Happy Reading....
*Give me Your hand, save me save me*
Jika Ingin mengatai Kevan bodoh maka inilah saatnya. Betapa ia bodoh sudah mempercayai Denis, yang jelas-jelas baru datang di hidupnya. Terlalu naif kah Kevan?
"Gue bodoh, Ki bodoh!" Kevan tak henti-hentinya merutuki kebodohannya sendiri.
Kian hanya bisa memandang iba sahabatnya tersebut, kenapa Kevan harus dikelilingi oleh orang-orang munafik seperti Lunar, Denis dan Dion pacarnya sendiri..
"lo gak bodoh Van!"
"Kalo aja gue percaya sama hati gue, gue yakin semuanya gak bakal jadi kayak gini."
Ya, hati Kevan berkata bahwa dia.seharusnya tidak meninggalkan Dion. Dia tidak akan kehilangan orang yang ia sayang, jika saja malam itu dia mendengar penjelasan Dion.
"Apa yang mau lo lakuin sekarang?"
Kevan menoleh mendengar pertanyaan sahabatnya itu, ia sendiri bingung bagaimana menghadapi Dion. Dia bahkan sudah jelas-jelas menyatakan tidak ingin bertemu dengan Dion lagi. Jadi apakah Dion masih mau menerima Kevan?
"Gue bingung,Ki!"
Kian menepuk pundak sahabatnya itu, ia juga sadar jika dirinya terhasut tingkah Lunar selama ini.
"Apa perlu gue ketemu sama Dion dan minta maaf ke dia? Tapi apa dia masih mau buat ketemu sama gue, Ki?"
"kalo lo gak coba mana lo tau." Kian kembali menelan ludah, percuma saja dijelaskan tetap saja Kevan akan kembali ke lubang yang sama dan akan berakhir di garis yang sama.
Kevan mengangguk mendengar ucapan Kian. Mungkin pulang sekolah adalah waktu yang tepat.
* * * *
Mungkin jika Kevan tidak sedang dalam keadaan darurat ia tidak akan mau sampai harus menemui Dion ke kelasnya, namun keadaan memaksa 15 menit dari jam pulang sekolah Kevan tak kunjung melihat Dion keluar dari kelasnya.
"Eh banci, ngapain lo kesini?" Lunar benar-benar sudah tidak basa basi lagi.
Kevan diam tidak menajawab pertanyaan Lunar, Kevan melirik sebentar ke dalam kelas tampaknya semua murid sudah pulang. Kevan memilih untuk berbalik dan meninggalkan kelas Lunar tanpa menggubris Lunar.
Lunar kalap, ia merasa dihina oleh orang yang amat dia benci. Tanpa pikir panjang Lunar langsung menarik tangan Kevan "berhenti lo banci! Gue ngomong sama lo!"
Kevan menoleh dan menghentakkan tangan Lunar "lo inget!, nama gue Kevan bukan banci!"
Lunar tertawa sinis, mungkin ini memang saat yang tepat untuk menyingkirkan Kevan.
"Banci lo! Homo sialan!" Lunar menendang tempat sampah yang ada di hadapannya ke arah Kevan. Tentu saja sampah itu berserekan dan mengenai kaki Kevan.
"Gue gak ada urusan sama lo Lun! Jadi gue harap lo bisa berhenti buat ganggu gue."
"Lo-!" Lunar menunjuk Wajah Kevan "lo bilang lo gak ada urusan ama gue? Jelas ada lah, lo udah racunin Dion sama penyakit lo itu!"
"Penyakit, lo pikir Dion gak nikmatin itu semua?! Emang gak guna ngomong sama orang kayak lo!"
Kevan berbalik dan menjauh dari Lunar, namun Lunar memang sudah kalap ia mendorong Kevan hingga Kevan terjatuh dan kepalanya membentur batu di pinggiran kolam ikan kecil. Kevan memegang pelipis kepalanya, darah segar mengalir begitu saja. Mata Kevan berkunang, ia masih bisa menangkap siluet dari Lunar, tapi tiba-tiba matanya terpejam ia tak sadarkan diri. Lunar hanya bengong melihat Kevan, ia bingung, ia tidak menyangka jika akan seperti ini. Ia panik lalu meninggalkan Kevan begitu saja.
Kian panik, sejak tadi ia menghubungi Kevan namun tidak ada jawaban. Orang tua Kevan berkali-kali menghubunginya menanyakan Kevan yang tak kunjung pulang.
"Halo? Den? Lo lagi bareng Kevan?" Kian menelfon Denis menanyakan Kevan, mungkin saja Denis sedang bersama Kevan. Tapi nihil Denis sedang tidak bersama Kevan.
Kian bingung, ia putuskan untuk kembali ke sekolah. Mungkin saja Kevan masih di sekolah. Kian segera melajukan mobilnya menuju sekolah, namun gerbang sekolah sudah ditutup. Kian menggedor-gedor gembok gerbang tapi tak ada jawaban karena memang semua penghuni sekolah sudah pulang.
Akhirnya Kian putuskan untuk kembali, ia melajukan mobilnya pelan di area sekitar sekolah mungkin saja Kevan masih menunggu bis atau dia sedang berjalan kaki meski tidak mungkin, tapi tetap Kian lakukan. 30 menit ia berjalan namun tak ada hasil. Ia putuskan untuk menelfon Dion.
"Halo? Di? Kevan bareng lo gak?"
"Gak Ki, kenapa?"
"Dia belom balik dari tadi siang. Tadi dia bilang pulang sekolah mau ketemu sama lo!"
"Hari ini gue gak masuk, 3 hari ini gue di skorsing Ki!"
Kian semakin panik, kalau bukan Dion yang mengajak Kevan bertemu maka siapa yang akan Kevan temui. Denis pun tidak tau di mana Kevan berada.
"Tunggu! gue bantu cari, lo dimana sekarang?"
"Gue di kafe deket sekolahan Di!"
"Ok,gue langsung kesana!"
Kian memutuskan sambungan telfonnya, ia bingung harus kemana lagi. Ponselnya kembali berdering kini panggilan masuk dari mamah Kevan.
"Iya tante?"
".........."
"Belom, nanti aku hubungin tante kalo udah ketemu!"
"............"
"Iya tante, sama-sama!"
Kian menggaruk kepalanya, putus asa. Tidak biasnaya Kevan menghilang seperti ini. Kembali Kian mencoba menghubungi ponsel Kevan, namun tidak ada jawaban. Kevan tidak mengangkatnya.
* * *
Tak lama Dion sampai di kafe dimana Kian berada.
"Ki!"
Kian langsung menoleh dan menyuruh Dion untuk Duduk.
"Gue rasa Kevan masih di sekolah, tapi gerbang udah di tutup!"
"Ngapain di sekolah? Dia ada rapat osis? Bukannya tadi lo bilang dia mau nemuin gue?"
"Entah, tapi feeling gue dia masih di sekolah."
"Ya, udah samperin aja ke sekolah!"
"Masalahnya gerbang udah ditutup."
"Kita bisa loncat,kan?"
Kian berpikir sebentar, dan kemudian mengangguk.
Mereka berdua memutuskan untuk masuk paksa ke sekolah. Hari mulai gelap, gerimis pun turun dengan tiba-tiba. Kian dan Dion memutuskan untuk berpencar.
"Gue kearah kelas gue, lo kearah kelas lo Di!"
Mereka berpisah di depan tangga yang menuju lantai dua. Dion berjalan agak terburu, sampai di dekat kelasnya ia melihat seseorang terbaring di lantai.
Dion mendekat, betapa kagetnya dia itu Kevan.
"Kevan?!"
"Van, Kevan! Bangun Van!" Dion menggoyangkan bahu Kevan.
"KIAAAAAAAAN.... KIIIIII" suara Dion menggema di lorong sekolahan.
Kian yang belum sampai dikelasnya masih bisa mendengar teriakan Dion. Ia segera berlari kearah suara Dion.
"Kenapa?! Di, kenapa Kevan?"
"Gue gak tahu, cepetan lo telfon petugas sekolah!"
"Gue gak punya nomor telfonnya!"
"Kalo gitu saudara lo, itu guru olahraga cepetan minta nomornya! Van, Kevan bangun Van. Gue mohon bangun Van!"
Kian panik ia segera menghubungi guru olahraga.
Tiga puluh menit menunggu benar-benar membuat Dion frustasi.
Guru olahraga tersebut kemudian membukakan gerbang sekolah setelah itu Kian masuk melajukan mobilnya. Dion langsung menggendong Kevan menuju mobil Kian.
Kian melajukan mobilnya di tengah gerimis sore itu, ia benar-benar kecolongan. Bagaimana bisa sahabatnya bisa sampai seperti ini? Harusnya tadi dia menemani Kevan saat dia bilang ingin menemui Dion di kelasnya.
"Sial!.." Kian memukul setir mobilnya.
Dion terus menggenggam erat tangan Kevan.
"Gue mohon sadar, Van!"
Tbc...