Denting piring dan sendok terasa memekakkan di telinga Embun. Ocehan basa-basi keluarga Arka menjadi momok di telinga Embun.
“Tidak suka masakannya?” Suara bisik terdengar.
Embun menoleh, melihat senyum di wajah tampan suaminya.
Embun tersenyum, menjawab lembut pada suaminya. “Suka kok,” jawabnya.
Arka tersenyum, menggenggam tangan istrinya di bawah meja.
Selesai makan malam, Arka bisa dengan jelas merasakan tubuh istrinya bergetar. Arka jujur tak sampai hati, menggandeng istrinya menuju ruang keluarga.
Tangan Embun berkeringat dingin, duduk di antara keluarga besar suaminya.
“Ehem.” Ibu Rusdiah memulai.
Kata beliau, “Embun, dengan sangat terpaksa, kami harus minta kembali emas mahar dan emas seserahan dari kami.”
Hening dalam ruangan. Semua mata mengarah pada Embun.
Wajah Embun terlihat bingung. Dia lihat suaminya. Arka pasrah mengangkat bahu.
Embun pun melihat ibu mertunya. “M-Maksud Umi?” tanyanya.
Hajjah Rusdiah berdecak kesal. “Sudahlah. Tidak usah berpura-pura tidak tahu. Kami sudah sangat jijik dengan keluarga kamu, Embun!”
“M-Maksud Umi?”
Hajjah Rusdiah dengan wajah yang memerah berdiri, naik pitam menunjuk wajah menantunya. Suaranya meninggi saat berkata, “Ayahmu morotin keluarga kami masih pura-pura tidak tahu?!!”
“Umi.” Haji Salman lembut mengingatkan sang istri.
“Hmph.” Hajjah Rusdiah kembali duduk dengan wajah kesal. Keluarga besar Arka ikut melihat kesal pada Embun.
“Kamu yang jelaskan pada istrimu, Nak,” kata Haji Salman pada putra sulungnya.
Arka menarik napas dalam. Dia lihat wajah istrinya yang pucat pasi.
“Sayang.” Arka lembut memulai, dia remas pelan tangan istri dalam genggaman.
Embun bergetar menjawab suaminya. “I-Iya, Mas?”
Arka hati-hati saat berkata, “Kemarin, H-1 kita menikah, Bapak datang ke rumah. Bapak minta uang ke kami.”
“M-Maksud Mas?”
Suara dengusan terdengar dari segala penjuru. Embun benar-benar menulikan diri.
Arka sabar menjelaskan. “Bapak datang minta lima puluh juta satu hari sebelum kita nikah. Bapak mengancam akan membatalkan pernikahan jika tidak diberi. Padahal sebelumnya Abah sudah lunasin hutang Bapak tiga puluh juta sebagai syarat Mas nikahin kamu.”
Embun gelagapan menjawab, “T-Tapi, Mas. A-Aku sungguh tidak tahu. Aku sungguh-sungguh tidak tahu jika Bapak minta uang ke keluarga Mas. B-Bapak juga sudah minta tiga puluh juta ke aku. B-Bapak bilang tidak mau merepotkan keluarga Mas k-kata Bapak.”
“Halah. Sama saja. Anak sama Bapak sama saja. Hobi sekali pamer, membual!” Bibi Arka keras menimpali.
Embun benar-benar menitikkan air mata. Saat dia menoleh, semua orang di ruang keluarga melihatnya penuh kebencian.
Hajjah Rusdiah dingin menyahut, “Tidak usah menangis, memang seperti itu kan? Bapakmu sepanjang jalan selalu banggain kamu, yang beasiswa lah, yang ini lah, yang itu lah. Cuih. Buktinya kamu sampai umur dua puluh enam juga belum nikah. Tahu kenapa? Ya karena bapakmu itu! Siapa juga yang mau berbesan dengan penjudi. Kalau bukan Arka yang desak, tidak akan sudi Umi punya menanti sepertimu!”
Plas. Bagai diguyur air tubuh Embun.
“Umi jangan seperti itu!” Haji Salman tegas mengingatkan.
“Arka dan Embun sudah menikah sekarang. Jangan berkata begitu pada menantu kita!” imbuh beliau.
“Iya, iya, Abah. Tapi kenyataannya seperti itu kan? Abah juga pasti malu punya besan macam Fauzi. Untung dia punya anak cantik. Buta sekali anak kita mau sama perempuan dari bibit tak jelas begitu.”
“Haduh.. Mia, ambilkan barang Kakak di kamar. Di laci paling atas,” kata Arka pada adiknya.
“Iya,” jawab Mia. Melengos malas-malasan menuju kamar kakaknya.
Embun menoleh kaget pada suaminya. Embun tahu apa yang disimpan Arka di laci paling atas.
“Mas mau ngasih maharku?!” tanya Embun tak percaya. Air matanya kembali menetes tak diundang.
Arka mengembuskan napas pasrah. “Ya mau gimana, Yang. Anggap saja emas-emas itu buat gantiin yang Bapak minta kan?”
“Tapi itu hakku, Mas. Itu hakku!”
Arka genggam tangan istrinya. “Tenang ya. Nanti kalau Mas sudah punya uang, Mas ganti mahar kamu. Mas belikan juga perhiasan yang lebih banyak dari seserahan kemarin. Sabar ya?” hibur Arka.
Embun sungguh ingin menangis. Tak menyangka di usia pernikahannya yang baru seumur jagung harus mengalami hal seperti ini.
“Ini, Ma.” Mia datang, membawa kotak perhiasan seserahan Embun.
Hajjah Rusdiah seksama memeriksa kotak, menghitung jumlah dan lain sebagainya.
“Andai Bapak kamu gak bikin ulah ya gak akan seperti ini kan? Jadi jangan salahkan kami, salahkan Bapak kamu,” kata beliau.
Seseorang menyahut, “Benar lho, Dik, nggak tahu malu banget. Masa tadi Mbak Yu dapat laporan keluarga Embun minta rendang ke dapur!”
“Iya benar, Yuk. Aku pikir tadi ke dapur mau bantuin cuci piring, eh rupanya datang ke belakang minta bungkus,” sahut yang lain.
“Di belakang minta juga? Tadi di depan aku lihat mereka bungkusin yang di atas meja lho. Nggak tahu malu. Bawa kresek sebanyak itu.”
“Malu-Maluin.”
“Katanya sih mau dikasih ke tetangga.”
“Ngasih tetangga ya usaha sendiri lah. Kok mulung di orang buat ngasih tetangga.”
“Bohong kali, Yu. Paling juga dimakan sendiri.”
“Hahaha.”
“Hahaha.”
Kepala Embun menunduk, kian menunduk seiring dengan cercaan yang terlontar. Bisikan-Bisikan Arka yang mencoba menenangkannya tak mampu dia dengar. Embun malu sekali. Harga diri Embun benar-benar tak bersisa.
***
Malam itu, Embun tak bisa tidur. Dia tidur miring memunggungi suaminya. Kamar mereka hening. Tak ada lagi gurauan pengantin baru. Yang ada hanya air mata Embun yang menetes dalam diam. Basah di bantal kamar suaminya.
Lama terdiam, Arka berguling miring, memeluk istrinya. “Maafkan keluargaku ya?” bisiknya. Dia kecup pipi basah istrinya.
“Apa aku sehina ini?” tanya Embun dengan suara serak.
“Bahkan untuk maharku pun aku tak berhak,” kata Embun.
Arka kecup air mata istrinya. “Maaf. Maaf sekali. Mas pasti akan ganti mahar kamu, Sayang.”
“Mas janji. Mas pasti gantiin mahar kamu dengan yang lebih baik. Percaya sama Mas.”
Embun membalik badan. Berlinangan air mata melihat suaminya. “Janji ya, Mas?” bilangnya.
“Iya. Pasti kok, Sayang.” Arka kecup bibir basah istrinya. Dia perdalam ciumannya. Lembut mengisap.
Embun masih sesenggukan, dihibur terus oleh Arka. Wanita itu kemudian tertidur dalam dekap suami.
***
Esok harinya, Embun sudah lebih tenang. Dia bangun pagi-pagi, membantu membuat sarapan bersama bibi-bibi Arka yang masih tinggal. Wanita cantik itu hanya tersenyum setiap kali keluarga Arka mengeluarkan sindiran-sindiran.
Arka yang sudah menduga istrinya akan dibegitukan, cepat-cepat menyelesaikan kopi paginya.
“Aku ke belakang dulu,” pamit Arka pada ayah dan paman-pamannya.
Lelaki itu bergegas mencari istrinya. Embusan napas lega kala melihat istrinya tengah mencuci piring di westafel. Dia mendekat, berbisik pada istrinya, “Habis sarapan kita pulang.”
Embun menoleh, melihat senyum di wajah teduh suaminya.
“Iya, Mas?” tanyanya. Dia tadi masih tak fokus saat Arka bicara.
“Habis sarapan kita pulang,” ulang Arka.
Wajah Embun penuh tanda tanya, sebelum akhirnya paham akan maksud suaminya. Embun tahu kalau suaminya tak ingin mereka lama-lama di sini.
“Iya,” balas Embun dengan senyuman.
Arka balas tersenyum, mengecup lembut pipi istrinya.
“Pengantin baru, pengantin baru!” goda bibi yang melihat.
“Hehe. Iya, Bu De. Baru juga kemarin nikah,” balas Arka.
“Sudah unboxing belum? Hahaha.”
“Hahaha,” tawa yang lain.
Guyonan demi guyonan terlontarkan, mengalihkan perhatian ibu-ibu yang semula fokus menghujat Embun. Hati Embun pun terasa lebih ringan. Ditemani terus oleh Arka.
Sepulang mereka ke rumah Embun, suasana di antara Arka dan Embun tak seromantis sebelumnya. Hingga beberapa hari ke depan, mereka berada dalam suasana diam-diaman. Meski Embun selalu tersenyum dan melayani keperluan Arka, tapi Arka pun tahu diri.
Pasangan itu duduk diam-diaman di karpet ruang tengah. Arka menunggui istrinya yang tengah menyetrika.
“Dek, Mas janji banget, Mas pasti gantiin mahar kamu,” kata Arka.
“Terserah Mas saja,” balas Embun.
“Dek, kita masih pengantin baru. Tidak bisakah kita bertengkarnya lain kali saja?” mohon Arka.
Embun lihat suaminya. “Apa kita sedang bertengkar?” tanyanya.
“Arghh,” lenguh Arka frustrasi.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Arka sudah ingin sekali menjamah tubuh istrinya, tapi Arka tak berani. Suasana masih belum mendukung. Arka harus sabar.
***