6. Masih, Mas

1145 Words
Malam itu, selesai makan malam dan nonton TV, pasangan itu lanjut ke kamar. Masih jam sembilan sih sebenarnya, tapi mereka sudah mematikan lampu. Tinggal beberapa lampu saja yang masih menyala di rumah mereka. Arka menghitung dengan tangan, sudah sembilan hari sejak mereka menikah. Embun pun sudah shalat sejak kemarin, tapi mereka belum juga melangsungkan malam pertama. Embun yang tidur memunggungi suaminya itu tiba-tiba membalik badan, duduk melihat suaminya. “Iya, Dek?” tanya Arka. Dalam gelap malam, Embun melihat suaminya. “Mas pengen?” tanyanya. “Huh?” “Iya, Dek?” Arka ikut duduk. “Mas pengen?” tanya Embun lagi. Arka malu memalingkan wajah. Wajah tampannya tersipu dalam gelap malam. “Kalau mau, kenapa gak bilang?” tanya Embun. Dia singkap rambut panjangnya ke pundak kiri. Arka nafsu melirik istrinya. “Mana berani aku, Dek? Mahar Adek diminta lagi oleh keluargaku. Mana berani aku sentuh Adek?” Meski berkata begitu, mata Arka terus mengekor, melihat saat Embun perlahan membuka kancing atasan setelan piyamanya. Mulut pemuda itu membuka, kala tubuh istrinya perlahan terlihat. “Sangat cantik,” puji Arka tak sadar. Lelaki itu bahkan sudah lupa akan kata-kata baru saja dia ucapkan. Tubuhnya refleks naik ke atas istrinya. Mendorong istrinya rebah kembali ke kasur. Bibir Arka cepat mengklaim bibir istrinya. Dia basahi bibir istrinya, dia sesap kuat-kuat. “Sayang,” pinta Arka memohon. Embun melihat lelaki di atasnya, dia belai wajah suaminya. “Mas, aku ini milik Mas. Mas bebas melakukan apapun padaku. Aku titipkan jiwa raga ini untuk Mas ya? Mas jaga baik-baik.” “Iya, Embun. Pasti. Pasti akan Mas jaga kamu. Sampai malaikat maut mengambil nyawaku, sampai itu pula aku akan terus menjagamu, Embun.” Embun tersenyum, meraih tubuh Arka untuk dia peluk. “Maafkan Mas ya, Dek?” bisik Arka. Dia kecupi kening istrinya. “Iya. Aku sudah maafkan kok.” Seiring dengan kalimat maaf Embun yang terlontar, seiring juga dengan libido Arka yang akhirnya terlepas. Lelaki itu penuh nafsu mengecupi leher istrinya. Tangan Arka kejam meremas d**a istrinya. “Enggh.” Desahan Embun si gadis perawan terdengar, kala Arka kian kejam meremas. “Mas,” lirih Embun. Arka membangunkan tubuh Embun. Dia lepasi baju Embun satu per satu. “Wow. Cantik sekali istriku,” puji Arka. Matanya jelalatan melihat d**a dan bagian privat istrinya. “Aku lihat bentar ya, Sayang,” katanya. “A-Apanya?” tanya Embun gugup. Arka tanpa aba-aba membuka kedua kaki istrinya, dia belah dua. “Ah, Mas, malu,” bilang Embun. “Sudah. Untuk apa malu?” kata Arka seraya menyingkirkan tangan Embun yang berusaha menutupi bagian privatnya. “Kamu pernah ada yang jilat di sini?” tanya Arka, jarinya menyentuh bagian privat istrinya. “Ah!” jerit Embun kembali terdengar. Tubuh perawan wanita itu bergetar-getar. “Dari reaksi tubuh kamu sih kayak masih perawan, tapi kita lihat saja nanti,” ujar Arka. Baru disentuh Arka sedikit saja, Embun sudah lemas kehabisan tenaga. Dia tak punya energi untuk sekadar menjelaskan tentang masa lalunya. Dia dulu pernah pacaran, tapi tak pernah lebih dari ciuman dan sedikit remasan. Embun masih perawan. Ting ting. Terus melihat wajah istrinya, Arka sembari membuka pakaian yang ia kenakan. “Sayang, aku nyalain lampunya ya?” kata Arka. “I-Iya, Mas,” jawab Embun. Wanita itu gugup menutupi tubuh dengan bantal. Arka tertawa kecil. Berdiri untuk menyalakan lampu. Lelaki itu melihat istrinya, tergolek di atas kasur menggoda iman. Mata pemuda itu bak elang. Melucuti pakaiannya sembari melangkah kembali menuju kasur mereka. Embun menundukkan kepala, tak sanggup ditatap awas sang suami. “Kenapa masih malu?” tanya Arka. Lelaki itu mengambil dagu istrinya. Dia angkat untuk dia kecup di bibir. “Ya Tuhan!” jerit Embun. Menutup mata dengan kedua tangan. Dia malu sekali. Tak sengaja melihat ‘barang pusaka’ milik suaminya. Tegak menjulang. Arka tertawa tergelak. “Kenapa kaget? Itu punya kamu kok. Milik kamu. Hanya untuk kamu. Lihat saja,” kata Arka. Pemuda itu menarik bantal dari tubuh istrinya. Dia dudukkan istrinya. Dia lihat tubuh Embun dari semua sisi. “Cantiknya istriku,” ujar Arka. Wajah Embun memerah malu. Sementara Arka tanpa tahu malu mengisap p****g sang istri. Dia lihat ekspresi Embun yang menahan hasrat. Arka tersenyum kecil. “Aku sungguh penasaran, kamu masih perawan atau tidak,” katanya. “M-Mas lihat saja,” kata Embun. “Oke,” balas Arka sembari tertawa. Dia buka lagi kedua kaki istrinya. Kali ini Embun tak lagi malu-malu, membuka lebar kakinya, dia ingin Arka melihat, entah apa yang dia ingin buktikan dengan membuka kaki. Arka tersenyum puas, melihat ‘milik’ istrinya malu-malu mengintip kemerahan. Dia kecup di sana sebelum mendorong istrinya kembali ke kasur. Awalnya pelan, tapi kemudian liar dan semakin liar. Arka dengan segala pengalamannya menjilat dan mengcupi d**a Embun. Dia remas, dia genggam, dia main-mainkan d**a Embun. “Enghhh.” Tubuh Embun menggeliat dan menggeliat. Lama tak disentuh oleh laki-laki. “Mas,” rintihnya. Arka melihat, mata Embun yang sayu menutup. Arka buka lagi kaki Embun yang sempat menutup. Dia sentuh di sana. Basah. “Enggh,” rintih Embun lemah. “Embun,” panggil Arka. “I-Iya, Mas?” balas Embun. Tangan Arka di bawah sana mulai menggesek. Awalnya lembut, lalu semakin kasar. “Ah. Mas!” Tubuh Embun memluntir habis-habisan. Digesek-Gesek terus oleh Arka sampai meluber-luber basahnya Embun. “Hah. Hah.” Napas Embun pendek-pendek, dengan wajah memerah melihat suaminya. Sedari tadi, mata Arka bak elang yang tengah mengintai mangsa incarannya. “Embun, lihat Mas,” kata Arka. Embun lihat suaminya. “Aku yang pertama kan?” tanya Arka lirih. Jangankan menjawab. Berpikir pun Embun tak bisa. Pertama kalinya ada tangan orang lain yang menyentuh di bawah sana. Embun benar-benar dimabuk kepayang. Tak mendengar jawaban. Arka dengan sengaja memasukkan jari, mencari pintu masuk. “Ah!” jerit Embun, berusaha untuk kabur dari tangan Arka. Ditahan oleh Arka. Dia peluk istrinya. Pemuda itu berbisik. “Embun, aku yang pertama kan?” desah Arka. “I-Iya, Mas. Mas yang pertama. Mas yang pertama menyentuhku. Ah, Mas, tolonglah. Aku sudah tidak tahan lagi.” Arka mengangkat tubuh. Melihat Embun yang tak berdaya di bawahnya. “Oh ya?” “Kamu sudah tidak tahan apa, Embun?” tanya Arka. Dia santai meremas d**a istrinya. “T-Tolong masuki aku, Mas,” ujar Embun. Wanita itu tak tahan, menahan dan menggesek jari Arka yang masih tertahan di pintu masuknya. “Hm. Oke,” balas Arka. Dengan kejam menusuki lubang perawan Embun dengan jari tengah kirinya. “Ah. Ah. Enghhhh.” Tubuh perawan Embun kelojotan, bergetar kelimpungan ke sana ke mari. “Mas..” rintih Embun, sudah hampir menangis wajahnya. Arka tersenyum samar. Dari reaksi Embun yang seperti ini. Sebenarnya dia tahu, kalau Embun masih perawan. Dia hanya iseng saja ingin mengerjai istrinya. “Jadi, Adek berani bersumpah nih, kalau Adek masih perawan?” tanya Arka. Tangan pemuda itu masih santai keluar masuk di bawah sana. “Masih, Mas. Masih,” balas Embun dengan rintihan. Arka tersenyum puas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD