14

969 Words
Aku meninggalkan masalaluku di satu sudut gelap di ruang hatiku, tanpa memberinya cahaya lagi. Aku tidak mungkin melupakannya, karena itu semua adalah bagian dari kisahku. Meski pahit dan menyakitkan semuanya pernah terasa manis, meski itu dulu. * * * * Apa hikmah dari sebuah mendung gelap di langit biru? Hujan. Hujan yang turun membasahi tanah tandus dan kering yang kemudian membuatnya subur, menumbuhkan benih yang kemudian berakar dan kuat. Tapi mungkin ini adalah hujan yang membawa kebahagian untuk Kevan. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang menatap kekasihnya, Kian. Dua bulan setelah kepulangan Viery ke Jakarta, Kian memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia akan memulai karirnya di Jakarta dan mungkin membina sebuah hubungan dengan komitmen yang lebih serius bersama Kevan. Sebuah penantian yang mungkin mengharuskan Kevan untuk berjuang, kini terbayar sudah. Kian kembali. Meski tak seperti istri seorang prajurit yang selalu menanti suaminya kembali dari medan perang, nyatanya rindu itu begitu besar. Tak bisa Kevan bohongi, cintanya benar-benar sudah teralih. Kian kini menjadi pusat kehidupan Kevan, mungkin seperti itulah rasa cinta Kevan setiap kali ditambatkan pada seseorang.    Kevan sekarang harus bersyukur. Bagaimana ia bisa bertemu Kian. Bagaimana ia bisa bersahabat dengan Kian, bahkan sekarang menjadi orang yang spesial dalam hidup Kian. Jika dipikir mungkin itu adalah sebuah takdir, takdir dengan segala keberuntungan. Saat mencintai dan cintai maka hati akan bahagia, tak akan ada kata lelah dalam menjalaninya. Karena hakikat cinta adalah saling menerima, memberi, dan menghargai. Inilah cinta yang Kevan inginkan. Cinta yang mampu membuat Kevan merasa dimiliki, merasa dibutuhkan, merasa bahwa dirinya ada dan diciptakan untuk seseorang yang mencintainya. "Aku kangen kamu, Van." Kian menarik lengan Kevan, membawanya dalam pelukan hangat. Menyelimuti Kevan dari hawa dingin hujan yang turun begitu derasnya. Melepas semua sesak di d**a akan rasa rindu yang tertumpuk sebegitu banyaknya. Kian memandang Kevan, menatap mata sayu kekasihnya itu. "Di kehidupan sekarang ini aku beruntung, mungkin karena di kehidupanku yang dulu aku cowok yang baik, ya?" Kian mengusap halus pipi Kevan. "Sekarang aku bisa panggil kamu sayang, aku bisa genggam tangan kamu." Kevan tersenyum, andai dari dulu ia menyadari siapa yang pantas ia cintai mungkin dulu cintanya tidak akan sesakit itu. Sekarang bisakah Kevan bahagia bersama Kian selama-lamanya? Seolah semuanya kini berpihak pada Kevan. Beruntungnya ia di cintai Kian, beruntungna ia memiliki Kevan dan beruntungnya Kevan menjadi cinta Kian. Kian mencium Kevan, melumat lembut bibir Kevan penuh cinta. Seolah tak ada nafsu, hanya cinta. Hatinya bergetar, sungguh bentuk bukti cinta yang mungkin tidak pernah Kevan terima. Kevan tak bisa menahan hatinya, hasratnya menguasai segala pemikirannya. Memberikan kendali pada setiap laku dari tubuhnya. Kevan memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang Kian berikan. Biarkan hari ini menjadi harinya untuk melepas rasa rindunya bersama Kian. "Ki...iihh" rintihan Kevan yang mampu membuat Kian bergejolak. Kian berhenti, kembali menatap mata sayu Kevan. Meminta ijin untuk melakukan lebih. Kevan nampak ragu, tapi sayangnya ia tak bisa berbohong. Nyatanya bisikan dalam hatinya mendorongnya untuk menuruti apa yang Kian inginkan. Kevan mengangguk, memberi ijin pada Kian. Menyerahkan tubuhnya, segalanya yang akan Kian 'nikmati'. "Kamu sudah siap?" Kian ragu. Kevan hanya mengangguk. Kian menelan ludahnya dalam-dalam, membuat jakunnya naik turun. Kian menggendong Kevan. Memberikan senyum terindahnya untuk Kevan. Biarkan malam ini dibawah guyuran derasnya hujan, Kian membuktikan cintanya. Rasa sayangnya selama ini. Kian membaringkan Kevan di ranjang, matanya masih intens menatap mata Kevan. Kian mengelus pelan pipi Kevan dengan punggung telapak tangannya. Kian berbisik di telinga Kevan. "Aku mencintaimu." Jantung Kevan berdebar, sensasinya sungguh luar biasa. "Aku bakal bikin kamu nyaman, Van." Kian melumat bibir Kevan lembut, kevan membalas lumatan bibir Kian dengan penuh cinta, sungguh manis. Kian melepas satu persatu pakaian yang Kevan kenakan. Kian menciumi dan sedikit menggigit telinga Kevan. Mengecup perlahan bagian leher atas Kevan. Kevan hanya mengerang. Menikmati sentuhan bibir Kian di tubuhnya. Ia pasrah, membiarkan Kian membuat sebuah karya yang mungkin akan menjadi bukti bahwa saat ini Kevan adalah miliknya. Kian sedikit menjauh, melepas pakaian di tubuhnya. Sedang Kevan menatap Kian dengan tatapan penuh harap. Kevan meraba perut berotot milik Kian. Ahhhh... dulu Kevan selalu mengintip Kian saat Kian berganti baju di hadapannya, tapi sekarang ia bisa menyentuhnya atau pun menciumnya. Kian kembali menciumi Kevan. Kini ia mencium lembut kening Kevan penuh cinta. Mengecup pelan kedua kelopak mata Kevan, lalu hidung Kevan dan yang terakhir bibir mungil milik Kevan. Manis, mungkin itu yang Kian rasakan. Semanis senyum yang selalu terukir di bibir itu. Kian menjauhkan wajahnya, menatap Kevan, meyakinkan Kevan sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya. Kevan mengangguk. Tanpa ditunggu lagi, Kian menciumi inci demi inci tubuh Kevan, membiarkan indra perasanya meraba segala apa yang kevan miliki. Kini saatnya, apa yang ia banggakan bersatu ke dalam apa yang Kevan miliki. Bersatu dalam kehangatan, membiarkan mereka saling bertemu. Menikmati kenikmatan satu sama lain. Merasakan utuh saat mereka menjadi satu. Sedang Kevan hanya memejamkan matanya, menikmati sensasi yang benar-benar membawanya melayang. Melupakan segalanya, seolah dunia ini hanya miliknya dan milik seseorang yang sekarang sedang berada di atasnya. Menanamkan cintanya. Sesuatu yang membuat mereka seakan setubuh, tanpa jurang pemisah. Membiarkan sesuatu membanjiri miliknya, sesuatu yang hangat, puncak dari sebuah kenikmatan panjang yang sedang mereka rasakan. Kevan melenguh, menutup wajahnya malu. Kian hanya tersenyum. Betapa manisnya kekasihnya ini. "Belum nyaman?" Tidak ada jawaban, Kevan masiih menutup wajahnya. "Don't be shy..." Kian tersenyum. Kian mencoba membuka lengan Kevan, Kevan melawan bahkan sekarang Kevan merintih, mendesah "euuunghhhh ...Kiihhh." Kian semakin puas, ia kembali mengadukan sesuatu di sana. Menyentuh titik yang membuat Kevan mampu menggelinjang seolah terbang ke nirwana. Mengepakan sayapnya penuh bahagia. Merasakan kenikmatan. Kian mencium bibir Kevan kembali. Menghujani Kevan dengan segala kalimat cinta. Kevan milik Kian. Sungguh sekarang hanya milik Kian. Miliknya kini sudah ia tanamkan dalam diri Kevan. Kevan bahagia, inilah cinta. Keutuhan cinta. Malam itu, suara detik jarum jam yang berputar seolah menjadi saksi. Dua orang anak adam yang sedang saling menikmati. Memberi kepuasan batin, kebahagian seorang manusia yang di cintai dan mencintai.... Tbc..... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD