Kakinya sudah benar-benar berada di tepi, sementara tangannya masih memegang besi pagar pembatas seraya melihat ke bawah. Pikirannya kian semrawut, dengan batin yang menggebu-gebu. Anna ... ingin pergi dari semua ini. Mati! Mungkinkah itu mengakhiri segalanya? Sungguh, antara keimanan dan perasaan, benar-benar sedang dipertaruhkan saat ini. Oh, kau begitu nikmat ... Annisa. Ngiang kalimat itu kembali membuat Anna menangis terisak. Tidak pernah terpikir olehnya jika akan bersuamikan pria sakit seperti Adnan. Berfantasi bahkan dengan kakaknya sendiri. Gila, sangat gila. "Maafin Anna, Bu. Tapi Anna benar-benar tidak kuat lagi." Dengan niat ingin melewati besi pembatas itu, Anna mulai menggerakkan salah satu kakinya untuk naik ke atas pagar. Namun semua itu terurungkan tatkala ponselnya b

