3

1364 Words
*Kau membuatku tergila-gila padamu. Kau membuat hatiku berbunga-bunga. Tapi kau juga membuatku menangis karena cinta* Happy reading...... Dion melangkah menuju kelas Kevan. Hari ini ia berniat mengajak Kevan untuk pulang bersama. "Kevan!" Kevan menoleh, ia tahu benar siapa yang memanggilnya. Sebuah senyum tersungging di bibir Kevan. "Aku anter kamu pulang hari ini." Kevan melirik kanan kirinya, ia mencari Lunar. Tidakkah ular itu mengikuti kekasihnya? "Aku ada rapat osis, maaf ya!" "Pulang jam berapa?" "Mungkin sampai sore, kamu mau tunggu?" "Aku jemput aja nanti!" Tumben sekali pikir Kevan, ia tersenyum lalu mengangguk mendengar ucapan Dion. Dion melirik kearah kelas memeriksa keadaan, nampaknya sudah sepi. Dengan segera ia mencium pipi kekasihnya itu. Sungguh wajah Kevan sekarang pasti semerah tomat, ia tidak menyangka jika Dion akan menciumnya. "Ya udah, aku pulang dulu." Dion mengacak rambut Kevan sebentar, Kevan mengangguk dan tersenyum. Setelah Dion berlalu, Kevan terus memegangi pipinya. Entah mengapa sore hari yang mendung itu pun tiba-tiba berubah menjadi cerah. Rapat berjalan dengan sangat alot semua saling adu ngotot dengan argumen masing-masing. Kevan yang menjabat sebagai sekertaris osis tentunya harus lebih giat bekerja dalam rapat itu, ia mencatat semua masukan dari setiap anggota. Pukul 6 petang Kevan baru selesai rapat, ia masih membereskan ruangan bekas rapat. Sekarang hanya tinggal Kevan dan sang ketua OSIS Denis. "Van, hari senin gue harap lo udah bisa kasih hasil rapat hari ini ke gue ya!" Kevan hanya mengangguk sembari membereskan meja. Anggota yang lain sudah pulang terlebih dahulu, tadi Kevan membantu Denis membereskan beberapa surat. "Lo pulang sama siapa, Van?" "Gue entar dijemput, Den." "Oh, ya udah. Kita keluar sekarang aja lagian udah gelap juga di luar." Kevan dan Denis keluar dari ruangan OSIS, sekolahan sudah sepi sekali. Petang itu hujan tidak berhenti-henti. Kevan dan Denis berjalan beriringan sambil mengobrol. Tiba-tiba terdengar suara petir, Kevan langsung menjerit dan memegang lengan Denis. "So-sorry, Den!" Denis hanya tersenyum "elo takut sama suara petir?" Kevan mengangguk perlahan, ia memang takut mendengar suara petir. "Sini! lu boleh gandeng tangan gue!" Kevan langsung menggandeng tangan Denis tanpa pikir panjang. Mereka berdua berjalan beriringan hingga mereka berpisah, Denis menuju parkiran dan Kevan menuju pintu gerbang sekolah. Kevan berdiri memeluk lengannya, hawa dingin dari hujan petang itu perlahan  menusuk tubuhnya. Denis lewat dengan mobil yang ia kendarai, ia berhenti dan membuka kaca mobilnya sebentar "lo yakin gak mau bareng gue?" Kevan hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Denis. "Ok, gue duluan!" Denis melajukan mobilnya meninggalkan pelataran sekolahan. Kevan masih menunggu Dion, tak lama terlihat mobil Dion mendekati gerbang sekolah. Kevan hanya berdoa semoga tak ada Lunar. Dion keluar sembari membawa payung menghampiri Kevan, Kevan tersenyum memandang kekasihnya itu. "Maaf, aku telat." Kevan hanya mengangguk dan segera ikut bersama Dion menuju mobilnya. Untunglah Tuhan sedang berpihak padanya. Tidak ada Lunar di dalam mobil. "Yang, kamu malam ini nginep tempat aku ya?" Kevan tahu, jika orang tua Dion pergi, maka Kevan akan diajak Dion untuk menemaninya di rumah. "Mama kamu pergi?" "Enggak, aku cuma kangen sama kamu." Dion mendekat sambil mengelus pipi Kevan. Hawa dingin yang tadi begitu menusuk tubuh Kevan, kini berubah menjadi suhu panas yang menjalar di tubuhnya. Mukanya memerah seperti tomat. "Aku kasih kabar mama dulu kalo aku nginep di rumah kamu." Sepanjang perjalanan menuju rumah Dion, Kevan tak henti-hentinya tersenyum. Bagaimana tidak? Tangan Dion menggenggam erat tangan Kevan. Sampai di rumah Dion, Dion langsung menggandeng Kevan menuju kamarnya. "Kamu mandi dulu, aku siapin baju buat kamu!" Kevan menuruti perkataan Dion, ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. 15 menit kemudian, Kevan sudah keluar. Ia masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, tiba-tiba Dion memeluknya dari belakang. Kevan tersentak kaget, namun ia menikmati pelukan Dion. Dion menciumi rambut Kevan, sesekali ia turun ke tengkuk Kevan dan menciumi wangi harum sabun miliknya sendiri. Terasa aneh memang,wangi tubuhnya kini ada di tubuh orang lain, namun Dion menikmati itu. Kevan hanya memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan tangan Dion. "I love You..." ucap Dion perlahan sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Kevan. "I know, I love You too..." Kevan menggenggam erat lengan Dion yang melingkar di perutnya. Sedetik kemudian Dion membalikan tubuh Kevan dan memepetnya ke tembok, Kevan menatap mata Dion begitu pun sebaliknya. Dion mengelus pipi Kevan, lalu mendaratkan bibir basahnya di sana. Ia mengecup hidung Kevan perlahan, lalu ia menjauh dari wajah Kevan, ia menatap bibir Kevan yang entah mengapa selalu menggoda, warna merah muda itu selalu membuat Dion ingin mengecupnya. Dion memegang dagu Kevan, memajukan bibirnya untuk bertemu dengan bibir Kevan. Awalnya hanya menempel, namun Kevan membuka mulutnya membiarkan Dion menghisap bibir bawah miliknya. Saat itu lidah Dion masuk dan bertemu denga lidah Kevan, lidah mereka seolah berdansa memberi kenikmatan bagi sang pemilik masing-masing. Kevan memejamkan matanya, menikmati ciuman mereka. Dion melepas ciuman mereka, kemudian mengusap kepala Kevan dan mencium kening Kevan. Kevan menatap Dion sebentar lalu memeluknya. "Jangan pernah tinggalin aku, Van!" Dion mengelus punggung Kevan, mengeratkan pelukannya. Bukankah Kevan yang seharusnya mengucapkan kata-kata itu? Saat ini yang sering meniggalkan adalah Dion bukan dirinya, batin Kevan. "Gak akan pernah, Di!" Dion menuntun Kevan menuju ranjangnya, mereka duduk di tepian ranjang, saling memandang dan tersenyum. Kesakitan Kevan seakan lenyap begitu saja, tidak ada rasa kesal karena Lunar atau pun sikap Dion yang selalu lebih mementingkan Lunar. "Aku sayang banget sama kamu,Van!" "Aku juga, Di" Dion kembali mengecup kening Kevan, Kevan hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan bibir Dion. Kini mereka sudah di atas ranjang, di bawah selimut yang sama saling memeluk, menghangatkan satu sama lain. Kevan bahkan tidak melepaskan pandangannya sama sekali dari Dion. "Kamu kenapa lihatin aku kayak gitu? Aku tahu aku ganteng, Van!" Kevan tersenyum, lalu memukul pelan lengan Dion. Dion meringis pura-pura kesakitan "sakit Yang, kamu mulai nakal ya!" Dion menggelitiki tubuh Kevan, Kevan terbahak mendapat perlakuan begitu. "Ampun, Di. Ampun! Hahaha...." Dion kemudian menghentikan aksinya, lalu memeluk erat tubuh Kevan sambil menciumi setiap permukaan wajah Kevan. "Di, besok kita kencan yuk?" Dion berhenti sebentar dari aksinya lalu memandang wajah Kevan. "Kemana?" "Kebun binatang?" Dion berpikir sebentar, menerawang ke arah langit-langit kamar lalu kembali lagi menatap wajah Kevan. "As your wish, Beib!" Kevan tersenyum lalu mengecup pipi Dion, sedetik kemudian ia sembunyi di ceruk leher Dion. Ia malu dengan tingkahnya sendiri. Dion yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum geli, kekasihnya itu sangat manis sekali. Bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan kemanisannya. ******* Kevan terbangun dari tidurnya, ia mengerjap sebentar melihat ke sekeliling. Dion masih terlelap tidur di sampingnya. Kevan meraba garis rahang di wajah Dion, Kevan tersenyum ternyata kekasihnya sangat tampan bahkan saat sedang tidur sekalipun. Kevan mengangkat wajahnya, ia mengecup dahi Dion lalu turun ke pipinya, hidungnya dan saat akan ke bibirnya Kevan berhenti sejenak, tiba-tiba Dion membuka matanya Kevan kaget. "Kenapa gak diterusin?" Cup!! "Morning kiss!" Kevan hanya mengerjap mendapat ciuman di pagi hari dari Dion. "Hei jangan kaget gitu, udah ayo bangun mandi terus turun ke bawah katanya mau kencan?" Kevan mengangguk dan segera beranjak dari ranjang. "Yang! Kita mandi bareng yuk?" Dion mengedipkan matanya nakal. Muka Kevan bersemu merah, walaupun ia sudah lama berpacaran dengan Dion, sekalipun ia tidak pernah menunjukan tubuh naked-nya pada Dion. "Enggak, kamu tunggu aja dulu. Kalo enggak , mandi di kamar mandi adek kamu!" Kevan berlalu menuju kamar mandi, ia benar-benar malu. Dion hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. 30 menit berlalu mereka sudah siap untuk pergi, mereka sekarang sudah ada di dalam mobil. Baru saja Dion akan menjalankan mobilnya, ponselnya berdering. "Halo, Lun?" Tiba-tiba perasaan Kevan tidak enak, kenapa Lunar harus menelfon sepagi ini? "..........." "Oh, ya udah gue kesana sekarang!" Lihat, jika Lunar yang menelfon maka Dion akan langsung bergegas. Tidak ingatkah dia jika hari ini mereka berdua akan berkencan? "Yang? Kayaknya kita gak jadi kencan deh." Kevan sudah kesal, moodnya sudah benar-benar hancur. Kenapa selalu gagal? Kenapa selalu ada pengganggu? "Kenapa? Lunar lagi? Ada apa dengannya?" Kevan kesal sekali. "Dia hari ini harus  check up ke dokter, dia minta aku buat temenin dia!" "Emang gak ada supirnya?" "Dia bilang, supirnya gak masuk makanya dia minta tolong aku! Kita bisa kencan lain kali kan, Yang? "Tapi kamu udah janji!" "Ayolah,Van. Kamu jangan kayak anak kecil, ada orang sakit minta tolong dan kamu mau nolak gitu aja?" Ya Tuhan, jika saja membunuh tidak dosa mungkin saat ini juga Kevan sudah membunuh Lunar. "Ok, gue balik!" Kevan keluar dari mobil dan berjalan menjauh, kevan kira Dion akan mencegah nyatanya Dion hanya diam saja. Lagi, Lunar lah prioritas Dion bukan Kevan. Bagaimana bisa Dion lebih memilih Sahabatnya daripada kekasihnya? Kevan benar-benar mengutuk Lunar sialan itu! ...... Tbc.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD