwa pun terus menasihatiku, agar jadi orang yang sabar, kuat dalam menjalani kehidupan, setelah lama uwa menasihatiku dan sore mulai habis sebetar lagi mau pergantian hari aku ijin pamit sama uwa.
"Wa, Aku pamit pulang dulu ya wa, terima kasih atas semua kebaikan uwa, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda" ujar ku sambil mencium pungung tangannya.
"Amiiin.... kamu juga, semoga jadi anak yang sholeh, berguna bagi nusa, bangsa, terutama Agama, kalau kamu pulang tengok pula uwamu ni ya" do'anya sambil mengucek ngucek kepala ku.
Aku pun pergi meningalkan rumah uwa, menyusuri jalan desa sambil tertunduk, karena itu ajaran Rasulullah S.A.W dan di sunahkan pula kalau sedang berjalan kita sambil berdzikir, ketika menanajak disunahkan membaca Allahu akbar, menurun membaca Subhanallah, dan ketika datar membaca Alhadulillah, hadis ini di riwayatkan oleh imam bukhori dalam kitab fathul bari.
"Dalari sini mampir, sombong banget jadi orang" teriak seseorang memangilku.
Aku pun mengakat kepala, menoleh ke arah datangnya suara, ternyata yang memanggil itu adalah pamanku, akupun mendekat menghapirinya lalu mencium tanganya.
"Bawa apaan tuh" tanyanya sambil menatap kantong plastik yang ku tengteng.
"Beras dari uwa, mang" jawabku.
"Oh pulang ngemis ya, makanya jadi anak jangan belagu sok sokan mau mondok, bapakmu aja miskin mana mampu membiyayai kamu di pondok, lagian apa sih yang di harapkan dari pondok bapakmu saja jadi ustadz hidupnya susah" katanya tiba tiba seperti itu.
Membuat dadaku rasanya sesak sekali, baru saja di angkat tinggi oleh uwa lalu di hempaskan oleh pamanku.
"Gak mang ini uwa yang nyuruh kerumahnya lalu ngasih beras ini, aku sama sekali tidak memintanya mang" sanggah ku lirih
"Halah ngeles saja kamu, kalau tidak mampu jangan merepotkan orang lain, harusnya kamu tuh sadar kamu itu orang tidak mampu, jangan pergi ke pondok tapi pergilah kejakarta bantu perekonomian keluargamu. kamu tuh udah dewasa sudah selayaknya jadi tulang punggung keluarga bukan jadi beban" cerocosnya bak radio yang kurang sinyal.
Perkataan paman ku memang tidak sepenuhnya salah tapi tidak pula di benarkan, mengingat pendidikan itu adalah hak segala anak bangsa, jadi biarkan lah aku belajar, toh aku juga tidak meminta biaya kepadanya.
Tak kuat mendengar ejekanya tentang keluargaku. aku pun pamit pulang lalu bergegas meningalkanya yang masih terus mengomel.
"Anak sekarang kalau dinasihati itu malah kabur, katanya santri tapi tidak punya sopan santun" gerutunya sambil kembali masuk kerumah.
"Amit amit ih, cowok kok mulutnya lebih pedas dari emak emak" gumam ku sambil terus melanjutkan perjalan pulang menuju rumah.
*****
Seusai makan malam, aku pun menceritakan kejadian tadi sore kepada kedua orang tua ku, lalu mengambil uang yang di berikan uwa dan diserahkan kepada ibu.
"Simpan saja itu uang mu, itu rejeki mu, kamu harus bersyukur, dengan mondok kamu udah punya jalan rejeki sendiri, berarti Allah memberikan jalan kepada kamu, supaya kamu terus untuk belajar di pondok, kalau kamu tidak ada plantara mondok, mana mungkin orang akan memberimu uang sebanyak itu" kata bapak panjang lebar menasihatiku.
Aku pun mengambil kembali uangnya, lalu aku membagi lima lembar pecahan seribuan kepada adiku, diapun sangat senang mengingat uang jajan harianya di sekolah cuma 200 perak itu pun kalau bapak lagi punya duit.
"Terimakasi aa" matanya berbinar kegirangan
"Sekarang kamu fokus saja mencari ilmu, jangan berpikiran macem macem, bapak tidak punya harta untuk di wariskan, cuma dengan cara ini bapak berharap kelak kamu bisa menjadi kebanggan keluarga, bisa menggkat martabat keluarga kita, tapi kamu harus bayak bersabar ya, soalnya kita banyak kekurangan" tambah bapak
"Iya ibu juga minta maaf ya, bukan ibu tidak mau seperti ibu ibu yang lain, yang menyekolahkan anak anaknya, yang menyangi anak anaknya dengan harta, tapi mau gimana lagi udah takdirnya kita seperti ini, kita harus bersabar sambil terus berusaha semoga kedepanya Allah mengakat drazat kita" tambah ibu, matanya yang berkaca kaca membuat hatiku tetiris perih, dengan keadan yang seperti sekarang aku tidak bisa melakukan apa apa.
"Orang tua tidak berharap apapun dari anaknya, orang tua akan bahagia ketika melihat anaknya bahagia" kata bapak meperjeles tentang kebahigian anaknya.
Kedua orang tua ku, terus menasihati memberi semangat, memberi arahan, menjelaskan mana yang baik dan yang buruk, yang benar dan salah
Mata kami pun mulai layu di ikuti berapa uapan di mulut, tak kuasa menaha kantuk seusai kerja berat di sawah,
Akhirnya kami pun pergi menuju kamar masing masing untuk menjemput mimpi mimpi indah kami.