9

1088 Words
Awalnya Naina merasa sedikit aneh. Ketika hari ini suasana ruang makan terdengar sangat kondusif. Yang mana mereka bertiga sarapan bersama, namun hanya ada suara antukan antara sendok besi dan piring saja yang terdengar. Tidak ada keributan-keributan seperti biasanya yang dilakoni oleh Bintang dan Kejora. Karena Naina pikir selama tiga hari ke depan ia tidak bisa memasak masakan apapun untuk Bintang dan Kejora, alhasil khusus untuk hari ini Naina menyempatkan diri untuk bangun pukul 4 pagi, yang sengaja ia lakukan demi bisa memasak banyak makanan untuk Bintang dan Kejora sebagai sajian sarapan spesial mereka pagi ini. Usai menyendokkan nasi ke atas piringnya, mata Kejora menjelajah ke segala lauk-pauk yang tersedia di atas meja makan. Sekian detik, sampai akhirnya ia menjulurkan tangannya sejauh mungkin, untuk mengambil ikan tuna goreng yang letaknya memang agak jauh, sehingga ia sulit sekali menggapainya. “Mau potongan yang mana?” Bintang yang menjadi satu-satunya orang yang menyadari kesulitan Kejora tiba-tiba bertanya, membuat Naina yang semula sibuk menghabiskan sarapannya seketika teralih perhatiannya. Persis seperti Naina, Kejora pun sempat terbengong. Sebelum akhirnya ia menjawab, “Yang potongan ekornya aja.” Dengan begitu cuek, tidak memedulikan sama sekali reaksi dua orang di sekelilingnya, Bintang menusukkan garpunya pada sepotong ikan yang diminta oleh Kejora, lalu menaruh potongan itu tepat di piring Kejora. Sungguh sangat di luar dugaan Naina! Menyaksikan pemandangan barusan tentu saja membuat lengkungan senyum mengukir di wajah Naina. Siapa sangka, mengurung mereka berdua di dalam gudang semalaman ternyata benar-benar sangat berdampak baik bagi telinga dan matanya. Karena untuk pertama kali dalam sepanjang sejarah Bintang dan Kejora saling mengenal dan tinggal satu rumah, akhirnya kini keduanya terlihat sangat akur juga. Walaupun Bintang agaknya memang terlihat lebih diam dari kemarin-kemarin. Tetapi buat Naina hal tersebut justru tampak lebih baik. “Udah belum makannya?” Kebiasaan. Di saat yang lain masih keheranan akibat perubahan sikapnya, anak itu malah tiba-tiba bertanya lagi, membuat Kejora tersentak sesaat ketika menjawabnya, untuk yang kedua kalinya. “Dikit lagi. Kenapa?” “Kalau udah, kita langsung berangkat.” Bukan cuma Kejora, bahkan Naina pun terperangah bukan main mendengarnya. Apa?! Apa mereka tidak salah dengar? Apa telinga mereka sudah mulai eror cara fungsinya? Atau malah otak Bintang yang sedang eror? Sungguh sangat terlampau jauh dari prediksinya, Naina benar-benar tidak menyangka kalau Bintang baru saja mengajak Kejora untuk berangkat ke sekolah bersamanya, setelah sebelumnya anak itu membantu Kejora tanpa dipaksa-paksa seperti biasanya. “Tumben. Kamu, nggak bareng sama Rasi?” heran Naina. Tadinya ia tidak mau bertanya. Tapi perkara sepele macam ini kalau ditahan-tahan justru malah bikin penasaran. Bintang menggeleng. Lalu ditatapnya kembali Kejora yang telah menyudahi sarapannya. “Ayo, cepet. Gue tunggu di depan.” Buru-buru Kejora meneguk minumnya. Berpamitan pada Naina, kemudian menyusul Bintang yang langkahnya cepat sekali. *** Dengan masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan segala atributnya, Rasi diajak Biru untuk ke kampus sebentar sebelum benar-benar Biru mengantarnya pulang. Biru lupa, kalau hari ini sebelum pukul 3 sore, ada satu tugas yang harus ia kumpulkan langsung pada dosennya sekalian tandatangan absen. Ini pertama kalinya Rasi ke kampus Biru. Dan sepanjang jalan dari parkiran sampai memasuki area gedung kampus, Rasi merasa ada begitu banyak pasang mata yang tertuju padanya, yang membuatnya sedikit takut dan kikuk. Tetapi syukurlah tangan Biru yang tidak lepas menggenggam tangannya, setidaknya bisa membantu Rasi menetralisir perasaan itu. “Wah, gila lo berani-beraninya ke kampus bawa si Rasi!” bisik Leon di telinga Biru, ketika mereka secara kebetulan berpapasan di depan ruang dosen, dan sama-sama berhenti. Biru mengernyit. “What’s wrong?” “Very