TMP ~ Keegoisan Shivani

1533 Words
Dua jam kemudian. Jarum jam berputar sesuai irama. Susul menyusul membentuk harmoni yang membuat waktu 120 menit berlalu dengan cepat. Tidak ada banyak hal yang Shivani lakukan setelah bangun dari tidurnya. Dia menggeliat kemudian masuk ke kamar mandi untuk membasahi tubuhnya menggunakan air hangat. Shivani melepas pakaian, kemudian masuk ke bilik kamar mandi yang di design elegan dengan kaca bening dan shower yang ada di dalamnya. Lantai kamar mandi sendiri bukanlah porselen, melainkan bebatuan alam yang pada saat di injak, membuat kaki terasa hangat seolah aliran di dalam darah mengalir tanpa hambatan. Hanya dengan kaca bening yang tidak di tutup tirainya, dia bisa melihat toilet duduk serta sebuah lemari yang berisi handuk dan lain sebagainnya. Pada bagian sudut, dan beberapa tempat lainnya, tampak tanaman hijau menghiasi dan menyejukkan mata dengan gambaran ala pedesaan yang khas. Dia tersenyum tanpa sadar. Siapa sangka kalau Mama paham betul dengan seleranya meski sudah bertahun tahun tidak bertemu? Membuatnya bahagia saja. Selesai memakai sampo dan sabun, dia kembali membiarkan rasa nyaman menjalar begitu tetes demi tetes air luruh dari shower. Membangkitkan semacam perasaan rindu yang dalam akan masa lalu. Rindu akan seseorang. Juga rindu ingin mengulang kenangan indah bersama orang itu. Pria tampan yang selama beberapa tahun tidak bisa Shivani sentuh. Pria tampan yang selama beberapa tahun hanya bisa dia dengar suaranya, dia lihat wajahnya, tanpa dia bisa memeluk dan bersembunyi dalam dekapan hangat itu. Dia ingin bertemu. Sangat ingin. Bagaimanapun, sejak awal kepulangannya dari Singapura, orang yang ingin dia temui selain Mama dan Papa adalah Raiden. Raiden Dananjaya, atau.. kekasih tercintanya. "Shivani." Ketukan pintu dan panggilan dari luar, membuat Shivani menghentikan laju air dari shower. Shivani buru buru memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, hal yang di lihatnya adalah senyum lembut dengan raut wajah bahagia yang Mama tunjukkan kepadanya. Shivani membalas senyuman itu. "Ada apa, Ma?" "Makan malam sudah siap, kamu ganti pakaian dan segera turun ke bawah!" Shivani mengangguk. "Tentu." Shivani mengusap perutnya. "Kebetulan aku juga sudah sangat lapar. Rindu masakan Mama." Tambahnya dengan suara manja. "Kamu ini.." Mama mengusap puncak kepala Shivani yang masih basah. "Keringkan rambutmu! Ini sudah malam, kamu bisa masuk angin!" "Iya, Mama, aku tau." "Kalau begitu, Mama tunggu di bawah!" -----------•----------•----------- Ruang makan. "Sayang, sebenarnya ini tentang Raiden." Ucapan Mama di meja makan, mampu memecah kesunyian di dalam hati Shivani. Shivani yang memang sudah selesai makan, meletakan sendok dan garpunya di atas piring kosong yang isinya sudah dia habiskan. "Ma, Mama sama Papa tidak perlu khawatir, Raiden itu baik banget sama aku. Dia juga cinta dan sayang sama aku. Dan yang paling penting adalah Raiden setia sama aku. Aku tidak mau dengar Mama sama Papa bilang 'tidak suka' atau 'tidak mau' Raiden jadi suami aku. Aku tidak mau, Ma. Aku cinta sama dia." Shivani mengatakan apa yang dia khawatirkan. Setelah sekian lama tidak mengetahui ataupun bertemu dengan Raiden, Shivani takut Mama dan Papa akan berubah pikiran. Dia takut Mama dan Papa mengatakan kalau dia tidak boleh dekat dengan Raiden karena Raiden bla bla bla. Lagi pula, bukan tidak mungkin kalau Mama dan Papa bisa saja terbawa omongan orang lain yang dengki dengan Raiden. Benar benar menyebalkan. Shivani yang menjalani hubungan ini. Dia saja menerima dan tidak mempermasalahkannya, lantas.. kenapa jadi mereka yang harus repot? Aneh. "Bukan begitu, kami hanya takut kamu tidak bisa menerimanya. Kami minta maaf, tapi-" "Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kamar. Selamat malam." Shivani memotong ucapan Mama yang belum selesai. Dia tidak ingin mendengar apapun tentang Raiden, karena baginya.. Raiden adalah yang terpenting bahkan lebih dari dirinya sendiri. Shivani melangkahkan kaki dengan gontai menuju kamar tidurnya. Hari yang sulit terasa kelabu. Semakin dewasa usia seseorang, memang semakin sulit jalan yang harus di tempuh. Bukan tanpa alasan, banyak sebab bisa mempengaruhi. Shivani juga mengerti itu. Hanya sebuah kekhawatiran kecil dari orang tua untuk anaknya. Dan sebenarnya itu wajar. ------------•-----------•------------ Hari berikutnya. Shivani mandi pagi pagi sekali. Meski kemarin malam dia sudah mandi, tapi pagi hari saat langit masih gelap, dia kembali membasuh tubuhnya. Tidur di tempat baru yang Shivani kira akan nyaman, ternyata tidak demikian. Sepanjang malam, dia gelisah sampai mengeluarkan banyak keringat. Entah karena pikirannya hanya tertuju pada satu orang yang belum dia temui, karena dia tidak terbiasa dengan tempat baru, atau karena ucapan Mama dan Papa saat makan malam? Entahlah.. Shivani sendiri juga tidak tau. Yang Shivani pikiran saat ini hanya satu hal, satu orang, satu pria, dan.. orang itu adalah kekasihnya, Raiden Dananjaya. Hanya sebentar, sekitar lima menit dan Shivani sudah keluar dari kamar mandi. Mengenakan kimono handuk, Shivani berjalan ke arah dimana pakaiannya tersimpan. Sebuah ruang wardrobe agaknya telah Mama siapkan beserta pakaian, sepatu, tas sampai aksesoris dan perhiasan juga lengkap tersedia. Meskipun semua adalah pilihan Mama, atau katakanlah orang tua yang kolot karena lahir pada tahun tujuh puluhan, tapi selera fashion Mama sangat tinggi dan berkelas. Hampir semua yang Mama siapkan adalah merk ternama, dan model terbaru dengan harga yang tentunya tidak murah. Tidak ingin memikirkan, Shivani meraih mini dress berbahan brokat berwarna peach, kemudian dia segera memakainya. Melihat pantulan dirinya dari cermin, benar benar pas dan cantik. Pikirnya. Bukan Shivani memuji dirinya sendiri. Tapi dia hanya ingin membuat seseorang puas dengan dirinya yang sekarang. Dirinya yang sudah tumbuh menjadi seorang yang berbeda ke arah positif. Contohnya, dia yang sekarang lebih dewasa dan berpikiran luas. Dia yang sekarang jauh lebih cantik karena lebih pandai merias dan merawat diri. Dia yang sekarang lebih disiplin yang lebih menghargai waktu. Semoga saja.. Raiden puas dengan dirinya yang sekarang, dan semoga saja, Raiden puas dengan dirinya yang saat ini, yang seperti ini. Tanpa terasa, Shivani menghabiskan banyak waktu di depan cermin untuk merias diri. Membuat dirinya mempesona dan memukai adalah hal yang ingin dia lakukan kalau dia kembali ke Tanah Air. Dia ingin membuat kesan yang baik untuk calon Mama dan Papa mertuanya agar setuju kalau dia menikah dengan putra mereka. Terdengar konyol. Tapi itulah cinta. Cinta luar biasa yang sejak kecil Shivani jaga. Cinta yang dia pikir hanya mimpi. Cinta yang dia pikir tidak akan dia dapat. Cinta yang dia pikir akan bertepuk sebelah tangan, ternyata.. tidak demikian. Saat Shivani mengetahui kalau Raiden memiliki perasaan yang sama, dan itu sudah di buktikan dengan malam pertama yang mereka lalui saat dia lulus Sekolah Menengah Atas, Shivani mulai yakin, begitu dia pulang.. dia akan memberikan hidupnya, memberikan hatinya, dan memberikan semuanya hanya untuk satu pria. Memikirkan ini, Shivani hampir saja menangis. Tapi tangisan itu adalah wujud lain untuk menggambarkan kebahagiaan, suka cita, senang, haru dan.. bangga. Sejujurnya Shivani sangat bahagia dan dia tidak sabar untuk datang ke Rumah Sakit tempat Raiden bekerja sebagai staf dokter bedah umum di salah satu Rumah Sakit terkemuka di kota ini. Shivani menggigit bibirnya sendiri. Rasanya.. Shivani merasa asing dengan perasaan ini. Rasa bahagia yang sering dia rasakan dulu, tidak sama dengan rasa bahagia saat dia akan melihat, akan memeluk, dan akan mencium Raiden secara langsung. Sensasi bahagia saat ini, kalau bisa di ukur dengan angka satu sampai seratus, mungkin rasa bahagianya setara dengan dua ratus bahkan lebih. Setelah selesai, jam menunjukan pukul delapan pagi. Berarti hampir dua jam Shivani merias diri dengan hasil riasan yang.. sama saja. Dia yang memang sudah cantik, pada dasarnya tidak memerlukan riasan atau apapun untuk untuk meningkatkan performanya. Cukup satu kedipan mata, dan dia yakin.. beberapa pria akan terpikat dan jatuh hati terhadapnya. Keluar dari kamar tidur, Shivani menapaki anak tangga agar tiba di lantai bawah. Melihat Papa sedang membaca koran di ruang tamu, Shivani berjalan merindik. Langkahnya pelan dan hati hati. Seolah dia adalah pencuri yang sedang mencuri barang berharga milik Tuannya. "Hei.." Suara seorang pria yang menggelegar membuat langkah Shivani terhenti. Namun, dia tidak perlu membalikan badan atau menggerakkan bola mata, karena dia sudah tau kalau suara itu berasal dari seseorang yang wajahnya tersembunyi di balik koran. "Pagi pagi begini, kamu mau kemana?" Papa melipat korannya menjadi lipatan kecil. Kemudian dia meletakannya di atas meja. Menyeruput kopi dengan tenang, Papa melayangkan lirikan tajam ke arah Shivani yang akan pergi meninggalkan rumah secara diam diam. Shivani membalikan badan, lalu meringis. "Aku mau pergi ke Rumah Sakit, Pa. Aku ingin ketemu Raiden." Shivani berkata dengan manja. Dia sudah merindukan Raiden sangat dalam. Dan rasa itu tidak bisa di tahan lebih lama lagi. "Ehm." Mendengar penuturan Shivani, Papa berdehem. Ada sesuatu yang kalau di katakan, takutnya akan membuat Shivani tidak nyaman, sedih, frustasi bahkan bunuh diri. Itu yang membuat beberapa kenyataan terpaksa di sembunyikan untuk meminimalisir tindakan depresi yang pastinya akan membuat Shivani hancur. "Shivani." Suara Papa melunak. Papa tidak tau dari mana harus menjelaskan. "Kamu kemari, duduk dan dengarkan apa yang Papa katakan." Papa berusaha merangkai kata untuk menyingkirkan semua hal tidak menyenangkan yang menyelimuti. Shivani melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. "Tapi, aku udah telat, Pa." Shivani bukannya mendekat, justru mengeluh. Dia tidak mau berbasa basa dengan Papa yang pasti akan menghabiskan banyak waktu. "Ta-" Belum sempat Papa berbicara lebih lanjut, Shivani sudah pergi meninggalkannya. Berlari dan keluar melalui pintu sampai siluetnya tidak lagi terlihat. "Aku pinjam mobilnya." Teriakan Shivani yang nyaring dari arah luar membuat Papa menggelengkan kepala. Papa ingin menjelaskan, dan dia sudah berusaha, namun.. lihat sendiri bagaimana kelakuan Shivani yang sulit di nasehati kalau itu untuk urusan hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD