7. Rintihan Malam Pertama

1151 Words
Belum habis sensasi bagian privatnya dimasuki jari Arka, kini kepala Arka turun, menyesap kuat d**a kanan Embun. “Enggh. Mas.” Arka tak berhenti, tangan kanannya berpegangan di d**a Embun, sementara mulutnya rajin menyesap dan mengulum kulit d**a istrinya. “Enggh.” Hanya erangan dan erangan yang terdengar dari bibir Embun. Di bawah sana pun jari Arka masih asyik bertengger. Arka terlihat sekali sedang berbahagia. Tak ingin tergesa-gesa dan masih asyik menyesapi pucuk d**a istrinya. “Hah. Hah.” Tubuh Embun kelojotan. Keringat bercucuran. Pusaka Arka pun kini telah muncul, menggantikan jarinya di bagian privat Embun. ‘Benda panas’ itu iseng menggesek di luaran basah Embun. “Engg. Mas.” Atas bawah diserang. Embun si gadis perawan tak sanggup. Ingin rasanya melarikan diri. “Mas, Mas,” panggilnya. Tapi Arka tak memberi ampun. Pusaka masih asyik menggoda, tangan asyik bergerilya, lidah dan bibir pun tak henti mengecup meninggalkan jejak.. “Mas..” Rintihan Embun terus terdengar. Arka bak tak puas-puas dengan d**a Embun. Dia remas, dia kecup, dia kulum, dia isap kuat-kuat. Kepala Embun terlempar ke atas, bernapas dengan mulut. Sesapan dan sentuhan suaminya memabukkan kepala si gadis perawan. “Mas, enghhh.” Embun kembali banjir di bawah sana. Mulut Arka penuh dengan d**a istrinya. Dia isap, dia putar-putar dengan lidahnya. Sama sekali tak mengindahkan istrinya yang memelas. “Hah. Hah.” Napas Embun tak karuan. Bagian bawahnya menetes deras cairan kental. Arka yang sudah puas dengan d**a kiri istrinya, beralih ke d**a kanan istrinya. Dia gigiti pucuk kanan istrinya, dia main-mainkan. “Hngggh.” Desahan Embun mengembalikan Arka ke dunia nyata. Dia lihat wajah istrinya. Benar-Benar terlihat tak berdaya. “Aku sayang banget sama kamu,” ujar Arka, dia belai wajah istrinya. “A-Aku juga sayang sama Mas.” Wajah dan kata-kata Embun terlihat tulus sekali. Niat Arka untuk bermain-main dengan tubuh istrinya hilang, dia tiba-tiba ingin segera saja masuk ke tubuh istrinya. “Sayang, aku yang pertama kan?” tanya Arka, entah ke berapa kali malam ini. Arka memang tipe pencemburu. “Iya, Mas,” jawab Embun. Dia pasrah Arka membuka kakinya kian lebar. “Jika aku yang pertama, malam ini mungkin akan sedikit sakit,” kata Arka. Pemuda itu dengan posisi berlutut bergerak menuju tubuh istrinya. Dia posisikan pusakanya di depan liang istrinya. “Sekali hentak langsung sampai jebol nih. Siap-Siap ya?” bilang Arka. “B-Bukannya k-kita harus p-pemanasan dulu?” tanya Embun takut-takut. “Bukannya dari tadi sudah pemanasan?” goda Arka. “M-Maksud aku, pelan-pelan,” balas Embun. “Sudahlah. Kamu nikmati saja. Pasti enak kok,” kata Arka. Dia sudah tak sabar ingin segera masuk. Dia gesek-gesekkan area privat mereka. Embun lagi-lagi bernapas dengan mulut. Di bawah sana miliknya berkedut cepat menyambut ‘batang’ suaminya. “Aku masuk ya?” bilang Arka. “Y-Ya.” Arka turun dulu mengecup bibir istrinya. Jantung Embun berdegup kencang sekali, merasakan kepala kejantanan suaminya perlahan masuk. “Mas..” rintihnya. Arka memundurkan lagi pusakanya, mendorong masuk pelan-pelan. Embun amber, basah di bawah sana. “Sshh..” desah mereka terdengar, saat Arka kian dalam memasukkan miliknya. Berhenti di satu titik yang terganjal. Yes. Fix. Telah terbuktikan. Embun masih perawan! Arka mengecup lagi bibir istrinya. Dia keluarkan miliknya. Dia lumuri kejantanannya dengan cairan Embun, menggesek-gesek pusakany di luaran Embun, sampai benar-benar keras baru kemudian masuk ke dalam. Embun merintih. Arka keluar lagi. Lalu mendorong kuat dalam satu hentakan. “Ahk.” Embun terkesiap. Sakit, nyeri, perih, terasa menjadi satu. Arka mengusap peluh. Di bawah sana kedutan menjadi satu. Entah punya siapa yang berkedut lebih kencang. “Adek siap-siap ya? Setelah ini mungkin akan lebih sakit,” kata Arka. Embun pikir sudah, rupanya belum. “I-Iya,” jawabnya. Arka mengambil ancang-ancang. Pusakanya yang sudah tegak maksimal berkedut kencang di dalam Embun. Wajah lelaki itu penuh konsentrasi. Keluar, lalu masuk lagi. “Ahk!!” Benar kata Arka. Sakit. Sumpah sakit. Seperti ada yang sobek, pecah di dalam sana. Air mata Embun menetes tak diundang. “Maaf ya, Sayang? Bentar doang kok sakitnya,” kata Arka. Dia cium-ciumi dulu wajah istrinya. Arka perlahan keluar masuk. Hati-Hati saat melihat eksprsi kesakitan di wajah istrinya. “Relaks ya, Sayang. Relaks.” Arka belai-belai d**a istrinya. Binatang buas kelaparan. Mana mungkin bisa menahan diri saat makanan ada di depan mata. Arka lambat laun tak lagi bergerak pelan. Pinggulnya maju mundur, sesekali menciumi bibir istrinya. “Ah. Ah.” Jerit Embun kembali terdengar. Antara perih dan nikmat. Embun ikhlas melayani sang suami. Hingga akhirnya rasa sakit itu terkubur dalam memori. Tergantikan oleh rasa nikmat. Embun tersenyum, menyambut setiap pergerakan suaminya dengan penuh kerelaan. Dia peluk tubuh suaminya. Keduanya basah oleh keringat. Arka penuh tenaga keluar masuk. Ya. Arka bukanlah perjaka, tapi Embun lah wanita pertama yang dia perawani. Arka nikmati setiap gerakan. Wajah tegangnya meringis oleh rasa nikmat. “Enak?” tanya Embun. “Ya,” balas Arka. Dia kecup bibir istrinya. Masih bahagia keluar masuk. Lubang Embun benar-benar memabukkan. Gadis perawan memang beda rasanya. “Mas suka?” goda Embun. Wanita itu tersenyum manis. Menggoyang pinggul menyambut Arka. Dia goyang-goyangkan juga kedua dadanya yang indah. Arka gemas meremas. “Aku cantik kan?” tanya Embun. Senyumnya manis menawan hati. Jujur, kewanitaan Embun masih sakit. Luka, tapi digesek. Embun hanya ingin mengalihkan rasa sakitnya dengan menggoda sang suami. “Cantik,” balas Arka. Dia remas d**a istrinya. Senyum di wajah Embun memancing juga senyum di wajah Arka. Pemuda itu balas tersenyum dan menjadi lebih santai saat keluar masuk. Tak lagi sekuat tadi. Embun bahagia, karena tusukan Arka tak sesakit tadi. Miliknya pun lebih relaks. Basah oleh percintaan mereka. Arka menciumi bibir Embun di sela-sela. Dia remasi juga d**a Embun. Dia jilat-jilat dan dia gigiti. “Hah.” “Hah.” Entah napas siapa yang paling terengah. Keduanya saling menyambut. Sama-Sama telah berada di ujung batas. Basah di bawah sana. Licin oleh cairan Embun. Ingin rasanya Arka ‘keluar’ saat ini juga, tapi harga dirinya sebagai seorang lelaki mencegahnya untuk keluar begitu saja. Arka bekerja keras, lembut mengecupi leher istrinya, dia remas-remas d**a istrinya. “Mas, Mas,” rintih kenikmatan keluar dari mulut Embun. Arka yang mulai paham kesukaan istrinya menurunkan ego. Dia lembutkan gerakannya. Dia manjakan tubuh istrinya. Dia isap-isap lembut pucuk d**a istrinya. “Ah, Mas..” rintih Embun terdengar. Tubuh ramping wanita itu meliuk-liuk di bawah suaminya. Arka tersenyum senang, dia tarik-tarik pucuk istrinya dengan gigi, membuat Embun kian bergeliat. Pinggul Arka juga bekerja keras, berganti-ganti angle menusuki istrinya. “Ugh..” Embun akhirnya keluar juga, bergetar-getar kala ‘keluar’ di bawah kasih sayang sang suami. "Akhirnya," ujar Arka. Lelaki itu menunggu sampai istrinya selesai, setelah itu baru, mengambil posisi. Dia pegang pinggul istrinya dengan kedua tangan. Setelah itu kuat menabrak. “Ah. Ah. Ah.” Desahan Embun bersamaan dengan hentakan suaminya. “Mas!” jeritnya. Kala Arka mengentak kuat, keras sampai mentok pas. “Hu…” Arka mengeluarkan napas perlahan, terasa nikmat saat akhirnya dia keluar. Puas di dalam liang hangat sang istri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD