Shivani menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah hotel. Dia melihat jam tangan mewah yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya, ini sudah jam delapan, dan ini adalah alamat yang Mama maksud, seharusnya Mama dan Papa sudah tiba, bukan?
Lalu, dimana mereka?
Shivani mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat apakah orang tuanya sudah datang?
Namun, tampaknya tidak ada tanda tanda keberadaan mereka. Kalau begitu, baiklah, dia akan menunggu di sini, di dalam mobil selagi melihat detail informasi tentang Danish Leonardo Pahlevi.
Konon kabarnya, di katakan bahwa Leo adalah seorang pria tampan, mapan, pintar, cerdas, cemerlang, beradab, dan kaya raya dari Keluarga Pahlevi yang juga merupakan Founder sekaligus Presdir di Pahlevi Intinusaflora, seorang pendiri sekaligus pemimpin dari perusahaan itu.
Riwayat hubungan, tidak pernah berpacaran. Hanya memiliki satu teman wanita yang cukup misterius statusnya. Bukan kekasih namun sering menghabiskan waktu berdua.
Leo memiliki seorang Adik Perempuan bernama Dilara yang menikah dengan seorang pengusaha muda, bernama Zaine. Nama orang tua, Tuan Andrew dan Nyonya Iriana. Golongan darah AB+.
Apa?
AB+?
Satu satunya informasi tentang Leo yang masuk dan mengganjal di otak Shivani, yaitu ini.. tentang golongan darah.
Shivani menurunkan berkas dari tangannya, lalu dia mengambil tumpukkan foto Leo sebagai gantinya. Dia memandangi foto itu lekat. Memang, Leo sangat tampan, dia juga tidak menampik itu. Namun dia benci karena Leo memiliki sedikit kemiripan dengan Raiden. Salah satu kemiripannya adalah golongan darahnya.
AB+ Adalah golongan darah yang cukup langka dibanding B+. Seingatnya, jenis golongan darah AB+ memiliki persentase sekitar 5,88 persen dari populasi seluruh dunia. Jenis golongan darah AB+ dapat menerima transfusi dari semua jenis golongan darah, tetapi hanya bisa melakukan transfusi ke pemilik golongan darah yang sama.
Selain itu, plasma darah dari golongan AB dari Rh negatif maupun positif selalu diterima karena dapat didonorkan ke semua jenis darah. Namun, plasma beku yang segar hanya dapat diproduksi dari donor laki-laki, karena jika berasal dari perempuan dapat mengembangkan antibodi yang berbahaya.
Itu sedikit yang Shivani tau tentang golongan darah Raiden yang cukup unik. Karena keunikan itu pula Shivani banyak mencari tau tentang golongan darah AB+. Hanya saja, dia tidak menyangka kalau Leo begitu beruntung sampai mendapatkan organ penting milik Raiden seperti mata dan jantung hanya karena memiliki beberapa kecocokan seperti golongan darah.
Ini bukan hal kritis lagi. Bukan hanya dirinya, semua orang juga tau kalau prosedur pencangkokan organ, sangat rumit. Selain membutuhkan perawatan intens pra dan pasca operasi, si pendapat donor juga memiliki resiko kematian yang tinggi kalau sampai jantung gagal berdetak. Belum lagi si penerima donor harus merubah pola hidup, harus patuh dengan Dokter, dan melakukan perawatan khusus yang sesuai.
Shivani yang sebelumnya tidak pernah menduga akan mencari tau informasi tentang Leo, tidak tau apa yang akan dia lakukan setelah mendapatkan informasi ini. Apakah dia harus mendekati Leo hanya untuk memastikan kalau jantung dan mata Raiden aman berada di dalam tubuh pria itu? Ataukah dia hanya akan memantau dari jauh keadaan pria itu?
Tok tok tok.
Ketukan pada kaca jendela mobilnya, membuat Shivani menoleh ke arah luar. Adalah Papa dan Mama yang sudah berdiri di sana. Melihat itu, dia tersenyum kecil sembari menyimpan berkasnya kembali.
Papa itu sangat usil.
Tidak bisakah Papa tidak mengetuk kaca jendela mobilnya pada saat seperti ini?
Datang menggunakan mobil yang berbeda saja sebenarnya tidak baik. Namun, karena dia harus menemui Kristian, dia terpaksa harus berangkat lebih cepat dan menunggu Mama dan Papa untuk kemudian masuk bersama.
Tapi, kelakuan Papa itu benar benar membuat dirinya jengkel.
Shivani turun setelah Papa membukakan pintu dari luar. "Terima kasih, Papa." Cup. Shivani mencium pipi pria paruh baya itu sekilas. Setelahnya dia juga melakukan hal yang sama kepada Mama.
"Kamu jangan membuat keributan!" Mama memperingatkan Shivani sebelum masuk ke dalam dengan menggandeng lengan suaminya.
Shivani merengut. Dia tidak tau kenapa Mama senang sekali mengancam dirinya. Selain itu membuatnya terlihat buruk, itu juga seperti dia itu sangat nakal sampai harus berkali kali di ingatkan. Padahal, tanpa di ingatkan pun, dia juga tidak akan mencari masalah. Dia sudah dewasa dan dia adalah seorang perempuan, jadi dia tidak akan melakukan hal konyol yang sekiranya akan menghancurkan reputasinya.
Shivani berjalan di belakang mengikuti Mama dan Papa masuk ke dalam Hotel. Sebelumnya dia selalu menolak di ajak ke tempat berkumpulnya para orang tua seperti ini. Hari ini juga sebenarnya dia masih enggan. Hanya saja, dia di paksa datang oleh keadaan. Jadi, dia tidak memiliki pilihan.
------•
--•
Sudah tiga puluh menit Shivani melamun. Duduk sendiri pada meja di sudut ruangan, dia bosan setengah ma-ti. Dia tidak menyangka kalau terjebak di sini ternyata jauh lebih mengerikan di banding saat dia terdampar di Singapura dan belajar selama bertahun tahun untuk mendapatkan beberapa gelar kelulusan.
Di sini, tidak hanya membosankan, namun juga membuat orang tidak tahan untuk mengumpat.
"Oh sh-it!" Shivani mengumpat saat melihat seseorang yang dia kenal mendekat ke arahnya. Dia menggunakan dompet yang di bawanya untuk menutupi wajah cantiknya. Tolong Tuhan. Tolong jangan sekarang. Dia tidak mau melihat orang itu saat ini, di sini. Pintanya di dalam hati.
"Hai, Shivani!"
Sapaan itu membuat Shivani mau tidak mau menurunkan dompetnya.
Si-al!
Dia ketahuan.
Shivani menunjukkan senyum palsu yang dia sunggingkan untuk menutupi segala kecanggungan yang melanda. Sekarang dia terjebak dan dia tidak tau lagi bagaimana cara menyelamatkan diri.
Shivani menatap lekat pria yang berada di hadapannya. Seorang pria berkacamata bulat dengan rambut klimis di sisir ke belakang, mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi kupu kupu, membuat dia ingin muntah saat ini juga.
Bukan karena wajah pria itu mengerikan atau tidak enak di pandang, namun terlepas dari semua itu, pria itu adalah Tristan si Sastrawan yang ahli filsafat. Jadi mau setampan apapun Tristan, dia tetap akan muntah sebelum dia bahkan mendengarkan gombalan gombalan dengan bahasa puitis yang membuat dia mual.
"Cinta adalah kegembiraan yang tersisa. Jika nanti suatu pagi, tak lagi senyummu menyapa seperti biasa dan itu hanya bisa kutemukan dalam mimpi." Tristan mulai melancarkan aksinya membacakan sebongkah puisi yang langsung muncul di dalam benak saat melihat gadis pujaannya berada di hadapannya.
Sejak Tristan menempuh pendidikan di The Lion City atau Singapura, dia memang sudah terpikat sejak Beberapa tahun lalu. Namun dia selalu saja di tolak dengan berbagai alasan.
"Tristan, stop!" Shivani menaikkan tangan untuk mencegah Tristan bicara omong kosong lagi. Selain malas mendengarkan, kepalanya juga menjadi pusing. "Aku sedang tidak ingin mendengarkan puisi." Shivani menambahkan.
Sudah cukup banyak masalah yang Shivani hadapi saat ini, dan dia tidak ingin ada masalah lain yang muncul dan memanaskan kembali situasi yang mulai kondusif.
Tristan mengulas senyum tipis. Lalu dia duduk pada kursi kosong di samping Shivani. "Kenapa kamu sendirian? Ehm?"
"Aku sedang menunggu pacarku yang belum datang." Shivani beralasan. Sejak dulu dia sudah tidak suka dengan cara Tristan mendekati dirinya menggunakan kata kata sastra layaknya seorang pujangga, ahli sastra, intelektual, sarjana, atau cendekiawan dan jauhari dalam diksi klasik. Diksi diksi itu bukannya membuat dia tersentuh, dia justru membencinya.
"Benarkah?" Tristan menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan kalau Shivani hanya berbohong. Bukankah sejak dulu Shivani selalu beralasan agar bisa menolak setiap kali dia menyatakan perasaannya? "Kalau begitu, selagi kamu menunggu, aku akan menemanimu." Tristan menambahkan.
"Fiuh." Shivani menghela nafas panjang. Dia tau kalau mengusir Tristan tidak pernah mudah semudah menuang su-su ke dalam mangkuk berisi sereal.
"Aku tidak tau kalau kamu sudah kembali ke sini." Tristan memulai pembicaraan. "Ngomong ngomong, bagaimana keadaan mu sekarang? Apakah sangat baik?"
Shivani mengangguk. "Aku kembali beberapa hari yang lalu dan kabarku sangat baik." Shivani menjawab singkat. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan dia berdiri dari duduknya saat melihat seorang pria memasuki tempat acara melalui pintu masuk.
Mata Shivani berbinar, pria itu..
Shivani masih ingat dengan sangat jelas tentang figur itu. Adalah sosok yang baru saja dia lihat fotonya saat dia berada di dalam mobil saat menunggu Mama dan Papa.
Pria itu adalah.. benar. Itu adalah Leo.
Dia tidak mungkin salah mengenali orang.
Berdasarkan ciri ciri fisik yang Kristian sebutkan, dia yakin kalau orang itu memang Leo.
Iya, tentu saja itu adalah Leo. Lihat saja, kedatangan pria itu langsung mencuri perhatian beberapa orang di tengah pesta. Dan ini juga menjadi kesempatan bagus untuknya melihat mata indah yang sangat ingin dia lihat. Mata cokelat milik Raiden adalah yang terbaik yang pernah ada, dan mata itu adalah sesuatu yang selalu dia bayangkan setiap akan tidur. Tidak! Sebenarnya dia membayangkannya setiap saat. Hanya saja dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihatnya.
Dan saat ini adalah saat yang tepat untuknya menciptakan peluang dan membuat keajaibannya sendiri.
Shivani melambaikan tangan ke arah Leo. "Sayang, kamu sudah datang?" Shivani sengaja berkata dengan keras untuk membuat Tristan salah paham dan mengira kalau omongannya tidak salah saat dia berkata sudah memiliki kekasih. Seharusnya itu cukup untuk membuat Tristan menjauh sejauh mungkin dari dirinya.
"Sayang?" Mendengar kata 'sayang' yang terlontar dari bibir Shivani, Tristan menoleh ke arah lambaian tangan Shivani. Berdiri di sana adalah seorang pria tampan yang kalau di bandingkan dengannya, dia hanyalah cupu yang tidak ada menariknya sama sekali.
Jadi, pria itu adalah kekasih Shivani?
Nyali Tristan ciut seketika.
Pria itu..
Dia tau kalau itu adalah Tuan Muda dari Pahlevi Intinusaflora. Sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang industri. Namun, bukan itu masalah utamanya.
Apa lagi, menurutnya uang tidak selalu menjadi pokok masalah yang harus di perdebatkan.
Lagi pula, Tristan insecure bukan karena masalah harta. Dia di lahirkan dan tumbuh dalam lingkup dunia yang saat dia ingin apapun, selalu bisa dia dapatkan. Semua ada dan terpenuhi. Hanya satu yang tidak pernah bisa dia miliki, yaitu Shivani. Dan setelah melihat pria yang berhasil mendapatkan Shivani, begitu rupawan, di banding apapun, dia kalah telak.
-------•
--•
Leo menoleh saat mendapati seorang gadis berteriak dan memanggil kata "Sayang" dengan suara nyaring.
Leo menoleh ke arah sumber suara, melihat seorang gadis melambaikan tangan ke arahnya, matanya menyipit. Dia menoleh ke sekitar untuk memastikan kalau orang yang gadis itu maksud bukanlah dirinya. Namun sayang, di dekat pintu masuk hanya ada dia seorang. Jadi, apa artinya ini?
Shivani sudah melangkahkan kaki hendak pergi untuk menghampiri Leo, namun pergelangan tangannya di tahan oleh Tristan.
"Jadi, dia pacar kamu?" Tristan menggenggam erat pergelangan tangan Shivani. Dia biasanya selalu tenang, namun saat melihat saingan cintanya merupakan Tuan Muda dari Pahlevi Intinusaflora, dia merasa tidak bisa menandingi dalam segala aspek.
"Iya." Shivani mengibaskan tangan sampai pegangan tangan Tristan terlepas. "Itu adalah kekasih yang selalu aku ceritakan." Tambahnya kemudian. Kesombongan ini bukan karena dia senang memamerkan hubungan di depan orang lain. Dia bukan gadis seperti itu. Lagi pula, dia bahkan tidak mengenal Leo, lalu dari mana dia bisa menjalin hubungan?
Tidak masuk akal.
Hanya saja, cara untuk membuat Tristan diam adalah dengan membenturkan fakta agar realita itu menghancurkan segala ekspektasi tinggi seorang Tristan kepada dirinya.
"Kalau begitu, pergilah!" Tristan tidak akan menahan ataupun memberatkan. Wajar kalau Shivani tidak menyukainya. Secara kualifikasi dia memang tidak pantas.
"Terimakasih." Shivani tersenyum lembut ke arah Tristan. Dia tau meskipun Tristan seorang pujangga cinta yang gemar berkata manis sampai dia mual, namun Tristan tidak pernah bermain kasar. Dan itu membuat dia percaya diri untuk meninggalkan pria cupu itu.
Shivani berjalan ke arah Leo. Semakin dekat, jalanan itu terasa semakin curam dengan udara menipis. Kepercayaan dirinya di awal serasa memudar, sekarang dia justru ragu. Apakah dia harus mendekat kepada Leo? Ataukah dia harus menghindar?
Namun, menghindar di sini juga bukan hal yang baik, selain itu akan membuat Tristan curiga, itu juga akan membuat Tristan tidak berhenti mengganggunya kalau sampai Tristan tau dia tidak memiliki pasangan.
Jadi, dia benar benar mengalami apa itu yang di sebut sindrom sosial dilema. Yang mana Shivani berada pada pilihan yang sulit. Salahnya karena bersikeras untuk menciptakan keajaibannya sendiri padahal dia tau kalau itu tidak mungkin.
Shivani menghentikan langkah begitu tiba di depan Leo. Dia mendekatkan wajahnya, lalu dia berbisik tepat di telinga pria itu. "Tolong bawa aku pergi dari sini! Aku akan membayarmu." Aroma maskulin langsung tercium oleh indra penciuman Shivani karena tidak ada jarak lagi di antara mereka. Bahkan dia seolah dapat mendengar detak jantung Raiden dalam tubuh Leo.
Itu..
Itu benar benar debaran milik Raiden. Dan dia dapat merasakannya.
Mata Leo membulat. Tubuhnya menegang saat hembusan nafas gadis itu mengenainya. Membuat debaran di dadanya seperti gemuruh yang hampir menciptakan badai.
Siapa wanita ini?
Dan sebenarnya apa yang terjadi?
Leo mengawasi lekat sosok yang berada di depannya. Adalah seorang gadis cantik, bertubuh seksi dengan lekukan menggoda dalam balutan gaun panjang berbelahan sampai paha, dengan punggung yang terekspos sempurna serta d**a yang bulat dan menonjol, membuat dia tidak bisa menutup mata.
Dia pria normal yang akan bereaksi saat di sandingkan dengan sosok jelita di hadapannya. Dan dia tidak munafik untuk mengatakan kalau dia.. menginginkannya.
Namun, tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Dia merasa tidak asing dengan sosok itu. Dia merasa tidak asing dengan aroma itu. Dan dia merasa da-danya hampir meledak saat tubuhnya dan tubuh wanita itu tidak berjarak.
Leo meraih pinggul Shivani, kemudian dia memeluknya erat. "Berapa yang akan kamu bayar?"