6

1359 Words
“Biru, kamu harus ke rumah sakit!” panik Rasi yang tidak terelakkan lagi dari gurat wajahnya. Biru menggeleng, menolak. Namun dengan cepat ia mengeluarkan sebuah sapu tangan yang memang biasa ia bawa ke mana-mana untuk persiapan kalau-kalau sampai kejadian hal seperti ini pada waktu yang tidak terduga. “Gue anter lo pulang aja, ya?” “Nggak! Kita harus ke rumah sakit, Biru. Aku takut kamu kenapa-napa.” “Aku nggak apa-apa, Sayang. Ini paling cuma kecapean aja.” Kalimat Biru kali ini seketika membuat Rasi terhenyak sesaat. Membuat Rasi seketika tidak fokus lagi pada kepanikannya dan benar-benar meragukan pendengaran telinganya sendiri. Pasti ada yang salah! “Kamu tadi bilang apa?” katanya masih belum yakin. “Kenapa? Kedengerannya aneh, ya, kalau aku pakai bahasa aku-kamu gitu?” tanya Biru serius, usai membersihkan darahnya yang sedikit demi sedikit mulai berhenti mengalir. “Kan, bener aja nggak pantes. Gara-gara Leon, nih!” “Bukan-bukan itu yang aku maksud,” ralat Rasi, yang demikian membuat Biru bengong lagi. “Terus yang mana?” Setelah diam sebentar, dengan sangat kaku akhirnya Rasi mengulang pelan. “Sa-yang?” “Oh!” Biru mengerti. Lalu tersenyum penuh arti. “Nggak salah, kan?” Rasi tersenyum tipis. Sampai kemudian barulah ia menggeleng, tidak merasa ada yang salah dengan panggilan baru yang Biru berikan untuknya itu. Awalnya Biru bicara seperti itu memang bermaksud untuk mengalihkan perhatian Rasi. Mengalihkan topik, supaya Rasi tidak perlu mengkhawatirkan dirinya lagi. Akan tetapi setelahnya, setelah mengucapkan kalimat itu maksudnya, Biru rasa ini adalah waktu yang tepat baginya untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan pada gadis itu. “Aku tahu, mobil aku emang bukan tempat yang romantis. Tapi nggak tahu kenapa, aku merasa ini waktu yang tepat buat aku bilang semuanya ke kamu.” Sesaat dahi Rasi berkerut. “Bilang apa?” “Perasaan aku.” Biru diam, menjeda. Sebelum akhirnya menatap kembali manik mata Rasi yang juga tengah menatapnya sejak tadi. “Aku mau kamu jadi pacar aku, Ras.” *** “Tan, Bintang cari Biru dulu, ya. Buat siapin mobilnya.” Di toilet tidak ada, di mana-mana tidak ada. Sampai terakhir di sebuah lorong dirinya melihat siluet seseorang, Bintang berhenti dan segera memutar langkahnya. Ralat, sepertinya Bintang salah. Bukan seseorang, melainkan dua orang yang menyatu dalam satu rengkuhan. Tadinya Bintang ingin menghampiri. Akan tetapi isak tangis Rasi yang semakin menggema jelas di telinganya, membuat niatannya urung. Tidak. Ia tidak akan mampu menahan ini semua jika melihatnya dari dekat. “Jangan pernah nangis sendiri. Gue di sini, ada buat lo.” Tidak melihat wajahnya dengan jelas, namun Bintang hafal betul suara ngebass yang dimiliki Biru. “Yang Rasi butuhkan cuma Biru. Bukan gue. Apa mungkin ini udah saatnya gue berhenti menaruh harap sama Rasi, karena selamanya kita cuma akan jadi sahabat? Ck!” Bintang berdecak, meracau sendiri. Tiap kali teringat apa yang dilihatnya saat itu, tiap kali itu juga Bintang sering meracau sendiri persis seperti orang gila yang dilanda frustrasi. Sudah gila, frustrasi pula! Kurang nikmat apa cobaan yang dirasakannya saat ini? “Knock, knock!” Lagi bengong-bengong di balkon kamar sambil menikmati s**u putih yang biasa mamanya buatkan tiap malam untuknya, tiba-tiba ada suara mengganggu. Benar-benar sangat tidak Bintang sukai kapan pun dan di mana pun! Apalagi suara si m***m itu. Yang ia ingat betul saat di sekolah tadi sempat mengancam ingin memperkosanya. Makin jelek saja mood Bintang. “Knock, knock!” Dari balkon kamarnya, Kejora yang pantang menyerah diabaikan, terus saja mengulangi tuturannya yang seolah-olah seperti suara ketukan pintu. Bintang mendesah. “Apaan, sih, Sum?! Nggak bisa apa, ya, sehari aja lo nggak ganggu gue?” “Emang gue ganggu, ya?” Tiba-tiba Kejora merasa bersalah. “Ganggu!” sungut Bintang, mantap. “Mau apa lo? Mau ngancem perkosa gue lagi?” “Nggak, dih. Kepedean! Orang gue disuruh Tante Naina buat panggil lo. Makanya kalau orang ngetuk pintu itu dibukain. Jangan dikacangin. Emangnya gue gado-gado apa dikacangin!” kesal Kejora, yang membalas Bintang bertubi-tubi. Tidak tahu kenapa, seketika Bintang jadi malu sendiri. Dampak dari memikirkan Rasi begini memang kalau untuk Bintang. Kedua telinganya seperti ada yang menutup rapat, sampai-sampai suara apapun tidak terdengar olehnya. Terkecuali yang satu tadi. Suara cempreng si m***m itu. Tidak tahu punya mantra apa sampai suaranya bisa menembus gendang telinga Bintang. Beberapa saat, sebisa mungkin Bintang mengatur diri supaya tetap terlihat biasa saja. Stay cool, sebelum akhirnya bertanya, “Mau ngapain Mama manggil gue?” “Mana gue tau. Coba aja sana lo samperin,” saran Kejora. *** “Besok Mama ada dinas Luar Kota. Nggak lama, kok. Cuma dua hari,” ucap Naina sembari mengambil remot TV untuk mengecilkan sedikit volumnya, kemudian tatapannya jatuh lagi pada Bintang. “Kamu jaga rumah sama Kejora, ya?” “Nggak. Bintang nggak mau di rumah sendirian,” tolak Bintang mentah-mentah. “Kan ada Kejora. Nggak sendiri.” Naina membetulkan. “Mending Bintang nginep di rumah Oskar daripada sama dia. Idih!” Membayangkannya saja Bintang langsung bergidik ngeri. Namun memikirkan tanggung jawabnya yang diberikan Milka, membuat Naina justru lebih khawatirkan Kejora dibanding putranya sendiri. Karena selain Bintang laki-laki yang pasti sudah bisa jaga diri di usianya yang hampir menginjak 17 tahun, Naina tahu Bintang jago berkelahi walau tidak mengambil les bela diri secara khusus. “Tapi kalau kamu nginep di rumah Oskar, Kejora gimana?” “Bukan urusan Bintang. Emangnya Mama mau, ntar pas Mama pulang, Bintang udah nggak perjaka lagi?” cemas Bintang yang tidak masuk akal. “Hah?” Seketika alis Naina berkerut. “Nggak perjaka lagi gimana?” “Mama nggak tahu, sih, si m***m itu!” “m***m? Siapa m***m? Kamu m***m, ya? Kan Mama bilang jangan nonton film yang nggak bener! Atau mau Mama sita aja, nih, ponsel sama laptop kamu sekalian? TV DVD di kamar kamu juga. Mau?” tembak Naina yang langsung disertai deretan ancaman. “Bukan, Ma. Bukan⸻” “Iya, Tante, bener. Sita aja. Biar tahu rasa dia,” kompor Kejora yang entah darimana dan sejak kapan datangnya, tiba-tiba saja ikut nimbrung memotong pembicaraan Bintang dan duduk di sebelah Naina yang sedang menonton televisi. Bintang melotot lurus pada Kejora. Dengan jari telunjuk yang mengacung ke arah gadis itu, ia mengomel, “Eh, mending nggak usah ikut campur lo!” “Anak cowok, nih, ya, Tan, kadang dari luarnya aja keliatan polos-polos. Tante mesti hati-hati. Kalau tipe Bintang gini kayaknya mesti diawasi full 24 jam baiknya.” Kejora mengompor lagi, namun kali ini apinya menyala semakin besar. Membuat Bintang seketika mendengus lantaran kian diburu amarah. “Berisik. Bisa diem nggak?!” sentaknya, yang justru malah dibalas juluran lidah oleh Kejora. “Bintang kenapa, sih, kamu marahin Kejora terus?! Giliran waktu itu aja...” Bukannya Kejora yang menyahut, kali ini Naina yang mengomeli anaknya sendiri. “Waktu itu apa?” sela Bintang, menantang. “Kejora, kamu inget waktu kamu pulang telat?” Mata Naina berpaling cepat pada Kejora. Bintang terbelalak. Ia sudah tahu ke mana arah dan tujuan pertanyaan mamanya itu. Lalu tak lama Kejora mengangguk pada Naina. “Waktu itu Bintang cemas banget sama kamu. Lebih cemas dari Tante, sampai nungguin kamu pulang di depan rumah berjam-jam, padahal cuaca lagi dingin. “Nggak! Bintang nggak nungguin dia. Emang di dalem lagi gerah aja, jadinya Bintang keluar.” Meski sempat gugup, Bintang tetap menyanggahnya dengan percaya diri. Masih belum bisa percaya, sejenak Kejora memastikan. “Emang beneran, Tante?” Lalu melihat anggukan yang diberikan Naina atas berita itu, sesaat Kejora tersenyum menggoda pada Bintang. “Ciyeee...” “Jangan ge-er! Gue itu orangnya peduli terhadap sesama. Jangankan lo yang manusia, kucing liar yang biasa di taman aja sering gue perhatiin! Mau lo gue samain sama kucing liar? Kalau mau, ya, silakan!” “Sembarangan lo kalau ngomong. Mana ada kucing liar imut begini? Cakep begini? Lucu begini kayak gue? Kucing liar, tuh, dekil. Kayak muka lo, tuh, dekil!” “Heh! Lo kalau mau ribut sini aja, ayo!” “Ayo!” tantang Kejora. “Lo pikir gue takut sama lo?” “Haduh! Kalian ini berisik banget, deh! Yaudah, kalau emang kalian mau ribut berdua, sini Mama tunjukin tempat yang pas,” pekik Naina, yang kemudian menggiring Bintang dan Kejora. “Sini Kejora, kamu juga harus ikut Tante.” Naina pikir aduannya itu akan membuat mereka baikan. Akan tetapi nyatanya tidak, karena yang terjadi justru sebaliknya. Bisa sekali dua anak itu malah bertengkar di hadapannya, di saat yang sebetulnya sekarang ini ia sedang ingin menenangkan pikiran sebelum bergelut dengan pekerjaan di luar kota nanti. “Cepat kalian masuk,” titah Naina di depan sebuah ruang gelap dengan pintu terbuka. Kejora yang belum pernah mengetahui keberadaan ruangan itu lugu saja melangkah masuk. Membuat Bintang cekikikan geli sendiri namun ia tahan-tahan. “Kamu juga.” Naina menitah lagi. Dengan keras kepala Bintang yang sudah tahu ruangan apa itu menolaknya. “Nggak mau.” Sehingga tanpa banyak bicara, setelahnya Naina langsung menggiring paksa tubuh Bintang sampai benar-benar masuk menyusul Kejora, kemudian cepat-cepat menguncikan mereka berdua di dalamnya. Bukan maksud ingin menjadi ibu yang jahat, mengurung anaknya sendiri di dalam gudang. Tapi Naina pikir hanya ini satu-satunya cara yang dapat ia lakukan untuk membuat Bintang dan Kejora tidak terus-terusan ribut. Karena bagaimana pun juga Naina ingin mereka akur, setidaknya hanya dalam kurun waktu tiga hari ke depan, selama dirinya dinas di luar kota tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD