X for Kiss, O for circle hug.
Apa yang paling indah di dunia ini, selain saat kau membuka mata di pagi hari, orang yang kau cintai ada di dalam dekapanmu.
Itulah yang Kian rasakan sekarang. Paginya benar-benar cerah. Kevan ada di sampingnya, tertidur pulas dengan dengkuran halus. Kian menatap kekasihnya dengan tatapan penuh kelembutan. Sesekali mengusap pipi kekasihnya itu.
Mungkin hari-hari berikutnya akan menjadi hari yang membahagiakan bagi Kian dan kevan. Setelah pergumulan penuh cinta semalam, Kevan semakin merapatakan cintanya di pelabuhan hati Kian. Mungkin inilah sebuah kebahagaian cinta. Saat dua hati saling berbagi dan saling memiliki.
Cup...!
Kevan mengecup Kian tiba-tiba. Ia terbangun dari tidurnya saat Kian mengusap-usap pelan pipinya.
"Kamu ganggu tidur aku, Ki." Kevan masih memejamkan matanya sembari merapatkan tubuhnya di dalam dekapan Kian.
Kian hanya menyunggingkan senyumnya, meraih tubuh Kevan lebih dekat lagi. Menyingkirkan sedikit poni yang menutupi mata Kevan. Kian tersenyum, dulu Kian selalu membayangkan hal ini dan sekarang ternyata dia benar-benar melakukannya.
"Bangun sayang....." suara lembut Kian terdengar di telinga Kevan.
Sungguh, Kevan merasakan sesuatu yang aneh, antara senang dan gerogi dalam satu waktu. Namun Kevan lebih memilih untuk tetap memejamkan matanya.
Kian kembali tersenyum, ia semakin gencar menggoda Kevan. Wajah Kevan sudah jelas sekali merona. Kian berbisik di telinga Kevan. Menyentuh kulit Kevan dengan nafas hangatnya.
"Bangun atau......." Kian sengaja, ia ingin menunggu Kevan bereaksi. Tangannya mulai mencapai pinggang Kevan, sedikit memainkan jemarinya.
Kevan tersenyum, ia sudah tidak bisa menahan rasa malunya. Sungguh ini pagi yang benar-benar membuat jantung Kevan berdebar. Dengan perlahan Kevan membuka kelopak matanya. Dilihatnya, Kian yang sedang menatap penuh ke arahnya. Kevan kembali menyembunyikan muka bantal -nya di ceruk leher Kian.
"Aku malu, kenapa kamu lihatin aku terus?" Sungguh manja suara Kevan. Ia bergumam di sela-sela persembunyiannya.
Kian hanya menarik pinggang Kevan. Kini bagian atas tubuh Kevan, sudah berada di atas tubuh Kian. Kian mengelus kepala Kevan.
"Emang gak boleh kalo aku lihatin kamu?"
Kevan masih bersembunyi. Mungkin dulu jika Dion peduli, hari-harinya akan bahagia seperti ini. Bayangan Dion terlintas lagi di otak Kevan. Tiba-tiba Kevan menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia mengingat Dion saat sedang bersama Kian.
"Kamu kenapa?" Kian yang merasakan tubuhnya semakin erat dipeluk oleh Kevan, menjadi heran sendiri.
Kevan melepas pelukannya lalu duduk di samping Kian. Kevan menoleh dan meraih jemari Kian. "Maafin aku...." Kevan menunduk.
"Kenapa minta maaf?"
Kevan hanya menggeleng.
"Sini.." Kian memberi isyarat pada Kevan untuk kembali memeluknya. Kevan berhambur ke dalam pelukan Kian. "Aku bahagia, aku gak mau apa-apa lagi. Udah cukup kamu ada di sisi aku, aku bakal jadi orang yang paling bahagia."
Kevan mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Sudah, masalalu biarkan begitu adanya.
"Kita mandi, terus kita pergi. Aku mau tunjukin sesuatu ke kamu." Kian sudah mempersiapkan sesuatu untuk Kevan. Sesuatu yang sudah lama ingin Kian lakukan, namun ia selalu ragu.
* * * *
"Ini?" Kevan masih berdiri, bingung. Sekarang ia sudah berdiri di depan pintu sebuah apartemen.
"Hmmm ...." Kian hanya mengangguk, lalu membuka pintu apartemen.
Kevan mengikuti langkah kian di hadapannya.
Apartemen yang cukup luas. Dengan dua kamar, dapur dan tempat makan yang hanya disekat dengan meja panjang seperti di bar, dan ruang tv yang menyatu dengan ruang tamu.
"Ki, ini rumah siapa?" Kevan masih bingung.
"Suka gak?"
"Lumayan, dari sini bisa lihat pemandangan Jakarta. Ini punya kamu?" Kevan melangkah ke arah jendela besar di ruang tv.
"Lihat kamarnya." Kian menarik Kevan yang masih berdiri menghadap jendela besar.
Mereka berdua berjalan menuju kamar.
"Nyaman, tapi ranjangnya kebesaran." Kevan memanyunkan bibirnya. "Kalo tidur sendiri gak enak."
Kian tersenyum, berjalan sedikit, merengkuh pinggang Kevan. "Jangan sendiri kalo gitu." Kian berbisik tepat di telinga Kevan.
Wajah Kevan bersemu merah, Kian benar-benar membuatnya merasa istimewa. Kian selalu tahu cara untuk membuat Kevan merasakan bahagia dan tersipu dalam satu waktu.
"Ini rumah kita." Kian berbicara datar. Sembari melangkah ke arah jendela, membuka gorden abu-abu yang menutupinya.
Kevan kaget, dia bingung. "Eh? Kamu gak lagi becanda kan, Ki?"
"Aku udah ijin sama mama, dan mama setuju."
Kevan berjalan menghampiri Kian.
"Tapi Ki, buat apa? Rumah kamu bakal sepi. Kasihan mama kamu. Lagian mamaku belum tentu setuju."
"Aku udah urus, mama yang bakal ngomong sama tante."
Lagi-lagi Kevan dibuat tak percaya. Apa yang dilakukan Kian diluar dugaannya. Kian mengajak Kevan untuk tinggal bersama.
"Kita lihat kamar sebelah." Kian menarik Kevan.
Kali ini Kevan kagum, Kian benar-benar sudah mempersiapkan semuanya. Apa yang dilihat Kevan sekarang benar-benar membuat Kevan terharu.
Di hadapannya kini ada satu ruangan. Dengan warna chat yang berbeda dengan lainnya. Warnanya baby blue, di sini hanya ada rak buku pendek sebatas paha orang dewasa. Buku-buku cerita tersusun rapih di sana. Di atas rak buku tersusun mainan-mainan kecil dan lego, semuanya tersusun rapih. Disatu pojok terdapat beberapa box kecil yang tersusun rapih. Kevan melangkah masuk ke dalam kamar. Harum bayi atau anak kecil. Kevan memejamkan matanya, menghirup udaranya.
"Suka?"
Kevan menoleh mendengar pertanyaan Kian. "Ini buat....?" Kevan menunduk. "Tapi aku gak bakal bisa kasih kamu keturunan." Rasanya Kevan tidak pantas.
Kian mengangkat dagu Kevan. Menatap wajah Kevan yang terlihat murung. "Kita bisa punya anak. Kita besarin anak kita, bercanda bersama, hidup normal layaknya pasangan yang lain."
Kevan mengangguk, mengiyakan ucapan Kian.
Tiba-tiba Kian mengeluarkan sesuatu dari balik jaket yang ia pakai. Sebuah kotak kecil abu-abu. Kian membuka kotak itu. Sebuah cincin perak polos, terlihat sederhana namun terkesan mewah. Kian mengambil cincin itu, sedang satu tangan lainnya, Kian gunakan untuk meraih jemari Kevan.
"Van, mau kah kamu menjadi pendamping hidupku?" ......
Tbc...