8

1045 Words
Happy Reading,,,, *Please.. Stay* Kian memarkirkan  mobilnya di pelataran rumah sakit. Ia segera keluar dari mobil dan membantu Dion menurunkan Kevan dari mobil. Kevan kini berada di gendongan Dion, sedangkan Kian segera mungkin mencari suster agar Kevan segera ditangani di ruang UGD. "Suster, sus, tolong teman saya," Kian menarik suster itu menghampiri Kevan yang masih digendong oleh Dion. Suster itu segera memanggil petugas lain untuk membantu memindahkan Kevan, dan segera membawanya menuju ruang penanganan "Silahkan anda berdua tunggu di luar!" Salah seorang suster menyuruh Kian dan Dion untuk tidak masuk megikuti Kevan. Kian duduk lemas di sebuah bangku, sedangkan Dion tak hentinya mondar-mandir. "Harusnya gue nemenin dia, kalo aja tadi gue gak nolak! SIAL!!" berkali-kali Kian menghentakkan kakinya ke lantai. Dion menatap Kian penuh heran, selama ini Kianlah yang selalu ada untuk Kevan, mereka berdua selalu bersama. Tapi Dion tidak pernah tau jika Kian begitu sayang pada Kevan sampai-sampai Kian seputus asa ini. "Ini bukan salah lo, Ki." Kian mendongak, menatap Dion penuh marah. "Harusnya dari dulu gue udah suruh dia buat jauhin lo, gak perlu nunggu sampe kejadian kaya begini." "Ki-" "Dia pamit buat ketemu sama lo, tapi kenyatannya dia malah dicelakain." Kian meninggalkan Dion penuh amarah, dia tidak bisa tinggal diam bersama Dion. Bisa-bisa dia berkelahi dengan Dion. * * * Lama mereka berdua menunggu, dokter keluar dari ruang UGD. "Keluarga saudara Kevan?" "Saya dok, gimana keadaannya Kevan?" Kian segera menghampiri dokter itu. "Pasien hanya mengalami luka di pelipisnya, kami sudah membersihkan dan menjahit bagian yang robek. Keadaan fisik pasien tidak terlalu bagus, jadi kami sarankan untuk menginap sampai kondisinya pulih." "Baiklah dok, terimakasih." Setelah Kevan dipindahkan ke ruang rawat inap, Kian duduk di samping ranjang yang Kevan tempati. Sedangkan Dion berdiri menatap Kevan yang belum sadar. "Lo pulang aja Di, biar gue yang jaga Kevan!" "Gue mau di sini sampe dia sadar!" Kian hanya menghela nafasnya kasar, baiklah kalau memang Dion tidak mau, Kian tidak akan memaksa. Ponsel Kian tiba-tiba berdering, ibunya menelpon. Kian tak bisa menjaga sahabatnya malam ini. Mau tidak mau, Kian harus menitipkannya pada Dion. Dion duduk di sofa sambil menyilangkan kedua lengannya, matanya menatap Kevan yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Jika saja Dion lebih peka mungkin semuanya tidak begini. Jika saja Dion dulu lebih memprioritaskan Kevan, mungkin semuanya tidak akan berakhir. Dion mengusap gusar wajahnya. Ia tahu semua masalah ini berawal darinya. Dion beranjak dari duduknya, mendekat ke arah Kevan. Ia menatap wajah Kevan, membelainya sebentar  lalu mengecup kening Kevan. "Maafin aku." Ujar Dion lirih. Sungguh ia menyesal karena kehilangan Kevan. Dion duduk di kursi di samping ranjang Kevan, ia menggenggam tangan Kevan yang masih belum sadar. Kevan tersadar, ia mengerjap sebentar memeriksa dimana sekarang dia berada. Ah rumah sakit, batin Kevan. Ia menoleh kesamping seseorang sedang tidur di atas kursi sembari meletakkan kepalanya di tepian ranjang. Ini Dion, batin Kevan. "Di?" Kevan membangunkan Dion. Dion terbangun mendengar suara Kevan. "Iya, Van? Kamu udah sadar? Kamu butuh sesuatu?" "Aku haus, tolong ambilkan minum!" Dion mengambilkan segelas air putih untuk Kevan, Kevan lalu meneguknya sampai habis. Kerongkongan Kevan terasa kering. "Kamu udah baikkan? " tanya Dion. "Masih sedikit pusing." Kevan sebenarnya bahagia, Dion masih perhatian padanya. Keheningan menyergap Dion dan Kevan. Keduanya terdiam, tenggelam dengan pikiran masing-masing. Kevan dengan penyesalannya dan Dion dengan segala rasa yang bercampur di hatinya. "Kamu gak pulang?" Kevan berbasa-basi, harusnya Dion tidak sini meski Kevan berharap Dion akan terus menjaganya. "Kian gak bisa nungguin kamu, jadi aku yang gantiin." Oh ternyata karena Kian, Kevan pikir karena Dion khawatir padanya. "Aku mau minta maaf , Di!" Dion menoleh menatap wajah Kevan. Bukankah seharusnya Dion yang meminta maaf? Kenapa Kevan? Andai Kevan tahu apa yang Dion rasakan saat ini, Dion merasa saat ini dirinya lah orang terbodoh di dunia. Dia melepaskan orang yang tulus mencintainya, orang yang selalu memberi perhatian untuknya. "Kenapa kamu minta maaf? Kamu gak salah. Ini semua salahku. Coba aku lebih peka dari dulu. Aku gak bakal kehilangan kamu." Akhirnya Dion berani mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Kevan yang mendengarnya hanya tertunduk, ini semua juga salah Kevan. Andai ia lebih percaya pada Dion, bukan pada orang lain. "Aku lebih milih Lunar, yang jelas-jelas benci sama kamu. Dan dia coba buat misahin kita , ngancurin hubungan kita. Dan sekarang dia udah berhasil." Ujar Dion lagi. Kevan masih diam, bukan ini bukan salah Lunar. Ini salah kita berdua yang gak bisa saling percaya dan kalah dengan ego masing-masing, batin Kevan. "Aku gak bisa jadi orang yang bisa kamu andelin kapanpun. Aku cuma bisa nyakitin kamu!" Dion kembali  menyalahkan dirinya sendiri. Menyesali semua perbuatannya. "Cukup, Di. Aku gak pernah merasa salah udah pilih kamu." Kevan menimpali  ucapan Dion. "Kita bisa ngulang dari awal kan Van?" Kevan menghela nafas dalam-dalam. Kevan tidak yakin. "Aku hanya takut, semua sifatmu akan kembali." Ujar  Kevan pelan. "Selama kamu gak berubah, dengan siapa pun kamu menjalin hubungan kamu gak akan pernah bahagia!" Kevan mengatakan yang sejujurnya. Dia masih sayang bahkan cinta pada Dion, tapi jika Dion tidak berubah bukankah itu hanya akan mengulang luka? "Aku minta maaf atas kejadian malam itu." Dion benar-benar kehilangan Kevan. Kevan sudah ridak mau menerimanya lagi. "Aku gak mau kita pacaran dan nyakitin satu sama lain." Kevan menggenggam jemari Dion. Dion menatap manik mata Kevan. Betapa ia tahu sakit yang Kevan selama ini rasakan. Luka itu memang tidak bersuara, dan kau hanya bisa melihatnya saat dia menangis. Dan Dion sekarang melihatnya, tatapan Kevan mengartikan semuanya. Dion menarik Kevan ke pelukkannya. "Maafin aku, Van. Maafin aku! Aku bodoh banget. Bodoh!" Kevan membalas pelukan Dion, perasaan Kevan benar-benar tidak menentu. Dadanya terasa sesak. Ia menangis, kenapa semua kenyataan tidak sejalan dengan apa yang ia bayangkan? Kenapa akhirnya jadi begini?  "Aku gak bisa lepasin kamu, aku juga gak bisa bahagian kamu. Apa aku terlalu egois?" Dion bertanya pada Kevan. Kevan hanya menggeleng pelan, tidak Dion tidak egois. Mungkin waktu yang belum tepat untuk mereka. "Aku buat kamu merasa lelah, aku buat kamu selalu nangis dan sekarang aku menyesal. Aku cinta kamu, makasih banyak Van biat semuanya. Tolong peluk aku dengan hangat buat yang terakhir kalinya." Kevan memeluk erat tubuh Dion, ia gigit bibir bawahnya mengalihkan rasa sakit hatinya. Ia masih belum siap kehilangan Dion tapi ia juga tak ingin menyakiti hatinya sendiri. Malam itu mereka habiskan dengan berpelukan. Mungkin besok saat  mereka membuka mata semua sudah berubah. Mereka sudah tidak bisa saling menatap dengan penuh cinta. Mereka sudah tidak bisa merasa cemburu satu sama lain. Tbc...... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD