4. Keluarga Mas Arka

1484 Words
Setengah sembilan pagi, keluarga besar Embun terlihat berbahagia, berkumpul bersama di depan rumah Embun. Untuk acara Ngunduh Mantu di tempat Arka, Embun menyewa satu mobil elf untuk keluarga dan satu mobil pengantin untuknya dan Arka. Nanti pukul sepuluh, akan ada lagi dua elf yang Embun sewa, khusus untuk tetangga-tetangga dekat yang dia undang ke acara resepsi di rumah Arka. Arka pagi ini terlihat berbeda. Senyumnya tak selebar kemarin, apalagi saat sedang bicara dengan Bapak dan keluarga besar Embun. Jujur, Embun menyesal sudah bercerita tentang masa lalunya. Perjalanan ke rumah Arka di desa sebelah, mobil pengantin Arka dan Embun sepi, hanya sayup-sayup musik kasidah yang menemani. Sopir yang mengantar juga tak banyak bicara, fokus saja menyetir. “Mas marah?” tanya Embun. Arka melirik ke arah istrinya. Dia angkat genggaman tangan mereka, dia ciumi tangan istrinya. “Jujur, aku kasihan sama kamu,” jawab Arka. Senyum lega menghiasi wajah cantik Embun. “Aku pikir Mas marah sama aku.” Arka masih belum tersenyum, dia raih tubuh istrinya ke dalam pelukan. Embun manja semakin bersandar, merasakan belai lembut suaminya. *** Belum juga mereka sampai di rumah Arka, lagu dangdut hajatan terdengar sangat kencang terbawa angin. Belum lagi saat mereka tiba di rumah Arka, Embun benar-benar terpukau oleh kemegahan panggung resepsi. Mulai dari kursi, meja, tarup, hingga ke hiasan lampu, semuanya sangat jauh berbeda dari yang kemarin di rumah Embun. Semakin terasa kalau keluarga mereka berada di level yang berbeda. Keluarga besar Arka menyambut, menunggu di depan rumah. “Mari, mari. Silakan masuk.” Abah dan Umi tersenyum lebar pada para tamu. Berhubung acara masih dua jam lagi, khusus untuk rombongan keluarga yang Embun bawa, semuanya bisa bersantai menikmati suguhan dan ramah tamah keluarga. “Menantuku!” Umi tersenyum lebar saat melihat Embun. Dia peluk anak dan menatunya bergantian. Embun tersenyum sopan, membungkuk untuk mencium tangan kedua orang tua Arka. “Apa kabar, Embun? Makin cantik saja,” sapa Umi ramah. “Kabar saya baik, Umi,” jawab Embun. “Alhamdulillah. Alhamdulillah.” Umi hangat menepuk-nepuk punggung Embun. Jujur, Embun merasa bahagia, melihat dia dan rombongan diperlakukan sangat ramah oleh keluarga Arka. Abah juga terlihat ramah pada Bapak. Meski perbedaan kasta sosial terlihat jelas dari baju yang mereka kenakan, Abah tak ragu untuk memeluk dan merangkul Bapak di depan semua orang. Embun bahagia sekali. “Ayo. Ayo masuk dulu. Di dalam lebih nyaman,” kata Abah. Arka menggandeng istrinya untuk berdiri di sebelah orang tuanya, seperti turut menyambut kedatangan para tamu, padahal aslinya mereka juga tamu. Satu per satu keluarga besar Embun masuk. Tak sengaja, Embun lihat saat Umi melihati barang seserahan. Rasanya seperti ada yang aneh di hati Embun. Keluarga Arka memang kaya, yang Embun bawa tentu tidak ada apa-apanya dengan seserahan mereka kemarin. Rasa tak percaya diri menyelimuti hati Embun. “Melamun apa?” bisik Arka di sebelah. Embun menggelengkan kepala. Dia tersenyum pada suaminya. Abah dan Umi melihat interaksi Arka dan Embun, mereka tersenyum melihat kedekatan anak dan menantunya. Begitu keluarga Embun semua sudah masuk, Umi hangat memeluk menantu pertamanya. “Masuk dulu, Nak,” kata Umi. Wanita itu ramah mengajak Embun masuk rumah. Rumah Arka sangat besar dan luas. Ruang tamunya saja mungkin empat kali lebih luas dibanding ruang tamu Bapak. Karpet tebal yang super halus terhampar, dengan bau-bau harum dupa Arab memenuhi ruangan. Aneka suguhan dari ujung ke ujung terhidang semua. Perasaan minder menyeruak. Embun teringat akan kondisi rumah dan suguhan mereka kemarin. “Mia! Bawa ini ke kamar Kakak.” Arka yang tak sengaja melihat adik bungsunya menyerahkan tas jinjing milik Embun. Dia suruh bawa ke kamar. Mia yang masih SMA itu bersungut-sungut, kesal karena kakaknya mencubit di pipi. Embun sebenarnya ingin tertawa melihat wajah Mia yang menggemaskan, tapi tak berani. Arka menggandeng istrinya ke bagian tengah Duduk di kursi lantai yang nyaman. Rumah Arka sangat megah, harum ber-AC membuat nyaman. Karpet yang digelar juga sangat empuk. Tebal dan hangat. Kerabat-Kerabat antar dua keluarga saling beramah-tamah. Embun dan Arka duduk tak lama, hanya sempat menghabiskan teh secangkir saat Umi memberi kode. “Ayo, Dek,” bilang Arka. “Ke mana, Mas?” tanya Embun. “Saatnya dandan, hehe.” “Oh iya, lupa.” Embun lihat Umi yang berdiri di pintu menuju ruang tengah. Di belakang beliau, dua orang dengan boks kosmetik berdiri setengah berlutut. Embun pun berpamitan, mengikuti langkah suaminya. Mereka rupanya menuju kamar Arka di sebelah kanan tangga. Kamar Arka tak kalah mewah dari ruang tamu. Semuanya bernuansa emas. Gorden tinggi berwarna cokelat keemasan menambah kemewahan. Rasa minder benar-benar menghantui Embun. “Ini kamar Mas?” tanya Embun basa-basi. Dia lihati deretan foto wisuda Arka dari TK sampai kuliah. “Iya,” jawab Arka. Petugas rias ikut masuk ke kamar, bersiap melaksanakan tugas. “Mau cuci muka dulu, Dek? Wajah Adek kelihatan capek,” bilang Arka. Embun jawab dengan anggukan. “Di kamar Mas sama rumah bagian depan ada kamar mandi juga sih, cuman Mas pengen saja ajak Adek ke belakang, hehe.” “Iya, nggak papa kok,” jawab Embun. Arka tersenyum senang, bahagia melirik istrinya. “Aku suka saja lihat Adek jalan-jalan di rumahku. Kita jadi berasa semakin dekat, hehe.” Embun malu tak menjawab, dia peluk lengan suaminya. Menggandeng istrinya, Arka mengantar Embun ke belakang. Betapa rumah Arka luas sekali. Padahal ini baru lantai satu. Belum lantai duanya semegah apa. Ruang keluarga yang mereka lewati saja seluas ini. Belum lagi dapur. Ibu-Ibu yang sedang masak, ramah menyapa. Embun yang tak sengaja melihat ke samping rumah sampai tertegun. Di sebelah, ada banyak sekali ibu-ibu, mereka ramai berbicara bersahut-sahutan, tertawa-tawa sembari asyik memasak. “Yang sebelah itu rumah Mas juga?” tanya Embun. Arka berhenti, duduk di kursi makan. Dia ambil segelas air. “Oh. Itu cuman parkiran sih.” “Oh.” “Sini, Dek. Minum dulu.” Embun mendekat, minum disuapi suaminya. Resepsi yang diselenggarakan keluarga Arka benar-benar wah sekali. Aneka rentetan prosesi pernikahan adat Jawa yang sebelumnya hanya Embun lihat di YouTube kali ini Embun yang menjadi tokoh utama. Mencuci dan mencium kaki suami, memecah telur, saling suap-suapan, hingga sungkem ke para orang tua. Tamu yang diundang pun banyak sekali. Arka dan Embun sampai berganti baju hingga empat kali. Sekitar lima atau enam jam kemudian, acara baru selesai. Lelah sekali Embun. Kepalanya sejak tadi mengenakan gelung Jawa yang sangat besar. Belum juga aneka hiasan di baju dan tubuhnya. “Ayo ke kamar, Dek. Capek banget. Ayo istirahat mumpung ada waktu. Kata Umi nanti habis Isya wajib ikut makan malam bareng.” Embun yang kelelahan asal mengangguk. Jalan saja kesulitan. Jarit yang dia kenakan sangat ketat, untuk berjalan pun sulit. Sampai kamar, penata rias sigap membantu, mereka lepaskan baju dan aksesoris pengantin yang begitu njelimet dan seabrek. Setelah beres langsung pergi, memberi privasi. “Adek nggak papa kan?” tanya Arka khawatir. Embun menggeleng. “Capek dikit doang kok, Mas,” jawabnya. Dia lihat suaminya dari pantulan kaca. Fokus menghapus riasan. Arka mendekat, memeluk istrinya dari belakang. “Semangat!” bisiknya. “Terima kasih.” Embun berbalik. Dia berikan juga kapas dan produk pembersih riasan. Pasangan suami istri tersebut saling membersihkan wajah satu sama lain, tersenyum satu lain. Yang tak Embun duga, begitu wajah mereka bersih dari riasan, Arka tiba-tiba mendorong Embun rebah ke kasur. Mata pemuda itu terlihat gelap, tertutup oleh nafsu. Bibir pemuda itu turun, mengklaim bibir istrinya. Ciuman mereka panjang dan basah. Suara kecupan bertubi-tubi, meninggalkan jejak di leher putih sang pengantin wanita. *** Selesai Isya, baru terasa malunya. Embun lupa kalau di rumah Arka masih ada banyak orang. Bibirnya bengkak, tadi dicium dan diisapi Arka terlalu lama dan terlalu kuat. Belum juga jejak-jejak cumbuan di leher. “Serius nih nggak papa, Mas?” tanya Embun pada suaminya. Arka tertawa pelan. “Ya nggak papa lah. Kita kan sudah nikah. Pengantin baru lagi. Seluruh dunia pasti memaklumi.” Wajah Arka terlihat senang. Dia kini sudah berganti dengan setelan batik. Kembar disediakan keluarganya untuknya dan Embun. Embun coba tutupi lehernya dengan rambut, berharap bekas-bekas kecupan suaminya tertutupi. Arka yang selesai menata rambut, bahagia menggandeng istrinya. “Ayo, Dek,” ajaknya. Di ruang makan sudah ada banyak orang. Beberapa kursi ditambahkan untuk kerabat dekat yang masih tinggal dan ikut makan malam bersama. Embun dan Arka duduk bersebelahan. Arka terlihat bahagia, melayani istrinya dengan aneka makanan. “Balik ke rumah kapan, Nduk?” tanya Abah ke Embun. ‘Nduk’ atau ‘Genduk’ adalah panggilan Bahasa Jawa untuk anak perempuan. Embun menelan dulu makananku sebelum menjawab, “Terserah Mas Arka, Bah,” jawabnya. Suara dengusan terdengar. Embun sedikit terkaget. Menoleh tak percaya. Sejak tiba tadi, Embun memang belum berani melihat siapa saja di ruang makan, tapi sekarang, begitu dia mengangkat wajah, dia baru sadar, rupanya semua orang di ruang makan menatap angkuh padanya. Embun sungguh tak mengerti. Bahkan Umi yang sebelumnya ramah pun kini melihatnya tak senang. Embun lihat suamianya, tapi Arka terlihat tenang melanjutkan makan. “Setelah makan, kumpul sebentar di ruang tengah ya? Uminya anak-anak ingin bicara,” kata Abah. Tuhan, Embun ketakutan sekali sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD