“Adnan....” panggil Nayla sambil mengetuk pintu kamar Adnan. Tak perlu waktu lama karena Adnan langsung membuka pintu kamarnya dan di detik berikutnya Nayla terpana dengan penampilan Adnan yang menggunakan baju koko berwarna putih, sarung motif kotak-kotak berwarna biru serta peci berwarna hitam. Entah mengapa pria itu terlihat sangat tampan.
“Astaga, ini cowok emang cakep dari lahir atau emang karena pakaiannya? Kok daritadi gue enggak ngeh sih?”
“Eh Nayla, kapan kamu pulang?” tanya Adnan ketika sudah berhadapan dengan sosok Nayla yang tidak berkedip menatapnya.
“Em— gue baru aja sampe...” Nayla mengalihkan pandangannya ke sudut lain untuk menghiangan sedikit rasa gugupnya. Jujur saja ia merasa sangat malu dan hal itu terlihat pada wajahnya yang sedikit memerah.
“Oh ya, lo udah makan malem belom?” tanya Nayla.
“Belom soalnya baru aja selesai salat dan rencananya habis ini baru aja mau pesen makanan, kamu mau ikut pesen makanan, Nay?” Adnan menggaruk kepalanya karena merasa bingung dengan sikap Nayla yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Apalagi saat Nayla tidak ingin menatap matanya saat bicara, Adnan sampai merasa kalau ia sudah membuat kesalahan kepada Nayla.
“Lo nggak usah pesen makanan karena gue udah beli...” kali ini Nayla memberanikan diri untuk menatap wajah Adnan sambil menunjukkan kantung makanan yang sejak tadi dipegangnya.
“Ya sudah kalau gitu kita makan bareng aja,” ajak Adnan.
“Gue tadi udah makan duluan sama Dira jadi ini buat lo aja,” kata Nayla sambil mendekatkan kantung makanan itu lebih dekat ke arah Adnan. “Gue mau istirahat dulu.”
Nayla buru-buru meninggalkan Adnan setelah pria itu mengambil kantung yang diberikannya barusan. Jujur Nayla tidak betah lama-lama berada di dekat Adnan apalagi setelah tanpa sadar ia terpesona dengan penampilan pria itu.
“Tapi, Nay....” Adnan tidak lagi melanjutkan ucapan karena Nayla sudah menutup pintu kamarnya. “Padahal aku ingin memberitahukan sesuatu kepadanya tapi ya sudah mungkin besok pagi saja.
* * *
Hari Nayla bangun agak siang dari biasanya karena ia merasa tubuhnya terasa sangat lelah, entah karena aktivitasnya kemarin atau memang masih berkaitan dengan masalah yang datang kepadanya secara bertubi-tubi.
“Sarapan apa ya hari ini?” gumam Nayla ketika ia baru saja sampai di lantai dasar. Perutnya memang terasa lapar tapi tubuhnya masih terasa lelah hingga ia bingung harus sarapan apa hari ini.
“Eh Nayla sudah bangun, kamu mau langsung sarapan bareng nggak kita?” ajak Adnan ketika yang melihat Nayla yang baru saja sampai di ruang makan. Saat ini Adnan sedang sarapan bersama Nita yang sejak semalam sudah memberitahu akan menemuinya.
Tentu saja keberadaan Nita di dalam rumahnya membuat Nayla terkejut bukan karena cemburu melainkan ia merasa Adnan sudah lancang mengundang orang lain tanpa izin terlebih dahulu kepadanya.
Sementara Nita yang tadinya sedang menyantap makanan miliknya memutuskan untuk berhenti dan menghampiri Nayla. “Assalamualaikum Nayla, perkenalkan nama saya Nita teman sekaligus tetangga di rumah orang tua Adnan.”
“Walaikumsalam Nita, ah ya salam kenal juga.”
“Kita sarapan bersama yuk, Nayla?” ajak Nita dengan senyumnya yang ramah. Nayla pun menganggukkan kepalanya lalu menikmati sarapan bersama Adnan dan juga Nita. Sarapannya kali ini adalah nasi uduk yang ditemani orek tempe, bihun, semur telur, sambal kacang, dan juga kerupuk.
“Maaf ya Nayla kalau aku berkunjung pagi-pagi begini karena ada urusan kerja yang harus aku bicarakan dengan Adnan sebelum berangkat ke kantor.”
“Iya enggak apa-apa kok, Nit,” jawab Nayla.
“Sebenarnya semalam aku mau kasih tahu kamu tentang kedatangan Nita pagi ini tapi karena kamu pulang langsung istirahat jadi aku enggak sempat bilang,” timpal Adnan yang merasa tidak enak karena ia tahu jika Nayla salahpaham kepadanya.
“Nggak apa-apa kok lagian terima kasih juga udah repot-repot dibawain sarapan,” kata Nayla sambil tersenyum untuk menutupi rasa malunya karena sudah berprasangka buruk kepada Adnan.
“Sebenarnya makanan ini titipan dari Bu Aisyah untuk kita sarapan,” kata Nita.
“Oh dari Ibu...” Nita menganggukkan kepala. “Tetap aja kamu yang bawa tapi terima kasih ya.”
“Sama-sama Nayla lagipula sekalian mampir kok,” balas Nita yang membuat Adnan tersenyum karena melihat keakraban yang terjalin di antara keduanya.
“Oh ya Nay, kamu hari ini berangkat kerja?” tanya Adnan.
“Belum tahu sih tapi bisa jadi agak siangan soalnya mau ke kelurahan dulu untuk ambil ktp sama ke bank,” jawab Nayla.
“Loh ke mana ktp kamu sampai harus ambil ktp lagi?” tanya Nita penasaran.
“Dua hari yang lalu aku baru aja kena musibah ya dompet sama tas aku hilang jadi semua hal yang ada di dompet mau aku urus sekarang,” jawab Nayla dengan senyumnya yang terasa getir ketika mengingat kejadian itu lebih tepatnya ketika mereka harus dinikahkan secara paksa.
“Yang sabar ya Nayla semoga setelah ini ada hal baik lain yang datang menghampiri kamu.” Nayla menganggukkan kepalanya sambil berharap akan ada hal baik lain yang akan datang menghampirinya.
Setelah sarapan Nayla memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena ia harus segera bersiap untuk pergi ke kantor kelurahan dan juga ke bank. Sampai hari ini Nayla harus berfokus untuk mengurus semua hal yang berkaitan isi dompetnya yang hilang. Setelah itu barulah ia kembali berfokus kepada urusan restorannya. Untung saja Dika masih ingin membantu serta memberikan solusi mengenai usahanya tersebut.
“Di mana Nita? Apakah dia sudah pergi?” tanya Nayla yang mendapati Adnan seorang diri di ruang tengah.
“Sudah baru beberapa menit yang lalu, dia juga titip pesan buat kamu karena tadi mau pamitan tapi aku bilang kamu lagi di kamar,” jawab Adnan yang membuat Nayla menganggukkan kepalanya.
“Terus Lo enggak berangkat kerja?”
“Aku masih ambil libur dan rencananya mau pulang ke rumah karena kata Nita tadi aku disuruh pulang ke rumah sama Ibu dan Bapak,” jawab Adnan ketika mengiingat pesan Nita yang memberitahukan kalau kedua orang tuanya ingin bertemu dengan dirinya.
“Cuma lo kan yang diminta pulang? Gue nggak harus ikut, kan?” tanya Nayla sambil duduk di sofa yang berseberangan dengan Adnan.
“Kayaknya enggak sih tapi kalau kamu mau ikut boleh setelah urusan kamu selesai.”
“ Sorry tapi kayaknya gue enggak bisa karena banyak hal penting yang harus gue urus jadi titip salam aja ya buat mereka,” kata Nayla dengan nada bicara yang penuh dengan penyesalan.
“Iya enggak apa-apa kok nanti insyallah aku sampaikan salam kamu ke Bapak sama Ibu,” kata Adnan yang merasa tidak keberatan. Adnan senditi sadar kalau Nayla mungkin memang sedang sangat sibuk apalagi ia baru tahu kalau Nayla sempat kehilangan dompet dan tasnya.
“Sebelum gue pergi ada hal yang ingin gue obrolin sama lo, lebih tepatnya gue mau buat kesepakatan,” kata Nayla yang kembali mengajak Adnan untuk bernegosiasi.
“Apa itu, Nayla?”
“Kemarin kan lo dengan tegas nolak kalau kita bercerai....”
“Lalu?” Adnan terlihat sangat penasaran.
“Dan lo bilang daripada kita bercerai lebih baik kita saling mengenal dan memahami satu sama lain....” Nayla masih berusaha berhati-hati dalam mengatakan usulannya tersebut kepada Adnan.
“Jadi inti dari ucapan kamu apa?” tanya Adnan yang semakin penasaran karena Nayla terlihat masih ragu mengatakannya.
“Gue terima saran dari lo kemarin tapi dengan batas waktu satu tahun jadi jika dalam satu tahun kita berdua tidak saling mencintai maka lo harus setuju untuk bercerai,” kata sambil menundukkan kepalanya untuk menghindari kontak mata dari Adnan. Ada rasa lega saat Nayla menyampaikan usulannya tersebut tapi di sisi lain ada rasa takut jika Adnan masih tetap bersikeras untuk menolak dan tetap ingin bersama.