Masalah ekonomi dalam rumah tangga. Masalah yang paling dasar. Namun sungguh harus segera dipenuhi.
“Mas, uang yang Mas kasih kemarin, tinggal lima ratus ribu. Sepertinya hanya cukup sampai akhir bulan deh, Mas,” kata Embun.
Arka melihat aneka masakan di meja makan. Mendadak dia kehilangan nafsu makan.
“Mas nggak tahu bisa dapat kerja kapan, Dek. Belum ada panggilan sama sekali. Mungkin Adek bisa ngurangin masaknya? Kita makan yang biasa-biasa saja nggak papa, Dek. Tahu-Tempe dulu sampai Mas dapat kerja.”
“Baiklah, Mas.”
Embun sebenarnya biasa saja jika dia harus makan yang sederhana, karena dulunya Embun besar di keluarga yang penuh kekurangan, tapi berbeda dengan Arka. Arka besar di keluarga kaya. Sejak kecil selalu makan enak. Tidak mungkin Arka akan puas dengan makan ala kadarnya.
“Aku juga ikut nyari kerja kok, Mas. Aku sekarang freelance ambil job gaji kecil pun gak masalah aku, Mas,” kata Embun.
“Terima kasih ya, Embun.”
“Sama-Sama, Mas.”
Semesta mungkin sedang ingin menguji. Sebelum menikah, Embun mudah sekali mendapat uang, tapi kali ini, entah kenapa, proyek-proyek kecil pun jarang sekali ada. Hingga akhirnya, Embun dengan sangat terpaksa meminta tolong pada mantan atasannya dulu.
Selesai makan, Embun mendapat notifikasi panggilan dari dosen mantan atasannya dulu.
“Kamu yang kemarin kirim email nyari job ke saya kan?” Suara di seberang terdengar.
“Iya, Prof. Saya sedang butuh uang. Kalau bisa, saya mengerjakan yang pengolahan data saja. Biar saya bisa kerjakan dari rumah,” balas Embun.
“Sedang butuh sekali?”
“Iya, Prof.”
“Kalau kamu sedang butuh uang, saya bisa bantu kamu. Biar saya transfer ya? Dulu kamu dan Agung sering bantuin tugas-tugas saya.”
Embun kelimpungan. Antara mantan dosennya dulu yang menyebut nama Agung, mantan Embun, juga karena beliau yang menawari Embun uang sementara ada Arka di sebelah. Embun takut menyinggung perasaan suaminya.
Embun pun buru-buru menjawab, “Tidak, Prof. Tidak perlu. Saya dibayar kecil pun gak masalah, Prof. Yang penting saya kerja, tidak berhutang juga tidak meminta-minta uang.”
Arka yang tengah membaca koran lowongan kerja menoleh, menaikkan alis mencerna percakapan Embun dan sang mantan kolega.
“Hm.. Saya kalau saat ini sudah full team, Embun. Kalau ini memang rizki kamu, coba kamu bantu saya buat proposal. Nanti kalau menang tender kamu saya kasih job. Mau?” tawar mantan dosen Embun.
“Iya, Prof. Mau, mau.”
“Tapi ini belum pasti ya, Embun. Lelangnya pun masih akhir bulan depan. Kalaupun lolos, paling cepat dapat uang masih dua bulan lagi. Nggak papa?”
“Iya, Prof. Tidak papa kok.”
“Ya udah. Habis ini asisten saya biar kirim file ke kamu. Kamu sekalian bikin power point-nya ya?”
“Baik, Prof. Terima kasih banyak.”
“Ya. Sama-Sama.”
Begitu telepon mati, Embun tak langsung bicara. Dia tunggu dulu suaminya yang mulai.
“Gimana? Dapat kerjaan kamu?” tanya Arka.
“B-Belum pasti sih, Mas. Masih harus bikin proposal dulu. Kalau proposal diterima baru bisa dapat job. Biar aku coba dulu, Mas. Siapa tahu rizki kita kan?”
Arka tak menjawab. Lanjut membolak-balik koran.
Tuhan, ujian pernikahan.
***
Hari-Hari ke depan, Embun sebenarnya stres. Uang semakin menipis. Arka juga jelas tak doyan makan tahu dan tempe. Pemuda itu semakin sedikit sekali makannya.
“Mas makanlah yang banyak,” kata Embun.
“Hm hm. Maunya makan kamu,” balas Arka main-main.
Embun tertawa kecil. Setidaknya masih ada manis-manisnya rumah tangga mereka.
“Habis makan nanti main bentar ya?” kata Arka.
“Iya, Mas.”
Selesai sarapan, Embun melayani suaminya.
“Kamu kenapa nurut sekali sama Mas?” tanya Arka. Meski dengan wajah datarnya, Arka tetap terlihat tampan, tenang keluar masuk dari tubuh istrinya.
“Aku hanya ingin mencari ridla Mas,” balas Embun.
Arka tersenyum, turun untuk mengecup bibir istrinya. “Aku ridlai kamu, Sayang,” bisiknya.
“Terima kasih, Mas.”
“Sama-Sama, Sayang. Taruh kaki kamu di atas pundakku, Yang.”
“Baik, Mas.”
Selesai menuntaskan hasratnya, Arka terlihat lebih relaks.
“Aku mandi dulu ya, Yang. Habis ini aku mau keluar sebentar,” kata Arka.
“Keluar ke mana, Mas?”
“Ke rumah teman.”
“Ou.”
“Iya. Siapin baju ya?”
“Iya, Mas.”
Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Embun bersih-bersih kamar dan juga bekas makan tadi. Begitu suaminya keluar kamar mandi, lalu dia bantu suaminya siap-siap. Dia rapikan baju suaminya, dia sisir rambut suaminya, dia pakaikan lotion di wajah suaminya, dia bantu juga menyemprotkan parfum di tubuh suaminya.
“Begini ya rasanya punya istri solehah? Sangat menyenangkan,” kata Arka. Dia peluk istrinya. Dia hirup dalam-dalam tubuh istrinya.
“Aku suka saat tubuh kamu masih bercampur bau dengan tubuhku. Terasa sekali kalau kamu milikku.”
“Aku memang milik Mas. Sejak hari pertama kita menikah, sudah kuserahkan seluruh jiwa ragaku untuk Mas.”
Arka kecup kening istrinya, lalu dia kecup bibir istrinya. Dia lumat lama. Sampai puas baru dia lepaskan.
“Adek cantik, di rumah saja ya? Mas keluar bentar.”
“Iya, Mas.”
“Tunggu Mas pulang.”
“Iya.”
Ditinggal Arka pergi, Embun bergegas menyelesaikan tugas rumah tangganya, setelah itu fokus menggarap proyek-proyek kecil yang dia punya. Tahu-Tahu, suara ‘Bip. Bip. Bip,’ nyaring terdengar.
“Yah, apa sih ini? Ganggu orang kerja aja,” ujar Embun. Seumur-Umur, ini pertama kalinya Embun dengar yang beginian.
Wanita itu berhenti mengetik sejenak, sebelum tersadar.
“Ya Tuhan, aku lupa belum top up listrik bulan ini…!” jerit Embun, berguling-guling lebay di karpet rumahnya.
Embun pun langsung menghubungi suaminya.
“Iya, Yang?” tanya Arka di seberang.
“Aku lupa belum isi token listrik rumah, Mas,” balas Embun.
Hening sejenak. Terdengar Arka yang berpamitan pada teman-temannya.
“Kalau habis ya tinggal isi lah, Yang. Sudah nggak ada uang ya?” tanya Arka, suaranya terdengar berbisik.
Embun yang teringat jika Arka sedang bersama teman-temannya pun tersadar. “Iya, Mas. Masih ada kok. Aku isi habis ini. Tadi cuman pengen nagabarin Mas aja gitu.”
“Iya iya. Nggak papa kok. Lain kali kalau mau nelfon, chat dulu ya?”
“Iya, Mas.”
“Ya sudah. Mas matiin. Sayang kamu.”
“Sayang Mas juga.”
“I love you.”
“I love you too.”
Dan ‘Tuts.’ Telepon pun dimatikan oleh Arka.
Begitu Embun memeriksa mobile banking-nya, “Yah, tinggal seratus lima puluh. Pasti bentar lagi bunyi lagi,” bilang Embun.
Kembali fokus bekerja, Embun sadar-sadar sudah sore. Selesai shalat ashar, Embun mengirim pesan pada suaminya.
“Mas jangan lupa shalat ya?”
“Iya, Sayang.”
“Jangan lupa makan siang juga.”
“Siap, Sayang. Sayang juga jangan lupa makan.”
“Iya, Mas. Ini Embun mau makan.”
“Baguslah. Semangat kerjanya.”
“Siap, Mas.”
Saling berbagi emotikon love dengan suaminya, Embun yang tengah makan dengan lauk oseng tauge tidak tahu saja, kalau saat ini Arka tengah di rumah orang tuanya, lahap makan rawon daging masakan ibunya.
“Nggak dimasakin istrimu apa? Sampai kurus begitu,” komen Hajah Rusdiah.
“Ya dimasakin lah, Mik,” balas Arka. Dia masih asyik berbalas chat mesra dengan istrinya.
“Masak apa di rumah tadi istri kamu?” tanya Haji Salman.
Arka berpikir sejenak sebelum menjawab, “Rendang sapi,” jawab Arka berbohong.
“Itu kan kesukaan kamu sih!” balas Hajah Rusdiah.
“Keasinan. Jadi aku gak suka,” balas Arka sekenanya.
Dan dimulailah ceramah panjang lebar oleh Hajah Rusdiah, tentang istri yang berbakti, tentang keharusan istri memuaskan suami, tentang keharusan wanita bisa masak, dan masih banyak lagi. Arka dan ayahnya kompak menulikan telinga.
Selesai makan, Arka santai-santai di ruang televisi. Langsung diambilkan ibunya bantal.
“Tidak usah pulang dulu. Tidur sini kalau perlu,” kata beliau.
“Iya, Mik. Aku rindu banget sama dinginnya AC.”
“Ya udah. Sana masuk kamar, tidur.”
“Iya, Mik. Peluk dulu, Mik.”
“Sudah besar. Masih manja.” Meski menjawab begitu, Hajah Rusdiah tetap memeluk putranya. Dia elus-elus putranya dalam dekapan.
“Mik, bagi duit lah. Buat bensin,” kata Arka.
“Nggak ada uang kamu?” tanya Haji Salman, lelaki itu duduk di sofa seberang putranya.
“Nggak ada, Bah. Kasih duit lah.”
“Ambilin duit, Mik,” bilang Haji Salman.
“Minta berapa?” tanya Hajah Rusdiah.
“Yang banyak, Mik. Tadi Embun bilang token listrik habis.”
“Kasih yang banyak, Mik. Bantu mereka. Maklum. Baru menikah. Kita dulu juga begitu.”
Pergilah Hajah Rusdiah ke kamar. Balik lagi ke ruang televisi dengan segepok uang sepuluh juta.
“Nih. Kalau habis, bilang lagi ke Umik.”
“Siap, Mik.”
“Oh ya, Mik. Nanti kalau aku ke sini lagi, masakin lodeh kambing ya, Mik?”
“Ya udah. Besok ke sini. Umik masakin.”
“Oke deh, Mik. Bikin yang banyak. Buat Embun juga.”
“Iya. Ini Umik bawain juga rawonnya buat Embun. Biar belajar masak dia. Sudah tua, masak pun gak bisa!”
“Kan Arka cuman bilang keasinan, Mik. Bukan gak bisa masak,” balas Haji Salman.
“Sama saja, Abah!”
“Umik juga dulu di awal nikah gak bisa masak kan?”
Berkata begitu, kena omel lah Haji Salman oleh istrinya.
Arka yang merindukan orang tuanya itu hanya tertawa. Senang berkumpul bersama ayah dan ibunya. Pemuda itu saking nyamannya sampai ketiduran. Bangun-Bangun sudah malam.
Tumpukan missed call dari istrinya.
“Tadi Umi senyap hape kamu. Biar gak ganggu kamu tidur,” kata Hajah Rusdiah.
Mia, adik perempuan Arka yang masih SMA juga sudah di rumah. Makan malam sambil nonton televisi.
“Ditelepon Embun banyak-banyak aku, Mik. Ya udah, aku pulang dulu, Mik.”
“Iya. Itu di motor kamu sudah Umi siapkan oleh-oleh. Umi masakin banyak buat kamu sama istri kamu.”
“Makasih, Mik.” Arka kecupi pipi kanan dan kiri ibunya. Dia peluk erat-erat tubuh ibunya.
“Umik, Arka kangen Umi,” bilang Arka manja.
Hajah Rusdiah tertawa senang. “Sudah, sana pulang. Ajak Embun nginap sini kapan-kapan.”
“Iya, Mik. Mmuuach.”
Arka acak-acak dulu rambut Mia sebelum keluar.
***