Sore yang cerah.
Leo baru saja pulang dari perusahaan. Kebetulan, dia pulang lebih cepat dari perkiraan. Dia yang memang lebih suka mengemudi sendiri, sangat jarang menggunakan jasa supir untuk mengantarnya kemana mana.
Selain itu merepotkan, menurutnya, dia juga perlu waktu untuk dirinya sendiri. Menjadi dirinya yang seperti ini, apa adanya, dingin dan tidak tersentuh.
Tujuh tahun, bukanlah waktu yang singkat.
Selama itu pula, Leo jungkir balik mati matian membangun perusahaannya sendiri. Dari saat dia bukan apa-apa, menjadi dirinya yang berhasil saat ini. Pencapaian yang luar biasa, di barengi dengan ketekunan, kejujuran dan kemandirian yang mengantarkannya pada posisi ini.
Pahlevi Intinusaflora TBK, merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang industri. Perusahaan yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi yang bisa di pasarkan untuk kemudian di beli oleh konsumen.
Bahan baku utama yang Leo gunakan berfokus pada kelapa sawit, yaitu hasil panen dari kebun sendiri di Medan. Sebenarnya bukan kebun miliknya, tetapi kebun milik Mama dan Papa.
Perusahannya menggunakan kelapa sawit untuk pembuatan minyak sayur, kosmetik, sabun, pasta gigi, lilin, pelumas, dan tinta. Pokoknya, segala hal yang bisa dia kreasikan dengan bahan baku kelapa sawit, akan dia ubah menjadi bentuk Rupiah dengan banyak nol di belakangnya.
Cukup mengejutkan, dia sendiri juga tidak menyangka akan menuai keberhasilan dalam tempo dan waktu yang bisa di katakan panjang. Tahun tahun berjalan sangat lambat, namun, karena dia sangat ingin membahagiakan Papa Andrew, Mama Iriana, dan Dilara, dia tidak kenal kata menyerah. Dan sampailah dia pada titik ini.
Leo yang hendak menerima panggilan dari seseorang, melambatkan laju mobilnya, namun..
BRAAKK..
Leo terkejut bukan kepalang. Entah ada angin apa, tiba tiba mobilnya di tabrak dari arah belakang oleh seseorang. Dia melirik melalui spion, tampak sebuah mobil tipe SUV memang berhenti tepat di belakang mobilnya. Dia yakin kalau kondisi mobilnya tidak baik baik saja, jelas bagian belakangnya rusak parah.
Dia mengawasi lekat, menunggu seseorang keluar untuk menjelaskan apa artinya ini.
Beberapa saat kemudian, si penabrak menunjukan batang hidungnya. Tampak seorang pria paruh baya datang mendekat dan mengetuk kaca jendela mobilnya, juga tampak seorang gadis muda berdiri di samping pria itu. Berdasarkan prediksinya, mungkin itu adalah Ayah dan Anak.
Leo mengawasi lekat gadis itu. Aneh..
Kenapa gadis itu terasa sangat familiar? Dia mengerjapkan mata sampai beberapa kali, tapi saat tatapannya jatuh kepada gadis itu, dia benar benar merasa tidak asing dengan bentuk tubuhnya, dengan fitur wajahnya, dengan gerak geriknya, dengan pesonanya..
Secara otomatis, Leo ingin menatap lagi dan lagi wajah cantik itu. Seperti dia sangat mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini. Rasanya, dia bahkan tidak ingin melepaskan pandangan ataupun berkedip.
Namun, ada satu hal yang masih menjadi misteri, dimana dia pernah melihat gadis itu? Dimana dia pernah bertemu dengannya? Perasaan ini.. dia memegang dadanya yang berdebar kencang.
Dia yakin ini adalah kali pertama pertemuan mereka, mustahil kalau ini adalah cinta. Impossible.
Mencoba menepis segala prasangka, Leo menurunkan kaca mobilnya tanpa ragu.
"Maaf, karena aku sudah menabrak mobilmu." Pria itu berkata sopan. "Aku akan membayar sejumlah uang yang di butuhkan untuk memperbaiki kerusakan mobil ini sebagai bentuk pertanggung jawaban atas kelalaian yang sudah ku lakukan." Pria itu menambahkan.
Leo tersenyum. "Tidak apa. Mobil ini di asuransikan. Jadi, biaya kerusakan akan di tanggung sepenuhnya oleh perusahaan Asuransi." Leo menjelaskan secara sopan.
"Oh.. benarkah? Apa itu tidak apa-apa?"
Leo mengangguk. "Tak apa. Bukan masalah besar."
"Astaga. Aku benar benar merasa buruk untuk hal ini. Aku sudah menghancurkan mobilmu, tapi kamu justru tidak memperkenankan aku untuk menebus kesalahanku."
Leo mengibaskan tangan. "Tidak perlu di pikirkan. Ini sungguh tidak apa apa." Dia kembali meyakinkan. Sesekali dia akan mencuri pandang kepada gadis itu. Cantik. Pikirnya. "Silahkan anda melanjutkan perjalanan anda, saya juga akan melanjutkan perjalanan saya."
"Oh, baiklah. Sekali lagi, aku sangat berterima kasih. Kamu adalah pemuda yang tampan dan baik. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti, permisi." Pria itu membungkukkan badan. Lalu melangkah kembali dan masuk ke dalam mobilnya.
Setelah kepergian mereka, Leo menghela nafas panjang sembari memijit pelan ruang di antara alisnya. Ingatan itu.. muncul lagi. Terkadang, semakin ke sini, semua semakin tidak jelas. Semua ingatan terpecah belah di dalam kepalanya. Antara mimpi atau kenyataan, dimana sebenarnya keberadaanya?
Sesekali ingatannya seolah di ambil alih oleh orang lain hingga yang nampak hanya bayangan bayangan abstrak antara pria dan wanita yang tidak jelas rupanya. Potret yang dia sendiri juga tidak mengenalnya.
Aneh.. sejak bangun dari kecelakaan itu, dia merasa semakin asing dengan dirinya sendiri.
-------•
--•
Mobil yang Papa kemudikan tiba di sebuah perumahan elit di kawasan pusat kota. Adalah rumah yang belum pernah Shivani datangi. Dia menaikan sebelah alisnya. Memang, Papa pernah mengatakan kalau Papa pindah rumah dari perumahan dinas TNI setelah pensiun dari tentara.
Papa mengatakan kalau rumah baru mereka kecil dan sangat sederhana. Tapi, yang terlihat di sini adalah sebaliknya. Yang nampak baik di kanan atau kiri jalan adalah rumah tipe 120 atau tipe bangunan yang berdiri pada lahan kurang lebih seluas 150 meter persegi. Untuk harganya sendiri juga cenderung sedikit lebih mahal dari tipe 70, berada pada kisaran 1,5 Miliar ke atas.
Bukan uang yang sedikit. Kalau hanya mengandalkan gaji bulanan Papa sebagai seorang Tentara, mungkin tidak akan cukup. Apalagi biaya kuliahnya di Singapura juga terbilang mahal.
"Pa." Shivani membuka kesunyian di dalam mobil.
"Apa?" Papa menoleh sekilas sebelum fokusnya kembali pada jalanan sepi di hadapannya.
"Apa membeli rumah di sini.." Shivani menjeda kalimatnya sebentar. "Tidak terlalu mahal?" Dia menunjukan senyum canggung seolah tidak enak bertanya, tapi dia tidak mempunyai pilihan lain.
Papa tersenyum. "Apa kamu bercanda? Restauran yang sudah bertahun tahun Mamamu kelola, sudah sangat maju dan memiliki beberapa cabang. Kita bisa membeli rumah di sini juga karena Mamamu sangat murah hati." Papa menjelaskan secara singkat.
"Benarkah?" Shivani merasa ini adalah kabar yang baik. Selama ini, saat dia dan Mama berbicara melalui sambungan telepon, saat dia menanyakan kondisi Restauran, Mama hanya berkata kalau kondisi finansial Restauran, stabil. Tidak terlalu buruk ataupun terlalu baik. Jadi.. apakah Mama menutupi semua ini dari dirinya? Mungkinkah Mama sengaja memberinya kejutan untuk rumah baru mereka?
Kalau memang begitu, betapa beruntungnya dia memiliki orang tua yang baik seperti Papa dan Mama. Pokoknya.. there is no more happiness than this.
"Inipun, kami sudah memilih yang paling sederhana versi Mamamu. Mama takut kamu tidak suka kalau menempati rumah tipe 120 ke atas." Papa kembali menjelaskan betapa sederhananya Istri tercintanya.
"Oh.. begitu rupanya." Shivani sangat terharu. Ternyata dugaannya benar. Mama memang sengaja menyembunyikan ini darinya agar dia tidak banyak protes.
Sejenak diam. Shivani sibuk mengawasi sekeliling. Tatanan rumah di pemukiman ini sangat rapi dan bersih. Jarak dari satu rumah ke rumah yang lainnya juga cukup jauh, dan masing masing rumah memiliki halaman yang luas dengan pagar tinggi. Termasuk rumah milik Papa mungkin juga begitu.
Untuk design eksteriornya sendiri, relatif. Tidak mutlak karena designnya tampak memiliki sedikit perbedaan untuk setiap unitnya. Namun, kebanyakan adalah model-model kontemporer. Atau agak agak mirip dengan gaya atau desain rumah minimalis. Hanya saja, gaya kontemporer cenderung menonjolkan desain dan bentuk yang modern, dan variatif.
Dengan kata lain gaya kontemporer adalah gaya yang mengikuti perkembangan jaman. Dan bisa dikenali melalui desainnya yang sederhana, praktis dan fungsional dengan pengolahan bentuk geometris yang simple dan warna-warna netral dengan tampilan yang bersih. Sangat cocok untuk tipe keluarga yang hangat dan terbuka seperti keluarganya.
Beberapa saat kemudian, Papa menghentikan mobilnya di salah satu unit yang di yakini adalah rumah yang Papa maksud. Shivani semakin yakin setelah melihat Mama berdiri di depan pintu sembari melambaikan tangan setelah melihat mobil Papa memasuki halaman.
Papa turun dari mobil, lalu mengurus koper kopernya. Sementara Shivani masih membereskan beberapa barang yang tadi sempat berhamburan di dalam mobil saat tasnya jatuh. Setelah selesai berkutat dengan barang barang pentingnya, di segera turun dari mobil. Dia berlari ke arah Mama dan memeluk Mama erat.
"Aku rindu." Shivani terisak saat merasakan dekapan hangat Mama yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia menghirup aroma Mama banyak banyak, dia merindukan semua yang ada pada Mama.
"Mama juga rindu." Mama mengusap punggung Shivani sebelum dia melepaskan pelukannya. "Bagaimana kabarmu?" Mama mengawasi Shivani lekat mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Penampilan Shivani berubah total. Mama ingat, saat berangkat dulu, putrinya sangat tertutup dengan penampilannya. Tapi, sekarang.. penampilan Shivani sedikit terbuka dengan pakaian model crop tanpa lengan yang memperlihatkan perut Shivani. Meski celana yang Shivani kenakan masih aman karena hanya celana jeans over size panjang biasa, tapi.. untuk budaya timur seperti Indonesia, dia pikir.. Shivani sedikit berlebihan.
"Aku baik, Mam." Shivani yang mengerti arti dari tatapan Mama terhadapnya, segera menambahkan. "Aku akan mengenakan pakaian yang lebih sopan saat berada di sini, Mama tidak perlu khawatir."
Mama mengangguk. "Baiklah." Mama sangat puas dengan reaksi Shivani yang langsung mengerti meski dia tidak mengatakannya.
"Kamu mandi dan istirahatlah! Aku akan menyiapkan makan malam untukmu. Oh iya, kamarmu ada di lantai atas." Selesai berkata, Mama membantu Papa untuk membawa koper koper Shivani ke dalam rumah.
"Iya, Ma." Shivani melangkah masuk ke dalam rumah. Mencari keberadaan tangga dan segera menapaki satu persatu anak tangga secara perlahan.
Tiba di lantai dua, Shivani segera membuka pintu yang berdasarkan instingnya, itu adalah kamar tidur yang Mama siapkan untuknya. Dan, benar saja, itu memang kamarnya karena arsitektur interior ruangan ini adalah Greyish Monochrome. Tatanan yang sangat cocok untuknya yang menyukai sesuatu yang simple dan minimalis.
Pencahayaan di ruang ini kebetulan tidak terlalu terang karena lampu utama tidak menyala. Hanya lampu kecil yang terletak di atas meja yang menyala. Itupun tidak benar benar terang
Shivani membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia merasa sangat nyaman. Sejujurnya, dia kelelahan setelah menempuh perjalanan yang lumayan dari Singapura. Dia memejamkan mata dan kesadarannya perlahan menghilang. Dia benar benar tertidur.