“Assalamualaikum, Bapak... Ibu...”
Adnan mengucapkan salam ketika pria itu baru saja memasuki rumah orang tuanya. Kedatangannya pun langsung disambut oleh kedua orang tua Adnan yang sedang duduk di ruang tengah. Adnan pun langsung bersalaman dan tidak lupa mencium tangan mereka secara bergantian.
“Nayla tidak ikut, Nak?” tanya pak Ahmad.
“Tidak Pak soalnya ada hal lain yang harus diurus Nayla tapi dia titip pesan untuk Bapak sama Ibu,” jawab Adnan sambil meletakan kantung makanan di atas meja.
“Hal apa yang lebih penting daripada bertemu mertuanya? Apa jangan-jangan dia belum bisa menerima kita sebagai bagian dari keluarganya?"
“Astagfirullah alazim. Istigfar Bu, jangan berprasangka buruk mungkin saja memang ada hal yang benar-benar penting dan tidak bisa ditunda sehingga Nayla tidak bisa datang ke sini,” kata pak Ahmad berusaha mengingatkan istrinya untuk tidak berprasangka buruk kepada menantu mereka.
Ibu Aisyah masih belum bisa menerima musibah yang terjadi kepada putra tunggalnya tersebut. Bagi beliau pernikahan putranya terasa sebagai momok yang menyeramkan bahkan tidak pernah beliau pikirkan sebelumnya. Jadi wajar saja jika beliau tidak senang dengan kehadiran Nayla ke dalam hidup Adnan.
Tujuan kedua orang tua Adnan memanggil keduanya adalah ingin mendengarkan secara langsung kejadian yang sudah menimpa putra mereka. Kemarin orang tua Adnan belum sempat mendengarkan karena memang setelah sah menjadi sepasang suami-istri, keduanya langsung di usir warga untuk segera pergi dari kampungnya. Jadi tidak ada kesempatan bagi Adnan untuk menceritakan hal tersebut.
Sekarang pun sebenarnya masih ada rasa takut jika warga kembali mengamuk, lebih tepatnya Adnan memikirkan keselamatan dan keamanan kedua orang tuanya. Apalagi jika terjadi sesuatu ketika Adnan tidak ada di sini, tentu saja akan menimbulkan perasaan bersalah. Padahal jelas-jelas niat Adnan hanyalah menolong Nayla.
“Ya ampun, padahal niatmu ini baik tapi malah terjebak ke dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan,” kata ibu Aisyah yang benar-benar merasa kasihan dengan putra yang harus menjalani hidup dengan wanita yang tidak dicintainya.
“Andai waktu bisa diputar sebaiknya kau tidak usah menolong wanita itu,” sambung ibu Aisyah dengan air matanya yang mulai menetes.
“Apa maksudmu, Bu? Niat Adnan itu sudah baik seharusnya Ibu bangga memiliki anak sepertinya,” kata pak Ahamad yang tidak senang melihat respon istrinya yang seperti menyalahkan takdir yang sudah tertulis.
“Tapi Pak, gara-gara wanita itu Adnan jadi dinilai sebelah mata oleh warga kampung ini,” kata ibu Aisyah yang tetap tidak terima.
“Ibu tolong tenang ya, Adnan sendiri merasa tidak apa-apa karena mungkin di balik ini semua ada hal lain yang lebih indah,” kata Adnan yang berusaha menenangkan ibunya yang semakin histeris.
“Andai wanita itu tidak mabuk-mabukan mungkin kejadiaannya tidak seperti ini, Pak. Apakah wanita itu tidak belajar tentang agama yang melarangnya minum-minuman keras? Apa wanita itu tidak tahu tentang dampak buruknya?” Ibu Aisyah memeluk putranya sambil menangis.
“Lihatlah nasib putra kita sekarang, Pak. Mungkin saja wanita itu tidak memperlakukan anak kita dengan baik nanti selama menikah dengan Adnan atau mungkin—“
“Ibu, Bapak mohon hentikan berkata-kata buruk tentang apa yang sudah terjadi karena bisa saja ucapan Ibu akan menjadi doa buruk untuk anak kita,” potong pak Ahmad yang seketika membuat Ibu Aisyah tersadar.
“Astagfirullah alazim, maafkan Ibu ya Adnan,” kata ibu Aisyah yang penuh penyesalan karena beliau baru saja menyadarinya.
“Enggak apa-apa Bu, Adnan mengerti maksud Ibu itu baik kan tapi selama sejak kemarin memang Nayla memperlakukan saya dengan baik,” kata Adnan sambil memeluk dan mengusap punggung ibunya.
“Sebaiknya Ibu doakan saja yang terbaik untuk Adnan dan Nayla agar pernikahan mereka langgeng serta kelak bisa sehidup dan sesurga,” kata pak Ahmad yang tidak henti-hentinya mengingatkan.
Adnan yang mendengar ucapan bapaknya itu hanya bisa mengamini dari dalam hati. Sebenarnya tadinya Adnan ingin bercerita tentang tawaran yang Nayla berikan kepadanya untuk sekedar bertanya keputusan apa yang harus diambil olehnya tapi melihat kejadian hari ini membuat Adnan mengurungkan niatnya. Adnan tidak ingin menambah beban pikiran kedua orang tuanya yang mungkin sampai saat ini masih dalam keadaan kalut.
“Maafkan Adnan ya Bapak... Ibu... gara-gara niat baik Adnan semuanya jadi begini. Walau begitu Adnan ingin kita semua perlahan bisa menerimanya termasuk juga dengan Nayla. Sebenarnya Adnan tidak ingin menceraikan Nayla seperti permintaannya tapi Adnan sendiri merasa bingung karena sepertinya Nayla juga tidak menginginkan pernikahan ini. Adnan juga tidak ingin terus menahan Nayla jika nantinya dia tidak bahagia.”
# # #
“Gue terima saran dari lo kemarin tapi dengan batas waktu satu tahun jadi jika dalam satu tahun kita berdua tidak saling mencintai maka lo harus setuju untuk bercerai,” kata Nayla yang benar-benar membuat Adnan terkejut karena Nayla tetap mencari cara untuk bercerai dengannya.
Adnan bergeming tapi tidak dengan hati dan pikirannya yang sedang beradu argumen. Ia tidak ingin berbuat dosa dengan bercerai begitu saja dengan Nayla tapi di sisi lain dia juga tidak bisa menahan Nayla yang mungkin akan tersiksa dengan pernikahan mereka, kedua hal yang sedang Adnan perimbangkan memiliki intinya yang sama yaitu menghasilkan dosa jika memang ia salah langkah.
“Jadi bagaimana, Adnan? Apakah lo setuju sama usul gue?” tanya Nayla yang membuat pandangan mereka bertemu.
“Maaf Nayla tapi bisakah kamu beri aku waktu untuk memutuskannya? Karena saya tidak ingin sembarangan dalam mengambil keputusan,” jawab Adnan yang berharap Nayla mengerti dengan keputusannya.
“Baiklah, gue kasih waktu selama satu hari.”
“Satu hari sangatlah singkat Nayla, bagaimana kalau satu minggu?” kali ini Adnan yang berusaha bernegosiasi tapi bagi Nayla satu minggu adalah waktu yang sangat-sangat lama.
“Lo ini mau berpikir atau bertelur sih lama banget!” omel Nayla.
“Ayam aja bertelur dua belas sampai empat belas minggu Nay jadi waktu satu minggu itu cuma sebentar,” jawab Adnan yang membuat bola mata Nayla membulat dengan sempurna dan mulutnya yang terbuka lebar. Astaga Adnan bisa-bisanya dia menyelipkan jokes receh di antara obrolan mereka.
“Lo emang selalu begini ya, Nan?” tanya Nayla yang kesabarannya setipis tisu.
“Begini maksudnya?”
“Ya selalu bercanda ketika diajak ngomong serius?” Nayla menyilangkan tangannya dengan matanya yang berputar.
“Bercanda yang mana sih? Aku akan cuman kasih tahu kamu ilmu pengetahun tentang lamanya ayam bertelur,” jawab Adnan yang sama sekali tidak mengerti dengan maksud Nayla yang sudah hampir naik pitam menghadapinya.
“Astaga terserah lo deh, gue enggak peduli tentang ayam-ayaman lo itu tapi ya jelas ini kesepakatan terakhir yang bisa gue kasih yaitu waktu tiga hari buat lo mikir! Kalau lo enggak kasih jawaban gue anggap lo setuju dengan usulan gue,” kata Nayla untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan pergi dan meninggalkan Adnan.
“Assalamualaikum Nayla, biasakan salam ketika pergi dari rumah dan jangan lupa berdoa,” teriak Adnan yang masih sempat dibalas Nayla dengan membalaskan salamnya walau terdengar samar.