wrong!” tekan Leon. “Lo lupa kalau fakultas kita sarangnya buaya? Jangankan liat cewek tulen yang bening-bening macem gini. Banci Thailand aja kalau cantik, bisa mereka pacarin!” “Terus juga Vira!” jedanya lagi. “Lo tahu kan seobsesi apa dia sama lo selama ini?” “Justru itu...” gantung Biru. “Apa⸻” “Biru!” Belum tamat ucapan Leon, kekhawatirannya sudah terjadi. Vira, perempuan modis yang menjadi duta kampus dan sangat populer, entah datangnya dari mana tiba-tiba saja muncul menyerukan nama Biru seraya menghampiri. “Kan, kan!” geram Leon. Tidak menjawab dengan kata-kata lagi, Biru malah mengecek jam tangannya. “Gue mau kumpul tugas dulu, ya. Lo di sini dulu, Yon, temenin Rasi.” Leon mengiyakan. Sebelum masuk, Biru beralih sesaat pada Rasi. “Kamu tunggu sini, ya.” Cup. Rasi melotot, ketika tiba-tiba dengan gamblangnya di depan banyak orang, Biru mencium pipinya. Tidak cuma Rasi, ekspresi Leon pun serupa. Namun jauh lebih terperangah dari mereka berdua, detik itu juga Vira sampai langsung memberhentikan langkahnya. Bahkan tidak cuma mereka bertiga, bisa dibilang siapapun yang melihatnya pasti terkejut dengan kelakuan Biru. Biru memang sengaja melakukan itu. Supaya secara tidak langsung ia baru saja membuat harapan Vira pupus sepupus-pupusnya. Kalau bisa lenyap tanpa meninggalkan bekas. Karena sejak awal Vira mendekatinya secara terang-terangan, sejak saat itu pula Biru tidak menyukai tabiat gadis itu. “Habis sakit panas, deh, ini anak kayaknya,” celetuk Leon, yang masih terbengong-bengong. Sedangkan Biru dengan cueknya malah bertanya, “Apa salahnya cium pacar sendiri?” Kemudian berlalu masuk begitu saja ke dalam ruang dosen. “Nggak salah. Cuma aja lo terlalu ngegas, b*****t! Gimana gue nggak kaget!” oceh Leon yang agaknya sudah terlambat, dikarenakan Biru yang sudah terlanjur menutup kembali pintu ruang dosen. *** Bintang tidak tahu. Sungguh sangat tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Tapi yang jelas, mulai sekarang Bintang hanya ingin melakukan apapun yang ingin ia lakukan, di luar dari yang biasa ia lakukan setiap harinya kemarin. Biarkan dirinya menjadi egois sekali saja. Karena selama ini Bintang sudah cukup lelah terlalu memedulikan perasaan orang lain, sampai ia lupa kalau dirinya juga memiliki perasaan sama seperti mereka. Terus berusaha menjaga perasaan orang lain, sampai ia lupa kalau sesungguhnya perasaannya sudah sangat cukup lelah terus-menerus dikecewakan. Oleh kenyataan yang tiba-tiba merenggut nyawa papanya. Oleh kenyataan yang membuatnya tidak bisa lagi menggapai impiannya untuk menjadi pianis. Oleh kenyataan... yang tidak pernah menakdirkan dirinya untuk memiliki Rasi untuk selamanya. Bersama dengan dua roda motornya yang berhenti di area parkir, Bintang memulai sikapnya yang masa bodo pada apapun. Yang ada di kepalanya saat ini hanya satu. Kebahagiaannya sendiri. Ia hanya ingin dirinya baik-baik saja. Walau tidak bersama Rasi. Seturunnya dari motor Bintang, Kejora mencopot helm-nya yang kemudian ia angsurkan pada Bintang. “Nih.” Bintang menoleh, lalu mengambilnya. Sampai saat Kejora hendak berlalu, buru-buru ia menarik salah satu pergelangan tangan gadis itu. Tidak ada percakapan di antara mereka selama hampir satu menit. Tatapan Kejora jatuh penuh tanya. Sedangkan Bintang tampak bergelut dengan perasaannya sendiri, yang masih ragu akan sesuatu yang ingin ditanyakannya pada Kejora kali ini. “Ada apa, sih?” tanya Kejora yang tentu saja heran melihat Bintang malah diam, setelah tadi menahannya pergi. “Tugas gue belum kelar, nih, jadi mesti buru-buru!” Bintang yang masih duduk di motor, perlahan mengangkat pandangannya menatap Kejora, setelah cukup lama memberanikan diri. “Soal sticky note itu, apa bener lo suka sama gue?” “Hah?” Kejora menggagu sejuta kata. Melongo, panik, ya intinya begitulah. Seumur hidup, belum pernah ia melihat raut Bintang yang seserius ini. “Kalau lo beneran suka sama gue, besok malam gue mau kita kencan, Ra.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD