Arka mengeluarkan miliknya. Darah perawan istrinya melekat di antara cairan-cairan kental lainnya. Lelaki itu meraih tisu, membersihkan kejantanannnya sebelum berbaring. Dia peluk istrinya. Dia kulum basah bibir istrinya.
“Ini pertama kalinya aku bermain dengan wanita yang masih gadis,” ujar Arka.
Ada lara, sakit, dan cemburu di hati Embun. Jelaslah bahwa Embun bukanlah wanita satu-satunya yang pernah Arka sentuh.
Embun membenarkan posisi kakinya. Rasa perih dan ngilu di s**********n yang semula tak terasa kini kembali terasa. Terngiang sakit di hati dan tubuh Embun.
Arka melirik wanitanya. “Aku hanya tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari kamu,” ujarnya.
Embun mengangkat lengan suami dari atas perutnya.
“Mau ke mana?” tanya Arka, dia tahan lengan istrinya yang beranjak duduk.
“Mau pakai baju,” balas Embun.
“Kenapa? Adek gak mau lagi sama Mas?” tanyanya.
“Entahlah.”
“Kamu marah?”
“Entahlah, Mas.”
Arka raih tubuh istrinya. Dia peluk istrinya. “Maaf ya? Maafkan Mas. Mas hanya ingin jujur sama kamu. Maaf. Maaf sekali. Terima kasih juga sudah menjaga kesucian kamu untuk Mas.”
Arka terus menciumi istrinya. “Terima kasih, Embun,” bisiknya.
Embun dan Arka baru saja menikah. Bahtera rumah tangga baru saja dimulai. Embun berbesar hati, menerima Arka dengan segala masa lalunya.
***
Pengantin baru. Edisi sedang bucin-bucinnya. Di sela kesibukan mereka menebar email dan surat lamaran kerja, mereka mengisi waktu dengan memadu kasih. Saling berpelukan, tindih menindih di karpet ruang tamu.
“Mas keras lagi? Baru juga tadi pagi,” kata Embun.
“Ya harap maklum lah, Dek. Namanya juga pengantin baru,” balas Arka. Pemuda itu melepaskan pusakanya dari dalam sangkar.
Embun ikut melepas juga celana dalamnya.
“Adek gak mau coba di atas?” tawar Arka.
“Hm? Gimana caranya?” tanya Embun.
Embun cantik sekali. Dengan wajahnya yang polos melihat penuh rasa penasaran pada sang suami.
Arka tersenyum kecil. Melihat wajah istrinya pun sudah cukup untuk menjadi pelipur gundah dalam hati.
Pemuda itu membalik posisi, menjadikan Embun kini duduk di atasnya.
“Kamu sangat cantik,” puji Arka. Lelaki itu menurunkan tali kamisol istrinya, memperlihatkan sepasang gunung cantik berbalut bra satin.
“Kamu sangat cantik. Kamu tahu kan?” tanya Arka.
“Ya,” jawab Embun.
“Hahaha.” Arka gemas meremas d**a Embun.
“Sayang, buka bra kamu,” bilang Arka.
Embun lepas bra yang dia kenakan.
“Kamu gak mau coba masukkan d**a kamu ke mulut Mas?” ujar Arka.
“Em.. Baiklah.”
Embun sumpah. Polos sekali. Arka saja sampai tidak tahu harus senang atau bagaimana.
Embun menurunkan dadanya, memasukkan dadanya ke dalam mulut Arka. Wanita itu telaten, teliti agar tak membuat suaminya tersedak maupun terhalang jalan napasnya.
“Hah.. Hu..” Embun berdesis, bernapas dengan mulut. Di atas dia diisapi oleh Arka, di bawah dia masuk-masuki oleh jari-jemari suaminya.
Embun wanita yang sabar. Meski nafsunya sudah di ujung tanduk, dia bersabar. Melayani fantasi-fantasi suaminya.
Arka lepas d**a kiri Embun. “Ganti yang kanan,” katanya.
Embun sodorkan d**a kanannya.
Di bawah sana, sudah basah menetes-netes dari dalam Embun. Arka masih asyik keluar masuk dengan jarinya. Dia main-mainkan juga bagian luar, dia cubit, dia belai.
“Ahh..” Embun mencoba menahan erangan, tapi tak bisa. Masih saja lolos beberapa desahan. Wanita itu mulai tak sabar, menggesek-gesek bagian bawahnya, mencari-cari ‘senjata’ milik Arka.
“Mas, tolonglah. Sekarang,” mohon Embun.
“Hm?” balas Arka, hanya melirik saja. Dia masih fokus, asyik bermain dengan d**a Embun.
Napas Embun kian pendek. Terengah-Engah membuat kasihan.
Kata Arka, “Aku akan memasukimu, dengan syarat, kamu harus cium dulu punya Mas.”
“Ya???” Embun malu sekali.
“C-Cium di bibir kan maksud Mas??” tanya Embun.
Arka tertawa. “Ya enggak lah.” Lelaki itu santai melepas kamisol istrinya.
Embun kini polos tanpa busana. Sementara Arka santai membelai-belai tubuh istrinya.
“Belai yang bawah, Ayang,” kata Arka.
“Berani gak?” tantang Arka.
Embun sebenarnya malu, tapi mau gimana. Wanita itu turun, melepas celana suaminya.
Pusaka suaminya tegak menjulang.
“Sentuh saja. Sayang cium-cium. Sayang plintir-plintir. Sayang kulum-kulum.”
“Huh? Diplintir? Memangnya nggak sakit?”
“Hahaha. Sayang cobalah.”
Penuh keraguan, Embun mencoba yang diminta suaminya.
Awalnya Arka tertawa, tapi begitu tangan Embun menyentuhnya, terdiamlah lelaki itu. Mendesis-Desis pelan saat tangan Embun lembut menangkup milik suaminya, hangat memluntir dengan kedua tangan.
“Hufff..” Arka tak sabar. Ingin segera masuk ke dalam istrinya.
“Sayang, cepat cium,” kata Arka.
Embun menyingkap rambut. Lalu turun untuk mengecup milik suaminya.
“Hah..” Terengah napas Arka.
Mengecup singkat kepala ‘adik’ suaminya, Embun kembali bermain-main dengan memluntir-mluntir milik suaminya.
Benar kata Arka, wajah pemuda itu tak bohong, terlihat sekali penuh nafsu.
“Mas lebih suka jika aku cium punya Mas, atau aku ginikan saja?” tanya Embun, tangannya lembut menggiling-giling pusaka Arka di antara telapak tangan.
“Cium saja, yang lama. Ditahan di dalam mulut. Diisap-Isap yang lembut, okay?”
“Mm. Okay.”
Embun kembali turun, mengecup dan mengisap-isap pusaka suaminya.
Arka dimabuk kepayang. Berdesis-Desis sejak tadi.
“Sayang, sudah. Masukkan ke dalam kamu, Yang,” ujar Arka memberi intruksi.
“Siap, Mas. Bentar ya?”
Embun terlihat sekali kesulitan. Wanita itu bersusah payah membuka kaki di atas suaminya, lalu memposisikan milik Arka. Beberapa kali terpleset tak sampai masuk.
“Biar aku saja,” kata Arka. Pemuda itu bangkit, setengah duduk sembari memegang pinggul istrinya dengan satu tangan.
“Punya Sayang tuh masih sempit, jadi gak bisa langsung masuk.”
“Ouu.”
Arka dengan tangannya membantu ‘adiknya’ mencari jalan masuk. Setelah sukses baru dia dorong untuk kian masuk.
Pasangan suami istri tersebut berdesis oleh rasa nikmat.
“Sekarang Sayang yang gerak ya? Sayang naik turun,” kata Arka.
“Huh? Okay.”
Berpegangan pada tembok di sebelah, Embun naik turun.
Deru napas terdengar berat di ruang tamu. Suara pinggul bertemu pinggul benar-benar erotis.
Arka yang melihat istrinya kelelahan mengambil alih. Dia balik posisi. Penuh tenaga keluar masuk.
“Ah, Mas..” panggil Embun penuh nafsu.
Arka puaskan istrinya. Dia puaskan istrinya di area yang istrinya suka. Wajah ayu Embun merah padam sampai akhirnya dia bisa ‘lepas.’ Keluar oleh nikmat yang diberikan sang suami.
Ronde-Ronde penuh kenikmatan terus berulang. Sampai lecet di sana sini baru mereka berhenti.
Sayangnya, hidup berumah tangga lebih dari sekadar nikmat saling tindih menindih. Ada banyak hal yang harus dilakukan, dengan pemenuhan dasar yang pertama: Finansial.
***