TMP ~ Kembalinya Shivani

1701 Words
Seorang gadis berparas cantik tampak menyeret kopernya keluar dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dia berjalan dengan santainya sembari mendengarkan sebuah lagu dari Savannah Clarke berjudul Golden yang di dengarnya melalui earphone yang terpasang di telinganya. Dia memejamkan mata, dia sangat menikmati ini. Musik ini, suara ini.. instrumen yang mampu menggetarkan sampai ke sudut terdalam hatinya. Juga udara ini.. akhirnya dia kembali, ke sini, ke tempat dimana seharusnya dia berada. Tempat yang sedari awal adalah tujuannya, dia sangat bahagia atas hal ini. Shivani Palival, adalah nama gadis itu. Gadis berparas cantik dengan postur tinggi, pas dengan bentuk tubuh yang tertata indah sesuai porsinya. Tubuh ideal seorang wanita, nampaknya melekat pada sosok Shivani. Menjadikan dirinya nyaris sempurna dan menjadi dambaan para pria di luar sana. Tapi sungguh di sayangkan .. seseorang sudah memiliki hati dan jiwanya, membelenggu dalam ikatan bernama cinta, berporos pada kesetiaan, dan menjelma menjadi long distance relationship karena pilihannya sendiri untuk melanjutkan pendidikan di luar negri. Seperti orang jatuh cinta pada umumnya. Dia dan kekasih hatinya berjanji akan menikah setelah dia mendapat gelar kelulusan dengan nilai terbaik nantinya. Shivani tersenyum dalam hati, ini adalah alasan kenapa dia kembali. Dia ingin menjemput cintanya lalu hidup bahagia bersama selamanya dalam keadaan apapun. Selalu setia dan menjaga sampai ajal yang memisahkan. Shivani sangat merindukan pria itu.. pria yang sangat dia cintai sepenuh hati. Pria yang belakangan ini lebih sering menghampiri kepalanya dengan ingatan ingatan manis tentang apa yang pernah mereka lakukan dulu. Dia bersyukur karena bisa mempersingkat waktu kuliahnya. Tentu saja, saat orang lain sibuk berkencan, dia justru sibuk berkutat dengan buku buku tebal yang di pinjamnya dari perpustakaan. Namun, usaha yang dia lakukan selama ini, terasa sepadan setelah menerima hasil yang memuaskan. Dia lulus dua tahun lebih cepat dengan nilai tinggi memuaskan. Tidak ada nikmat lain lagi yang akan dia dustakan. Dia merasa jalan hidupnya sempurna, mulus tanpa hambatan. Shivani melihat jam tangan mewah yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Seharusnya, seseorang yang datang menjemput sudah tiba sejak lima menit yang lalu, dan seharusnya orang itu sudah berada di.. "Shisi.." Shivani tersenyum saat mendengar namanya di panggil. Hanya satu orang yang memanggil dirinya dengan panggilan Shisi. Dia menoleh, dan tersenyum saat mendapati seorang pria paruh baya berpakaian santai melambaikan tangan kepadanya. "Papa.." Shivani menginjak injakan kaki ke lantai dengan ekspresi marah. "Jangan panggil aku Shisi." Dia tidak menyukai panggilan itu, namun setelah selesai mengeluh, dia segera berlari ke arah seseorang yang di panggilnya Papa. Dia berlari seperti anak kecil dan langsung masuk ke dalam pelukan hangat pria itu. "Kamu tidak suka kalau aku memanggilmu Shisi?" Pria yang di panggil Papa segera melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah putrinya lekat. Enam tahun tidak bertemu, putrinya sudah jauh dari kata remaja. Sejak putrinya memutuskan untuk berkuliah di Luar Negri, maka sejak saat itu pula mereka tidak pernah bertemu. Mereka hanya akan bertegur sapa melalui panggilan suara ataupun panggilan video, tidak benar benar berjumpa meski hanya untuk bersua. Shivani mengangguk. "Aku tidak menyukai itu dan aku sangat membencinya." Ucapnya sembari menyedekapkan tangan di d**a dengan bibir yang mengerucut. Dia marah, hanya pura pura, tidak benar benar marah seperti anak kebanyakan yang tidak menyukai panggilan dari orang tua mereka yang terdengar aneh. Shisi? Apa itu Shisi? Apa Papa pikir dia adalah suatu jenis khusus segmen garis yang menghubungkan dua verteks dalam suatu poligon, polihedron, atau politop dengan dimensi yang lebih tinggi? Pengertian Sisi yang sebenarnya memang seperti itu kan? Shisi.. sisi.. Shisi.. sisi.. hampir sama. Hanya penulisannya saja yang berbeda namun pelafalannya tetap sama. Astaga Papa! Shivani menepuk dahinya sendiri. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Papa yang seenaknya memanggil namanya dengan keinginan sendiri tanpa persetujuannya. "Benarkah?" Papa membuka pintu mobil dan menutupnya dengan cepat. "Kalau begitu, jangan mengikuti dan jangan pulang bersamaku!" Dia juga manaikan kaca mobilnya dengan cepat, seolah tidak memperdulikan gadis yang sekarang sedang merengek seperti anak kecil. Mendapat perlakuan kejam seperti ini, Shivani semakin geram. "Papaa..." "Ada apa lagi?" Papa menurunkan kaca mobilnya, lalu mengerutkan kening sembari menatap putri kesayangannya. Dari dulu, dia paling suka menggoda Shivani sampai marah, dia senang melihat ekspresi putrinya yang merajuk dan merengek. "Jadi, kamu tidak akan membawaku pulang?" Shivani menunjukan tampang cemberut yang menggemaskan. "Baiklah, kalau begitu, aku akan pulang ke Rumah Raiden saja." Dia mengancam dengan gaya congkak khas jual mahal. Dia ingin melihat reaksi Papa saat mendengar dia akan pulang ke rumah Raiden. "Eh.. eh.. eh.." Mendengar ancaman sang putri, Papa buru buru membuka pintu mobilnya, lalu keluar dengan cepat dan bergegas memasukan koper koper milik putrinya ke dalam bagasi. "Masuk!" Setelah selesai dengan semua koper, dia sendiri masuk dan meminta agar sang putri juga turut masuk. "Terima kasih, Papa. Aku mencintaimu." Shivani mengedipkan sebelah matanya dengan manja, lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping kemudi sembari menambah volume musik yang di dengarnya. Shivani duduk dengan tenang dalam balutan kenyamanan, dia memejamkan mata. Dalam hati dia sangat senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Raiden. Kekasih masa kecilnya sampai sekarang dan selamanya. ------• --• Mobil yang Papa kemudikan membelah jalanan ramai ibu kota dengan segala hiruk pikuknya. Sesuatu yang juga sangat Shivani rindukan, kepenatan.. kesesakan.. dan segala sesuatunya memberikan sensasi tersendiri, menjadi candu yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia ingat, saat remaja dia sering pergi berdua dengan Raiden. Bersama menikmati sore yang indah dengan menyusuri jalanan tanpa arah tujuan. Mereka hanya berputar putar tidak jelas, hanya untuk menghabiskan waktu bersama. Bercanda, bergurau, dan melepas rindu dengan tertawa bahagia. Masa remajanya hampir separuhnya terisi kenaifan. Berpacaran hanya sekedar bergandengan tangan tanpa ciuman. Berpacaran hanya sekedar duduk berdua tanpa ada hal lain yang di lakukan. Sampai saat dia lulus SMA, saat dia mengatakan akan berangkat ke luar negri, Raiden memberanikan diri untuk menciumnya. Tidak hanya itu, Raiden dan dirinya juga sama sama memberikan yang pertama untuk masing masing. Setelah semua yang mereka lakukan, mereka bersumpah tidak akan melakukannya dengan orang lain. Shivani hanya akan melakukan dengan Raiden, begitu juga sebaliknya. Raiden juga akan melakukan hanya dengan dirinya. Shivani menyunggingkan senyum tanpa sadar, membuat Papa menaikan sebelah alisnya. Melihat putri kesayangannya tampak sibuk dengan earphone di telinga sembari tersenyum seperti orang gila, tiba tiba muncul gagasan nakal untuk dirinya mengerjai Shivani. Papa menarik salah satu kabel earphone sampai membuat Shivani tersentak, dia menoleh ke arah Papa, lalu menatap Papa dengan tatapan tajam. "Papa sengaja, kan? Ingin mengerjai ku?" Dia melepas salah satu earphone yang masih terpasang dan memasukannya ke dalam tas. Papa pura pura tidak tau dengan mencari aktifitas lain seperti bersenandung yang sesekali di sertai siulan tidak jelas. "Kamu ini, bisa tidak jangan berprasangka buruk kepada Papamu sendiri?" Papa mencari aman dengan caranya sendiri. "Papa..." Shivani mencubit perut Papa sampai Papa mengaduh kesakitan. Namun dia tidak menghiraukan Papa meski dia tau kalau itu berbahaya. "Shisi, hentikan! Papa sedang menyetir, apa kamu ingin kita berdua celaka? Hentikan, hentikan sekarang juga!" BRAAK.. Belum selesai Papa berkata, suara benturan di sertai getaran yang cukup keras, menghentikan Shivani dari aktifitasnya. Dia terkejut saat mendapati mobil Papa menabrak mobil di depannya. Sebuah mobil jenis Lexus type performance sports yang mampu membuatnya syok. Shivani dan Papa saling pandang, Shivani meringis menunjukan gigi-giginya yang putih tertata rapi saat Papa menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin memangsanya hidup hidup. "Aku minta maaf, aku tidak sengaja." Shivani menyatukan kedua tangannya, meminta ampun kepada Papa atas ulah jahilnya yang hampir mencelakai mereka. "Kalau sudah seperti ini, kamu baru menyesal dan minta maaf." Papa menjewer telinga Shivani dengan gemas. "Dasar anak nakal!" "Maafkan aku Papa." Shivani tidak memperdulikan jeweran Papa meski itu membuat telinganya merah. "Sudahlah." Papa melepaskan Shivani kali ini, dia bergegas turun dari mobil, dan memeriksa kondisi mobil yang di tabraknya, sebenarnya.. itu cukup parah. Dia mengetuk kaca mobil untuk minta maaf dan menawarkan ganti rugi sebagai gantinya. Shivani juga turut turun dari mobil, sebagai penyebab kecelakaan, dia merasa perlu untuk bertanggung jawab. Ini adalah salahnya, salahnya karena sudah mengganggu Papa saat sedang berkendara. Dia menutup mata saat melihat kerusakan mobil di hadapannya lumayan parah. Mobil sport di tabrak mobil SUV, bisa di bayangkan seperti apa hasilnya. Shivani tersenyum pilu. Papa pasti akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membiayai perawatan mobil selama berada di bengkel. Dia yakin itu. Sekarang dia benar benar sangat menyesal. Dia berdiri di samping Papa, menunggu di pengemudi menurunkan kaca mobilnya. Begitu kaca mobil di turunkan, Papa buru buru minta maaf dan menawarkan ganti rugi. Sejauh ini Shivani hanya memantau, tidak ikut campur atau berkata barang sepatah. Dia hanya fokus menatap seorang pria yang masih bernegosiasi dengan Papa. Seorang pria muda tampak mengenakan setelan jas lengkap dengan gaya rambut short and spiky, atau model rambut yang meninggalkan potongan yang tidak terlalu panjang pada bagian atas rambut, bagian tersebut pun diruncing ke atas. Formal dan cool.. adalah penilaian Shivani berdasarkan sudut pandangnya. Mungkin, dia adalah CEO muda yang sering di perbincangkan oleh teman temannya pada drama yang sering mereka tonton. Dia sendiri tidak begitu mengerti karena dia jarang menonton film ataupun drama yang sedang viral. Selain tidak memiliki banyak waktu, dia juga selalu bergelut dengan tugas menumpuk dari dosen. Tetapi, karakteristik dan kharisma yang pria ini tunjukan, memang mirip dengan sosok yang teman temannya idamkan. "Ayo, Shi!" Papa menarik lengan Shivani untuk pergi. Shivani mengerutkan kening. "Apa sudah selesai?" Dia bertanya keheranan. Tidak sampai lima menit dan semua selesai begitu saja? Bagaimana mungkin semua bisa di selesaikan hanya dengan negosiasi? Tanpa uang ganti rugi, tanpa nomor telepon, tanpa KTP ataupun SIM? Bagaimana bisa semua selesai dengan cepat dan mudah? Bukan Shivani berprasangka buruk, dia hanya berpikir kalau biasanya.. orang yang dirugikan akan meminta barang seperti itu. SIM, KTP, STNK, atau nomor telepon yang bisa di hubungi untuk pertanggung jawaban pelaku terhadap korban yang di rugikan, tapi.. ada apa ini? Aneh. "Mobil orang itu di asuransikan, menggunakan asuransi jenis All Risk yang mencakup perlindungan untuk seluruh jenis risiko pada mobil. Jadi dia tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk memperbaiki kerusakan mobil itu karena sepenuhnya akan di tanggung oleh perusahaan asuransi." Papa menjelaskan sedikit tentang hasil negosiasi yang dia dan orang itu lakukan. "Papa serius?" Mata Shivani berbinar. Dia tau kalau Papa adalah yang terbaik dan terbijak dalam perundingan untuk menemukan solusi yang tepat atas masalah yang terjadi. Papa menganggukan kepala dengan bangga. "Uhh.. Papa memang yang terbaik." Shivani menyempatkan memuji Papa sebelum masuk ke dalam mobil kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD