Satu Minggu kemudian.
Siang hari.
Satu Minggu berjalan layaknya kilat. Bekerja di salah satu Restauran milik Mama yang terletak di pusat Kota, membuat hari hari Shivani cepat terlalui. Saking sibuknya, dia bahkan tidak lagi memikirkan Leo, dia sudah sepenuhnya melupakan pria itu.
Tidak!
Tidak sepenuhnya karena pada kenyataannya, dia merindukan debaran jantung milik Raiden yang berada di dalam tubuh Leo. Dia merindukannya. Sangat.
Dia merasa ingin menyentuh da-da Leo untuk merasakan detak jantung yang selalu dia rindukan. Juga mata cokelat itu, adalah yang ingin dia lihat untuk mengobati sedikit kerinduan yang tersisa dari kematian pria kesayangannya.
Raiden..
Kenapa?
Kenapa bagian tubuh pria itu terpasang pada orang yang salah?
Seharusnya bukan Leo.
Seharusnya bukan pria itu.
Seharusnya penerima donor adalah orang lain yang mungkin bisa dia jadikan saudara, adik, kakak atau apapun itu. Sedangkan Leo adalah orang yang sulit di tangani. Selain mes-um, pria itu juga tidak tampak seperti orang yang menerima provokasi. Jadi, bagaimana caranya menjadikan Leo sebagai kakaknya?
Mustahil.
Shivani menjatuhkan kepala di meja. Dia tidak bisa berhenti memikirkan detak jantung Leo. Namun, dia tidak memiliki muka lagi untuk menemui Leo setelah semua yang dia lakukan.
Bukan hal yang sulit untuk Leo membu-nuhnya kalau mereka sampai bertemu lagi. Dan bukan hal yang mustahil kalau Leo menyimpan dendam terhadapnya. Jadi, ya sudahlah, menghindar adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.
Shivani menaikan kepalanya secara perlahan, lalu dia memijit pelan ruang di antara alisnya. Siang hari biasanya selalu ramai oleh para pegawai kantor yang makan siang di Restauran ini. Dan itu akan menjadi saat yang sibuk untuk para pekerjanya. Mungkin sebaiknya dia turun tangan untuk membantu melayani para tamu dari pada hanya sekedar duduk di sini dengan memikirkan orang lain yang tidak begitu penting untuknya.
Sudahlah.
Meskipun dia tidak bisa merasakan detak jantung itu, setidaknya dia pernah merasakannya. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Dia tidak akan menjadi serakah meski dia ingin. Lagi pula, sekarang memang tidak ada tempat untuknya menjadi tamak, jadi dia mau mencari peluang kemanapun meski itu ke ujung dunia, dia tetap tidak akan bisa menemukan peluang itu terlepas sejauh apapun dia mencari.
Menahan Leo untuk tetap di sampingnya, juga tidak mungkin. Memangnya siapa dia? Siapa Leo?
Berdasarkan strata sosialnya saja, mereka sudah berbeda kasta. Dan kasta itu terlalu jauh membentang sampai tidak memungkinkan dirinya untuk menjadi dekat dengan Leo meski itu hanya untuk menjadi asisten.
Selesai berdebat dengan dirinya sendiri, Shivani bangkit dari duduknya. Dia keluar dari ruangannya menuju lantai bawah dimana pelayan biasanya melayani para tamu dengan ramah.
Dan begitu dia turun ke lantai bawah, pemandangan yang terlihat adalah orang orang yang meluangkan waktu untuk makan siang. Hampir semua meja yang berada di lantai bawah, penuh. Namun meskipun begitu, suasananya tetap tenang. Suasana elegan khas orang kaya tanpa mulut bar bar atau kata k********r membuatnya puas dengan keadaan yang ada.
Shivani turut berbaur, dia menyambut lambaian beberapa tamu yang hendak memesan, dia menurutinya, mencatat apa yang mereka mau lalu menyerahkan rentetan menu kepada chef untuk di buatkan pesanannya.
Sampai pada sebuah meja dengan pelanggan yang melambaikan tangan kepadanya, Shivani terperanjat. Dia linglung untuk sesaat.
Apa penglihatannya bermasalah?
Mungkin, tidak.
Mungkin dia hanya bermasalah dengan otaknya sampai akhirnya sesuatu yang bukan masalah, dia permasalahkan.
Semakin dekat, Shivani merasakan langkah kakinya semakin berat. Seolah melewati gunung bersalju dengan tebing curam pada sisi kanan dan sisi kirinya. Seperti tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup sampai pernafasannya terganggu. Seperti akan melangkah ke jurang neraka, dia merasakan bulu tengkuknya meremang.
Semua ketakutan itu.
Semua anggapan itu.
Semuanya..
Adalah nyata.
Penglihatannya masih bagus dan itu tidak perlu di ragukan lagi. Namun, dirinya, pemikirannya, dan hatinya yang masih harus di pertanyakan bahkan sepertinya harus di periksakan kepada seorang psikiater.
"Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Shivani berusaha bersikap seramah mungkin. Meski berdamai dengan keadaan tidak pernah semudah yang terlihat, namun setidaknya dia berhasil untuk tidak menunjukkan kegugupan seperti yang masih dia rasakan sampai sekarang.
"Aku tidak menyangka dunia begitu sempit."
Si-al! Shivani mengalihkan pandangan ke arah lain sembari mengumpat. Dia juga tidak menyangka kalau dunia akan sangat sempit. Tau begitu, dia tidak akan keluar dan akan terus bertahan di dalam ruang kerjanya meski dia bosan setengah mati.
Namun, tampaknya sudah terlambat untuknya menyesal karena nasi sudah terlanjur menjadi bubur.
------•
--•
"Kenapa kamu mengajakku makan siang? Apa kamu memiliki banyak waktu luang?" Leo menoleh ke samping dimana Kristian duduk dengan stir di tangannya. Entah ada angin apa sampai Kristian datang ke perusahaan dan tiba tiba mengajak dirinya makan siang? Entah otak pria itu bermasalah atau memang gi-la sejak dulu, dia juga tidak tau.
"Karena aku ingin, memangnya apa lagi?" Kristian menjawab cepat. Tangannya sibuk memegang stir dengan mata yang fokus menatap jalanan ramai di depannya.
"Tidak! Maksudku bukan begitu. Kamu tiba tiba mengajakku makan, aku merasa matahari sudah terbit dari arah barat." Leo mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
Jam dua belas siang memang waktu yang tepat untuk keluar dari pekerjaan, lalu menyantap makan siang di Restauran ataupun kantin Perusahaan. Namun, makan bersama dan berbaur dengan para pegawai, Leo tidak pernah melakukannya. Biasanya dia hanya akan memesan makanan kemudian di antar ke ruang kerjanya. Dan sangat jarang untuknya keluar meski itu hanya untuk makan siang. Lagi pula, menurutnya, makan siang dimanapun, sensasinya akan sama saja. Jadi, berdiam diri di dalam ruang kerjanya tetaplah yang terbaik.
"Kamu sudah lama tidak datang berkunjung ke tempatku, jadi aku pikir kamu sakit." Kristian masih fokus pada jalanan dan tidak sekalipun menoleh ke arah Leo. "Jujur, aku khawatir dengan keadaanmu." Tambahnya untuk mendramatisir keadaan.
Kalau di tanya ada berapa lapis wajahnya, jawabannya adalah ratusan. Namun, itulah Kristian yang sebenarnya. Demi agar dapat membantu Shivani, dia bahkan sampai mengorbankan persahabatannya yang berharga dengan Leo. Kurang apa lagi coba dia?
Ibaratnya dia adalah paket empat sehat lima sempurna untuk di jadikan pasangan hidup. Namun, sudah dua puluh sembilan tahun usianya, belum juga dia menemukan gadis baik baik yang bersedia untuk di nikahi. Gadis nakal, tak terhitung jumlahnya berderet mengharapkannya, namun sayang.. dia mencari gadis baik baik untuk di jadikan pendamping hidup. Shivani contohnya.
Namun agaknya, itu mustahil.
Shivani terlalu sulit di dekati. Selain gadis itu masih mencintai pacarnya yang sudah meninggal, Shivani juga tampaknya tidak melirik dia sama sekali. Dan itu membuat dia cukup tertekan selama beberapa saat. Namun setelahnya dia mulai terbiasa.
"Untungnya, otakku bisa menerima alasan mu yang sebenarnya tidak cukup masuk akal dan tidak cukup meyakinkan." Leo mengawasi sekeliling saat mobil yang dia tumpangi berhenti di depan sebuah Restauran dengan konsep mewah dan elegan yang letaknya berada di pusat kota.
Dia menyipitkan mata.
Saat berkendara, dia memang sering melewati tempat makan ini, namun baru sekarang dia datang itupun karena ajakan Kristian. Kalau tidak, dia tidak mungkin tertarik masuk ke tempat makan yang belum pernah dia masuki sebelumnya.
"Ayo turun!" Kristian sudah turun dari mobil. Dia berjalan memutar lalu membuka pintu untuk Leo.
"Kamu ini perhatian sekali." Leo turun dari mobil sembari mencibir Kristian yang sok perhatian. Padahal, Kristian memang aktif dan selalu perhatian kepada siapa saja, hanya saja.. pergaulan pria itu terlalu liar dan bebas. Di tambah, mereka jarang bertemu karena kesibukan. Meski hubungan mereka tidak benar benar renggang, tapi mereka tetap jarang sekali bertemu.
"Aku memang selalu perhatian. Kamu saja yang tidak menyadarinya." Kristian menjawab singkat sembari melepas kacamata hitamnya.
Mereka berjalan bersisian memasuki Restauran.
Selain karakter mereka berbeda, penampilan mereka juga cukup kontras. Leo selalu dengan gayanya yang dewasa, maskulin dan rapi. Kemeja, jas, celana bahan, dan gaya fashionnya juga hanya seputar itu. Lain halnya dengan Kristian. Kristian cenderung memilih fashion yang casual agar tampak kekinian seperti anak muda yang usianya jauh di bawah. Meski sesekali dia memakai kemeja, jas, dan celana bahan, namun tetap saja, kaos, jeans panjang, dan jaket menjadi pilihan utamanya sehari hari.
Seorang pelayan menyambut dan mengantarkan mereka pada salah satu meja yang sebelumnya memang sudah di pesan oleh Kristian.
"Silahkan, Tuan!" Si pelayan berkata ramah saat mempersilahkan Kristian dan Leo untuk duduk.
"Terima kasih. Aku akan memilih menu dan memesannya nanti." Kristian berkata sopan kepada pelayan setelah duduk di balik meja. Ini adalah pertama kalinya dia makan di Restauran ini. Dan untuk pertama kalinya juga dia memiliki pemikirannya sendiri untuk membantu Shivani agar dekat dengan Leo meski gadis itu tidak pernah memintanya.
Walaupun mungkin caranya sedikit aneh, salah namun tidak buruk, dan benar namun tidak begitu baik, tapi tetap saja itu adalah cara seorang kapitalis berhati mulia bekerja.
"Kamu pilih dan pesanlah!" Kristian berkata sembari membuka buku menu yang hanya berisi beberapa lembar.
"Aku belum memutuskan akan memilih yang mana." Leo berkata santai. Dia tidak begitu tertarik dengan tempat baru karena menurutnya dia membutuhkan waktu untuk lidahnya menyesuaikan diri. Kalau boleh dia mengatakan, lidahnya sangat pemilih.
"Kamu tidak perlu terburu buru. Kita masih memiliki banyak waktu." Kristian tidak akan memaksa Leo untuk memilih. Lagi pula, dia hafal betul seperti apa karakter Leo yang susah menerima makanan baru yang masuk ke dalam perut. Pria itu akan menyaring setiap asupan sedemikian rupa hanya untuk bertahan pada zona nyamannya. Aneh namun Leo memang seperti itu.
"Em. Baiklah." Leo tidak mungkin sembarangan memilih menu. Selain dia adalah orang yang memperhatikan faktor umum, dia juga memperhatikan detail kecil seperti kombinasi warna bahkan bentuk potongan dari setiap kondimen yang tidak mungkin dia lewatkan.
Beberapa saat kemudian.
"Ini sudah cukup lama, dan kamu belum menentukan pilihan sama sekali?" Kristian berkata sembari memotong dagingnya menggunakan pisau. Makanan pesanannya sudah datang lima menit yang lalu, belum termasuk lamanya waktu memasak, namun dalam waktu selama itu, Leo belum memilih menu apapun.
Melihat ini, Kristian bertanya tanya, apa Leo ini.. waras?
"Sepertinya sudah." Leo menutup buku menunya.
"Kalau begitu, cepat panggil pelayan!" Kristian asyik memakan makanannya tanpa peduli dengan Leo yang akan memilih atau tidak, yang akan makan atau tidak, yang penting perutnya terisi dan dia kenyang. Perut orang lain bukan urusannya.
"Mm." Leo mengangguk. Dia menaikkan tangannya untuk memanggil pelayan. Beberapa detik kemudian, dia menoleh saat mendapati seorang gadis mendekat ke arahnya. Anehnya.. dia memanggil pelayan namun yang datang justru seorang gadis muda, berperawakan tinggi, bertubuh seksi, berpakaian formal berupa rok span tiga inci di atas lutut berwarna hitam, kemeja putih lengkap dengan dasinya, serta blazer warna senada dengan roknya.
Untuk sesaat Leo terpana.
Dia akui gadis itu memang cantik, menarik dan menggoda. Namun bukan itu poin utamanya. Yang ingin dia bahas di sini adalah, ini merupakan pertemuan ke tiga mereka. Pertemuan pertama, dia ingat kalau Ayah dari gadis ini menabrak mobilnya. Pertemuan ke dua, adalah saat berada di pesta dan gadis itu meminta dirinya untuk membawanya pergi. Sedangkan pertemuan ke tiga adalah saat ini, di sini, di tempat ini. Namun tidak tau kenapa, semua yang ada yang dalam diri gadis ini terasa Familiar.
Bukan kali pertama Leo merasakannya. Tapi, sejak pertemuan pertama mereka meski itu merupakan pertemuan yang tidak di sengaja, dia langsung merasakan keakraban itu. Dia merasa begitu karib dengan bentuk tubuhnya, dengan aromanya, bahkan dengan setiap helai rambutnya.
Sebenarnya, ada apa ini?
Dan ingatan siapa yang bersemayam di dalam otaknya?
Terkadang, kepingan masa lalu yang terlupa, benar benar menipu. Membuatnya bertanya tanya.. siapa sebenarnya dirinya?? Kenapa ada bayangan orang lain yang tumpang tindih di dalam ingatannya?
"Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Shivani sudah siap dengan memo kecilnya. Dia pikir, keberadaan pria itu di sini untuk memesan makanan. Namun sepertinya, semua tidak semudah yang terlihat. Pria itu pasti akan mempersulit dirinya, dan dia meyakini itu sampai keyakinannya bahkan mencapai seratus persen.
"Aku tidak menyangka dunia begitu sempit." Leo melemparkan seringai kepada Shivani.
Celetukan Leo membuat Kristian menoleh. Melihat Shivani berdiri di sana, dia pikir keajaiban yang dia ciptakan, cukup berhasil. "Oh.. shi-t!" Kristian mengumpat. "Kenapa kamu ada di sini, bit-ch?" Kristian menunjukkan wajah natural seolah dia sangat terkejut. Padahal, mungkin di antara mereka bertiga, antara dirinya, Leo dan Shivani, dialah yang paling tidak terkejut.
Leo mengalihkan pandangan dari Shivani kemudian menatap Kristian. Dia melayangkan tatapan penuh selidik kepada pria itu. "Apa artinya ini?"
Kristian mengedikkan bahu. "Memangnya apa lagi?" Dia juga melayangkan tatapan tidak biasa kepada Leo. "Shivani menempuh perguruan tingginya di Singapura, dan dia sering datang ke club malam saat aku sedang menjadi DJ. Kami cukup mengenal satu sama lain meski tidak akrab."
"Dan musik elektronik yang kamu mainkan sangat bagus!" Shivani menimpali ucapan Kristian dengan menunjukkan dua ibu jarinya kepada Kristian. Shivani mengakui kalau EDM yang Kristian mainkan sangat menarik dan dari beberapa club malam yang sering dia datangi dulu, tidak ada yang EDMnya sebaik yang Kristian mainkan.
"Dan kalian tidak akrab?" Leo mempertanyakan pertanyaan paling sederhana kepada Kristian. Mereka tidak akrab namun Shivani tau banyak tentang Musik Elektronik yang Kristian mainkan, apa ini yang Kristian maksud 'tidak akrab'?
"Permainan musikku sangat istimewa, jadi jangan iri kalau beberapa gadis mengidolakan ku." Kristian di penuhi kepercayaan diri yang pekat.
"Iya, itu benar. Musik yang Kristian mainkan memang sudah membuatku terpesona." Shivani turut meyakinkan. Tidak etis kalau Leo curiga dengan pertemuan mereka yang pada dasarnya amat sangat di sengaja. Selain bisa merusak hubungan Kristian dan Leo yang tampak akrab, untuk ke depannya dia juga merasa akan semakin sulit mendekati Leo meski itu hanya sekedar menatap dari jauh.
Leo mengepalkan tangan. Mendengar pujian dari satu sama lain antara Shivani dan Kristian yang saling mengagumi, muncul perasaan aneh yang mengalir melalui aliran darahnya. Sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa dia semakin merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri?
Entah pertemuan ini adalah sebuah keberuntungan, sebuah keajaiban atau apa, Leo masih tidak tau. Namun yang jelas, saat dia melihat keakraban di antara Shivani dan Kristian, dia merasa ingin menghentikan keakraban itu.
Dia cemburu.
Namun atas dasar apa?
Bertemu Shivani hanya tiga kali, tidak mungkin pertemuan itu menghasilkan perasaan cinta dengan mudahnya, bukan?
Mustahil.
Bahkan setelah bertahun tahun dia menjalani 'friends with benefits' dengan Gabriela, dia tidak pernah merasakan perasaan cinta yang seringkali orang bilang bahwa cinta bisa hadir seiring berjalannya waktu.
Dari sana justru Leo menyadari kalau cinta tidak selalu datang dari kebersamaan. Karena selama apapun kontak fisik antara dia dan Gabriela terjadi, perasaan cinta yang dia prediksi akan datang setelah lima tahun, bahkan setelah lebih dari lima tahun, perasaan itu masih belum muncul juga, atau tidak?