Happy Reading,,,,
*Bukan kah aku harus melepaskan?saat rasa cinta berubah menjadi racun."
Kevan benar-benar kenyang, kenyang melihat drama-drama Lunar selama acara camping.
"Lo gak makan, Van?"
Kian tahu benar temannya itu sedang tidak nafsu makan tapi di saat seperti ini ia harus kuat, secara mental dan fisik.
"Enggak, Gue ke tenda dulu ya, Ki!"
Kevan ingin tidur, menutup matanya sebentar. Belum sampai ke tenda, Kevan melihat Lunar dan Dion sedang berdiri di dekat tendanya. Kevan berdiri menatap dua makhluk itu. Kevan tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan jarak Kevan terlalu jauh, Kevan ingin mendekat namun sesuatu mencegahnya. Sesuatu yang membuat Kevan benar-benar sampai pada titik terendah kesabarannya.
Lunar menarik tengkuk Dion lalu entah Kevan tak bisa melihat lagi. Yang sekarang ia lihat d**a seorang dan lengan yang memeluk punggungnya. Seseorang menarik Kevan untuk tidak melihat kejadian itu.
Jantung Kevan berdetak lebih kencang, ini benar-benar gila. Apa sebenarnya yang di lakukan Dion dan Lunar? Apa Dion benar-benar ingin menyakitinya?
Kevan memejamkan matanya, air matanya keluar begitu saja. Kevan malu, kenapa ia harus selalu menangis hanya karena seorang Dion.
Lama Kevan bersembunyi. Mungkin jika tidak ada orang ini Kevan akan lebih merasa sakit. Kevan mendongak menatap wajah yang menjadi tamengnya. Kevan kaget "De-Denis?"
"Lo gak pantes lihat orang-orang munafik kayak mereka!"
Kenapa Denis bicara seperti itu, batin Kevan. Apa Denis tahu tentang hubungannya dengan Dion?
"Ma-ma-ksud lo?"
"Gue tahu Kev, gue tahu lo punya hubungan sama Dion."
Kevan menutup mulutnya, bagaimana bisa Denis tahu?
"Lo gak usah kaget gitu."
Kevan bingung, kenapa Denis tidak menjauhinya jika Denis sudah tahu srjak awal. Apa dia tidak merasa jijik pada Kevan?
Denis menarik tangan Kevan, kini mereka sedang duduk di bawah sebuah pohon beralaskan rumput. Menjauh dari kerumunan tenda tempat mereka beristirahat.
"Thanks!"
Denis mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Kevan.
"Buat?"
Kevan menoleh, menatap Denis yang sedang memandangnya.
"Buat yang tadi."
Denis tersenyum, ia melempar pandang melihat langit yang cerah malam itu.
"Lo lihat ke atas, Kev!" Dennis mengalihkan pembicaraan.
Kevan menuruti perintah Denis, ia mendongak dan menatap langit, entah mengapa seolah malam ini langit saja menertawakan nasib Kevan. Bagaimana tidak, langit begitu cerah bertaburan kerlap kerlip bintang dan apa kabar perasaan Kevan hari ini? Secerah langit malam ini kah? Kevan tersenyum miris menertawakan nasibnya.
"Lo lihat bintang itu? Dia terang sendirian Kev."
Kevan mengikuti arah tunjuk Denis, ia melihat bintang yang dekat dengan bulan entah mengapa ia sendiri. Kevan hanya tersenyum pahit mendengar ucapan Dennis itu.
"Coba lo lihat yang itu, yang di tengah di antara bintang yang lain?"
Kevan mencari lagi "iya, kenapa Den?"
"Menurut lo, mana bintang yang paling terang?"
Kevan menatap sebentar membandingkan bintang mana yang menurutnya paling terang.
"Itu!" Kevan menunjuk bintang yang berada dekat dengan bulan.
Denis tersenyum lalu menoleh ke arah Kevan.
"See? Lo pasti milih bintang yang pertama. Karena menurut lo bintang yang pertama terang banget. Beda sama bintang yang berjejer sama kawan-kawannya-" Dion menghela nafas dalam kemudian melanjutkan ucapananya "gimana lo bisa lihat bintang terang lainnya kalo mata lo aja udah ke tutup sama satu bintang yang mungkin terangnya sama aja sama kayak yang lain!"
Kevan menunduk, ia tahu benar maksud perkataan Denis. Memang benar, Kevan sudah buta akan sosok Dion. Ia tidak bisa melihat yang lain, hanya Dion Dion dan Dion.
Denis menepuk pundak Kevan "cinta sama sesama itu gak salah kok, Kev. Tapi lo juga harus bahagia! Bukan cuma makan hati terus, kalo dia gak mau putusin, lo yang ambil keputusan. Lo yang rasain, lo yang jalanin, bahagia enggaknya hati lo yang tahu. Jangan sampai lo buat neraka lo sendiri!"
Kevan kaget mendengar ucapan Denis, apa dirinya terlalu bodoh sampai sampai semua orang yang dekat dengannya selalu mengingatkannya akan hal itu.
"Gue tahu, Den. Gue pingin banget lari dan lepas dari Dion. Tapi makin gue coba, gue pingin balik lagi. Hati gue belum bisa buat lepas dia!"
"Semua butuh proses, Kev. Dan gue tahu ngelupain itu gak semudah buat mulai jatuh cinta. Lo bisa jatuh cinta sama orang dalam sekejap tapi lo butuh waktu lama buat ngeluapain cinta lo."
Benar, apa yang Denis ucapkan benar. Kevan hanya menelaah setiap kalimat Denis. Semua butuh proses dan mungkin Kevan akan memulainya dengan putus dari Dion.
Denis berdiri dan mengulurkan tangannya "ayo ke tenda, gue yakin temen lo itu udah khawatir nyariin elo!"
Kevan mendongak dan menyambut uluran tangan Denis.
"Thanks!"
Mereka berdua berjalan menuju tenda, untunglah semua acara sudah selesai sehingga mereka tidak perlu lagi menyiapkan apa-apa lagi sebagai panitia.
Saat hendak melangkah, Kevan tersandung kakinya sendiri. Ia menginjak tali sepatunya. Denis yang melihat hal itu langsung memegangi lengan Kevan menahan tubuh Kevan agar tidak jatuh.
"Thanks, Den!"
Entah sudah berapa kali Kevan mengatakan terimakasih pada Denis.
"Makanya lo ati-ati!" Denis melangkah ke arah Kevan kemudian berjongkok di depannya, Denis membenarkan tali sepatu Kevan, ia mengikatnya.
Kevan menunduk, ia ingin menghentikan aksi Denis tersebut namun sepertinya terlambat. Kevan hanya tersenyum, ia membayangkan jika Dion yang melakukan ini padanya.
Entah dari mana datangnya, Dion menarik pundak Denis dan langsung melayangkan bogem mentahnya di pipi kanan Denis.
"DION!!!!"
Kevan memekik, ia panik.
"Kamu ngapain?!" Kevan memegang tubuh Dion, melerai Dion dan Denis.
"Lepas, Van. Ini urusan aku sama si Denis!"
Kevan masih tetap memegangi tubuh Dion. Denis yang masih sempoyongan menerima bogem dari Dion, mencoba berdiri.
Dion melepas tangan Kevan, ia hendak memukul wajah Denis lagi. Namun dengan segera Kevan menghalangi Denis, alhasil Dion menonjok wajah kekasihnya sendiri.
Sudut bibir Kevan berdarah, ia mengusapnya sebentar.
"Yang..maafin aku, aku gak sengaja."
Dion panik, ia menangkup pipi Kevan.
Kevan masih meringis, dan Denis diam melihat keadaan itu.
"Kamu ngapain, Di?"
"Kamu yang ngapain, kenapa kamu deket sama dia?"
"Kamu kenapa? Apa salahnya aku deket sama Denis?"
"Apa? Kamu tanya apa salahnya Van? Salahnya kamu kekasih aku dan aku gak suka kamu deket-deket sama dia!!"
Kevan tersenyum mencibir "aku? kekasih kamu? Sekarang kamu ngakuin aku kekasih kamu, Di? Tadi waktu kamu cium Lunar, aku siapanya kamu Di? Siapa?! Jawab!!"
Dion membelalakkan matanya, ia tidak mengira kalau kejadian tadi disaksikan oleh Kevan.
"Lihat, kamu gak bisa jawab kan, Di? Atau kamu memang gak pernah nganggap aku pacar kamu sama sekali Di?!"
Entah mengapa mata Dion memerah, hatinya sakit mendengar setiap pertanyaan yang Kevan lontarkan. Ia sama sekali tidak pernah menganggap Dion bukan kekasihnya. Jika di hadapan Lunar ia bisa mengakui mungkin sekarang ia akan mengakuinya. Menggandeng tangan kekasihnya itu di depan Lunar atau bahkan di deapan umum.
"Aku capek, Di. Aku gak bisa gini terus. Aku pingin kita putus!"
Dion marah, ia tidak bisa menerima ini. Bukan ini yang di inginkan Dion, ia masih sangat mencintai Kevan.
"Enggak, Van! Enggak akan, aku enggak akan putusin kamu!"
"Terserah kamu!"
"KEVAN ARGANTA!!!! kamu gak akan pernah putus dari aku!"
Dion menarik lengan Kevan.
Entah kenapa hati Kevan sakit saat mendegar ucapan itu keluar dari mulutnya sendiri, tapi ini sudah menjadi pilihannya.
"Kamu tahu aku, Van. Kamu tahu benar siapa aku. Aku gak akan pernah ngelakuin hal kayak gitu."
Kevan menatap mata Dion, hanya tinggal mengedipkan matanya maka air mata Dion akan mengalir.
"Iya, Di. Aku tahu benar siapa kamu.
Kamu cuma seorang pecundang!!"
Dion menatap tidak percaya pada apa yang di ucapkan oleh kekasihnya itu.
Cengkramannya di tangan Kevan perlahan mengendur, ia melepas tangan Kevan. Tubuhnya tiba-tiba lunglai.
Kevan sedih, ia sedih. Ia berbalik dan meninggalkan Dion. Ia menuntun Denis, berjalan menjauh meninggalkan Dion yang masih berdiri mematung.
Dion diam, ia menghapus air matanya. Semua gara-gara Lunar. Ia harus kehilangan cintanya hanya karna Lunar.
"Sial!! Sial!!"
Tbc......