Happy Reading....
*How can love be change?*
Seminggu setelah kejadian pembatalan kencan di minggu pagi itu, Kevan benar-benar menjauh dari Dion. Dirinya sama sekali tidak memberi kabar apa pun atau membalas pesan dan mengangkat telfon dari Dion. Ia ingin memberi waktu untuk Dion berfikir, apa yang sebenarnya terjadi semoga Dion menyadarinya.
Kegiatan sekolah menjadi pelampiasan bagi Kevan. Untunglah kegiatan OSIS membuatnya sedikit move on dari masalahnya dengan Dion.
"Lo kayaknya anggota paling rajin deh, Van!"
Kevan tersenyum mendengar pujian dari ketua OSISnya itu. Entahlah akhir-akhir ini mereka menjadi lebih dekat, ya mereka, sang Ketua OSIS Denis dan Kevan.
"Harus itu!"
Denis tersenyum, Denis sebenarnya tahu Dion adalah kekasih Kevan. Ia tidak sengaja memergoki mereka saat pulang rapat OSIS minggu kemarin.
Ia kira Dion adalah kekasih Lunar, dimana ada Dion pasti di situ ada Lunar. Sudah seperti amplop dan perangko. Siapa pun pasti akan mengira jika mereka adalah pasangan kekasih.
"Kenapa, Den? Lihatin guenya gitu banget?"
Denis tersadar dari lamunannya, kemudian tersenyum dan entah mengapa tangan kanannya mengacak rambut Kevan.
"Apaan sih! Berantakan tahu!"
Lihat lah! Kevan terlihat imut saat memonyongkan bibirnya, ia seperti anak gadis yang kehilangan permennya.
Kevan tertawa terbahak seakan dia lupa dengan masalah percintaannya. Tapi kenyataan seolah mengingaykannya pada Dion yang tak pernah bisa bersikap manis padanya.
Jika saja Dion bisa seperti ini, mungkin Kevan tak akan menelan empedu terus menerus dalam hubungannya bersama Dion.
Bukan kebetulan, tapi memang takdir. Tidak bisakah Kevan sejenak melupakan dua makhluk yang menyebalkan di hidupnya itu.
Lunar dan Dion berjalan beriringan tertawa riang, seakan dunia hanya milik berdua. Seoalah tertimpa batu besar, senyum itu hilang dari wajah Kevan. Hatinya begitu sakit, tak pernah laDion tertawa seriang itu saat bersama dengan Kevan. Kalau memang Dion lebih bahagia dengan Lunar , kenapa dia tidak putuskan saja hubungannya dengan Kevan?
Kevan benar-benar tidak habis pikir, bukankah seharusnya saat ini Dion mencarinya? Memberikan penjelasan, tapi lihat ini Kevan seolah tak pernah eksis dalam hidup Dion, semua ini semakin memuakkan diri Kevan.
Kenapa bahagianya dengan Dion hanya terjadi sometimes not everytimes?
* * *
"Gue mau putus sama Dion!" Kevan kembali menangis, airmatanya mengalir deras. Hanya Kian yang mampu menerima Kevan saat terpuruk karena sikap Dion.
Kian membelalakkan matanya, akhirnya kata keramat yang selama ini ingin Kian dengar dari mulut Kevan keluar juga.
"Yakin? Ayo gue anter sekarang ketemu Dion!"
Kevan menghela nafas sejenak, bukankah menjadi pacar Dion adalah impian setiap wanita?lalu kenapa ia harus melepaskan Dion saat jelas-jelas Dion miliknya. Ya miliknya, hanya tubuhnya, bukan hatinya. Hatinya hanya untuk Lunar, Lunar dan Lunar.
"Aaaargh!!" Nyatanya perasaan cintanya lebih besar daripada rasa sakit hatinya, apa yang ia katakan dimulut tak sesuai dengan isi hatinya.
Kian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kevan, dia terlalu lembek dan terlalu mengikuti perasaannya.
"Plinplan!" Satu kata itu cukup untuk menggambarkan bagaimana Kevan bersikap saat ini.
Lagi dan lagi nyatanya Kevan kalah dengan egonya yang ingin terus mempertahankan hubungannya dengan Dion.
"Mungkin harusnya, lo gak kenal Dion dari dulu. Lo udah bener-bener buta!"
Semua ucapan Kian benar, antara bodoh dan buta oleh cinta tak ada bedanya. Tetap saja salah.
Kian berulang kali mengingatkan dan berulang kali pula ucapannya menjadi angin lalu bagi Kevan.
Kevan benar-benar galau, terkadang omongan Kian memang benar dan jelas membuat Kevan malu. Ia juga laki-laki tapi dimana harga dirinya?
Bukankah ia sendiri yang memperumit perasaannya sendiri? Kevan takut jika setelah putus dengan Dion nanti ia akan merasa kesepian, lagipula ia merasa jika hubungannya itu sudah lama, banyak yang ia lalui bersama Dion dan Kevan tidak rela jika harus mengakhirinya begitu saja. Dia harus mempertahankannya.
****
"Gimana Van? Semua udah masuk ke bis?"
"Udah. Nanti tinggal tunggu konfirmasi dari setiap ketua kelas, Den."
"Ok. Sip!"
Kevan menghela nafasnya, sedari tadi ia berlari kesana kemari mengurusi acara camping sekolah. Tadi ia melihat Dion tidak sengaja sedang memandang dirinya. Entahlah, atau Kevan hanya gede rasa saja. Tapi Kevan tak ingin menegur Dion lebih dulu.
"Kita perlu bicara, Van!"
Kevan berharap tidak sekarang, tapi lihatlah cengkraman tangan Dion di pergelangan tangannya benar-benar erat.
"Aku lagi sibuk, Di. Kamu gak lihat?"
"Sampai kapan kamu mau ngehindar dari aku?"
Kevan hanya bisa menunduk, ya, benar sampai kapan dirinya akan menghindari Dion? Bukankah kapan pun itu ia harus bersiap?
Kevan menunduk, ia tak mau menatap mata Dion, ia hanya takut jika Dion melihatnya menangis. Dirinya laki-laki sama seperti Dion, bukan kah terlihat pecundang jika ia menangis di depan orang yang ia cintai?
"Aku mohon, jangan hindarin aku kayak gini. Jangan diemin aku. Aku gak bakal tahu salah aku apa kalo tiap aku tanya ke kamu, kamu selalu jawab gak papa dan ngehindar, Van?"
Kevan tersenyum mencibir, jadi Dion belum sadar kenapa Kevan bersikap seperti ini? Apa dia tidak sadar dengan kelakuannya terhadap Lunar? Baiklah Lunar menang, dan mungkin harus Kevan yang mengalah.
"Kenapa kamu gak suka aku diemin? Bukannya itu lebih menyenangkan buat kamu? Jadi kamu bisa selalu bebas sama Lunar."
Dion perlahan melepas cengkramannya, ia heran ada apa dengan Lunar, Kenapa Kevan selalu membawa-bawa Lunar. Bukankah sudah jelas mereka hanya sahabat untuk satu sama lainnya.
"Inget Van, Lunar cuma sahabat aku. Lagian dia gak tahu hubungan kita sama sekali, jadi apa untungnya dia ganggu hubungan kita?"
Lagi, Kevan benar-benar heran. Apa kekasihnya ini buta? Atau polos Atau memang benar-benar tidak peka?
Bagaimana bisa dia bilang Lunar tidak tahu hubungan dirinya dengan Kevan?
"Gak tahu? Mending kamu tanya sama sahabat kamu itu!"
Kevan melangkah meninggalkan Dion yang masih berdiri di hadapannya, Kevan benar-benar kesal bagaimana bisa Dion bersikap seperti itu.
Tak jauh dari Dion berdiri, Lunar menyaksikan pertengkaran tadi. Kevan yang bertemu pandang dengan Lunar sebelum meninggalkan Dion hanya bisa menghela nafas dalam, ia yakin saat ini Lunar sedang berbahagia melihat Kevan bertengkar dengan Dion.
* * * f
Kevan menyadarkan tubuhnya di kursi bis. Ia menatap ke arah luar, berkali-kali ia menghela nafas berharap sesuatu yang mengganjal di hatinya pergi. Pandangannya melayang jauh, menatap langit biru yang begitu indah namun tak seindah perasaan Kevan, bahkan tak bisa membuat Kevan merasa tenang.
"Kenapa lagi?" Kian hampir bosan menanyakan pertanyaan itu.
Kevan menoleh menatap sahabatnya, ia tersenyum lalu memeluk sahabatnya.
"Ki ..."
"Lo udah ketemu sama Dion?"
Kevan tidak mau melepas pelukkannya, jika tidak malu dia sudah menangis sejadinya saat ini juga.
"Van ..."
"Gue mau udahan Ki, gue capek."
Kian tak menanggapinya, mungkin kali ini Kevan akan melakukannya, melihat bagaimana sikap Kevan saat ini dia pasti sudah mersakan sakit hati yang jauh lebih dalam.
"Sebelum pergi tadi gue ketemu sama Dion, dia narik gue buat ngobrol. Gue kira dia mau minta maaf, nyatanya dia malah tetap belain Lunar. Dia bilang gue terlalu pencemburu, apa salah kalo gue ngerasa kaya gitu, Ki?"
Kian kembali terdiam, sebenarnya dia tau apa yang harus dia katakan tapi dia tidak ingin mengatakannya pada Kevan, Kevan harus menyadarinya sendiri, dia harus tau kalau hubungan yang tidak sehat ini memang seharusnya tidak perlu dia pertahankan lagi.