LAYAR TANCAP

1072 Words
Pov dalari Setelah wudhu aku ikut sholat lalu melanjutkan tidur. Sembari menungu nasi matang, buat makan siang yang agak di tarik mendekati sore, seperti biasa kita kita ngumpul ngobrol ngobrol. "Nanti malam Ada layar tancep, di kampung cisuda" kata kang reaihan membuka obrolan "Yang bener, dah lama kita tidak ada hiburan" sahut kang agus penasaran "Bener, kan kemarin aku pulang jalanya lewat cisuda kebetulan ketemu teman lama, dia yang ngasih tau, katanya acara nikahan saudaranya" jawab kang reihan "Iya benar, kata tetangga ku juga di cisuda ada layar tancep" sahut kang dadang menimpali "Wah harus diberangkatkan nih, lumayan pelepas penat, ditenggah jadwal pelajaran yang padat" ajak bang fahmi "Hampir tiga bulan ya, tidak ada hiburan sama sekali" kata kang agung. "Berangkat gak, kang?" Tanya kang raehan ke kang agus, sekaligus memninta pendapat dari tetuah pondok. "Ayo lah sesekali gak apa apa kali hiburan" kata kang agus "Mumpung awal bulan, uang kiriman masih numpuk " kata kang reihan "Percaya kok, sama anak pemilik kebun teh mah tidak di ragukan lagi, pasti uangnya banyak hahaha" sahut kang agung "Buat apa uang banyak, tapi gak bagi bagi" timpal bang adnan yang sedari tadi menyimak "Tenang tenang, nanti aku yang traktir mi ayamnya" saran bang fahmi "Nah gitu, mantep tingal nunngu yang nanggung asap nya nih, bisa bisa masam nanti kalau tidak di asapi" kata kang agus "Maaf kalau asap masing masing aja kang, itu bukan tanggug jawab panitia" kata kang reihan "Ya udah nanti kita beragkat bareng, habis sholat isya" kata kang agus Aku yang dari tadi menyimak kakak kakak ku ngobrol cuma diam saja. "Matang matang" kata kang didin Obrolan mereka pun terhenti teralihkan dengan wangi nasi yang di tumpangin asin. Tanpa lama lama kang didin pun menumpahkan nasi di tampah bambu lalu kami pun menyatapnya dengan lahap. Aku yang udah berdamai dengan panasnya nasi baru matang udah bisa mulai mengimbangi suapan kakak kakak ku. Pukul 20:15 seusai ngaji dan sholat isya aku kembali ke kamar, aku liat bang fahmi udah siap siap mau berangkat. "Mau ikut gak?" Tanya bang fahmi sambil menolehku. Di tanya begitu aku cuma nunduk "Kenapa gak jawab,? " tanyanya lagi "Mau sih bang, jujur dah lama gak liat layar tancap, terakhir nontin pas di adain di sekolah kita, tiga tahun lalu" jawab ku "Ya udah ganti bajunya, masa mau berbuat dosa pake koko" seru bang fahmi "Kenapa masih diam, katanya mau ikut?" Tambahnya "Aku udah gak ada duit bang cuma buat patungan masak, harusnya bapak datang besuk hari minggu kemarin tapi abang juga tau bapak gak datang" lirihku "Ya udah ganti pakaian, nanti kalau aku jajan kamu ikut jajan, biar aku yang bayar" kata bang fahmi Baru di tawarin aja udah senang banget sampai mata ku berkaca kaca, aku buru buru ganti baju menganti dengan celana leviz dan kaos lengan panjang "Pake ini, kalau malam di luar dingin" sambil melemparkan switer ke arah ku, "Terima kasih bang?" Sahutku sambil memakai nya walau kegedean tapi aman lah buat melindungi diri dari angin malam. "Tapi besok cuci ya!" Sambil senyum "Siap pak bos" jawab ku sambil menekuk muka Setelah semua kumpul dan ternyata tidak semua santri ikut, hanya sepuluh orang yang akan pergi sisanya tetap tinggal di pondok. Kami pun berjalan dengan diam diam takut membuat abah dan akang curiga. Menyusuri jalan kecil di gelapnya malam Yang tanpa bulan dan bintang pun belum terlihat, mengandap ngendap menuju jalan desa. Sesampai di jalan desa kami pun menyusri arah selatan di terangi cahaya batre yang menempel di korek. Tidak terang tapi cukup membantu bagi kami yang terbiasa berjalan dalam keadan gelap, keringat pun mulai bercucuran membasahi baju, Emat puluh lima menit kami berjalan di barengi sendau gurau rasa lelah pun tak terasa, Sesampai di lokasi terlihat banyak pedagang dadakan, mulai dari tukang bakso, mi ayam, martabak, mainan, rokok, kacang rebus dan banyak lagi yang lainnya, di terangi lampu kuning mengantung di setiap tendanya. Bayak orang yang mendatangi tempat hiburan, karena peristiwa ini jarang sekali di temukan di daerah perkanpungan yang jauh dari kota, tidak heran mereka berbondong bondong datang memadati tempat ini untuk menyaksikan pertujukan atau cuma sekadar menikmati jajan jajannya. Kami pun berjalan pelan merangseg menuju kain putih berukuran 4x8 meter itu Ternyata film pun belum di putar, serasa pemutarannya masih lama kami pun berpencar terbagi dua kelompok untuk melihat setiap sudut tempat hiburan dan berjanji kumpul lagi di tempat ini setelah film di mulai. Lagi muter muter pandangan klompok kami terhenti di sosok yang berjongkok mendekap seorang wanita. "Itu kayanya kang andri, pantes tadi gak ikut ngaji ternyata berangkat duluan" celoteh kang kang adnan Kang andri adalah santri kalong atau santri yang ikut ngaji tapi tidak tidur di pondok karena rumahya hanya kehalang tiga rumah dari pondok. Kami pun mendekat menghampirinya "Gak sia sia berangkat pagi pagi nih, jam segini udah dapat pacar aja" ledek bang fahmi "Hahaha maklum lah kegantengan ku tak terkalahkan" jawabnya sambil terkekeh bangga. Udah jadi rahasia umum kalu dia itu gemar banget kalau di puji. "Orang mana nih, kok dari tadi diam aja" sahut bang adnan sambil menatap kearah wanita yang ada di dekapanya. "Udah lah sana pergi, jangan gangu kesenangan orang, cari kesenangan masing masing sana" rengek kang andri "Eit nanti dulu, kalau kamu ngelakuin hal hal yang tak senonoh bagai mana kita nanti dapat dosanya tapi tidak menikmati" timpal kang fahmi. Kami pun terus menggoda kang andri tiba tiba Bbbruk Kang andri terjungkal karena wanita yang sedari tadi di dekapnya berontak, lalu lari ke arah kerumunan. Ledak tawa pun pecah melihat kang andri yang terkapar terlentang akibat hentak wanita tadi "Kalian sih ganggu, jadi kabur tuh mangsa nya mana udah ngejajanin bakso" gerutu kang andri sambil bangun lalu menupuk nepuk bajunya yang kotor dengan debu. Kami pun tertawa lagi lebih kencang sehinga banyak mata yang berpaling memandangi kami. Menjadi pusat perhatian kami pun mengecilkan suara tawa kami lalu manarik kang andri untuk bangkit meningal kan tempat itu Pukul 22:00 layar putih pun mulai bergamar menampilkan trailer treiler film terbaru. Kami pun mulai mendekati titik kumpul sesuai yang kita janjikan di awal sebelum pisah, setelah berkumpul kita pun mencari tempat, yang kosong meski di bagian depan layar sangat padat tapi masih ada cela untuk kami duduk, beda halnya sama yang di belakang layar meski gambar terlihat tapi bentukya miror, kalau ada translate pasti terbalik tapi masih ada yang nonton dari arah situ walau tidak banyak, biasanya di isi kaula muda mudi yang lagi memadu kasih sama pasanganya biar tidak mengangu atau di ganggu orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD