Jalan Takdir

1056 Words
"Gue pergi ke luar sebentar karena ada urusan, lo makan aja karena gue sama Dira bakalan makan di luar dan ini kunci rumah sama nomer telepon gue 08xxx kalau ada hal penting lo bisa hubungi gue." Adnan baru saja membaca pesan dari Nayla pada selembar kertas kecil berwarna merah muda. Nayla sengaja berpamitan lewat sebuah kertas karena ia tidak ingin mengganggu Adnan yang masih di kamarnya. Adnan sendiri baru keluar dari kamarnya setelah selesai salat dan mengerjakan beberapa pekerjaan karena memang hari ini pria itu izin libur dengan alasan sakit. Tidak mungkin kan tiba-tiba Adnan bilang akan melaksanakan pernikahan sebagai alasannya tidak masuk kerja. "Ya sudahlah, aku makan sendiri saja," gumam Adnan lalu meraih kantung berisi makanan yang sempat di pesan Nayla. * * * Sementara itu Nayla sudah sampai di restoran miliknya dan kini sedang duduk di salah satu meja yang berada dekat jendela. Sambil menunggu makanan yang sedang diproses oleh karyawan, Nayla bersama kedua sahabatnya memutuskan untuk mengobrol dengan membahas hal mengenai kemajuan restorannya. "Apa lo yakin mau ikut kontes ini, Dik?" tanya Nayla setelah mendapatkan informasi mengenai kontes tahunan yang diadakan oleh salah satu majalah terkenal. Hadiah yang ditawarkan sangat menggiurkan yaitu promosi gratis selama satu tahun. Tentu saja kesempatan ini bisa Nayla gunakan untuk membangkitkan kembali kepercayaan pengunjung setia di restorannya. "Yakin nggak yakin sih tapi lebih baik dicoba dulu daripada nggak sama sekali, kan?" jawab Dika yang sebenarnya masih ragu tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. "Dika benar Nay, kalian bisa coba dulu dan lihat hasilnya siapa tahu kalian menang…." Dira berusaha memberikan semangat kepada Nayla. "Tapi kalau nggak menang gimana?" tanya Nayla yang juga masih ragu. "Ya nggak apa-apa kita coba lagi sampai berhasil, iya nggak, Dir?" Dika melemparkan pertanyaan kepada Dira sambil tersenyum. "Iya bener, udahlah jangan terlalu diambil pusing nanti gue bantu promosi lagi sekalian bikin video klarifikasi soal masalah kemarin biar resto lo rame lagi," balas Dira yang membuat hati Nayla sedikit tenang. "Terima kasih ya, gue nggak salah deh kenal sama kalian," kata Nayla yang bersamaan dengan karyawan yang membawakan makanan untuk makan siang mereka. "Ya udah mending kalian makan dulu isi energi karena gue mau balik ke dapur dulu," pamit Dika sambil bangkit dari tempat duduknya. "Lo nggak mau ikut makan bareng kita?" tanya Dira. "Nanti aja deh masih kenyang gue," jawab Dika sambil mengusap perutnya lalu pergi meninggalkan Nayla dan Dira. "Nay, apa Dika udah tahu kalau lo nikah?" tanya Dira yang membuat Nayla hampir tersedak saat minum. "Dir, kecilin suara lo karena gue enggak mau ada yang tahu soal pernikahan gue sama Adnan," tegur Nayla yang membuat Dira menautkan alisnya. "Lagian pernikahan itu terjadi karena sebuah kecelakaan." "Lo hamil, Nay?" tanya Dira dengan nada bicaranya yang berhasil merebut perhatian para karyawan di area resto tersebut. "Sumpah lo ngeselin banget sih, Dir! Gue bilang kan kecilin suara lo!" omel Nayla dengan wajahnya yang memerah karena menahan rasa malu jika sampai ada yang salah paham dengan ucapan Dira. "Sorry Nay, abisan gue kaget pas lo bilang nikah karena kecelakaan." "Terserah lo deh, gue udah capek!" "Yah Nay, jangan marah dong sama gue," ucap Dira dengan nada memelas karena sudah membuat Nayla marah. "Gue nggak marah cuma gue lagi capek dan males aja bahas soal itu sekarang." "Gimana kalau habis makan kita jalan-jalan ke mall, gue traktir es krim deh lo mau, kan?" lagi-lagi Dira mengerahkan segala cara untuk merayu Nayla agar mood-nya kembali membaik. "Boleh, gue juga mau sekalian beli handphone ba–" Nayla baru ingat kalau tadi saat pergi dia memberikan nomor telepon kepada Adnan padahal ponsel beserta kartu simnya sudah lenyap. "Kenapa, Nay?" "Itu gue lupa tadi sempet ninggalin nomor telepon gue sama Adnan padahal kan nomor gue ilang sama handphonenya," jawab Nayla yang kini merasa bersalah karena memang dia terlalu ceroboh. Semoga saja tidak ada hal mendesak yang membuat Adnan menghubunginya. "Kalau gitu nanti aktifin lagi aja nomor lo di gerai terdekat," usul Dira. "Tapi– ah gampang deh sekarang kita makan dulu ya, nanti lo pokoknya harus temenin gue urus semuanya." "Iya, lo tenang aja, Nay." Syukurlah Nayla tidak jadi marah kepadanya kalau tidak akan sulit untuk membujuk Nayla. Sekitar pukul lima sore Nayla dan Dira sedang berada di salah satu restoran yang ada di mall menikmati beberapa makanan dan minuman yang sudah hampir habis. Nayla sendiri sudah mendapatkan ponsel baru beserta nomor lamanya walau sempat ada drama panjang untuk tapi ia merasa beruntung karena semua bisa diurus online termasuk kartu identitasnya yang hilang. Nayla juga sudah menceritakan kejadian yang dialaminya hingga harus menikah dengan Adnan dalam waktu singkat dan juga tanpa sebuah persiapan tersebut kepada Dira. Dan reaksi Dira pun sudah bisa ditebak kalau wanita itu sangat terkejut sekaligus merasa bersalah karena bagaimanapun Dira-lah yang mengundang Nayla ke pesta ulang tahun adiknya yang semalam diadakan di sebuah klub. “Gue minta maaf banget ya karena gue, lo jadi seperti ini....” “Nggak apa-apa, Dir. Semua yang terjadi mungkin udah jalan takdir gue,” kata Nayla yang sudah pasrah dengan nasib yang dialaminya, entah ini sebuah keberuntungan atau sebuah musibah. “Apa lo sama sekali enggak inget siapa cewek yang ngajak lo pulang bareng itu?” tanya Dira yang sejak tadi penasaran dengan wanita yang katanya ingin mengantarkan Nayla pulang saat di klub. “Ah gue terlalu pusing dengan semua masalah yang datang secara bersamaan jadi buat inget itu cewek aja bener-bener buyar, Dir.” Rasanya kepala Nayla mau pecah jika harus mengingat kejadian semalam. “Ya udah mending sekarang kita pulang aja ya biar lo bisa istirahat dan soal cewek itu biar gue yang selidikin,” ajak Dira sambil memegang lengan Nayla. Dira sendiri tidak tega melihat wajah Nayla yang terlihat sudah sangat lelah sekali. “Ayo deh tapi sebelum itu gue mau pesen makanan buat dibawa pulang ya.” Dira menganggukkan kepalanya lalu meraih ponselnya untuk menghubungi adiknya agar mau membantunya mencari informasi mengenai wanita itu. Sebisa mungkin Dira ingin bertanggung jawab walau tak sepenuhnya bisa mengembalikan keadaan Nayla seperti semula. Sementara Nayla langsung memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan yang akan dibawa pulang. Makan itu bukan untuk Nayla makan melainkan akan diberikan kepada Adnan. Walau Nayla bersikap dingin kepada pria itu tapi tetap saja ia tidak tega membiarkan Adnan kelaparan. Sampai sejauh ini Nayla hanya menganggap Adnan sebagai tamu yang sedang menginap di rumahnya dan harus ia perlakukan baik seperti yang sudah Adnan lakukan kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD