pulang

1240 Words
pov dalari Setelah mendapat tempat kosong, kang andri membeli koran untuk alas duduk kami. Tak selang berapa lama, Film pun di mulai, di awali dengan film barat menampilkan teknologi canggih yang mampu mengkloning DNA dinosaurus dari seekor nyamuk, akhirnya kebun binatang dino saurus pun mereka buat, tapi masalah terjadi saat sistem keaman kebun tidak berpungsi. Akhirnya pemeran utamanya muncul, aku sangat takjub melihat bentuk gambar dinosaurus yang begitu nyata , biasanya kalau drama drama kolosal binatangnya kaku, ketegangan film ini pun terjadi saat mobil bus masuk jurang, "Pilem apan ini, kalau film di putar di acara kenaikan kelas udah di tebang nih, pilem jelek gini di putar, mana bahasanya gak ngerti lagi" gerutu bapak bapak di belakang ku, Kami yang mendengarkan cuma senyum getir, lalu memfokuskan kembali pandangan ke layar, fiksi ilmiah emang tidak ramah buat kaula tua. Film pertqma pun usai disusul dengan film ke dua dengan judul si rawing, di perankan oleh aktor kawakan berry prima, penoton pun riuah, ada yang tepuk tangan, mengumpat penjahatnya, bahkan memotivasi si rawing ketika menghajar lawan lawanya bak menoton acara live tinju, kampungan emang tapi ini mebuat seluruh warga kami bahagia. Seusai film kedua dilanjutkan dengan film ke tiga dengan judul lampiasan n4psu diperankan oleh reynaldi, merasa film ini tidak ramah bagi anak anak.. "Wah parah nih, mending kita cari makan dulu udah mulai lapar nih" kata kang agus demi menyelamatkan generasi muda ia bangkit sambil meregangkan otot otot yang kaku setelah lama duduk. "Iyaa....., mana sabun tingal rins0 doang bisa bisa melepuh nanti" ujar kang adnan. "Ya udah mending kita makan dulu, siapa tau film ke empat bagus, oya mau makan bakso apa mi ayam?" Tanya bang fahmi "Bakso enak tuh, dingin begini butuh yang pedas pedas" timpal kang agung. Semua sepakat untuk makan bakso dari pada mi ayam, kami pun bangkit lalu merapihkan koran buat nanti di pake lagi, lalu berjalan mencari tukang bakso yang menurut review orang orang enak, tapi ternyata dagangnya udah habis, kami pun mencari lagi dan menemukan tukang bakso yang daganganya masih penuh lalu memesan sebelas porsi tapi ternyata mangkoknya cuma ada enam, jadi sebagian dari kami harus menunggu sampai selesai makan yang pertama, setelah ada kesepakatan dari kami yang rela menunggu giliran, kang bakso pun mulai memasukan mi, toge, bihun, dan racikan lainya ke dalam mangkok borlogo ayam, lalu menyiramnya dengan kuah di isi butiran butiran bakso, lalu menyerahanya pada kami untuk di nikmati. "Ni kamu dulu yang makan" ujar bang fahmi sambil memberikan mangkok bagiannya kepada ku. "Bang fahmi aja dulu" sanggah ku. "Makan" seru bang fahmi sambil menatap tajam mataku. Melihat bang fahmi memaksa aku pun mengambil lalu manyendok kuahnya dahulu, terasa nikmat, ditengah cuaca malam yang dingin, aku sangat menikmati setiap suapan yang masuk kedalam mulut, ini adalah makan langka yang hanya bisa di nikmati di acara acar hiburan seperti sekarang. Seusai menyatap bakso, kami menunggu giliran kedua menghabiskan makananya, sembari ngobrol ada pula yang mengasipi mulutnya dengan stik kecil seperti pensil, Serasa semua udah beres bang fahmi dan bang adnan pun membayar semuanya, karena cuma mereka yang uang bulanannya lebih. Lalu kami pun kembali ke layar, ternyata film ketiga pun udah selelasai di lanjutkan dengan film komedi, warkop dki, kami pun dibuat terpingkal pingkal dengan adegan adegan kocok trio dki itu, sampai rahang ku terasa kaku karena keseringan tertawa. Usai film ke empat kami memutuskan untuk pulang, takut telat mengikuti pengajian subuh, Perjalanan pulang sangat lancar, sinar bulan yang terang menyinari jalan pijakan kami. Sesampai dipondok, aku di suruh merebus air buat menyeduh kopi karna kalau gak ada kopi takut ketiduran. Kopi pun sudah tersaji, kami duduk di balkon pondok sembari menunggu adzan subuh. Setelah adzan seperti biasa kami mengikuti pengajian, meski rasa kantuk menyelimuti tapi kami tetap paksakan, jangan sampai hal yang tak penting mengangu tujan awal. Seusai pengajian kami pun kembali ke kamar masing masing, untuk mengganti waktu tidur semalam, karena dari pagi sampe dzuhur tidak ada jadwal pengajian, biasanya dimanfaatkan para santri untuk pergi belajar kesekolah, atau membatu abah dan akang, mulai mencari kayu bakar, memberesihkan kebun, mencakul sawah, dan apapun itu perintahnya kami siap melakukan dengan hidmat sebagai bentuk rasa terima kasih kami kepadanya, kalau tidak ada pekerjaan yang di suruh akang atau abah kami biasanya membantu warga, hanya sekedar mencari makan tanpa mengharapkan uang sepeserpun, tapi kalau mereka lagi punya uang lebih mereka tidak sengan untuk membaginya kepada kami. Beda halnya dengan hari ini, kami habis kan hari dengan memejamkan mata menganti waktu tidur semalam. ***** Seminggu berlalu orang tua ku tak kunjung datang, aku pun memutaskan untuk menengok kedua orang tua sambil mengambil perbekelan ku di pondok. Sesampai di rumah orang tua ku tidak ada, aku pergi kedapur untuk mencari makan karena rumah orang tua ku tidak pernah dikunci, merasa tidak punya barang berhaga untuk dilindungi. di dapur aku cuma menemukan nasi, kepala ikan asin dan sambel, tanpa berpikir panjang aku pun mengisi perut yang sedari pagi belum di isi, rasanya sangak nikmat apalagi habis perjalanan jauh aku pun manambah beberapa kali. Seusai makan aku membawa semua piring kotor ke jamban umum untuk mencucinya, setalah selasai mencuci piring, aku ketemu warga lalu menyalaminya, "Kapan pulang, bapak mu tidak ada dirumah ya?, tadi ke arah barat sama ibu membawa cangkul" ujarnya "Baru nyampe barusan" jawabku Setelah berbasa basi aku pamit meningalkannya, setelah merapihkan piring bersih aku bergegas menuju tempat bapak berkerja. Sesampainya di sana aku melihat bapak sedang mencangkul sedangkan ibu memberesihkan tanggul sawah dari rumput rumput liar, aku mengucapkan salam lalu mencium puggung tangan mereka. "Udah makan belum" tanya ibu sambil menatap ku "Udah bu" jawabku sambil mengangguk. "Ya udah, pulang sana di sini panas nanti kita ngobrol lagi pas bapak pulang" perintah bapak Bapak walau pun tidak mampu, tapi bapak sangat sayang sama anak anaknya, tidak mau masa anak anaknya di habiskan untuk bekerja. "Iya pak, oya arit di mana tadi di cari ke kandang tidak ada" jawabku "Ada didekat pohon pisang, biarin aja nanti bapak sepulang dari nyangkul yang mengambil rumput, kamu pasti lelah setelah belajar dan perjalanan jauh, kamu pulang aja istirahat sana" kata bapak sambil melanjutkan cangkulannya. Tanpa berkata apapun, aku pergi meningalkan mereka mendekati pohon pisang untuk mengabil arit dan karung, lalu pergi mencari rumput, Tak selang berapa lama karung pun terisi dengan rumput segar, sangat mudah bagi aku yang hanya anak kampung untuk mengisinya, apalagi rumputnya sangat subur, Aku menaikan karung ke bahu, lalu membawa dan menyimpannya kekandang yang terisi dua ekor kambing, sebagai tester aku mengabil sejumput rumput dari karung lalu menyuapi kambing kambing itu, ternyata sangat lahap Setelah puas bermain sama kambing, aku pulang kerumah mengambil beras memasukanya ke bakul, lalu menuju toilet umum untuk memberesihkan badan dan mencuci beras. Pulang mandi aku pun menyalakan api di tungku lalu menaruh panci masak mangisi dengan air lalu memasukan beras ke ayaman bambu yang berbetuk kerucut, dan menaruhnya ke atas panci. 30 menit kemudian beras pun mengeras lalu aku angkat lalu menyiramnya dengan air, sambil menunggu berkembang aku melaksanakan sholat terlebih dahulu di masjid yang bersebelahan dekat rumah, Seusai sholat aku melanjutkan masakan ku. Tak selang berapa lama, Adik ku pun pulang dari sekolah disusul sama bapak dan ibu yang mebawa daun singkong muda dan bungkusan ikan teri. Seusai sholat adik ku, walau masih kecil dia sangat terampil menbantu menyiapkan makanan untuk di santap bersama. Setelah semuanya siap kita pun menungu bapak dan ibu yang sedang melaksanakan sholat. Kami pun berkumpul untuk menyantap makan siang kami, bisa ngumpul sambil makan bersama adalah kebahagian terbesar kami, meski dengan lauk seadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD