Secepatnya Bercerai

1035 Words
"Gue mau kalau kita secepatnya bercerai…." Adnan tampak terkejut mendengar ucapan Nayla yang terdengar tanpa beban. "Gue tahu kalau lo juga enggak menginginkan pernikahan ini apalagi pernikahan ini terjadi karena sebuah kecelakaan," lanjut Nayla menjelaskan alasan perceraian mereka. Wanita itu yakin kalau Adnan akan menyetujui permintaannya. "Tidak, saya tidak ingin kita bercerai," tolak Adnan dengan tegas. Hal itu tentu membuat Nayla melongo karena bayangannya tidak sesuai dengan kenyataan. "Kenapa? Bukannya lo–" "Ya memang kita tidak menginginkan pernikahan ini tapi di dalam agama kita perceraian sangatlah dibenci oleh Allah swt, Nayla." Apa yang dikatakan Adnan memang benar tapi haruskah mereka terjebak ke dalam pernikahan yang tidak pernah diinginkan sebelumnya. Lebih tepatnya adalah pernikahan yang terjadi karena sebuah kesalahpahaman. "Gu– gue tahu itu tapi kan kita nggak saling mengenal apalagi saling mencintai jadi bukankah lebih baik kita berpisah saja," kata Nayla yang masih bersikeras untuk bercerai. "Mungkin ini sulit diterima untuk kita tapi daripada bercerai bukan sebaiknya kita saling mengenal satu sama lain agar kita bisa semakin dekat dan memahami satu sama lain, siapa tahu dengan cara itu kita bisa saling mencintai." Menerima pernikahan ini saja terasa sangat sulit untuk Nayla apalagi berusaha untuk dekat dan saling mencintai? Sungguh Nayla merasa sedang berada dalam sebuah mimpi buruk yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya, bisakah Nayla bangun sekarang dan kembali ke hidupnya yang normal? "Lo ini tuh…." suara bel rumah membuat Nayla menghentikan ucapannya. Langkah kakinya beralih ke arah pintu utama. "Nayla, syukurlah lo ada di rumah," ucap Dira yang langsung memeluk tubuh sahabatnya ketika pintu dibuka dan mendapati Nayla dalam keadaan yang baik-baik saja. "Gue pikir terjadi hal yang buruk karena sejak kemarin malam lo menghilang gitu aja dari pesta dan sejak tadi pagi lo juga nggak menjawab panggilan telepon dari gue…" Dira melepaskan pelukannya lalu menatap Nayla yang masih bergeming. "Gue khawatir banget sama lo, Nay." "Maaf udah bikin lo khawatir, Dir." "Nggak apa-apa tapi lo baik-baik aja, kan? Maksud gue, kenapa semalam lo menghilang begitu aja? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dira. "Gue baik-baik aja tapi ceritanya rumit banget kalau sampai harus gue jelasin sekarang jadi lebih baik kita masuk ke dalam aja dulu ya," ajak Nayla sambil meraih tangan Dira untuk masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di ruang tengah, Dira nampak terkejut dengan sosok Adnan yang masih duduk di sofa karena menurut pria itu mungkin saja Nayla masih ingin melanjutkan obrolan mereka. Adnan yang melihat kehadiran Dira bersama Nayla pun tersenyum. "Nay, ini siapa?" tanya Dira. "Oh ya, kenalkan ini Adnan dan Adnan kenalkan ini sahabat gue, Dira." Keduanya saling bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing. Dira sempat merasa tertarik kepada Adnan karena selain tampan pria itu terlihat sopan serta ramah. "Tapi siapa Adnan ini? Maksud gue, apakah dia teman kuliah? Rekan bisnis? Atau pacar baru lo?" selidik Dira yang ingin mengetahui siapa sosok Adnan. Setidaknya wanita itu ingin memastikan terlebih dahulu sebelum ia terlalu jauh jatuh hati kepada sosok Adnan karena tidak mungkin jika Dira harus berebut pria yang sama dengan Nayla. "Di– dia…." Nayla nampak kebingungan untuk menjelaskan sosok Adnan kepada Dira. "Mungkin ini akan mengejutkan kamu tapi saya adalah suami dari sahabat kamu, Nayla." "Apa?" mulut Dira terbuka lebar dengan matanya yang terbelalak. Apakah Dira tidak salah dengar. "Astaga, apa gue nggak salah dengar, Nay?" tanya Dira menatap Nayla yang tersenyum kikuk. "Perasaan lo nggak pernah cerita kalau punya pacar tapi sekarang udah nikah aja dan lo nikah aja gue nggak tahu acaranya kapan dan di mana? Tega lo, Nay!" lanjut Dira yang tidak berhenti mengomel kepada sahabatnya, rasanya seperti dikhianati tapi ya begitulah kira-kira perasaan Dira. "Calm down, Dira." "Setelah semua kabar ini lo nyuruh gue tenang, Nay?" Nayla menepuk jidatnya. "Gue bingung harus jelasin dari mana tapi sekarang lo tenang dulu ya, please." "Oke tapi–" "Maaf bukannya mau menyela obrolan kalian saya mau pamit ke kamar dulu karena sebentar lagi sudah masuk waktu salat zuhur," potong Adnan setelah melihat jam di tangannya yang dalam kurun waktu lima belas menit lagi akan memasuki waktu salat. "Ya udah sana tapi makan siang lo mau makan apa biar sekalian gue pesenin?" tanya Nayla sebelum membiarkan Adnan pergi ke kamarnya. "Apa aja boleh kok Nayla asal pake sambel," jawab Adnan. "Oke, nanti gue pesenin ayam geprek aja ya," kata Nayla yang dijawab anggukan kepala oleh Adnan. "Kalau begitu saya permisi dulu Nayla, Dira." Adnan pun meninggalkan kedua wanita itu. "Apa pernikahan kalian ada hubungannya dengan bokap lo, Nay?" tanya Dira. "Sama sekali enggak, kalaupun iya mana mungkin bokap gue nikahi gue secara kilat dalam satu malem, emangnya bangun candi?" jawab Nayla dengan sedikit candaan karena sejak tadi obrolan mereka selalu dipenuhi oleh hal-hal yang berbau serius. "Iisshhttt… lo tuh masih aja suka bercanda sih, Nay?!" omel Dira. "Ayolah jangan terlalu serius, gue butuh bercanda buat ngalihin hal yang udah bikin gue pusing sejak pagi ini," kata Nayla memelas. "Oke tapi inget lo masih punya hutang penjelasan sama gue nih." "Iya tapi boleh dong gue pinjem hp lo dulu buat pesen makanan soalnya ini udah waktunya makan siang," kata Nayla yang ingin meminjam ponsel sahabatnya karena wanita itu sendiri saja tidak tahu di mana ponsel miliknya yang hilang bersamaan barang lainnya yang semalam ia simpan dalam tas. "Soal makanan gue jadi inget kalau Dika minta dikabarin soal lo, Nay," kata Dira yang teringat sesuatu. "Kabarin?" "Iya tadi dia bilang hal penting yang mau disampein soal restoran tapi–" "Ya udah yuk kita pergi sekarang aja siapa tahu ada hal penting," potong Nayla yang begitu antusias kalau sudah bicara tentang usaha miliknya. Wanita itu sudah siap untuk pergi ke kamarnya tapi Dira menahan tangannya. "Tunggu dulu, Nay. Katanya lo mau pesen makanan, jadi nggak?" tanya Dira mengingatkan. "Kita makan di restoran ajalah nanti," jawab Nayla yang dalam sekejap melupakan janjinya kepada Adnan. "Terus suami lo makan apa? Apa mau diajak juga ke restoran?" tanya Dira. "Astaga, gue lupa…." Akhirnya Nayla ingat jika ia harus memesan makanan untuk Adnan. "Mana sini hape lo, Dir." Dengan cepat jari Nayla menari di layar persegi itu setelah Dira meminjamkan ponselnya. Setelah selesai Nayla dan Dira langsung melangkah kaki menuju kamar Nayla. Walau awalnya Dira sempat ragu untuk ikut dengan Nayla tapi secara singkat wanita itu sudah menjelaskan kalau mereka tidur di kamar terpisah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD