Tubuh Shivani menegang.
Dia tidak tau kalau Leo akan mengajukan pertanyaan seperti ini kepadanya.
Berapa yang akan dia bayar?
Apa Leo sedang menghina dirinya?
Apa Leo sedang mempermainkan harga dirinya?
Dan apa Leo pikir dia tidak mampu membayarnya?
"Apapun yang kamu minta." Suara Shivani bergetar. Namun bukan karena perkataan Leo, melainkan karena posisi mereka begitu dekat. Debaran jantung Leo seolah menjadi penentu hidup dan matinya.
Meski kecelakaan Leo sampai harus mengganti jantung tidak tertulis dalam informasi yang Kristian berikan seolah kejadian itu di tutupi agar publik tidak mengetahuinya, namun.. tidak perlu konfirmasi lebih jauh karena Shivani sudah memutuskan kalau jantung itu memang milik Raiden. Dan kronologi kenapa jantung itu bisa berada pada Leo, mungkin seperti yang Tante Sushi katakan, yaitu karena beberapa organ milik Leo mengalami kerusakan, jadi.. mereka mengambil milik Raiden kemudian memasukkan ke dalam tubuh Leo.
Sesimpel itu.
Jadi, intinya.. debaran itu adalah milik Raiden.
Itu juga yang selalu dia rasakan setiap kali Raiden memeluknya. Saat tubuh Raiden menyatu dengan tubuhnya. Debaran itu.. yang selalu membuatnya teringat kalau bersama Raiden, dia bisa melupakan berbagai macam permasalahan hidup.
Dan kali ini, meski berada di tubuh yang berbeda. Namun, debaran itu masih sama.
Leo mengerutkan kening. "Apapun?"
"Ya." Shivani tidak mungkin mundur saat sudah berada di tahap ini. Harga dirinya bukan hanya di pertaruhkan, namun hidupnya juga turut menjadi jaminan. Mundur sekarang tidak akan baik untuk hidup ke depannya karena dia tidak akan bisa tenang selama Tristan terus memburu dirinya. Belum lagi, identitas Leo juga masih misterius untuknya. Dia masih perlu memastikannya beberapa hal dengan beberapa cara lagi.
"Setuju." Leo berbisik lembut pada telinga Shivani.
Orang lain yang melihat dan tidak tau kisah lengkapnya pasti menganggap mereka sedang berciuman. Selain posisi mereka amat sangat intim, mereka juga terlihat seperti pasangan yang memiliki chemistrynya tersendiri.
"Kalau begitu, aku akan membawamu ke suatu tempat dimana kamu bisa membayar ku." Leo menarik pergelangan tangan Shivani untuk membawa gadis itu keluar dari ballroom. Ruangan mewah yang sudah di tata sedemikian rupa ini tidak lagi semenarik saat seorang gadis menawarkan diri untuk di bawa pergi.
Namun, itulah yang membuat Leo penasaran. Gadis ini, sebenernya siapa? Kenapa dia begitu tidak asing dengan kontur wajahnya? Kenapa dia begitu familiar dengan bentuk tubuhnya? Kenapa dia begitu hafal dengan aromanya? Dan juga, kenapa gadis ini seolah bisa mengendalikan dirinya?
Apa yang salah dan dimana letak kesalahan itu?
Dan, siapa sebenarnya gadis ini?
------•
--•
Suite Room.
Leo melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Udara di sekitar terasa menipis. Gerah yang terasa membuat tubuhnya tidak nyaman. Langkahnya pelan saat berjalan ke arah pintu, dan dengan cekatan, dia mengunci pintunya dari dalam.
Duduk di atas ranjang adalah seorang gadis cantik yang sudah membuat dirinya penasaran. Kenapa dia begitu menginginkan gadis itu sekarang?
Hanya berada dalam satu ruangan yang sama dengan gadis itu saja, sudah membuat detak jantungnya kalang kabut berhamburan ke sana sini tak terkendali.
Sebenarnya, apa hebatnya gadis itu sampai membuat dirinya terlihat menyedihkan seperti ini?
Si-alan!
Leo berjalan kembali ke arah ranjang, lalu dia mendudukkan dirinya di sana, di samping gadis itu. Matanya mengawasi lekat sosok cantik yang duduk dengan tenang seolah tidak terusik dengan kehadirannya.
"Siapa namamu?" Leo bertanya dengan suara lembut kepada gadis itu. Layaknya Dewi dalam mitologi Yunani, gadis ini seperti Venus atau Dewi asmara dan Dewi Kecantikan. Gadis ini tidak hanya cantik, namun juga menarik, menggoda dan kecantikannya mampu menghipnotis dirinya yang tidak pernah merasakan cinta sebelumnya.
Kecantikan itu begitu mendebarkan dan dia yakin kalau kecantikan ini adalah yang dia inginkan dalam hidupnya. Tidak! Dia belum sepenuhnya yakin, namun dia nyaris yakin karena hampir membenarkan pemikiran itu.
"Aku Shivani." Shivani hanya menyebutkan namanya. Dia tidak mengulurkan tangan untuk menjabat pria itu meski hanya untuk formalitas. Dia justru menyembunyikan tangannya yang dingin karena kegugupan yang menyelimuti.
Dia yang sejujurnya tidak ingin terlihat gugup meski berada di dalam ruangan yang sama dengan Leo, berusaha yang terbaik untuk mengendalikan detak jantungnya yang berdebar tidak menentu.
"Shivani?" Leo menatap seolah menunjukkan sedikit keraguan. Apakah itu nama asli, atau hanya nama samaran, dia tidak tau. Namun, saat melihat anggukan pelan yang Shivani tunjukkan, keraguannya seketika sirna. Dia percaya. Percaya kalau nama gadis itu memang Shivani. "Nama yang indah. Melambangkan pesona dan karisma. Adalah arti dari nama Shivani berdasarkan agama yang ku anut. Namun, berdasarkan bahasa Hindi, Shivani berarti pengikut Siwa." Leo menambahkan detailnya. Dia adalah orang yang paling malas menjelaskan sesuatu. Tetapi, tidak tau kenapa, bersama Shivani dia bersedia menjelaskan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya seperti mengartikan nama seseorang. It's bullshit and that's just da-mn it.
-itu omong kosong dan sialan-
Dia pasti sudah gi-la karena melakukan hal seperti ini kepada seorang gadis. Pasti.
Mendengar penjelasan Leo, Shivani tersenyum kecil. "Sepertinya kamu tau banyak tentang hal itu? Biar ku tebak, mungkin kamu pernah memiliki kekasih bernama Shivani?"
"Tidak." Leo menggelengkan kepala.
Shivani mengerutkan kening. "Lantas?" Lalu bagaimana Leo bisa tau banyak tentang nama itu? Biasanya, para pria akan mencari tau agar dapat membuat para gadis terkesan dengan cara yang paling sederhana, yaitu mengartikan nama si gadis layaknya paranormal.
"Aku hanya pernah membacanya di buku." Seingatnya, kalau tidak salah. Leo hanya sekilas melihatnya dan entah kenapa dia tidak bisa melupakan arti dari nama yang menurutnya teramat indah.
"Benarkah?" Shivani merasa tidak percaya dengan apa yang Leo katakan. Kebanyakan pria biasanya selalu penuh kepura-puraan. "Apa itu berarti kamu seorang kutu buku?" Shivani melompat ke pembicaraan lain dan mengusir keraguannya tentang pria itu. Lagi pula, entah pria itu hanya bersandiwara, atau tidak, itu sama sekali bukan urusannya.
Yang harus dia lakukan sekarang adalah membuat keakraban seperti kontak fisik dengan pria itu, dan dia akan menciptakan peluang itu sebentar lagi meski harga yang harus dia bayar sangatlah mahal yaitu tubuhnya.
"Iya, kamu bisa menyebutnya begitu kalau kamu mau." Menjadi akrab dengan seorang gadis dalam waktu dekat adalah sebuah kemustahilan untuknya, namun bersama gadis ini, Leo melewati kemustahilan itu.
"Kenapa begitu? Apa kamu tidak suka aku menyebutmu seperti itu? Menurutku, itu sangat menarik, pria yang suka membaca buku sepertinya populasinya mulai menurun. Kamu salah satu dari mereka yang masih bertahan adalah hal yang bagus." Shivani berceletuk tanpa memikirkan apa yang sudah dia katakan. Kata itu terlontar begitu saja meski mungkin perkataan itu terkesan di paksakan.
"Bukankah penggemarmu juga begitu? Seorang kutu buku?" Leo tidak ingin membahas dirinya, namun dia ingin tau tentang gadis itu. Tentang kehidupannya, tentang alasan kenapa gadis itu bersedia membayar mahal dirinya hanya untuk menjauhi pria berkacamata itu?
Shivani menaikkan sebelah alisnya. "Penggemar? Aku tidak tau apa maksudmu?" Shivani linglung. Dia benar benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan Leo.
Penggemar?
Penggemar apanya?
Memangnya dia siapa sampai memiliki penggemar?
Artis?
Model?
Sayangnya, dia bukan siapa siapa.
Dia hanya Mahasiswi biasa yang sekolah di luar negri selama bertahun tahun untuk mendapatkan beberapa gelar kelulusan sebagai syarat pernikahannya dengan Raiden meski rencana itu tidak terealisasi karena Raiden meninggalkan dirinya dengan kematian.
Tragis, bukan?
"Pria berkacamata itu? Bukankah itu penggemarmu? Kalau bukan, lantas kenapa kamu harus menghindar dan memanfaatkanku?" Leo yakin semua tidak sesederhana itu karena dia melihat pria berkacamata itu menatap Shivani dengan tatapan memuja.
"Oh, itu." Mengingat pria yang Leo sebutkan, Shivani jadi ingat sosok pria berkacamata yang Leo maksud. "Itu adalah seorang cendikiawan yang pandai berkata dengan memainkan diksi diksi yang membuat orang tidak tahan untuk mual." Otak Shivani mungkin bermasalah. Sebagian gadis biasanya menyukai puisi ataupun kata kata romantis, namun sepertinya dia memiliki kelainan sampai tidak menyukainya.
"Kenapa? Bukankah itu bagus? Bukankah seharusnya wanita menyukainya?" Pembahasan ini sangat menarik untuk Leo yang terbiasa hidup monoton sejak bertahun tahun lalu. Lebih tepatnya adalah sejak dia resmi mendirikan Pahlevi Intinusaflora. Sejak saat itu, hidupnya hanya tentang bekerja dan bekerja. Dia bahkan mendedikasikan hampir semua waktunya untuk membesarkan perusahaan itu.
"Iya, mereka menyukainya, tapi aku tidak." Shivani tidak normal. Okey, dan dia mengakuinya. "Anggap saja aku gi-la dan aku tidak keberatan sama sekali."
"Kenapa aku harus menganggapmu gi-la? Kamu tidak gi-la, kamu hanya unik karena tidak berada pada landasan dimana para gadis pada umumnya berpijak. Kamu.. berbeda dan itu adalah pilihan yang membuat dirimu nyaman." Itu adalah intinya. Dan Leo menyukai perbedaan itu. Dia juga sama. Selalu berbeda dalam beberapa hal, namun dia merasa inilah dirinya, inilah hidupnya.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kamu, aku, kita, dan sebagian orang selalu mengikuti desirenya. Sama seperti Lucifer. Dalam sebuah kepercayaan, Lucifer di yakini bukanlah Iblis. Lucifer duduk di samping kanan Tuhan, namun karena di gerakan oleh desirenya dan di anggap memberontak, dia di buang dari Surga kemudian di anggap Iblis dari segala iblis. Namun, di satu sisi, menurut pendapat pribadiku, dia tidaklah serakah karena dia tidak menginginkan sesuatu yang di luar kemampuannya, dia hanyalah makhluk yang menginginkan kebebasan dan tidak mau terkungkung akan aturan. Dia melakukan segala sesuatunya karena di gerakan oleh keinginannya sendiri. Meski harga yang harus di bayar sangatlah mahal, yaitu di anggap Iblis." Leo menjelaskan sedikit pendapat pribadinya tentang sosok yang seringkali di anggap Iblis oleh sebagian orang. Iblis seringkali di kambing hitamkan saat seseorang melakukan perbuatan jahat, padahal.. bisa jadi perbuatan jahat itu berasal dari diri mereka sendiri, namun manusia enggan mengakuinya dan hanya bisa menyalahkan iblis sebagai gantinya.
"Oh ya?" Shivani hanya bisa terdiam saat mendengarkan penjelasan Leo yang dia tidak pernah tau sebelumnya. Dia tau kalau Lucifer adalah iblis. Namun, dia tidak tau kalau Leo memiliki pandangan terbuka dan luas seperti itu.
"Iya, aku menganggapnya begitu. Namun, persepsi setiap orang berbeda beda. Aku menilainya A, dan kamu menilainya B, dan itu menunjukkan kalau kita memandang dari sudut pandang yang berbeda dan kita menilai dari cara yang berbeda pula. Itu kembali ke diri kita masing masing." Mempelajari sejarah adalah sesuatu yang tidak orang lain tau tentang dirinya. Namun, Leo sangat menikmati berbagai macam sejarah dari berbagai belahan dunia. Mulai dari bahasa, suku, ras, bahkan kepercayaan dan itu selalu menjadi hal yang mengganggu di pikirannya kalau dia tidak membaca dan mencari taunya.
Shivani memutar bola matanya. "Aku tidak tau kalau kamu tau tentang banyak hal. Dan aku tidak menyangka kalau kamu mengetahui sejarah tentang beberapa kepercayaan." Dia pikir, Leo hanya sok tau, namun sepertinya dia salah. Mungkin Leo memang tau tentang beberapa hal.
"Aku membacanya dari beberapa sumber. Dan itu menjadi referensi yang menarik saat kamu bosan dari pada sekedar pergi ke club malam dan minum beberapa gelas alkohol." Semakin dewasa usia dan pola pikir seseorang, kematangan akan terbentuk dengan sendirinya. Leo juga demikian. Dia sudah berhenti bermain main dan dia mulai masuk ke ranah yang lebih serius.
"Baiklah." Shivani tidak tau harus berkata apa. Entah dia harus kagum atau harus heran, dia juga tidak tau. Namun, dari sini, dia bisa menyimpulkan kalau Tristan dan Leo memiliki sedikit kemiripan, yaitu Tristan seorang Sastrawan, sedangkan Leo seorang Sejarawan. Mungkin itu sedikit lucu, atau dia harus menganggapnya hebat?
"Oh, iya, ngomong ngomong, boleh aku tau siapa namamu?" Mereka terlalu banyak beromong kosong sampai Shivani bahkan lupa menanyakan siapa nama pria itu meski sebenarnya dia sudah tau. Pertanyaan ini hanya bagian dari basa basi.
"Kamu bisa memanggilku Leo." Leo menelan ludah dengan susah payah saat melihat belahan gaun yang memanjang sampai paha yang Shivani kenakan membuat paha gadis itu tampak sempurna dalam pandangan. Insting prianya mengatakan kalau dia harus meletakan tangannya di sana, lalu dia harus mengusapnya secara perlahan.
Namun, sekuat hati, Leo melawan pemikiran itu.
Dia merasa semua ini tidak benar.
Apa apaan pemikiran itu?
Sejak kapan isi kepalanya menjadi sangat kotor?
Si-al!
"Baiklah kalau begitu. Hai Leo." Mungkin sapaan ini terdengar basi karena mereka sudah cukup lama berbincang dan baru sekarang Shivani menyapa. Tapi, tak apa. Itu adalah sapaan tulus dari dalam hatinya yang menginginkan kedekatan lebih.
"Itu tidak perlu. Kita sudah cukup lama berbincang." Leo mengulas senyum tipis. "Satu hal yang ingin aku tanyakan adalah.. kamu tidak melupakan apa yang sudah kamu janjikan, bukan?" Leo bersikeras menutup mata saat di suguhkan pemandangan indah itu. Sekuat hati dia menahan agar tidak tergoda meski paha itu serasa melambai lambai kepadanya.
"Tulis nomor rekening dan nominal yang kamu inginkan!" Shivani mengambil hp kemudian mengulurkannya pada Leo. Dia memang tidak memiliki banyak uang, namun orang tuanya bisa di bilang cukup kaya.
Melihat ini, Leo mengerutkan kening. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang kekurangan uang?" Baru sekarang ada seseorang yang mau membayarnya seolah dia sangat miskin dan membutuhkan uang. Gadis ini benar benar menurunkan kredibilitasnya sebagai Presdir Pahlevi Intinusaflora.
Shivani menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hanya sedang berusaha membayar sesuatu yang sebelumnya sudah aku janjikan. Terlepas dari apakah kamu kaya atau tidak, berkecukupan atau tidak, aku pikir itu tidak ada hubungannya." Shivani tidak mungkin melanggar sesuatu yang sudah dia janjikan. "Terlebih aku adalah orang yang selalu menepati janjiku." Tambahnya.
Sejenak hening. Leo hanya bisa mengutuk di dalam hati. Gadis ini memang bit-ch kecil yang berpikiran luas dan itu membuat dirinya semakin penasaran. "Bagaimana kalau kamu membayar dengan sesuatu yang lain?" Leo menawarkan sebuah solusi yang seharusnya itu menguntungkan untuk ke dua belah pihak.
"Apa itu?"
Leo meraih pinggul Shivani kemudian dia menindih tubuh gadis itu di bawahnya. Da-da Shivani yang bulat dan menonjol membuat gairahnya seketika bangkit seolah minta untuk di salurkan. "Seperti ini misalnya? Bagaimana menurutmu?" Leo membelai wajah Shivani kemudian tangannya turun ke leher dan berhenti pada da-da gadis itu.
"Tidak!" Shivani menahan tubuh Leo menggunakan telapak tangan yang dia letakkan pada da-da bidang pria itu. Dari sini, dia dapat merasakan detak jantung Raiden berdetak kencang, milik Raiden, apapun itu, adalah miliknya, jadi.. jantung Raiden yang berada di dalam tubuh Leo, juga miliknya. "Aku hanya bertransaksi dengan uang." Terangnya.
"Benarkah? Bagaimana kalau aku memaksa?"
"Tidak! Aku akan menyiapkan seorang gadis muda untuk menemanimu. Aku harus pergi sekarang." Kontak fisik seperti ini sudah cukup untuk Shivani. Dia hanya ingin menyentuh da-da Leo untuk merasakan detaknya, dia hanya ingin melihat mata cokelat itu dari jarak sedekat ini, tidak lebih.
"Bagaimana kalau aku ingin dirimu?"
"Tidak mungkin! Kamu hanya membutuhkan seorang gadis, bukan diriku. Permisi, aku harus pergi." Shivani mendorong tubuh Leo agar menyingkir darinya. Tubuhnya hanya milik Raiden, dan kenyataan itu tidak akan berubah apapun yang terjadi.
Leo menyingkir juga meski dia enggan. Dan dia hanya bisa menyaksikan saat gadis itu pergi dari pandangannya tanpa dia bisa mencegah.
Beberapa saat kemudian.
Tok tok tok..
Ketukan pintu dari luar membuat Leo tersentak. Apa gadis itu kembali? "Masuk!" Ucapnya dengan harapan kalau yang datang adalah Shivani.
"Permisi, Tuan. Seseorang meminta saya untuk melayani anda." Seorang wanita muda berperawakan seksi dan menggoda, mendekat ke arah Leo. Betapa beruntungnya karena klien yang harus dia temani malam ini adalah pria muda yang sangat tampan.
Leo menaikan tangannya. "Jangan mendekat lebih dari dua meter atau aku akan membuatmu menyesal karena sudah berurusan denganku!" Leo murka saat mendapati orang yang datang bukanlah Shivani.
Si wanita terperanjat. Dia tidak percaya ini. Dia tidak percaya akan di tolak bahkan sebelum dia mulai melayani. "Tapi, Nona itu sudah membayarku."
"Aku tidak peduli! Enyah atau aku akan membuatmu c-acat seumur hidup!"
"Baik, Tuan." Si wanita kabur dengan cepat tanpa menoleh lagi ke belakang saat merasakan aura kemarahan begitu mendominasi. Memprovokasi orang berpengaruh, dia tidak berani.
"Si-alan!" Leo mengumpat. Wanita itu berani sekali mempermainkan dirinya? Apa wanita itu sudah bosan hidup?