8

1423 Words
Hukuman Naina masih berlanjut. Malam ini Bintang dan Kejora benar-benar sampai tidur di lantai gudang yang hanya dengan beralaskan sebuah karpet pelastik. Kejora membuka matanya perlahan. Mengingat-ingat tidur pukul berapa ia semalam? Sampai matanya terasa seberat ini sekarang. Tapi sepertinya cukup larut. Detik pertama di saat pandangannya mulai menjelas, mata Kejora langsung mengarah pada pintu yang masih tertutup. Untuk mengetahui apakah pintu itu masih terkunci atau tidak, Kejora beranjak bangkit. Akan tetapi tiba-tiba pergerakannya tertahan, saat ia sadari tangan kanannya masih tersangkut di tangan kiri Bintang. Sampai ketika tiba-tiba tubuh Bintang mengulat, ketika itu juga Kejora segera kembali merebahkan tubuhnya dalam posisi sedikit miring dengan mata terpejam. Berpura-pura tidur kembali. Bintang menguap, mengucak matanya dengan tangan kanannya. Berupaya mengumpulkan nyawanya yang hilang selama ia tidur, alias memulihkan kesadarannya. Lalu saat kesadarannya sudah mulai utuh, Bintang malah terkejut sendiri melihat tangan kirinya yang masih menggenggam erat jari-jemari tangan kanan Kejora. Sehingga sebelum Kejora terbangun, ia pun langsung melepaskannya pelan-pelan. Supaya Kejora yang ia tahu masih terlelap, tidak sampai bangun karena itu. Punggung Bintang terangkat duduk. Dikira sudah pagi. Ternyata masih pukul 3 dini hari. Ponselnya pun ia lihat sudah tinggal 7%. Entah sisa berapa lama lagi umur benda pipih itu, ia tidak tahu. Bintang perkirakan paling kurang dari 15 menit lagi akan mati. Sementara di sisi lain, Kejora yang tidak betah berlama-lama pura-pura tidur seperti ini, mulai berpura-pura mengulatkan tubuhnya seakan dirinya memang benar-benar baru terbangun dari tidur. “Udah pagi, ya?” tanyanya dengan suara yang berlagak diserak-serakkan. “Belum,” jawab Bintang singkat. “Pintunya udah bisa dibuka?” tanya Kejora lagi. “Belum.” Jawaban yang sama untuk dua pertanyaan yang berbeda. Sejenak Kejora mengambil posisi duduk sama seperti Bintang. Hingga detik ini, Bintang masih belum cerita padanya mengenai hal apa yang telah membuatnya menangis semalam. Tidak apa, Kejora akan menunggu sampai tiba saatnya Bintang bercerita. Mungkin ataupun tidak mungkin, Kejora akan menunggu. Lampu gudang memang jarang sekali ada yang terang benderang. Makanya tidak heran meskipun sudah berjam-jam di dalam tempat ini, baru detik ini Kejora menyadari ada sebuah benda besar, yang tertutup oleh sebuah kain berwarna putih. Kalau tidak ada Bintang yang menemaninya saat ini mungkin suasananya sudah terasa horor bagi Kejora. Tapi karena terlalu penasaran, akhirnya Kejora bertanya, “Itu apa benda besar yang ditutup kain putih?” “Piano,” cuek Bintang, datar. “Serius?” tanya Kejora tidak percaya. Kemudian langsung menghampiri benda itu dan menarik kain yang menyelimutinya. “Woah, bagus banget pianonya!” Kejora terpukau. Binar matanya memandang takjub pada sebuah piano dengan design galaxy itu. “Sayang banget, piano sebagus ini ditaruh gudang. Punya siapa?” “Bokap gue.” “Yang naruh ke gudang siapa?” “Nyokap gue.” “Kenapa?” Untuk pertanyaan yang satu ini tidak tahu kenapa Bintang tampak enggan menjawabnya. Sampai kemudian Kejora mengajukan pertanyaan yang lain. “Eh, iya, Tang. Permainan piano lo bagus, tapi kenapa lo nggak ngasih tau nyokap lo tentang bakat lo ini?” Lagi. Tanpa sadar Kejora mengajukan pertanyaan yang mengembalikan masalalu Bintang. Di dalam ruangan sempit itu, rasanya Bintang seperti kembali ke masalalunya, yang sesungguhnya tidak ingin ia ingat dengan perasaan menyakitkan. Alunan melodi piano yang diciptakan seseorang yang paling Bintang kagumi di atas panggung sana berakhir dengan sempurna. Suara riuh sorak-sorai yang diiringi tepukan tangan juga senyuman bangga dan puas semua terpapar nyata. Salah satunya senyum dan tepukan tangan dari Bintang, dan mamanya. Selesai itu Naina menuntun putra kecilnya mendekat ke arah belakang panggung. Yang kemudian keberadaan mereka langsung disambut oleh pianis terkenal itu, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Seorang ayah hebat dari putra kecilnya, Bintang Andromeda. Oleh sebab itu khusus untuk hari ini, Naina sengaja memakaikan setelan jas mini dan dasi pita⸻yang keduanya berwarna hitam⸻pada Bintang, yang disesuaikan dengan ukuran tubuh Bintang. Supaya apa? Supaya Bintang kecil kesayangannya yang satu ini terlihat kompak dengan papanya. “Bagaimana penampilan Papa?” Frans Wiguna, pianis terkenal yang merangkap sebagai ayah hebat itu bertanya pada putra kecilnya. “Baguss!!! Bintang suka. Pokoknya kalau sudah besar Bintang mau seperti Papa!!!” seru bocah itu sambil melompat ke dalam pelukan papanya. Naina tersenyum lebar. Bangga menjadi ratu di antara raja dan putra mahkotanya. “Habis ini acara apalagi?” “Aku mengisi di awal dan di akhir kontes piano ini. Jadi sekitar...” Sesaat Frans menengok arloji silver yang melingkari pergelangan tangannya. “Satu atau dua jam ke depan, aku masih free.” “Kalau gitu kita makan siang dulu aja gimana? Daritadi Bintang ngerengek terus mau makan cumi saus tiram bareng kamu katanya.” “Waduh, jagoan Papa, nih. Masa ngerengek, sih?” canda Frans pada Bintang yang saat ini sedang dalam gendongan sebelah tangannya. “Hihi,” tawa Bintang, sambil melingkarkan tangan mungilnya di leher papanya. “Ayo, kita makan cumi, Pa. Papa kan suka cumi, jadi Bintang juga suka.” “Yasudah, let’s go, kita makan!!!” ajak Frans semangat. Dengan menggendong Bintang, Frans menggiring bahu Naina untuk keluar dari gedung Jakarta Design Center yang saat ini menjadi tempat diselenggarakannya kontes bermain piano untuk para pianis pemula seindonesia. Sambil berjalan, ocehan Bintang dan Frans pun meramaikan suasana di antara mereka. “Bintang akan suka apa yang Papa suka!” “Kalau Papa suka piano, jadi kamu juga suka, begitu?” “Hm!” Bintang mengangguk mantap. Tetapi tiba-tiba dirasanya kantung kemih Bintang mulai penuh. “Mama, Bintang mau pipis.” Naina berhenti. Disusul dengan Frans yang juga ikut memberhentikan langkahnya. “Ada apa?” “Toilet di resto takut nggak higienis. Mas tunggu sebentar dulu nggak apa-apa? Biar Bintang pakai toilet yang di sini aja maksudku.” “Nggak apa-apa. Nanti aku bisa siapkan mobil dulu sambil nunggu kamu sama Bintang.” “Oke, deh. Ayo, Nak.” Frans menurunkan Bintang dari gendongan tangannya. Yang kemudian langsung diambil alih oleh Naina dengan menggandeng tangan mungilnya. *** Dorr!!! Dentuman keras sebuah peluru seketika memekak telinga ketika Naina baru saja hendak keluar dari bilik toilet. Tidak tahu asalnya darimana, tetapi terdengar begitu dekat. Sehingga membuat Naina yang tadinya selesai Bintang ingin bercermin dulu sebentar sambil mencuci tangan di wastafel, menjadi tidak jadi karena ketakutan dan pikirnya ia harus buru-buru untuk menghampiri suaminya supaya bisa berlindung dan Bintang juga tetap aman. Akan tetapi belum sampai Frans ditemukan, yang terlihat oleh Naina malah kerumunan orang ramai, yang sebagian di antara mereka tampak menjerit-jerit seperti sedang melihat hal yang mengerikan di depan matanya. Perasaan Naina mendadak tidak mengenakan. Degupan jantungnya pun berubah menjadi was-was tidak teratur. Lalu kakinya... tidak tahu kenapa tiba-tiba terasa sangat berat untuk dibawa melangkah. Ada apa ini? Pertanyaan yang menyelinap tanpa permisi dalam benaknya seketika membuat matanya berair tanpa sebab yang pasti. Begitu banyak pertanyaan yang mengambang di kepala Naina. Namun saja ia tidak berani memperjelas pertanyaan itu dengan jawaban. Naina takut. Takut kalau-kalau pertanyaan itu mengundang rasa sakit yang tidak bisa dirinya terima. Sampai saat beberapa orang yang dari luar masuk ke dalam membicarakan apa yang terjadi, barulah semuanya terjawab. “Frans Wiguna, pianis terkenal yang tadi tampil itu... baru aja ditembak sama penggemarnya sendiri!” Naina terhuyung di saat salah satu tangannya yang semula menggandeng tangan mungil Bintang tiba-tiba terlepas begitu saja. Kepalanya seketika terasa sakit. Pandangannya memburam bersamaan dengan jiwanya yang mengawang di ambang batas kesadarannya. Bruk! “Mama!!!” Anak itu hanya bisa menjerit, di saat mamanya ambruk tepat di depan matanya. *** Bertahun-tahun semenjak kejadian itu, Naina sempat mengalami yang namanya depresi berat. Terlalu berat, sampai-sampai dirinya tidak bisa lagi mendengar alunan melody piano di mana pun dan dalam bentuk musik apapun. Tidak hanya membuat Naina seperti itu, kejadian yang menimpa Frans nyatanya juga berpengaruh pada minat Bintang. Bintang yang sejujurnya sangat meminati apapun yang berkaitan dengan piano, menuruni dari sifat papanya, mulai sejak saat itu ia pun harus mengubur minatnya dalam-dalam. Terlebih jika dihadapan Naina yang notabenenya sangat membenci sekali alat musik itu, bahkan sampai detik ini. “Mulai hari ini, Mama nggak mau lihat kamu memainkan piano lagi!” “Tapi, Ma...” “Mama sudah kehilangan papa kamu karena alat musik ini. Dan sekarang Mama nggak mau kamu memainkannya, karena Mama nggak mau kehilangan kamu sama seperti kejadian Papa kamu dulu, Bintang! Mengerti?!” Semua kejadian tersebut hanya bisa terekam dan terputar ulang dalam ingatan Bintang, dan kini ia benar-benar tidak bisa menceritakannya pada siapapun. Tidak terkecuali Kejora yang sekarang masih menunggu jawaban darinya. Kalau kalian bertanya bagaimana piano tersebut sampai bisa berada di dalam gudang? Jawabannya sederhana. Karena mau sebenci apapun Naina pada alat musik itu, alat musik itu tetaplah menjadi satu-satunya benda kesayangan yang saat ini mungkin sudah bisa dibilang peninggalan, milik Frans. Sehingga sampai kapan pun juga, Naina tidak akan pernah mungkin sanggup untuk membuangnya. Naina hanya sanggup menyingkirkannya. Karena membuang piano itu, sama saja seperti membuang kenangannya bersama Frans. Dalam diam Kejora menatap Bintang begitu lekat dari posisinya berdiri. Tetapi tidak tahu kenapa, yang Kejora lihat pikiran Bintang seperti sedang melayang-layang di waktu dan tempat yang sangat jauh. Jauh sekali, terbaca dari sorot matanya yang menerawang sesuatu tak berujung. Cklek! Belum sempat Bintang berkata apapun, tiba-tiba terdengar suara kunci berputar yang menginterupsi mereka. Yang tak lama pintu akhirnya terbuka, menampakkan sosok Naina yang sudah rapi mengenakan baju kantornya. “Hukumannya udah selesai. Ayo, sekarang kalian cepetan mandi, habis itu sarapan, terus siap-siap ke sekolah,” suruh Naina, yang sekaligus menjadi penyelesai dari pembicaraan Bintang dan Kejora, lantaran setelahnya Bintang keluar duluan menyisakan Kejora sendirian selama beberapa saat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD