7

1085 Words
“Nomor yang anda tuju, tidak menjawab. Silakan⸻” Rasi mematikan sambungan ponselnya sebelum operator itu selesai bicara. Di saat Biru sudah mulai berubah, kenapa juga Bintang malah mengikuti jejaknya yang suka menghilang-hilang dan tidak bisa dihubungi seperti sekarang ini? “Bintang, nih, kebiasaan, deh. Di saat-saat penting gini susah banget dihubunginnya! Ntar giliran nggak dikasih tahu marah-marah.” Kalau Biru yang sulit dihubungi biasanya Rasi pasti sedih. Akan tetapi kalau Bintang yang sulit dihubungi, tidak tahu kenapa pokoknya Rasi malah emosi jiwa. Kesal, yang membuatnya jadi marah-marah sendiri. Menyebalkan! Rasi melempar ponselnya sesaat. Namun sekian detik berselang ia mengambilnya lagi. Mencoba untuk menghubungi nomor ponsel yang sama lagi, entah ini untuk yang ke berapa kalinya. Calling Bintang... “Maaf, nomor yang anda tuju⸻” “Maaf-maaf! Dikiranya ini lebaran apa, minta maaf terus!” gerutu Rasi yang malah jadi kesal sendiri. Usai mematikan lagi, sesaat Rasi berpikir, apa ia sambangi saja rumah Bintang? Ah, tapi ini sudah terlalu malam. Kalau saja rumah mereka bertetangganya dengan bersebelah-sebelahan, mungkin sekarang ini Rasi sudah nekat memanjat balkon kamarnya sendiri demi mendatangi Bintang. Kenapa? Karena yang ingin ia ceritakan pada Bintang ini adalah hal penting. Sangat-sangat penting, maka dari itu Bintang selaku sahabat terbaiknya sejak kecil dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun, harus menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Sebelum ia masuk sekolah besok dan bertemu Aurel. Karena tanpa Rasi bercerita pun, biasanya Aurel langsung tahu walau hanya dari melihat wajah saja. Entah ilmu apa yang anak itu miliki, tetapi yang jelas sejauh ini tebakan Aurel selalu benar mengenai apapun yang Rasi alami. Katanya, sih, bilang pada Rasi, “Lo itu orangnya ekspresif banget, Ras. Jadi apa-apa aja semua udah ketebak dari ekspresi lo. Kelakuan lo. Jangan heran!” Katanya, ya. Cuma katanya. Jadi Rasi pikir itu hanya opini Aurel semata. *** Di dalam gudang dengan pencahayaan yang ala kadarnya, untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, Bintang dan Kejora kompak melakukan suatu hal tanpa perlu diperintah-perintah ataupun dipaksa-paksa. Yaitu menggedor pintu gudang dan berteriak-teriak agar dibukakan oleh Naina. “Ma! Bukain, Ma!” “Buka pintunya dong, Tan! Anak Tante ngeselin. Kejora nggak mau kekunci sama dia!” “Yee, siapa juga yang mau kekunci sama cewek m***m kayak lo!” Mereka berteriak saling bersahutan. Begitu saja terus berulang-ulang. Sampai tiba-tiba Bintang berhenti duluan, ketika kebetulan matanya bertemu dengan mata bulat Kejora. Padahal Kejora menatapnya biasa saja. Tetapi Bintang was-was, buru-buru menyilangkan tangannya di depan d**a. “Mau apa lo?!” “Ha?” bingung Kejora. Bintang langsung menggedor kembali pintu yang terkunci itu, dan berteriak sekencang-kencangnya. “MA! SELAMETIN BINTANG, MA, PLIS! BINTANG MASIH MAU PERJAKA, MA! BINTANG NGGAK MAU JUNIOR BINTANG SAMPAI KENAPA-NAPA SAMA SI m***m INI! MA, PLIS, INI MENYANGKUT MASA DEPAN BINTANG, HARGA DIRI BINTANG!” Di saat Bintang benar-benar ketakutan, Kejora dengan polosnya malah bertanya, “Lo beneran takut gue perkosa, ya?” “Iyalah! Kacau lo! Cewek macem apa, sih, lo?” kesal Bintang. “Awas aja kalau sampai masa depan gue hancur gara-gara sifat m***m lo!” Bintang terus mengomel, meski tiba-tiba omelannya tertahan ketika ponsel dalam kantung celana boxernya bergetar. Sama saja seperti anak-anak remaja milenial pada umumnya, Bintang tidak bisa terlepas dari ponsel. Ke mana-mana, Bintang pasti tidak lupa untuk membawa benda pipih itu. Sekalipun kadang ke toilet saja ia bawa. Ditaruhnya di tempat sabun, biar tidak terkena siraman air. Bintang mengeluarkan ponselnya. Tertera nama Rasi di sana. Bintang baru melihat, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Rasi sejak berjam-jam yang lalu. Semua saling berselang sekian menit, sampai yang terakhir kali Bintang lihat Rasi mencoba menghubunginya tepat tiga menit yang lalu, sebelum akhirnya gadis itu mengirim pesan obrolan padanya. Mode ponsel Bintang memang sering kali seperti itu. Diam jika menerima panggilan, dan bergetar jika menerima sebuah pesan atau obrolan. Pada pop up, pesan Rasi tidak terbaca sampai habis. Sehingga mau tak mau Bintang harus membukanya untuk membaca keseluruhan isinya. Rasi Aquilla: BINTAAAAAAANGGG!!! ADA BERITA BAIKK, DAN KAMU HARUS TAHUUU!!! Rasi Aquilla: AKU BARU AJA JADIAN SAMA BIRU!!! Brak! Bintang membuang ponselnya tanpa sadar, saat persendian kelima jarinya mendadak terasa lemas begitu saja. Detik itu juga nyawanya seperti terasa mengambang di awang-awang. Matanya memandang kosong, namun berair. Bukan tanpa sebab, dadanya juga seperti meretak hebat. Ada dentuman keras yang membuatnya sesak sesaat. Ada banyak penyesalan dalam benak Bintang, tetapi hati kecilnya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia sesalkan. Bintang tidak tahu apa yang mesti ia sesalkan, sedangkan semuanya memang sudah menjadi yang terbaik untuk Rasi. Biru yang akhirnya memberi kepastian pada Rasi, tentunya tidak akan membuat Rasi gamang lagi. Tentunya tidak akan membuat Rasi menangis lagi seperti yang lalu-lalu. Tapi tetap saja semua ini terlalu cepat bagi Bintang, yang belum mempersiapkan apa-apa untuk hatinya sendiri. Bintang yang masih belum bisa menerima, kalau hubungannya dengan Rasi tidak akan pernah bisa lebih dari sebatas sahabat untuk selama-lamanya. Ditambah Rasi yang belum pernah memiliki kekasih, membuat Bintang sejak kecil selalu percaya bahwa Rasi memang terlahir untuk menjadi miliknya. Membuat Bintang merasa, hanya dirinya yang ditakdirkan untuk Rasi. Rasi adalah miliknya. Rasi-nya Bintang, dan Bintang benar-benar tidak ingin kehilangan kalimat itu. Katakanlah Bintang serakah. Bintang egois. Tetapi Bintang sudah terlanjur terbiasa dengan semua yang sudah ada sejak mereka kecil. Bahkan hingga detik ini, Bintang terbiasa untuk selalu berada di sisi Rasi. Menjadi satu-satunya orang yang Rasi butuhkan bagaimana pun situasinya. Bintang terduduk di atas lantai. Minatnya untuk menggedor pintu dan berteriak-teriak seperti tadi mendadak surut. “Ada apa, Tang?” tanya Kejora, tidak tahu-menahu, yang suaranya seketika mampu menyadarkan Bintang kembali, kalau saat ini ia tidak sedang sendiri. Bintang tidak memberi jawaban apapun. Terlalu sibuk dengan isi kepalanya yang terus saja memaki hati kecilnya. Untuk saat ini, jujur saja Bintang benar-benar kehilangan kosa kata untuk diucapkan. Sebenarnya Kejora ingin mengambil ponsel Bintang tergeletak untuk mencari tahu. Akan tetapi tidak jadi, karena menurutnya hal tersebut tidak terlalu sopan untuk dilakukan. Lalu ia lebih memilih untuk mengubah pertanyaannya. “Are you okay?” Bintang menggeleng, walau pelan. Memberi jawaban, walau tanpa kata. Kejora diam sebentar, namun perlahan tangannya terulur meraih tangan Bintang yang paling dekat dengannya. “Kalau emang ada masalah dan lo mau nangis, nangis aja. Gue nggak masalah, kok.” Tidak ada pilihan lain. Bintang yang tidak ingin Kejora melihat air matanya, langsung saja menarik tubuh Kejora ke dalam peluknya. Membiarkan air matanya berjatuhan di balik punggung gadis itu. Ia tidak kuat. Dadanya terlalu sakit untuk tahu kenyataan di saat yang tidak tepat ini. Sehingga tangisan tidak bisa lagi dihindarkan olehnya. Seperti baru saja dipatuk ular berbisa, Kejora sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa ketika pergerakannya benar-benar terkunci oleh kedua tangan Bintang. Sekalipun untuk menahan debaran jantungnya yang sangat kencang, Kejora tidak bisa. Tidak ada yang ia bisa selain... merasakan deru napas Bintang, yang rasanya seakan benar-benar berat dan membebani. Sampai tak lama Kejora merasa pelukan Bintang semakin erat, bersamaan dengan isak tangis yang samar-samar mulai terdengar di telinganya. Sehingga membuat Kejora juga bertanya-tanya dalam hati; apa yang udah buat Bintang seperti ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD