Di dalam mobil.
Shivani menjatuhkan kepalanya pada stir. Dia tidak tau lagi dengan apa yang dia pikirkan. Perkataan Jovanka masih terngiang di kepala seperti kaset rusak yang memutarkan kalimat yang sama secara berulang.
Semua kata kata itu lamat lamat merasuk dan menjadi benalu dalam otak kecilnya.
Shivani sendiri tidak tau arti dari setiap kata yang Jovanka katakan. Raiden sudah meninggal?
Tidak mungkin.
Itu pasti bohong.
Kalau Raiden benar benar sudah tidak ada, Mama dan Papa pasti tidak akan menyembunyikan perihal sepenting ini darinya. Setidaknya, itu yang dia yakini di dalam hati. Tapi, omong kosong macam apa ini?
Dia benar benar tidak mengerti.
Dia merasa ingin menangis. Tapi dia tidak tau lagi apa yang harus dia tangisi. Apakah dia harus menangisi omong kosong yang tidak jelas benar atau tidaknya?
Tidak mungkin!
Bisa saja Jovanka salah.
Dan bisa saja apa yang Jovanka katakan hanya lelucon, hanya kelakar, hanya seloroh, atau hanya gurauan yang tidak perlu di masukan ke hati.
Tidak ingin membuang waktu dengan sesuatu yang hanya membuat pusing, Shivani menaikan wajahnya secara perlahan. Dia menghidupkan mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Dia pikir dia memerlukan penjelasan yang sejelas jelasnya dari orang yang tepat. Dan dia pikir orang itu adalah Orang Tua Raiden, Tante Sushi dan Om Bowo. Iya, dia merasa mereka adalah orang yang tepat untuk dia mintai penjelasan agar segala hal tidak menggantung dan membuatnya terus bertanya tanpa ada jawabannya.
Masalah seserius ini, harus segera di selesaikan secepat yang dia bisa atau akan semakin runyam kalau menunda klarifikasi. Setidaknya, asumsi tanpa konfirmasi adalah sesat. Itu yang dia pelajari selama menjadi mahasiswa di Faculty of Arts & Social Sciences di National University of Singapore.
Beberapa menit terasa seperti beberapa jam.
Waktu berjalan sangat lama meski dia sudah menggunakan kecepatan tinggi untuk mengejar ketertinggalan. Semua karena pikirannya terlalu kacau dan cemas di waktu yang hampir bersamaan. Membuat waktu berjalan layaknya siput dengan jalanan yang tidak kunjung mengantarkan dirinya ke tempat tujuan yang sedari awal tidak ada niat untuknya mengunjunginya.
"Oh sh-it!"
Shivani mengumpat saat mobil lain menyalip mobilnya. Sebuah mobil Audi R8 coupe warna biru metalik berjalan begitu saja melewati mobilnya. Menyadari kalau mobil yang dia kendarai hanya mobil butut dan tidak mungkin menyaingi kecepatan tinggi mobil seperti itu, dia hanya bisa mengutuk di dalam hati.
Audi R8 bukanlah mobil murah yang orang seperti dirinya bisa membeli. Hanya golongan tertentu dan jelas dia tidak termasuk dalam circle itu.
"Sudahlah! Tidak perlu di perdulikan." Shivani mencoba acuh. Itu hanya Tuan Muda dari keluarga kaya yang pastinya hanya tau cara bersenang senang. Jadi, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Shivani menghentikan mobilnya di halaman sebuah Rumah berlantai dua di kawasan sepi penduduk pinggiran Jakarta. Di daerah ini hanya ada beberapa unit rumah yang di bangun oleh pemilik tanah karena berdasarkan hukum kepemilikannya adalah Tanah Warisan dari leluhur secara turun menurun. Sedangkan mereka mempercayai kalau mereka akan mendapat kutukan kalau menjual tanah tanah mereka. Jadi, secara garis besarnya, hanya keluarga dan anak cucu yang mendiami tanah tanah setempat.
Itu adalah alasan kenapa wilayah itu sepi penduduk. Bukan perumahan padat atau perumahan elite seperti yang Mama dan Papa tinggali.
Shivani turun dari mobil.
Dia berjalan mendekat ke arah beranda Rumah yang dulu sering menjadi tempatnya duduk berduaan bersama Raiden.
Shivani tersenyum tanpa sadar.
Siluet gadis remaja naif dengan kekasihnya seolah masih nyata dalam ingatan. Mereka berpegangan tangan, tertawa, dan menghabiskan banyak kosa kata hanya untuk bercengkerama, hanya untuk berbagi banyak hal yang hanya bisa terucap dari bibir masing masing. Sesekali ciuman kecil akan mendarat pada kepala si gadis sebagai bukti kalau kekasihnya amat sangat mencintai.
Shivani mengedipkan mata saat gambar gambar itu lenyap tertiup angin.
Kini tidak ada lagi remaja naif yang dulu begitu lemah dan takut melakukan banyak hal. Sekarang yang ada hanya dirinya yang kuat dan berani untuk memulai tantangan, untuk mengambil resiko, untuk melakukan hal hal baru, dan untuk mencintai Raiden dengan caranya sendiri.
Dia bersumpah tidak akan memaafkan Jovanka kalau ternyata apa yang di ucapkan adalah salah, kalau ternyata Raiden masih hidup, menunggunya, mencintainya dan siap menikahi dirinya begitu dia kembali dari Singapura.
Shivani menghentikan langkah begitu tiba di depan pintu. Dia menekan bell kemudian mundur satu langkah, sedikit menjauh. Dia menunggu si pemilik Rumah muncul sembari melihat keadaan sekitar.
Suasana Rumah ini tampak tidak jauh berbeda saat terakhir kali dia melihatnya. Rumah Modern Tropis seperti ini sangat cocok untuk di bangun di wilayah ini. Bagaimanapun, negara ini menjuntai di garis Khatulistiwa, membuat negara kepulauan ini memiliki iklim tropis yang hangat. Berbeda dengan negara-negara yang berada di utara maupun selatan garis Khatulistiwa dengan iklim empat musim, negara dengan iklim tropis hanya memiliki dua musim utama yaitu penghujan dan kemarau. Sebab itu juga sejak zaman dahulu nenek moyang bahkan sudah merancang rumah rumah tradisional yang cocok dengan iklim tropis tersebut.
Dan Rumah bertema modern Tropis dengan banyak pohon pohon hijau di halaman, tanaman tanaman kecil hijau di dalam rumah, rumput rumput hijau, juga berbagai macam jenis bunga dengan dedaunan hijau, begitu menyejukkan mata saat di lihat.
Rumah orang tua Raiden juga demikian. Begitu asri seolah mereka tinggal di hutan dan di kelilingi ular beracun seperti di dalam film.
Beberapa saat menunggu, namun tidak ada tanda tanda keberadaan manusia lain selain dirinya. Shivani mulai bertanya tanya. Kemana perginya Tante Sushi dan Om Bowo?
Kemana perginya Raiden?
Kemana juga perginya Cathy, kucing kesayangan Raiden?
Kenapa rumah begitu sepi seolah tidak berpenghuni, seakan yang mendiami tempat ini adalah makhluk tak kasat mata yang hanya bisa di lihat oleh orang orang tertentu?
Tok tok tok..
Shivani mengetuk pintunya hingga berulang kali. "Tante Sushi, ini aku Tante, Shivani. Tolong buka pintunya! Aku ingin ketemu Raiden, aku ingin bicara empat mata dengan Tante." Selesai Shivani berkata, keadaan kembali hening. Suasana mencekam membuat perasaannya semakin tidak nyaman.
Shivani menyentuh dadanya.
Sebenarnya, apa yang terjadi?
Kenapa semua begitu rumit dan membingungkan?
Tubuh Shivani luruh ke lantai. Sebelah kakinya di tekuk dengan punggung yang menempel pada pintu. Dia menundukkan kepala sembari memikirkan banyak hal.
Semua ini..
Kejadian ini..
Semua yang terjadi..
Seperti kepingan puzzle yang tidak terangkai utuh. Menjadikannya seperti teka teki yang harus di pecahkan. Seperti memberikan halangan penuh kebimbangan dan tanda tanya tanpa dia bisa bertanya kepada siapapun.
Rumah rumah tetangga cukup jauh, Shivani bertanyapun, percuma, dia yakin mereka tidak tau apapun. Mereka biasanya terlalu cuek dengan keadaan sekitar dan tidak peduli dengan rumah rumah di sebelahnya. Jadi, dia tidak akan mendapatkan informasi apapun sekalipun dia bertanya.
Sekarang dia hanya bisa menunggu. Menunggu seseorang yang mungkin datang dan menjelaskan sesuatu kepadanya.
------•
--•
Sore harinya.
Shivani membuka mata saat mendengar deru mobil mendekat dan berhenti di halaman. Dia menaikan wajah dan mengerjapkan mata hingga berkali kali. Sekian lama menunggu, setelah melihat sosok yang ingin di lihatnya, dia segera berdiri.
"Shivani?" Tante Sushi yang begitu turun dari mobil melihat Shivani berada di beranda rumahnya, dia segera mendekat dan memeluk gadis itu erat. "Jadi, ini benar benar kamu?" Tante Sushi seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bertahun tahun tidak bertemu, saat melihat Shivani berada di dalam pelukannya, dia merasa ini seperti mimpi.
"Iya, Tante." Shivani membalas pelukan Tante Sushi. "Ini aku, Shivani." Dia tak kuasa menahan air mata saat merasakan pelukan hangat ini. Dia rindu. Sangat rindu.
Tante Sushi melonggarkan pelukannya. Dia menyentuh bahu Shivani dan memandangi lekat wajah cantik itu. "Kamu sudah tumbuh dewasa dan kamu.. sangat cantik." Ucapnya penuh kebanggaan. Beberapa tahun yang lalu, Shivani hanyalah gadis remaja dengan pakaian putih abu abu yang sering menghabiskan waktu di sini, di Rumahnya. Dan sekarang, setelah Shivani kembali dari luar negri, gadis kecil itu tampak berubah menjadi wanita dewasa yang rasanya cukup untuk di nikahi. Mengingat sikap baik dan bijaksana Shivani, dia yakin Shivani adalah menantu dan istri terbaik yang pernah ada.
Sayangnya, dia tidak memiliki kesempatan itu lagi.
Dia sudah kehilangan kesempatan untuk menjadikan Shivani sebagai Istri untuk putranya ataupun menantu untuk dirinya.
Tapi, tak apa. Sejak dulu, dia selalu menganggap Shivani seperti putrinya sendiri dan itu tidak akan berubah meski apapun yang terjadi.
"Terima kasih, Tante." Shivani menjawab malu malu. Dia tersenyum saat melihat tatapan lembut Tante Sushi menembus pertahannya.
"Masuk dan ceritakan bagaimana pendidikan mu." Tante Sushi mempersilahkan Shivani untuk masuk setelah dia membuka pintunya. "Om Bowo sedang ke luar kota untuk mengurus beberapa hal." Tante Sushi menjelaskan meski Shivani tidak bertanya. Mereka sudah seperti keluarga, jadi dia merasa Shivani bukan orang asing lagi.
Shivani tersenyum sebelum akhirnya mengikuti Tante Sushi masuk ke dalam sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Om Bowo tidak berada di rumah, pantas saja kadaan benar benar sunyi. "Lalu, dimana Raiden, Tante?" Shivani bertanya setelah tidak mendapati Raiden di manapun namun Tante Sushi seperti tidak berniat untuk menjelaskan apapun. Membuat dia mau tidak mau, bertanya juga pada akhirnya.
Langkah kaki Tante Sushi terhenti saat mendengar pertanyaan Shivani. Dia diam sebentar sebelum membalikkan badan dan berjalan menghampiri Shivani yang berdiri tidak terlalu jauh dari dirinya.
"Ada apa, Tante? Kenapa Tante menatap ku seperti itu?" Shivani bertanya setelah melihat Tante Sushi menghentikan langkah dan berdiri tepat dii depannya. "Tante, jangan buat aku takut." Shivani menambahkan saat Tante Sushi menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa kita hentikan, Shivani. Ada sesuatu hal yang terjadi begitu saja tanpa kita tau harus bagaimana cara menyelesaikannya." Tante Sushi memulai pembicaraan dengan nada suara sangat serius.
"Apa maksud Tante yang sebenarnya? Aku tidak mengerti?" Shivani menunjukkan wajah polosnya. Pada nyatanya, dia memang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Tante Sushi yang berbelit belit.
"Raiden.." sudah tiada. "Kamu tidak bisa mengharapkan dia lagi."
"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Raiden adalah harapan ku satu satunya. Dan aku tidak akan berhenti mengharapkan Raiden. Kami tidak akan terpisahkan dan tidak ada yang bisa memisahkan kami, kecuali.." Shivani menjeda kalimatnya sebentar. "Kematian." Tambahnya. Shivani gigih dengan keputusannya. Hanya Raiden dan dia yakin tidak ada yang lain yang bisa menggeser apa lagi menggantikan posisi pria itu di dalam hatinya.
Tante Sushi diam tak bergeming. Dia tau Shivani akan sangat terpukul saat mengetahui kenyataan yang terjadi. Itu pula alasan kenapa Raiden melarang semua orang agar tidak memberitahukan perihal sakitnya kepada Shivani.
Terpikir satu hal, Shivani meraih tangan kanan Tante Sushi kemudian menggenggamnya erat. "Aku tidak tau kenapa Jovanka mengatakan omong kosong kepadaku. Dan aku datang ke sini untuk memastikan kalau omong kosong itu tidak benar. Jawab Tante! Ku mohon! Katakan kalau Jovanka hanya bergurau! Katakan kalau Raiden ada di sini! Katakan, Tante! Katakan!" Shivani mulai emosional. Sampai detik ini dia masih terguncang dengan omong kosong Jovanka, dan dia tidak mau Tante Sushi juga membenarkan omong kosong itu.
"Maafkan Tante, Shivani. Raiden yang melarang kami untuk memberitahumu. Dia takut itu akan mengganggu pendidikan mu di sana. Raiden tidak mau kamu khawatir, jadi dia melarang kami untuk berbicara dan meminta kami untuk menyembunyikan kebenarannya." 'Kami' yang Tante Sushi maksud di sini adalah semua semua orang yang mengetahui tentang hubungan Shivani dan Raiden termasuk orang tua Shivani sendiri. "Raiden yang memintanya. Tapi, percayalah.. keputusan apapun yang Raiden ambil adalah yang terbaik." Imbuhnya dalam upaya meyakinkan Starla agar tidak membenci siapapun yang sudah menyembunyikan ini.
Shivani terkejut. Dia berusaha mengukir senyum yang kemudian dia sunggingkan bersama gemuruh emosi di dalam hati. "Apa maksud, Tante? Aku tidak ingin mendengarkan pembenaran, Tante. Aku hanya ingin Tante menyanggahnya. Menyanggah semua omong kosong yang aku dengar dari Jovanka. Katakan kalau semua itu salah! Hanya itu. Aku tidak membutuhkan penjelasan lain yang tidak aku butuhkan." Selesai berkata, Shivani menjatuhkan setetes air mata di pipi. Hatinya terasa hancur saat mendengar rangkaian kata yang Tante Sushi lontarkan. Entah kenapa perkataan Tante Sushi seperti pembenaran atas perkataan Jovanka, membuat dia meluruhkan air mata meski sudah dia tahan sebisa mungkin.
"Maafkan Tante, Shivani." Tante Sushi meraih tubuh Shivani kemudian memeluknya.
"Jadi, Raiden benar benar sudah tiada?" Suara Shivani sangat rendah, bahkan nyaris tidak terdengar. Meski tidak sanggup menanyakannya, namun dia tetap harus memberanikan ini agar mengetahui kebenarannya.
"Tante gagal. Tante tidak bisa menjaga Raiden dengan baik. Salahkan saja Tante. Salahkan Tante." Suara parau Tante Sushi menemani air mata yang membasahi pipi.
Shivani menutup mulutnya. "Ini.. ini.. ini tidak mungkin. Raiden tidak mungkin meninggal. Raiden tidak mungkin." Setelahnya, tangisan Shivani semakin keras terdengar. "Raiden tidak boleh mati, Tante. Raiden tidak boleh."