TMP ~ Sangat terkejut

1695 Words
Shivani bersenandung sembari memfokuskan pandangan ke jalan raya di depannya. Tangannya sibuk memegang stir. Pikirannya pergi kemana mana. Berpindah dari satu masalah ke masalah lain. Bukan! Lebih tepatnya adalah berpindah dari satu ingatan ke ingatan lain. Ingatan tentang dirinya, ingatan tentang Raiden, ingatan tentang mereka, haish.. ingatan itu, kenangan itu, semua membuatnya ingin kembali ke masa itu. Beberapa menit berlalu dan mobil yang dia kendarai tiba di depan sebuah Rumah Sakit terbaik kebanggaan kota ini. Sebuah Rumah Sakit dimana Raiden bekerja sebagai Dokter Bedah Umum tetap yang mendedikasikan seluruh hidup di sana. Itu yang dia tau tentang Raiden. Itu juga yang selalu dia kagumi dari pria itu. Konsistensi dan dedikasi Raiden di dunia kesehatan selalu dia support dan menjadi kebanggaan tersendiri untuknya. Shivani tersenyum kecil sebelum turun dari mobil. Dia ingat kalau dulu dia akan datang sesekali untuk membawakan makan siang untuk Raiden, kemudian Raiden akan memberikan kecupan di tangan. Adalah momen yang dia rindukan. Juga momen yang dia harap bisa melakukannya lagi di masa yang akan datang. Namun, dia berharap itu bukan lagi sekedar ciuman di tangan, namun lebih dari itu. Seperti, ciuman panas atau mungkin.. bercin-ta. Shivani terkekeh. Pikirannya amat sangat m***m kalau mengingat kejadian dimana dia dan Raiden bercin-ta sampai puas pada hari itu, pada saat itu, pada detik itu. Tidak ingin berpikiran kotor lagi, dia segera menepis perasaan itu. Sebagai gantinya, dia berjalan masuk melalui pintu masuk Rumah Sakit. Matanya sibuk mengawasi sekeliling. Suasana Rumah Sakit tampak lengang dan tampak tidak banyak orang berlalu lalang. Sebenarnya ini bukan hari libur, namun karena ini adalah pagi hari dan belum banyak orang datang untuk melakukan rawat jalan, keadaannya menjadi sangat tenang dan damai. Beberapa saat mengawasi, tatapan Shivani berhenti saat melihat seorang staf dokter yang sepertinya dia mengenalnya. Namun, dia belum begitu yakin karena bisa saja dia salah. Setelah mengamati cukup lama, dan setelah yakin kalau wanita itu memang sahabat Raiden, dia segera melambaikan tangan dan memanggil nama dokter cantik itu. "Dokter Jovanka!" Shivani memanggil dengan suara lembut, kemudian dia berjalan mendekat menghampiri sosok tinggi berpenampilan menarik selaku Dokter Spesialis Bedah Orthopedi di Rumah Sakit ini. Jovanka menoleh saat mendengar namanya di panggil. Lalu dia memiringkan kepala saat melihat seorang gadis berjalan ke arahnya. "Apa kabar, Dokter." Shivani tersenyum manis menyapa Jovanka. Jovanka mengerutkan kening. "Shivani? Apa itu kamu?" Dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bertahun tahun tidak melihat, dia takut salah orang. Shivani menganggukkan kepala. "Iya, ini aku." Jovanka tersenyum, dia mengawasi Shivani dari ujung kaki sampai ujung kepala dan terkejut karena perubahan Shivani cukup drastis. Dia ingat kalau beberapa tahun lalu Shivani datang ke sini menggunakan pakaian putih abu abu, saat itu.. Shivani masih berada di Sekolah Menengah Atas. Tapi, sekarang.. gadis itu tampak berbeda. "Kamu.." Jovanka menyentuh bahu Shivani. "Tampak berbeda. Sangat cantik dan dewasa." Tambahnya di sertai pujian yang tulus datang dari hatinya. "Tentu saja, saat ini aku memang sudah dewasa. Bukan lagi gadis naif berpakaian putih abu abu seperti beberapa tahun lalu." Shivani membanggakan diri atas perubahannya yang cukup signifikan. National University of Singapore (NUS), salah satu universitas terbaik di Singapura yang sebagian Mahasiswanya adalah campuran dari berbagai negara, dan dia berteman dengan mereka semua sampai terkadang dia mengikuti cara bicara, gaya berpakaian, budaya, hingga segala hal yang menarik tentang mereka. "Oh, Babe." Jovanka memeluk Shivani erat. "Kamu benar benar cantik. Kalau aku adalah pria, aku pasti sudah melamar mu." Jovanka menambahkan. "Untungnya kamu adalah Wanita." Shivani menjawab cepat. Lebih tepatnya adalah wanita yang sangat cantik, berkarisma, dan juga ramah. "Ngomong ngomong, apa yang kamu lakukan di sini?" Jovanka mengendurkan pelukan dan menjauhkan sedikit badannya untuk melihat raut wajah Shivani. "Kamu serius bertanya seperti itu?" Shivani menunjukkan rasa ketidakpuasan yang nyata atas pertanyaan Jovanka. Pertanyaan itu terasa aneh. Dia memang sudah lama tidak datang ke sini untuk menemui Raiden, namun seharusnya Jovanka tidak lupa kalau kedatangannya hari ini juga untuk maksud yang sama. Jovanka menggelengkan kepala. "Tidak, maksudku apa kamu tidak sehat? Atau kamu ingin menemui Dokter Reynaldi untuk melakukan pemeriksaan?" Dokter Reynaldi adalah Dokter Umum di sini. Progres kerjanya sangat bagus dan mumpuni. Jadi, dia pikir Shivani datang untuk berkonsultasi tentang masalah kesehatan atau apapun itu. "Tidak!" Shivani menyanggah pertanyaan Jovanka dengan pernyataan pasti. "Aku sangat baik. Jadi aku tidak memerlukan pemeriksaan medis. Aku hanya ingin bertemu Raiden. Sudah, itu saja." Lagi pula, saat ini dia sangat sehat. Dan kalaupun sakit, dia hanya membutuhkan Raiden sebagai obat untuk kesembuhannya. Jovanka terkejut. Ekspresinya menunjukkan kalau dia benar benar terkejut sampai jiwanya serasa menghilang. "Bertemu Raiden?" Dia terkekeh pelan. "Apa kamu bercanda?" Dia amat sangat meremehkan ucapan Shivani. Dia pikir.. Shivani sudah tidak waras. "Aku sangat serius." Shivani mulai jengah dengan perbincangan berbelit belit yang tidak langsung ke intinya seperti ini. Itu sangat membosankan dan juga membuang waktunya. "Dengar!" Jovanka menyeret bahu Shivani agar mendekat ke dinding. "Kamu gi-la!" Umpatnya pelan. "Kenapa kamu berpikir aku gi-la?" Sekarang gantian Shivani yang terkejut. "Tunggu.. tunggu!" Shivani menaikan sebelah tangannya. "Sebenarnya pembicaraan macam apa ini? Aku hanya ingin bertemu Raiden, lantas.. dimana letak kesalahannya?" Nada suaranya naik setengah oktaf, dia mulai geram dan dia menunjukkan emosi rumit itu melalui nada bicaranya. "Apa kamu sungguh tidak tau?" Jovanka bertanya pada akhirnya setelah melihat reaksi Shivani yang harus dia akui kalau itu.. aneh. Shivani mengangkat bahu. "Tau apa?" Dia tidak tau apa apa, dia bahkan tidak mengerti kemana arah pembicaraan Jovanka yang sebenarnya. "Sh-it!!" Jovanka mengacak rambutnya dengan frustasi. Dia tidak menyangka kalau ternyata Shivani tidak mengetahui apapun tentang kejadian yang terjadi enam bulan lalu. "Tidak bisakah kamu jangan berbelit belit? Kamu membuatku merasa tidak nyaman." Tidak tau kenapa alarm dalam kepada Shivani mulai berdering. Seolah mengatakan kalau ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuannya. Dan.. firasatnya sangat buruk dalam hal ini. Seperti itu sesuatu yang amat sangat fatal. "Raiden.. dia.. dia.." Jovanka tergagap. Dia adalah satu satunya orang di Rumah Sakit ini yang mengetahui betapa Raiden sangat mencintai Shivani. Dan itu pula yang membuat dirinya sulit menjelaskan. "Dia kenapa? Ada apa? Katakan dengan jelas? Aku tidak mengerti!" Shivani menggoncang bahu Jovanka. Dia semakin penasaran dengan peragai Jovanka yang membingungkan. Wanita itu seolah ingin mengatakan sesuatu yang sulit di ucapkan. "Begini! Ada sebuah penyakit di suatu area yang membengkak dan lemah di dalam Arteri. Itu terjadi saat dinding pembuluh darah melemah atau menipis. Penyebab di balik melemahnya dinding pembuluh darah belum dapat di pastikan. Namun, ada Beberapa faktor yang meningkatkan kondisi seperti ini. Nama penyakitnya adalah Aneurisma. Penyakit ini sering terjadi di aorta, otak, belakang lutut, usus, atau limpa." Jovanka menjelaskan secara perlahan dan hati hati agar tidak membuat Shivani serangan jantung saat mendengarkan. Shivani mendengarkan dengan seksama. "Lalu?" "Lalu.. gejala Aneurisma otak pada tiap penderita bisa berbeda-beda. Aneurisma otak yang masih berukuran kecil dan belum pecah sering kali tidak memunculkan gejala. Namun, seiring membesarnya ukuran Aneurisma, itu bisa sangat berbahaya. Dan kalau sampai pecah dapat mengakibatkan pendarahan internal, stroke, dan terkadang bisa berakibat fatal, seperti kematian." Jovanka kembali menjelaskan. "Lalu.. apa hubungan penyakit itu denganku?" Shivani merasa asing dengan nama penyakit yang Jovanka sebutkan. Tidak! Sebenarnya dia bahkan tidak pernah tau kalau ada penyakit semacam itu. Ini pertama kali dia mendengar setelah enam tahun masuk ke Faculty of Arts & Social Sciences (FASS atau Arts) di National University of Singapore, jadi wajar saja kalau dia tidak mengerti apapun tentang dunia kedokteran. "Ini tidak berhubungan denganmu, tapi ini berhubungan dengan Raiden. Dia.. dia seorang penderita Aneurisma di otaknya." Jovanka mulai masuk ke inti permasalahannya. "Apa?" Shivani menutup mulutnya. Setelah penjelasan berbelit belit dari Jovanka. Jadi, apa itu adalah masalah utamanya? Atau.. masih ada yang lain? "Jadi.. jadi.. apa yang kamu katakan sedari tadi adalah untuk-" Shivani tergagap. Tenggorokannya tercekat. Udara di sekitar seolah habis terserap apa yang Jovanka katakan. Apa apaan ini? Dia sama sekali tidak mau mendengar omong kosong apapun tentang Raidennya. Tidak sedikitpun. "Aku sudah menduga kalau kamu juga tidak mengetahui hal ini. Tapi, percayalah.. aku serius dengan apa yang aku katakan. Penyakit itu memang ada dan itu terjadi pada Raiden." Jovanka menekankan kata perkata yang keluar dari mulutnya. "Tapi.. bagaimana mungkin? Raiden sangat sehat dan tidak sakit sama sekali." Suara Shivani mulai parau. Dia tidak sepercaya diri seperti sebelumnya. Rasa percaya dirinya mendadak hilang di telan emosi. Raiden sehat, seharusnya begitu karena itu yang dia harapkan. "Itu yang kita tau, dan itu juga yang dia tutupi. Dia tidak pernah mengeluh, dia tidak pernah memeriksakan diri, dia tidak pernah bicara dan itu adalah masalah utama peliknya kesehatan Raiden." Jangankan Shivani, Jovanka dan para staf Dokter yang lain juga tidak menyangka kalau Raiden yang pandai mengobati, pandai membedah, dan pandai meyakinkan orang lain tentang kesehatan, mengabaikan kesehatannya sendiri. Anehnya.. sebagai seorang Dokter, Raiden justru acuh dan tidak memperdulikan kondisi tubuhnya yang sudah kritis. Setidaknya.. Aneurisma bisa di deteksi dan di sembuhkan menggunakan pengobatan bervariasi dari menunggu dengan waspada hingga operasi darurat. Pilihan tergantung pada lokasi, ukuran, dan kondisi aneurisma. Shivani menggelengkan kepala. Dia tidak mau mendengarkan apapun lagi. "Lalu.. dimana Raiden sekarang? Aku ingin melihatnya, aku ingin menemuinya." Dia ingin secepatnya melihat kondisi pria itu. Dia ingin memastikan kalau apa yang Jovanka katakan adalah salah. Jovanka terkekeh. "Kamu tidak bisa menemuinya, Shivani. Dia.. dia sudah tidak ada. Dia sudah meninggal." Selesai berkata, air mata Jovanka mengalir deras. Dia ingat saat Dokter Aris Sunardi mengatakan kalau mereka sudah terlambat. Raiden sudah lebih dulu meninggal sebelum masuk ke Ruang Operasi. "Operasi di jadwalkan pada sore hari. Namun, Raiden meninggal setengah jam sebelum operasi sempat di lakukan, dia meninggal di Ruang ICU." Jovanka menambahkan sembari mengusap air matanya. Semua orang sedih dan kehilangan pada saat itu. Dia sendiri bahkan masih sedih kalau mengingatnya. "Ini.. ini.. tidak mungkin." Shivani mundur satu langkah sampai punggungnya benar benar menyentuh dinding. "Raiden tidak mungkin mati. Dia sudah berjanji akan menikahi ku saat aku lulus dari Universitas. Dia berjanji akan membuat kami memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Dia berjanji.." Belum sempat Shivani menyelesaikan ucapannya, Jovanka Terlebih dulu memeluk erat tubuh gadis itu. "Tidak perlu di lanjutkan. Raiden sudah tenang di sana. Raiden sudah sembuh dari sakitnya. Raiden sudah bahagia. Aku tau kamu sangat mencintainya, aku juga tau dia sangat mencintaimu." Jovanka mengusap punggung Shivani secara perlahan. Dia tau seperti apa rasanya kehilangan. Itu sangat sakit. Sama seperti saat dia kehilangan orang tuanya. Benar benar menyakitkan dan dunia serasa runtuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD