10. Istri yang Penurut

1631 Words
Sejak satu jam yang lalu, Embun sudah menunggu kedatangan suaminya. Wanita cantik itu mondar-mandir sendirian di depan rumah. “Sayang!” panggil Arka. Motornya saja belum kelihatan, masih tertutup pagar, tapi pemuda bucin itu sudah tak sabar ingin sampai. Embun yang mendengar suara suaminya bergegas membukakan gerbang. “Mas, kenapa baru pulang? Aku tungguin dari tadi,” bilang Embun. Arka tersenyum kecil, menghentikan sebentar motornya di dekat gerbang. Menahan motornya dengan kaki, Arka meraih wajah istrinya, dia lumat-lumat bibir istrinya. “Kangen banget tahu gak sih? Aku tadi mampir ke rumah Umik. Eh, ketiduran. Pas bangun sudah dibungkusin Umi oleh-oleh buat kamu.” Embun mengangguk. “Biar nanti aku bilang terima kasih sama Umi.” “Menantu yang baik,” balas Arka. Dia cium lagi bibir istrinya. “Hehehe,” tawa Embun. “Sayangnya Mas. Ayo masuk,” ajak Arka. “Iya, Mas.” Motor Arka yang masuk duluan. Selesai mengunci gerbang, baru Embun ikut masuk ke rumah. Di ruang tamu, Arka membongkar tumpukan kardus berisi aneka makanan. Ia juga membuka tas kecil yang dia bawa. “Aku dikasih Abah uang. Adek aku kasih segini gak papa ya?” ujar Arka. Dia berikan beberapa lembar uang merah untuk istrinya. “Iya, Mas, gak papa.” “Adek gak tanya, mau Mas buat apa uangnya?” “Mau dibuat apa, Mas, uangnya?” Arka gemas mengecup bibir istrinya. “Kamu tuh gemesin banget. Tahu gak sih.” “Hehe, tahu.” Arka tertawa. Sebelum meraih wajah istrinya. Dia isap-isap gemas bibir istrinya. “Uangnya mau Mas buat cari kerja, Dek. Sekarang susah nyari kerja tanpa uang pelicin.” “Semangat, Mas Arka.” “Siap, Adek. Mmuach. I love you.” “I love you too.” Pengantin baru. Biarlah mereka bermesraan dahulu. *** Esoknya, Arka keluar lagi. Pemuda itu melalui rekomendasi dengan teman-temannya, datang menemui beberapa supervisor perbankan sekitaran desa tempatnya tinggal. Sayangnya, hingga habis uang pemberian Abah untuk pelicin, Arka tak kunjung dapat panggilan kerja. “Kalau nyogoknya level supervisor emang sulit, Ka,” kata Robi, teman Arka. “Ada tuh dikenalin Salim ke wakil kepala cabang tempatnya kerja, tapi tetep gak berhasil,” balas Arka. “Lo udah coba hubungi bokapnya mantan lo belum? Siapa tuh, Pak Dedi ya? Dia kan ‘penguasa’ daerah sini.” Salim, sahabat Arka yang lain memberi saran. Arka tak menjawab. Di kafe pinggir pantai tersebut, pemuda itu terdiam dalam keramaian. Pak Dedi, ayah mantan pacar Arka, dulunya adalah seorang preman yang kini menjadi pengusaha kaya raya. Dengan banyaknya kenalan dan anak buah, bisnis perbankan pun banyak dipengaruhi oleh beliau. Selain sebagai juragan pemodal usaha, Pak Dedi juga penyokong modal untuk para pejabat kabupaten yang berkuasa. Itulah yang membuat Pak Dedi kian berkuasa. Sangat mudah jika ingin mendapatkan pekerjaan via Pak Dedi. Robi teman Arka ikut termenung sebelum berkata, “Dulu kok lo bisa putus sih sama Hanna? Tiba-Tiba aja gua denger lo tunangan sama Embun. Padahal masih kemarin malamnya lo jalan sama Hanna.” “Entahlah.” Arka meneguk habis kopinya yang sudah dingin. “Waktu itu Hanna yang ngajak ketemuan, dia bilang pengen coba buat gue bertahan, tapi ya gimana, sejak pertama lihat fotonya Embun, gue udah terlanjur suka. Hanna dan yang lain langsung hilang dari otak gue.” Robi dan Salim mengangguk memaklumi. “Namanya juga perasaan. Gak bisa memang kalau dilogika,” hibur Salim. Robi, “Tapi Sayang sih, padahal lo sama Hanna udah cocok banget. Empat tahun pacaran. Couple goal pada masanya. Super romantis. Sama-Sama ganteng, cantik. Keluarga juga sama-sama kaya dan terpandang. Pas banget pokoknya.” “Embun juga cantik,” balas Arka. Dia diam-diam merindukan istrinya. Ingin cepat-cepat pulang. “Embun gimana orangnya?” tanya Salim dan Robi penasaran. “Baik, nurut, patuh sama gue. Gue suruh apapun mau aja. Polos banget pokoknya. Gemesin. Istri solehah sih kalau kata gue,” balas Arka. Senyum kecil menghiasi wajah tampannya. Melihat wajah kasmaran Arka, Robi dan Salim akhirnya paham, kenapa Arka sampai melepas Hanna. Hati si Arka jelas sudah terpaut pada Embun. “Ya udah. Semoga kalian bahagia terus ya,” bilang Salim. “Aamin, Bro. Makasih doanya.” “Ngomong-Ngomong, Embun tahu nggak soal Hanna?” tanya Robi. “Semoga tidak,” sahut Salim. “Ya. Semoga Embun tidak pernah tahu tentang Hanna,” gumam Arka. Tiga sekawan tersebut terdiam. Mereka sudah bersama-sama sejak lama. Nakal bersama, dan saling tahu akan kenakalan masing-masing. Cukup mereka saja. Biar mereka saja yang tahu akan segala memori. *** Pulang ke rumah, Embun lagi-lagi sudah menunggu di teras. “Sudah makan, Sayang?” tanya Arka, Dia ciumi istri dalam rangkulannya. “Sudah, Mas. Mas sudah makan?” “Sudah, Sayang. Sekarang pengennya makan kamu.” Tangan Arka sudah kelayapan, meremas-remas d**a istrinya. Embun pun cepat-cepat mengajak suaminya masuk ke dalam rumah. “d**a kamu lembut banget,” bisik Arka. Awalnya tadi dia hanya berniat make out biasa saja dengan istrinya, tapi rupanya, gejolak pengantin barunya masih belum selesai. Begitu dia lepas baju atasan Embun, Arka langsung berubah menjadi macan kelaparan. Embun berdiri, bersandar di tembok. Di depannya, Arka penuh nafsu mengisap dan meremas-remas d**a istrinya. “Suka. Suka banget sama kamu,” cerca Arka. Embun membalas dengan senyuman. Dia belai-belai kepala suaminya. “Kamu yang sabar ya, Embun. Tunggu Mas dapat kerjaan. Mas pasti bakal bahagiain kamu,” ujar Arka. “Iya, Mas.” Mendesak istrinya ke tembok, Arka memasuki istrinya. “Surga dunianya Mas,” lirih Arka. Embun peluk suaminya. Wajahnya merah, panas oleh nafsu. Wanita cantik itu menggigit bibir, menahan erangan kala sang suami mulai menghentak keluar masuk. “Enghh.” Basah dan nikmat. Hangat menyelimuti keduanya. …. Beberapa hari kemudian, Arka pulang lagi ke rumah orang tuanya. Dia duduk di teras bersama kedua orang tuanya. “Bah, minta uang, Bah,” bilang Arka. “Baru juga kemarin dikasih. Dibuat apa saja sama istrimu?” balas Hajjah Rusdiah. “Aku buat nyari kerja, Mik.” “Ya rabbi, kenapa nggak minta bantuan Abah saja? Abah kan banyak kenalan!” balas Umi. Haji Salman menarik napas dalam. Dia balik koran yang dia baca. “Bah, minta uang lagi lah, Bah. Janji ini yang terakhir,” kata Arka. Tukang kebun yang tengah memotong rumput di depan rumah menoleh, diam-diam menguping pembicaraan. “Abah kasih, tapi ini terakhir. Kalau kamu minta uang lagi, lebih baik kamu kerja sama Abah. Kamu bantuin ngurus toko Abah.” “Yah, Abah. Ya nganggur lah nanti ijazahku, Bah.” “Nggak peduli. Iya atau tidak?” Haji Salman melihat tegas pada putranya. “Iya, iya, Bah. Iya,” balas Arka. Sambil menunggu uminya mengambil uang, Arka santai di teras, makan biskuit sambil minum kopi. Suara kicauan burung-burung mahal ayahnya membuat Arka rindu akan suasana rumah. “Kadang pengen gitu, Bah, bawa Embun tinggal di sini,” kata Arka. Haji Salman melirik putranya. “Sudah berumah tangga, lebih baik rumah sendiri. Abah dulu juga mulai dari nol. Dibantu sedikit sedikit sama orang tua Abah.” “Hm. Iya, Bah.” Suara langkah kaki terdengar, Umi Rusdiah datang membawa dua gepok uang. “Nih, dua puluh juta,” kata Umi. Selesai meletakkan uang di atas meja, beliau lalu duduk di sebelah suaminya. Tangan Haji Salman terulur, menahan tangan Arka yang hendak mengambil uang. “Ini yang terakhir, Arka. Jika kamu minta uang lagi, kamu harus kerja sama Abah.” “Iya, Bah. Arka janji kok.” Umi Rusdiah melihat prihatin pada putranya. “Berita kamu nyari kerja sudah nyebar lho, Nak. Umi malu. Serasa tak becus jadi orang tua,” ujar beliau. Sembari memasukkan uang-uang tersebut ke dalam tas, Arka tenang menjawab, “Umi tenang saja. Sekali-Kali, aku juga ingin berjuang sendiri tanpa bantuan Abah-Umi.” “Umi hanya bisa doakan, semoga kamu segera dapat kerjaan yang seperti kamu mau,” balas Hajjah Rusdiah. “Aamiin. Terima kasih, Umik.” “Ya sudah. Kamu di sini dulu. Umi masakin dulu masakan-masakan kesukaan kamu.” “Oke, Mik. Makasih.” Hari-Hari berikutnya, Arka fokus mencari pekerjaan. Kantor keuangan satu kabupaten, Arka datangi semua. Beberapa kali, Arka pun disuir oleh satpam, karena memang kantor mereka sedang tidak membuka lowongan pekerjaan. Meski begitu, Arka terus berjuang tak patah arang. Pulang mencari kerja, Arka seperti biasa disambut istri cantiknya. Embun penuh keridaan membantu melepas sepatu suaminya. “Beruntungnya aku punya istri seperti kamu,” kata Arka. “Aku juga beruntung punya suami seperti Mas,” balas Embun. Arka yang duduk di kursi membelai lembut kepala istrinya. Begitu selesai melepas sepatu dan kaos kaki suaminya, Embun menoleh ke belakang, celingukan melihat situasi, karena jalanan depan rumah sedang ramai, Embun pun membawa suaminya ke dalam rumah. Dia duduk di kursi tamu, lalu dia dudukkan juga suaminya. Wanita cantik itu lembut meletakkan kepala Arka ke dalam pangkuan. Dia belai-belai wajah suaminya. Arka balas membelai wajah istrinya. “Semangat, Mas Arka,” bisik Embun. “Terima kasih, Sayang.” “Sayang masih haid?” tanya Arka. “Iya, Mas. Masih. Lusa mungkin baru selesai.” Sembari bermain-main dengan rambut panjang istrinya, Arka berkata, “Sudah beberapa bulan kita menikah. Kita juga sering berhubungan suami istri, tapi Sayang belum juga hamil.” “Mungkin memang belum Allah kasih, Mas.” “Ya, kamu benar. Jika itu sekarang, aku juga masih belum siap jika kita punya anak. Tunggu aku punya kerjaan dulu ya, Ayang, baru kita punya anak.” “Iya, Mas. Semoga Allah kabulkan. Semangat, Mas Arka.” “Terima kasih, Sayang.” Embun sayang sekali, dia peluk suaminya penuh kasih sayang. “Aku sayang kamu, Mas,” katanya. “Mas sayang kamu juga, Embun.” Pasangan muda itu saling berciuman. “Buka atasan kamu, Sayang.” “Iya, Mas.” Di ruang tamu mereka, Arka asyik ‘nenen’ d**a istrinya. Dia isap-isap, dia main-mainkan. Embun mendesis-desis pelan, meski begitu terus dia sodorkan dadanya sampai Arka bilang sudah. Benar kata Arka, Embun adalah istri solehah yang penurut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD