Bagian 5

1217 Words
Langit sudah gelap saat Adrian tiba di rumah sakit. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, dan napasnya masih memburu. Ia hampir terjatuh saat berlari menuju ruang ICU, dadanya terasa sesak. Ada bau obat, desinfektan, dan ketegangan yang menggantung di udara. Perawat hanya memberi anggukan kecil, lalu mempersilakan Adrian masuk. Di dalam, Dira terbaring lemah. Wajahnya pucat, tubuhnya dipenuhi selang dan kabel medis, tapi matanya terbuka... menunggu. “Dira…” bisik Adrian, suaranya pecah saat tangannya meraih tangan perempuan itu. Hangat, tapi lemah. Seperti nyala lilin yang siap padam. Dira menoleh pelan, bibirnya bergerak kecil membentuk senyum yang hampir tak tampak. “Kamu datang...” “Aku di sini,” ujar Adrian sambil berjongkok di samping tempat tidur. “Kamu harus kuat. Kita masih harus nikah besok, kan?” Air mata jatuh dari sudut mata Dira. “Enggak... Kayaknya, aku nggak bisa, Adrian.” “Jangan ngomong gitu. Kita sudah lewati banyak hal, Dira. Aku nggak peduli masa lalu, aku cuma mau kamu. Kita. Dan bayi kita...” Dira tersenyum tipis, suaranya pelan dan serak. “Itu sebabnya aku minta satu hal terakhir darimu…” Adrian menatapnya, bingung. “Apa?” “Menikahlah... sama Disa.” Waktu seolah berhenti. Suara monitor jantung yang tadinya stabil terdengar makin menekan di telinga Adrian. “Apa? Nggak, Dira... jangan gila,” ucap Adrian, suaranya naik. “Aku mau kamu. Aku pilih kamu. Aku mau tanggung jawab sama kamu dan anak kita, walaupun dia masih segumpal darah, dia tetap anak kita. Keluarga kita.” Dira menggigit bibirnya menahan tangis, tubuhnya bergetar pelan. “Aku tahu, Adrian... tapi aku kenal tubuhku. Aku tahu ini nggak akan lama lagi...” “Berhenti,” potong Adrian. “Jangan bilang gitu. Kita akan cari cara. Kamu bisa sembuh, aku akan cari dokter terbaik, rumah sakit mana pun. Asal kamu jangan nyerah.” Dira menangis. “Disa... dia sendirian. Kalau aku pergi, dia cuma punya kamu. Aku nggak mau dia hidup sendiri, Adrian. Aku cuma minta... kamu jaga dia, sayangi dia. Karena aku percaya, cuma kamu yang bisa.” Adrian menunduk, bahunya berguncang menahan emosi. Tangannya menggenggam tangan Dira makin erat, seolah ingin memindahkan hidupnya agar bisa menyelamatkan perempuan yang kini terbaring di hadapannya. “Dira... kamu bukan siapa-siapa buatku. Kamu itu segalanya.” Dira tersenyum samar. “Kalau aku bukan siapa-siapa... jangan biarkan Disa merasa seperti itu juga.” Lalu perlahan, matanya mulai menutup, dan alarm mesin di samping tempat tidur memekik lebih cepat. *** Langkah kaki kecil terdengar mendekat. Disa akhirnya sampai di depan ruang ICU setelah diteriaki oleh panggilan telepon mendesak dari Adrian, lalu dokter. Wajahnya pucat, napasnya tersengal. Dunia seperti berputar—dan ketika pintu itu terbuka, yang pertama dilihatnya adalah Adrian berdiri dengan mata sembab, tubuh tegapnya seperti rapuh. Begitu mata Dira menangkap sosok adiknya, senyum kecil merekah di wajah pucat itu. “Disa…” panggilnya lirih, seakan nyawanya tersangkut pada satu nama itu saja. Disa tertegun. Napasnya tercekat. Tapi ia segera mendekat, menggenggam tangan kakaknya dengan cepat lalu menunduk mencium pipi dingin Dira. “Kak… kak, aku di sini. Aku di sini,” suaranya bergetar hebat, air mata jatuh tanpa bisa dibendung. Dira menatapnya lembut, senyum penuh kasih terselip di antara wajah yang tampak begitu letih. “Peluk aku…” bisiknya. “Aku kangen banget.” Disa langsung membungkuk, memeluk tubuh Dira yang kini begitu ringan dan rapuh. “Jangan tinggalin aku, Kak... Disa nggak kuat kalau harus hidup sendirian. Disa Cuma punya kakak… kalau kakak nggak ada, Disa sama siapa?” Tangisnya pecah. Tangannya gemetar saat membelai rambut kakaknya. Adrian, yang berdiri tak jauh, menunduk, memalingkan wajah. Kepalanya pening. Bukan karena ruang ICU yang terlalu sunyi—tapi karena permintaan Dira tadi masih membekas seperti luka segar yang belum sempat diperban. “Adrian,” panggil Dira pelan, matanya melirik ke arahnya. “Bisa tunggu di luar sebentar? Aku mau ngobrol sama adikku.” Adrian menatapnya, bingung. “Dira...” “Tolong…” potong Dira, suara lembutnya seperti permohonan terakhir yang tak bisa ditolak. Setelah beberapa detik yang seperti selamanya, Adrian hanya mengangguk. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan pelan ke luar ruangan. Tapi sebelum pintu menutup, ia sempat menoleh lagi—menatap dua perempuan itu dengan tatapan kosong, seolah dunia yang ia bangun baru saja retak di tengahnya. Pintu ICU pun tertutup. Hening kembali. Kini hanya ada Dira dan Disa. Dua saudara yang separuh hidupnya saling menopang, saling menyimpan luka, dan kini dipisahkan oleh waktu yang tak memberi mereka banyak kesempatan lagi. Disa menarik kursi di samping ranjang, gerakannya hati-hati, seolah takut suaranya akan memecah sisa-sisa napas kakaknya yang tinggal sedikit. Dengan perlahan, ia duduk. Tangannya yang dingin menggenggam tangan kanan Dira—genggaman erat, penuh harap, penuh ketakutan. Tangan kirinya terangkat pelan, mengusap kening Dira yang dingin dan basah peluh. Gerakan yang begitu alami. Gerakan yang sama seperti saat Bunda dulu merawat mereka saat sakit. Atau seperti Dira saat kecil sering menyeka dahi Disa ketika demam. Gerakan yang membuat kenangan puluhan tahun terlipat kembali, jatuh di pelupuk mata. Dira menutup mata sebentar, menikmati sentuhan itu. “Kayak Bunda ya?” gumamnya, pelan. Disa mengangguk sambil menggigit bibir, menahan tangis. Beberapa detik sunyi menyelimuti mereka. Hanya ada suara mesin yang berdetak pelan. Sampai akhirnya Dira membuka mata dan menatap adiknya. Tatapan yang lelah tapi hangat. Lalu ia berkata dengan suara bergetar, “Maafin aku, Dis…” Disa mengernyit. “Kak, jangan… jangan ngomong kayak gitu.” “Aku tahu,” sambung Dira dengan mata berkaca, “aku tahu aku bisa nolak dia waktu itu. Tapi aku enggak sanggup. Ruang di hatiku... ruang yang dulu kupaksa kosong itu... tiba-tiba penuh lagi pas Adrian datang.” Tangannya mencengkeram pelan jemari Disa. “Egois ya?” Disa menggeleng cepat, “Kak, jangan bilang gitu…” “Tapi itu kenyataannya. Aku egois. Aku tahu kamu pernah suka sama dia, aku tahu kalian punya rasa… tapi aku tetap ambil dia.” Senyum Dira begitu lirih, seperti daun yang jatuh pelan ke tanah, ringan tapi tak bisa kembali naik. Disa mulai menangis lagi, tanpa bisa dikontrol. Air matanya jatuh membasahi tangan kakaknya. “Aku mimpi waktu pingsan,” lanjut Dira sambil menatap langit-langit. “Aku lihat Bunda… dan Ayah. Mereka berdiri nggak jauh dariku. Tapi yang paling bikin aku nggak bisa lupa… ada anak kecil, Dis.” Dira menarik napas pelan. Sakit. Sesak. Tapi ia terus berbicara. “Dia lari-lari, panggil aku ‘Mamah’... matanya kayak kamu waktu kecil. Tapi senyumnya... senyumnya Adrian banget. Dia narik tanganku. Dia bilang... ‘Ayo pulang, Mah…’” Disa menahan napas. Dunia seakan runtuh. “Aku pengin hidup di situ aja, Dis. Di mimpi itu. Karena... karena aku udah capek,” bisik Dira akhirnya. Disa buru-buru menggeleng keras, “Enggak, Kak. Kamu nggak boleh pergi. Kakak harus sembuh, kita nikah besok. Kakak harus cantik pakai gaun itu, dan... dan aku bakal nemenin di pelaminan…” Dira tersenyum pelan, air matanya menetes ke sisi bantal. “Enggak, Dis. Aku mau kamu yang gantiin aku. Besok... kamu nikah sama dia.” Disa sontak berdiri, gemetar. “APA?! Kakak ngomong apa sih? Nggak! Aku nggak mau! Kakak harus sembuh! Aku enggak mau nikah sama siapa pun kalau Kakak nggak ada!” Suara Disa naik, emosinya meledak. Tangisnya pecah seketika, dan suara itu menggema ke luar ruangan… sampai di luar, Adrian mendengarnya. Dira tetap tersenyum—senyum yang begitu tenang, seperti orang yang akhirnya berdamai dengan semesta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD