Empat belas lainnya sudah selesai, dan sekarang giliran Shivani memasuki ruangan wawancara. Dia sangat gugup. Menunggu namanya di panggil, dia seperti sedang menunggu giliran untuk di adili. Ruangan itu seperti ruang sidang dimana dia akan menghadap hakim untuk di jatuhi hukuman berat atas kesalahan yang sudah dia lakukan. "Shivani." Begitu namanya di panggil, Shivani berdiri. Dia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena menunggu terlalu lama. Setelah di rasa cukup rapi, dia mengulurkan tangan untuk menyentuh gagang pintu, dan.. Ceklek. Shivani melangkah masuk ke dalam dengan langkah pelan. "Duduklah dan rileks. Tidak perlu gugup karena kami hanya akan memberikan pertanyaan pertanyaan sederhana sebagai pertimbangan apakah kamu layak atau tidak." Sita berkata santai setelah

